Senin, April 05, 2010

Studi Kasus FB Cashier (05042010)

Saudara bekerja sebagai seornag kasir restaurant dan bar, Pada Hotel Triatma Jaya Dalung, bekerja pada shift siang : 15.00-23.00 wita, Pada Tanggal : 10 November 2009 (Outlet: Room Service). Pada awal shift, housebank yang saudara terima dari shift sebelumnya sebesar Rp. 500.000,- berikut transaksi yang terjadi selama saudara bekerja :

Table 1 2 Seafood Cocktail
2 Chicken Salad Hawaian
2 Paysanne Soup
2 Minestronne Soup
1 Large Beer
1 House Pouring Whiskey
Payment : Cash
Table 2 2 Avocado Vinegraitte
2 Stuffed Egg Russian Salad
4 Fillet of Fish Meunierre
4 Tiramisu
4 Tequilla Sunrise
Payment : Room Charge
# 406, Mr/s Jack Harris & Fam
Table 3 3 Fillet Steak Cafe de Paris
3 Rainbow
Payment : Visa ,
Card No : 1234 5678 9012 3456
Approval Code : 234567
Table 4 2 Seafood Cocktail
2 Stuffed Egg Russian Salad
4 Shirloin Steak
4 Small Beer
Payment : Cash
Restaurant Check No : 1234001 s/d 1234099
Harga belum termasuk service charge 10% dan tax 11%,

1 Food Price :
Appetizer ...................... Rp. 25.000,-
Soup ........................... Rp. 30.000,-
Main Course..................... Rp. 70.000,-
Dessert......................... Rp. 40.000,-
2 Beverage Price :
Small Beer : ..........Rp. 25.000,-
Large Beer :...........Rp. 40.000,-
Housepouring :.........Rp. 45.000,-/Oz
Cocktail :.........Rp. 100.000,-



Berdasarkan informasi di atas, kerjakanlah :
1. Restaurant Check..............(40 Poin)
2. Summary of Sales.............(30 Poin)
3. House Bank Report...........(20 Poin)
4. Cash Transmittal List........(10 Poin)

Minggu, April 04, 2010

Studi Kasus FB Cashier (040410)

Saudara bekerja sebagai kasir restaurant dan bar, hari ini di coffee shop mulai jam 15.00 – 23.00. Pada awal shift saudara bekerja, saudara menerima housebank sebesar Rp.200.000,- dari rekan anda pada shift sebelumnya. Saudara juga memperoleh tambahan housebank dari general cashier sebesar Rp.300.000,- Nomor captain order dari 10000 s/d 10099, nomor restaurant check dari 20000 s/d 20099. Selama saudara bekerja ada tamu meminjam kas anda sebesar %p.50.000,- Pada akhir shift total uang tunai yang saudara pegang sebesar Rp.820.000,-, Berikut adalah informasi dan transaksi yang terjadi selama saudara bekerja :

Price List

Food

Beverage List

Appetizer

Rp25.000

Large Beer

Rp70.000

Soup

Rp30.000

Soft Drink

Rp30.000

Maincourse

Rp70.000

Houseporing

Dessert

Rp40.000

(Whiskey, Vodka, Rum)

Rp40.000

Cocktail

Rp80.000

Table 1

time : 15.30

Table 4

time : 16.30

1

shrimp cocktail

1

chicken salad hawaiaan

1

avogado vinegraitte

1

asinan jakarta

2

cream of chicken soup

2

tommato soup

2

fried chicken a la bayou

2

fillet of fish meunierre

2

crepes suzette

2

large beer

payment cash

payment visa

no : 4546 2345 4322 5467

app.code

no : 456788, Ms. Lana Lang

Table 5

time : 21.30

Table 1

time : 17.30

1

whiskey on the rock

3

fillet steak cafe de paris

4

margaritta

3

devil pancake

1

singapore sling

3

pepsi

payment amex

no : 7654 8987 4455 3452

payment room charge

app.code

no : 997865 Mr. Rio Ferdinan

room no

423, Mr SUBARU

Berdasarkan informasi diatas kerjakanlah :

1. Summary of sales (maksimal nilai 50)

2. Cash Transmittal List (maksimal nilai 25)

Selamat Mengerjakan3. Apakah terjadi short/over? Jika ya berikan tindakan apa yang sebaiknya saudara lakukan! (maksimal nilai 25)

Loyalitas Pelanggan dalam Industri Perhotelan

Loyalitas pelanggan terhadap sebuah merek yang spesifik atau yang kita kenal sebagai brand loyalty, diharapkan mendapat perhatian yang cukup bagi dunia akademik untuk melakukan penelitian. Artikel ini menjelaskan dan menganalisa konsep-konsep dari loyalitas merek pendekatan dan perilaku konsumen yang mengarah pada loyalitas. Struktur dari loyalitas menunjukkan bagian bagian kognitif, afektif, konisi dan aksi. Bagian-bagian ini menunjukkan kategori dari loyalitas. Teknik pengukuran loyalitas, seperti pemilihan merek, proporsi pembelian, pemilihan merek, komitmen terhadap merek, skala loyalitas, dan rasio penerimaan/penolakan juga diikut sertakan.

Manajemen hotel pada umumnya menginginkan bahwa tamu-tamu yang sudah menginap dihotel diharapkan menjadi tamu yang loyal, dalam arti jika tamu-tamu tersebut berlibur lagi diwaktu yang akan datang, akan menginap di hotel itu kembali dan bahkan ikut mengabarkan kepada tamu-tamu lainnya(saudara, kerabatnya) untuk ikut serta menginap di hotel tersebut. Hal ini bukanlah tugas yang mudah, mengingat perubahan-perubahan dapat terjadi setiap saat, baik perubahan pada diri tamu seperti selera-selera maupun aspek-aspek psikologis serta perubahan kondisi lingkungan yang mempengaruhi aspek-aspek psikologi, sosial, dan kultural pelanggan.

Dalam jangka panjang, loyalitas pelanggan menjadi tujuan bagi perencanaan pasar stratejik (kotler, 1997); selain itu dijadikan dasar untuk pengembangan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Dick dan Basu, 1994), yaitu keunggulan yang dapat direalisasikan melalui upaya-upaya pemasaran. Dalam lingkungan persaingan global yang semakin ketat dengan masuknya produk-produk inofativ ke pasaran disuatu sisi, dan kondisi pasar yang jenuh disisi lain, tugas mengelola loyalitas pelanggan menjadi tantangan manajerial yang tidak ringan.

Loyalitas dapat difahami sebagai sebuah konsep yang menekankan pada runtutan pembelian seperti yang dikutip Dick dan Basu (1994) dari Day (1996) dan Jacoby dan Olson (1970). Jika pengertian loyalitas pelanggan menekankan pada runtutan pembelian, proporsi pembelian, hal ini lebih bersifat operasional, bukannya teoritis. Tentunya pada data panel diperlukan untuk mengukur konsep-konsep seperti itu. Untuk memperkuat pemahaman substantial tentang loyalitas diperlukan tinjauan secara teoritis tentang konsep itu yang juga ditujukan untuk memperkuat basis pemahaman dalam penelitian. Pengertian loyalitas pelanggan yang didasarkan pada pendekatan keperilakuan (behavioral approach) itu masih belum memadai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa loyalitas merek dikembangkan atau dimodifikasi.

Ada beberapa konsep dan teori yang dapat digunakan untuk mengkaji mengenai loyalitas pelanggan : Pendekatan atitudinal dan behavioral, merk dan atribut prduk sebagai prduk loyal, kategori loyalitas, tahap-tahap loyalitas berdasarkan pendekatan attitudinal dan behavioral, keteguhan pada merk, kerentanan berpindah merk, kualits produk untuk mengembangkan kualitas produk, promosi penjualan untuk mengembangkan loyalitas merk, pengukuran loyalitas merk.

Dalam pendekatan attitudinal dan behavioral , konsep tentang loyalitas merk, sebagai komitmen psikologis dan tercermin dalam perilaku beli aktual. Menurut Jacobi dan Kernet tahun 1973, 6 kondisi yang berkaitan dengan loyalitas merk sebagai berikut: (i) respon keperilakuan (ii) yang bersifat bias (iii) terungkap secara terus menerus (iv) oleh unit pengambilan keputusan (v)dengan memperhatikan satu atau beberapa merk alternatif dari sejumlah merk sejenis dan (vi) merupakan fungsi proses psikologis (pengambilan keputusan, evaluatif).

Jika yang dipakai adalah pendekatan keperilakuan, maka perlu dibedakan antara loyalitas merk dan perilaku beli ulang. Perilaku beli ulang dapat diarikan dapat sebagai perilaku konsumen yang hanya membeli sebuah produuk secara berulang-ulang tanpa menyertakan aspek perasaan di dalamnya, sebaiknya loyalitas merk mengandung aspek kesukaan konsumen pada sebuah merk. Ini berarti bahwa aspek attitudinal berlangsung di dalamnya.

Kategori loyalitas. Ada 4 macam loyalitas: (i) loyalitas merk fokal yang sesungguhnya yakni loyalitas pada merik tertentu yang menjai minatnya. (ii) loyalitas merk ganda yang sesungguhnya termasuk merk fokal (iii) pembelian ulang merk fokal dari non loyal (iv) pembelian secara kebetulan merk fokal oleh pembeli loyal dan non loyal merk lain.

Pendeteksian merk tunggal yang sesungguhnya dapat dilakukan dengan menguji (i)struktur keyakinan kognitif (ii) struktur sikap afektif (iii) stuktur niat.

Tahap-tahap loyalitas berdasarkan pendekatan attitudinal dan behavioral :
  1. Loyalitas kognitif, konsumen yang mempunyai loyalitas tahap pertama ini menggunakan basis ifrmsi yang secara memaksa menunjuk pada stu merk atau merk lainnya.
  2. Loyalitas afektif, loyalitas tahap kedua didasarkan pada aspek afektif konsumen, sikap merupakan fungsi dari kognisi pada periode awal pembelian, dan merupakan fungsi dari sikap sebelumnya ditambah masa pasca konsumsi.
  3. Loyalitas konatif, yang dimaksud pada faktor lain pada tahap kedua dimuka adalah dimensi konatif (niat melakukan) yang dipengaruhi oleh perubahan afek terhadap merk. Konasi menunjukkan suatu niat atau komitmen untuk melakukan sesuatu terhadap suatu tujuan tertentu.
  4. Loyalitas tindakan. Aspek konatif atau niat melakukan telah mengalami perkembangan, yaitu dikonversi menjadi perilaku atau tindakan. Dalam runtutan kontrol tindakan, niat yang diikuti oleh motivasi merupakan kondisi yang mengarah pada kesiapan bertindak dan pada keinginan untuk mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, tindakan merupakan pertemuan dari kedua kondisi tersebut, dengan kata lain, tindakan mendatang sangat didukung oleh pengalaman mencapai sesuatu dan penyelesaian hambatan. ini menunjukkan bagaimana loyalitas dapat mencapai kenyataan.
Kesimpulan dan implikasi bagi pemasar
Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa kesukaan merk itu terbentuk ketika konsumen masih kanak-kanak dan menginjak dewasa. Oleh karena itu, pemasar perlu menentukan pelanggan sasarannya lebih awal dalam daur hidup mereka. Konsumen yang loyal pada merk akan membentuk suatu basis yang slid bagi profitabilitas merk itu. Pemasar dapat menetukan cara-cara untuk memperkuat loyalitas merknya, apabila mapu mengidentifikasi karakteristik konsemen tersebut . Tugas ini tidaklah ringan mengingat tidak adanya profil umum tentang semua kategori produk.


Sabtu, April 03, 2010

STUDI KASUS MATA KULIAH TEKNIK SUPER VISI

Saudara adalah seorang supervisor pada sebuah restaurant di hotel berbintang. Restaurant di mana saudara bekerja berkapasitas 100 pax dengan 20 meja di dalamnya. Seat turn over dimana saudara bekerja rata-rata dalam satu hari sebesar 20 kali. Jam buka restaurant adalah 16 jam, mulai jam 07.00 AM – 01.00 AM. Jumlah waiter dan waitres 12 orang dan bus boy 6 orang. Menu yang ditawarkan adalah menu continental dan oriental, american breakfast dan continental breakfast. Komposisi tamu yang makan di restaurant adalah : Jepang (40%), Taiwan (30%), Australia (10%), Eropa (10%), Amerika dan Indonesia masing-masing (5%). Kompensasi yang diberikan kepada karyawan rata-rata sebesar Rp.1.250.000,- setiap bulannya. Sebagian besar karyawan sudah berkeluarga, dimana 40 % laki-laki dan 60% wanita, 90% beragama hindu dengan rata-rata usia 25- 30 tahun.

Berikut ini kinerja restaurant selama tiga bulan terakhir, yang dievaluasi oleh restaurant manager.


No

Hasil Evaluasi setelah di peringkat oleh restaurant manager

1

Tingkat penjualan belum memenuhi target penjualan selama tiga bulan

2

Cost Controller melaporkan food cost (60%) dan beverage cost (70%) melampaui standar yang ditetapkan, yakni food cost (40%) dan beverage cost (25%)

3

Tingkat keluhan tamu :

a. 60% menunggu terlalu lama, sering kali soup dan main course sudah agak dingin ketika disantap

b. 20% waiter dan waitress tidak mampu memberikan penjelasan detail mengenai makanan dan minuman yang dipesan

c. 10% terganggu karena melihat side stand/side table kotor

d. 10 % menilai kurang ramah

Berikanlah pendapat saudara, apa yang harus dilakukan dari ketiga hasil evaluasi tersebut berdasarkan pertimbangan komunikasi, motivasi, pelatihan (training), pendelegasian wewenang dan konsep/teori lainnya yang saudara ketahui.

SELAMAT MENGERJAKAN

Praktik Kerja Nyata pada Hotel dan Kapal Pesiar


Untuk menjadi tenaga profesional dibidang pariwisata, khususnya hotel dan kapal pesiar dibutuhkan program pendidikan dan pelatihan. Saat ini di Bali khususnya ada banyak sekolah yang menyelenggarakan program tersebut. Ada berbentuk sekolah tinggi, balai pendidikan dan latihan, pusat pendidikan dan latihan, akademi, bahkan mulai dari sekolah menengah kejuruan.Misalnya saja untuk jenjang perguruan tinggi, saat ini ada Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya (STIPAR Triatma Jaya), MAPINDO (Manajemen Pariwisata Indonesia) dan lembaga lembaga lainnya.

Bukan hanya teori saja yang dibekali, tetapi program pelatihan, praktek kerja nyata (training) pada bidang-bidang khusus perhotelan seperti akomodasi (room division : front office dan house keeping), Restaurant dan catering (food and beverage product dan food and beverage service), hotel accounting, human resouces dan hospitality marketing. Praktek kerja nyata dilakukan pada hotel-hotel berbintang di Bali, Kapal pesiar dan hotel-hotel berbintang di luar negeri. Misalnya pada STIPAR Triatma Jaya mengadakan program pelatihan pada Costa Cruciere (Kapal Pesiar), Miramar Hotel (Singapore), Westin (Nusa Dua), Hard Rock Hotel (Bali). Lamanya wakru pelatihan berkisar enam bulan sampai dengan satu tahun.

Dengan melaksanakan praktek kerja nyata, diharapkan peserta didik nantinya mampu bekerja dan bersaing secara profesional dalam konteks global. Hasil dari program ini sudah nampak, dimana hampir keseluruhan peserta didik (mahasiswa) sudah bekerja di industri pariwisata dengan menduduki berbagai posisi mulai dari crew (staff), lower management (supervisor), midle management (departement head) sampai top management (General Manager)

Jumat, April 02, 2010

KESEJAHTERAAN POLISI UNTUK MEWUJUDKAN POLISI BERSIH

Berdasarkan Undang-undang Kepolisian Nomor 2 tahun 2002, tentang visi dan misi POLRI kita ketahui bahwa dewasa ini orientasi pelaksanaan tugas POLRI adalah memberi perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat.

Polisi bersih adalah suatu kondisi dimana polisi melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan visi misi POLRI seperti tersebut di atas. Kondisi saat ini memang sudah dirasakan bahwa keamanan di Pulau Bali tercinta ini khususnya sudah dirasakan kondusif (aman), dimana masyarakat melakukan aktivitas dengan baik-baik saja atau aman dan terkendali. Kita harus angkat topi kepada bapak polisi yang bertugas di jalan (sebagai polisi lalu lintas), sebagai intelpam, samapta, pembimbing masyarakat untuk sadar hukum (bimas), mereka dengan penuh pengabdian menjalankan tugasnya demi menjaga kemanan di negeri kita tercinta ini. Tidak jarang kita mendengar kabar bahwa banyak polisi yang gugur di medan tugas karena memberantas teroris, menangkap perampok, sindikat narkoba, bahkan dalam menegakkan demokrasi jika terjadi demo yang menjurus ke arah anarki, polisi yang paling dulu berhadapan untuk menenangkan masa.

Kalau dipikir-pikir, berapa sih pak polisi kita mendapat imbalan atas pengorbanannya? Dari data tahun 2007, untuk golongan terendah polisi mendapat gaji masih dibawah dua juta rupiah. Oleh karena itu, Kapolri pada saat itu (Jendral Sutanto) dengan tim risetnya melakukan penelitian mengenai kesejahteraan polisi dimana hasil riset menunjukkan gaji polisi terendah seharusnya berkisar pada 8-9 juta rupiah perbulannya. Menurut Sutanto pada waktu itu, untuk menjadi polisi yang profesional tidak hanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi perlu faktor pendukung lainnya seperti sarana prasarana, termasuk soal kesejahteraan.

Meskipun secara general masyarakat merasakan keamanan yang sudah kondusif dimana masyarakat bisa melakukan aktivitas normal sehari-hari , namun saat ini tampaknya polisi masih belum bersih, fenomena yang terjadi didalam kehidupan sehari-hari yang dapat dilihat : (i) pada saat razia di jalan raya jika ada pengendara melanggar sudah bukan rahasia lagi si pengendara bisa ‘damai’ dari pada ribet melanjutkan perkara di pengadilan (jika ini terjadi jangan hanya menyalahkan pak polisi, tapi si pengendara juga salah), (ii)sabung ayam/tajen kok masih tetap ada?, sampai dengan makelar kasus yang sedang hangat diperbincangkan saat ini.

Solusi sederhana adalah dengan menerapkan (i) konsep kesejahteraan bagi Polisi , (ii) punishment dan reward, seperti saat ini POLRI memiliki konsep/formula remunerasi (oleh Kapolri Bapak H.Danuri). Remunerasi dilingkungan POLRI adalah merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari kebijakan reformasi birokrasi, dilatarbelakangi oleh kesadaran sekaligus komitmen pemerintah untuk mewujudkan clean and good governance.
Namun pada tataran pelaksanaannya, perobahan dan pembaharuan yang dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa tsb tidak mungkin akan dapat dilaksanakan dengan baik (efektif) tanpa kesejahteraan yang layak dari PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang mengawakinya. Maksud dan tujuan kebijakan Remunerasi POLRI adalah bagian dari pemerintahan. Maka dalam konteks Reformasi birokrasi dilingkungan POLRI, upaya untuk menata dan meningkatkan kesejahteraan anggota POLRI adalah merupakan kebutuhan yang sangat elementer, mengingat kaitannya yang sangat erat dengan misi perubahan kultur POLRI (Reformasi bidang kultural). Sehingga dengan struktur gaji yang baru (nanti), setiap anggota POLRI diharapkan akan mempunyai daya tangkal (imunitas) yang maksimal terhadap rayuan atau iming-iming materi (kolusi).

POLRI adalah milik masyarakat, karena POLRI berasal dari dan untuk rakyat. Jika saat ini kinerja POLRI masih ada oknum-oknum aparat yang berbuat negatif mencoreng citra POLRI, alangkah baiknya oknum-oknum tersebut dilakukan proses penegakkan hukum jangan sampai gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.

Kamis, April 01, 2010

Pak Harto: Demokrasi dan Pariwisata

Kalau dipikir-pikir, dahulu jaman orde baru, jamannya Pak Harto, Pariwisata di Bali berkembang dengan pesat. Masih teringat di benak saya, sekitar tahun 80 an sampai 97 an, sebelum Pak Harto lengser, Pariwisata di Bali mencapai jaman keemasannya. Pada jaman itu bagi mahasiswa yang kuliah di BPLP Nusa Dua (Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata) sekarang STP Bali, sebelum tamat sudah mendapat pekerjaan di Hotel, bahkan pekerjaan yang mencari mahasiswa. Pokoknya pada jaman itu, sungguh bangga rasanya menjadi mahasiswa perhotelan dan pariwisata, karena untuk masuk menjadi mahasiswa perhotelan dan pariwisata dilakukan seleksi yang ketat, bahkan pendidikannya setengah militer!

Namun di era reformasi, sekitar tahun 1998 yang melengserkan Pak Harto, nasib pariwisata di Bali sangat terpuruk. Begitu banyak proyek-proyek pariwisata yang mandeg, misalnya saja BTID (Bali Turtle Island Development) di Serangan. Di kampung saya di Tabanan, rencananya akan dibangun jalan tembus dari Penebel- Sarinbuwana-Belimbing dan akan dilakukan pengembangan pariwisata di sana. Namun semua proyek itu gatot...dan butot...artinya gagal total dan bubar total!!!

Saya pribadi tidak menyalahkan reformasi, demokrasi dsb...semua itu baik untuk mengubah kondisi politik di Indonesia yang pada jaman Pak Harto cenderung tersentralisasi. Semua keputusan mesti datang dari pusat, pokoknya Jakarta adalah penentu nasib seluruh daerah di Indonesia. Saya juga masih ingat, jamannya Pak Harto ada istilah PETRUS (Penembak Misterius) yang tugasnya membungkam para residivis, penjahat kambuhan yang mengganggu keamanan. Barang siapa yang bersebrangan Ide dengan Pejabat Senayan, dijamin hidupnya bakal susah. Kita juga tidak pernah lupa bagaimana nasib keluarga Bung Karno yang sangat diintimidasi pada jaman Pak Harto. Pada intinya di jaman itu masyarakat mesti hati-hati bicara, 'otherwise' nasibnya bakal sama dengan Pak Budiman Sujatmiko, Dr.Syahrir (Alm) Pak Sri Bintang Pamungkas, Bu Megawati Sukarno Putri yang pada masa itu sangat ditekan kebebasannya mengeluarkan pendapat. Tetapi pada jaman itu suasana sangat aman, orang-orang pada takut untuk berbicara ngawur, apalagi mau ngebom...yayaya...jaman orde baru sepengetahuan saya tidak pernah ada bom seperti Bom Bali, Bom Mak Erot...salah..BomMariot..dsb..dsb... Hmmm sepertinya pada masa Pak Harto, para teroris berpikir 1000 kali untuk mau ngebom, boro boro mau ngebom, baru beli bahan peledak aja suda di PETRUSIN kaleee....

Heran, heran dengan jaman repormasi sekarang ini dimana semua orang bebas berbicara, saling memojokkan satu dengan lain...(ini kali yaa, yang dinamakan demokrasi)...saya sendiri bukan pakar politik, kata demokrasi aja yang saya tau dari bahasa balinya itu : Demokrasi = De Mekerasin yang artinya jangan keras-kerasan, yaah cukup pakai mulut dan otak, ga perlu marah marah dan teriak-teriak seperti anggota DPR sekarang, ga perlu pake berantem sama polisi...Demokrasi yang saya tahu adalah, kalau ada masalah selesaikanlah dalam satu meja, atau duduk mesila di dampingi sebungkus rokok, secangkir kopi hangat dan godoh anget..lalu bicara dengan sopan santun, santai pakai otak...lalu kalo ada adu pendapat yang mulai bikin sesak, ya tarik nafas panjang......lepas....tarik, tahan lepas....yah...melakukan 'pranayama' supaya ga marah-marah....

Pariwisata sendiri adalah sebuah industri 'bersenang-senang', Pariwisata membuat orang senang, semua senang....wisatawan senang, pengusaha, pemerintah dan rakyat bali juga senang...hmmm semua senang....termasuk saya sendiri bisa hidup senang karena pariwisata yang ada di Bali. Dengan adanya wisatawan yang datang ke Bali, membutuhkan sarana akomodasi, restaurant dan sarana serta prasarana penunjang lainnya. Nah setiap hotel dan restaurant butuh tenaga kerja yang terdidik dan terampil, disinilah peranan saya adalah membantu Pemerintah dan Lembaga dimana saya bekerja untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil untuk dapat bekerja di dunia internasional.

Semenjak Bom Bali, penerimaan mahasiswa Pariwisata dan Perhotelan turun drastis. Pendapatan dosen pariwisata dan perhotelan jeblok. Sekarang ini pun, meskipun sekolah pariwisata masih diminati, namun menyisakan kekhawatiran karena tingkat persaingan yang semakin tinggi diantara sekolah-sekolah pariwisata yang ada di Bali, belum lagi trend kuliah sedang mengarah pada ilmu keperawatan, kependidikan dan Informasi teknologi yang semakin membuat sendu wajahsekolah-sekolah pariwisata.

Mungkin sebagai insan pariwisata, berharap agar demokrasi yang sedang kita bangun sekarang ini, jangan sampai kehilangan makna. Jangan sampai masyarakat awam dan masyarakat akar rumput, masyarakat pinggir sungai kumuh, masyarakat sampah, masyarakat pada golongan menengah kebawah yang jumlahnya paling banyak menjadi jengkel dengan kata demokrasi. Jangan sampai anggota DPR, penegak hukum, mahasiswa, pemerintah mengatasnamakan demokrasi untuk saling mencerca, menghina satu sama lainnya. Jangan sampai demokrasi yang salah kaprah membuat kita lupa akan pentingnya stabilitas keamanan untuk pengembangan pariwisata di Indonesia, khususnya di Pulau Bali.

Mari kita bersama sama menjaga Bali tercinta dengan cara kita masing-masing. Sebentar lagi Pilkada.....sebuah ajang pesta demokrasi, mari kita rayakan pesta demokrasi ini dengan membawa atribut seni dan budaya Bali yang unik sehingga menjadi potensi wisata Bali.(Peace).