- See more at: http://dikaeuphrosyne.blogspot.com/2013/04/cara-agar-artikel-di-blog-tidak-dapat.html#sthash.JcEiggbH.dpuf Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): Upaya Pengembangan Ekowisata

Sabtu, Oktober 01, 2016

Upaya Pengembangan Ekowisata

Ekowisata (Ecotourism) merupakan wujud pengembangan konsep pariwisata berkelanjutan (Sustainable tourism development). Konsep keberlanjutan dalam pengembangan kepariwisataan dimanapun, sudah tidak dapat di tawar lagi. Hal ini disebabkan karena pengalaman menunjukkan bahwa  pengembangan konsep pariwisata  masal (mass tourism) yang menekankan pada kuantitas wisatawan dan kamar hotel yang dibangun, ternyata menimbulkan berbagai macam dampak negative bagi lingkungan, sosial, ekonomi, budaya dan diberbagai bidang kehidupan lainnya.


Segmen pasar wisatawan yang memilih wisata eco merupakan segemen pasar eksklusif, dengan daya beli yang tinggi. Oleh karena itu pengembangan wisata eco harus benar-benar menekankan pada kualitas.
Agar dapat mengembangkan wisata eco yang berkualitas, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.    Menerapkan tiga pilar ekowisata.
Wisata eco menerapkan tiga konsep dasar dalam pengembangannya, yakni : (i)Menjaga kelestarian habitat dari  kehidupan satwa liar ( wildlife ), (ii) mensejahterakan penduduk lokal dan (iii) mengurangi kemungkinan kerusakan lingkungan. Aktfita ekowisata menghindari kegiatan yang menggunakan mesin/motor, karena menimbulkan pencemaran suara dan polusi yang dapat mengganggu habitat satwa liar dan dapat  merusak lingkungan.

2.    Mengupayakan memperoleh sertifikat eco /ramah lingkungan
Salah satu sertifikat ramah lingkungan adalah sertifikat Tri Hita Karana. Oleh karenanya  sebuah daya tarikwisata yang menggarap segmen eco, harus berupaya memperoleh sertifikat tersebut. Hal ini penting, karena  sertifikasi tri hita karana memberikan  pengetahuan dan transparansi  mengenai pengelolaan lingkungan melalui kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam proses sertifikasi tersebut. Disisi lain  konsep ekowisata juga menuntut edukasi bagi wisatawan tentang keragaman kehidupan sosial , ekonomi, budaya dan lingkungan pada daya tarik wisata yang dikunjungi dan perbandingan dengan daya tarik wisata lainnya yang menerapkan konsep ekowisata.

3.    Mempelajari standar sertifikasi ekowisata pada  kawasan wisata.
Operator ekowisata tentunya melakukan proses self assessments, on-site visits, dan pelatihan yang mencakup beberapa kirteria seperti : sustainable management systems, kebijakan kepuasan wisatawan,  persyaratan desain dan  konstruksi lokal, kebijakan mengenai konservasi alam  dan budaya lokal, pengembangan komunitas lokal,  kebijakan wira usaha,  serta konserfasi energy, pemberdayaan komunitas lokal,  perlindungan  terhadap situs arkeologi dan artefak. Oleh karenanya dibutuhkan kerjasama antar pemangku kepentingan pariwisata, meliputi kalangan pemerintah, masyarakat, pengusaha, kalangan akademisi dan pers dalam  penyediaan sumber daya untuk memenuhi standar sertifikasi tersebut.



4.    Menekankan pada aktifitas edukasi lingkungan serta upaya penerapan  aspek keberlanjutan dari pada  sekedar melakukan kegiatan outdoor adventure.
Aktifitas eko wisata berupa arung jeram, mendaki gunung, berlayar  sebaiknya dipandu oleh  seorang yang paham betul tentang konsep ekowisata dan sudah tersertifikasi. Aktifitas ini  dilakukan berkelompok yang tidak lebih dari 12 orang dalam satu kelompoknya. Diharapkan pemandu ekowisata  dapat  mengedukasi mengenai keberagaman flora dan fauna lokal, lebih dari itu, edukasi mengenai betapa pentingnya kehidupan liar (wild life) bagi keberlanjutan ekosistem yang sangat sensitif dan  rapuh.












5.    Melakukan kerjasama dengan segenap pemangku kepentingan pariwisata
Untuk dapat mewujudkan aktifitas ekowisata  yang sebenar-benarnya, membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak, yakni :
  • Pemerintah : untuk dapat membantu memberikan pendanaan, penyuluhan mengenai kebijakan, peraturan-peraturan, perpajakan terkait dengan aktifitas  pariwisata.
  • Pengusaha : untuk dapat  memperluas jaringan pemasaran, dan pemanfaatan dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang menunjang aktifitas pariwisata.
  •  Akademisi : untuk dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai konsep pariwisata berkelanjutan, pengembangan ekowisata, dan berbagai macam keterampilan yang dibutuhkan dalam pengembangan ekowisata.
  • Masyarakat : untuk dapat mendukung pengembangan aktifitas ekowisata, manfaat aktifitas pariwisata perlu dijelaskan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Hal ini penting, karena pada dasarnya komunitas lokal  sesungguhnya sumber daya manusia  yang sangat kuat perannya dalam mensukseskan pengembangan ekowisata.
  • Pers : Untuk dapat membantu sosialisasi berbagai macam aktifitas pengembangan ekowisata, sehingga mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan.

Dengan menerapkan kelima hal tersebut di atas, diharapkan mampu betul-betul mewujudkan ekowisata sebagai salah satu konsep pengembangan atraksi wisata di Bali pada khususnya. Hal ini penting, karena Bali memiliki daya dukung lingkungan dan alam yang sangat terbatas. Pengembangan pariwisata yang berkualitas sudah tidak dapat ditawar lagi. Bali tidak butuh wisatawan dalam jumlah besar dengan daya beli rendah dan waktu tinggal yang singkat. Bali membutuhkan wisatawan dalam jumlah kecil dengan daya beli yang tinggi dan waktu tinggal yang lebih lama. Walaupun ini mungkin berupa utopia, tapi segala sesuatu bermulai dari pikiran. Pikiran dan niat yang baik dan benar pasti akan melahirkan keputusan yang baik dan benar dan mensejahterakan masyarakat dalam jangka panjang.

1 komentar:

  1. Selam admin tenku web site super basarilarinizin devamini bekleriz

    BalasHapus