- See more at: http://dikaeuphrosyne.blogspot.com/2013/04/cara-agar-artikel-di-blog-tidak-dapat.html#sthash.JcEiggbH.dpuf Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): Dampak Baik dan Buruk dari Pariwisata

Rabu, Februari 03, 2010

Dampak Baik dan Buruk dari Pariwisata

Di Indonesia istilah pariwisata baru di mulai pada awal Tahun 1960-an. Istilah pariwista diperoleh dari kebudayaan intelektual atas permintaan Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamongku Buwono IX selaku ketua DTI (Dewan Tourism Indonesia) di Tahun 1960 – an itu. Secara terpisah dua orang budayawan Indonesia waktu itu dimohon memberikan pertimbangan yaitu prof. Mr . Moh. Yamin dan Prof. Dr. Pritono, yang mmberi istilah pariwisata untuk mengganti istilah tourism atau travel, yang konotasinya bisa terkait denga selera rasa placasure, excitemcnt, intertainment. Adventure dan sejenisnya.
Istilah peristiwa terlahir dari bahasa sanseketa yang komponennya teori dari :
Pari ( = ) penuh, lengkap, berkelilng
Wis ( man ) =) rumah, property, kampung, komunitasi
Ata = ) pergi terus menerus, mengembara (roaming about) yang bila dirangkai menjadi satu kata melahirkan istilah pariwisata, yang berarti : pergi secara lengkap meninggalkan rumah (kampung) berkelingling terus menerus. Dalam oprasionalnya istilah pariwisata sebagai pengganti istilah asing tourism atau travel diberi makna oleh pemerintah Indonesia. “ Mereka yang meninggalkan rumah untuk mengadakan perjalanan tanpa mencari nafkah di tempat – temapt yang dikunjungi sambil menikamati kunjungan mereka”.
Dengan lahirnya istilah pariwisata, maka dewan Tourism Indonesia resmi tampil dengan nama Dewan Pariwisata Indonesia (DPARI) pada tanggal 16 Agustus 1961 dirayakan di jalan Diponogoro 25 Jakarta Pusat sebagai Kanor Pusat Depari. Pariwisata di Indonesia mulai tampil ke depan sejak di bangunya hotel – hotel besar di Indonesia , seperti Jakarta, Bali, Jogyakarta, Pelabuhan Ratu pada awal Tahun 1960 – an. Kemudian disusul dengan hotel – hotel lain di berbagai kota besar di Tanah air.
Mulai terasa kebutuhan tenaga terampil dalam jumlah cukup banyak. Guna mengatasinya, perlu tenaga – tenaga terlatih dan terdidik (baik pendidikan formal maupun non formal) muncul lembaga (sekolah atau akademi) yang bergerak di bidang ini untuk mengisi kebutuhan akan tenaga - tenga dimaksud.
Pariwisata sebagai ilmu merupakan kegiatan manah (pikiran + perasaan ) manusia mengenai berbagai hal atau sesuatu apa saja, termasuk pariwisata.
Seperti halnya seni – agama – falsafah – teknologi, pariwisata menyangkut sejarah dan perkembangannya.
Ilmu adalah sikap hidup manusia terhadap hidup itu sendiri, dunia dan alam semesta. Yang terus tidak pernah berhenti dan selalu bergerak hidup (tidak pernah berhenti).
Pada awalnya pariwisata adalah mengadakan perjlanan, di sebut traveltourism. Di zaman Yunani kuno (600 SM – Tahun 200 M) menakukan perjalanan, di kerjakan oleh para ahli piker dan guru dari satu temapat ke tempat lainnya.
Pada pertengahan abad yang lalu, dengan adanya alat angkutan kereta api di eropa (Khususnya di inggris ). Mengadakan perjalanan mempunyai bentuk yang agak jelas denga rahirnya sejenis biro perjalanan mempunyai bentuk yang agak jelas dengan lahirnya. Sejenis biro perjalanan oleh Thomas Cook, seperti kemudian apa yang kita namakan pariwisata, sedangkan di Indonesia dimulai secara kecil – kecilan oleh kegiatan KPM (Koninklijkc Paketuaart Maatschhappij)
Sebagai industri pariwista tidak pernah mengambil alih kedudukan industri lain. Bahkan saling mengisi. Perluasan lapangan kerja. Dampak terhadap pendapatan Negara.
Perlengkapan dan produk pariwisata terbagi dalam katagori perusahaan utama yang langsung dan sekuder. Faktor – faktor lain yang berkitan dengan pariwisata adalah pertumbuhan riil, tersedianya anggaran bagi masa libur / cuti karyawan atau eksekutif, peraturan devisa / nilai tukar uang antara Negara yang menerima dan Negara asal wisatawan. Bagi wisatawan domestik di bandingkan wisatawan internasional kebutuhan akan atraksi dan pengadaannya, kebijakan angkutan udara, izin mendarat dan harga tiket, pemasaran dan promosi dalam dan luar negeri serta sikap masyarakat setemapt terhadap wisatawan.
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat. Sehingga membawa berbagai dampaik terhadap masyarakat setemapat.

Dampak Sosial Pariwisata

Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setemapat. Bahkan pariwisata dikatakan mempunyai energi dobrak yang luar biasa, yang mampu membuat masyarakat setemapt mengalami metamorphose dalam berbgai aspeknya.
Dampak pariwisata merupakan wilayah kajian yang a;ling banyak mendapatkan perhatian dalam interratur, terutama dampak terhadap masyarakat lokal. Di dalam pihak dampak pariwisata terhadap wisatawan atau asal dari wisatawan belum banyak perhatian. Meskipun pariwisata juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat secara poitik, keamanan dan sebagainya. Dampak pariwisata terhadap masyarakat dan daerah tujuan wisata yang banyak mendapat ulasan adalah :

A. Damapak Terhadap Sosial – Ekonomi
Damapak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikatagorikan menjadi delapan kelompok besar (cohen 1984) yaitu :
1. Dampak terhadap penerimaan devisa
2. Dampak terhadap kesempatan kerja
3. Dampak terhadap harga – harga .
4. Dampak terhadap pendapatan masyarakat
5. Dampak terhadap distribusi manfaat / keutuntungan
6. Dampak terhadap kepemilikan dan control
7. . Dampak terhadap pembangunan pada umumnya dan
8. . Dampak terhadap pendapatan pemerintah



B. Dampak Sosial Budaya
Secara teoritikal – idialistis, antara dampak sosial dan dampak kebudayaan dapat dibedakan. Namun demikian, Mathieson and Wall (1982 : 37 ) menyebutkan bahwa “ there is no clear distinction between sosial and cultural phenomena” sehingga sebagaian para ahli mengabungkan dampak sosial dan dampak budaya di dalam pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial budaya akibat kedatangan wisatawan. Dengan tiga asumsi yang umum yaitu : (Martin . 1998 : 171) :
1. Perubahan dibawa sebagai akibat adanya instruksi dari luar, umumnya dari sistem sosial budaya yang subordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah.
2. Perubahan tersebut akan umumnya destruktif bagi budaya indigenous :
3. Perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya. Dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokarasi nasional dan multinasional, a, consumeroriented economy, dan jet age lifestyle.
Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokan dampak sosial budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok besar yaitu :
1. Dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantunganya
2. Dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.
3. Dampak terhadap dasar – dasar oranisasi / kelembagaan sosial.
4. Dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata
5. Dampak terhadap ritme kehidupan masyarakat sosial masyarakat
6. Dampak terhadap pola pembagian kerja
7. Dampak terhadap strafikasi dan mobilitas sosial.
8. Dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan .
9. Dampak terhadap meningkatkan penyimpangan – penyimpangan sosial
10. Dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat
Dampak pariwisata terhadap bidang kesenian, adat istiadat dan dampak keagamaan mungkin paling menarik untuk dibahas, karena aspek budaya ini merupakan modal dasar pengembangan pariwisata. Pengaruh terhadap aspek – aspek ini bisa terjadi secara langsung karena adanya proses komiditifikasi terhadap berbagai aspek kebudayaan, atau terjadi secara tidak langsung melalui proses jangka panjang.
Sementara banyak khawatir terjadinya proses kehilangan otentisitas dalam budaya lokal.
Bagi Urry (1990), kebudayaan memang selalu beradaptasi, termasuk dalam menghadapi pariwisata, dan di dalam proses tersebut tidak berarti makna atau otentisitasnya otomatis hilang. Akutansi merupakan proses yang wajar dalam setiap pertemuan antara budayanya.
Menurut Cohen (1988), terjadinya dampak negatif akibat adanya komoditisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pariwisata telah merusak atau menghancurkan kebudayaan lokal. Pariwisata secara tidak langsung memaksa ekspresi kebudayaan lokal untuk di modifikasi. agar sesuai dengan kebutuhan pariwista. Ekserasi budaya di komunikasikan agar dapat di jual kepada wisatawan.
Untuk pariwisata Indonesia khususnya daerah Bali banyak yang mengkhawatirkan akan terjadi pengikisan kebudayaan akibat kebudayaan asing yang menyerbu masuk yang menyebabkan terjadinya pendangkalan terhadap kualitas kebudayaan Bali serta hilangnya bentuk – bentuk sosial yang telah terbukti mampu menopang integritas dengan kehidupan tradisional masyarakat.

Di Indonesia, pariwisata telah menampilkan peranananya dengan nyata dalam memberikan kontribusi terhadap kehidupan ekomomi, sosial dan budaya bangsa. Kesempatan kerja bagi orang – orang terampil di bidang ini makin bertambah jumlahnya. Pendapatan Negara Negara dari sektor ini main baik, kebudayaan bangsa makin memperoleh apresiasi. Pariwisata sebagai industri makin berkembang, dibuktikan dengan makin banyaknya hotel. Pendidikan keterampilan untuk keperluan tersebut, pesawat udara, gerbong kereta api, bis dan taksi untuk keperluan wisatawan. Pariwisata sebagai ilmu akan tumbuhan apabila ia dikembangkan dan dipelihara. Struktur dan fungsinya dapat di pelajarai dari sejarah perkembangannya dan diluaskan ruang lingkupnya sehingga menjadi faktor pendorong bagi kemajuan bangsa Indonesia yang memiliki potensi sangat besar.

Dampak Positif dan Negatif Pariwisata di Bali

A. Dampak Terhadap Ekonomi
1. Dampak Positif :
- Terciptanya lapangan kerja
- Meningkatkan devisa Negara
- Meningkatakan pendapat daerah khususnya daerah – daerah wisatawan
- Mendorong bangkitnya industri perhotelan (pembangunan)
- Diversifikasi Usaha
- Meningkatkan bursa saham (meningkatkan aktifitas ekonomi)
- Meningkatkan frekuensi penggunaan alat – alat transportasi

2. Dampak Negatif
- Timbulnya kesenjangan sosial
- Timbuknya persaingan usaha
- Menurunya nilai tukar rupiah
- Harga barang melambung tinggi
- Menurunnya lapangan pekerjaan di bidangnya selain dunia pariwisata

B. Dampak Terhadap Budaya
1. Dampak Positif :
- Percampuran budaya melalui informasi dan teknologi
- Percampuran Ras
- Masyarakat terpacu untuk melestarikan budayanya sebagai motivasi wisatawan untuk berwisata kedaerahan
- Wisatawan terpacu untuk mempelajari nilai – nilai budaya dari objek yang dikunjungi yang didapatkan ke Negara asalnya sehingga objek wisata itu menjadi terkenal

2. Dampak Negatif
- Perasaan tidak senang dari penduduk karena kedatangan para wisatawan yang dianggap mengganggu ketengangan masyarakat setempat
- Peniruan budaya asing yang berlebihan oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat setempat
- Lunturnya kebudayaan – kebudayaan yang ada
- Adannya komersialisasi kebudayaan yang tujuan semata – mata untuk mencari keuntungan yang pada hakekatnya mengurangi citra dan nilai upacara bagi penduduk yang bersangkutan
- Komoditasi seni rupa yaitu adanya kecenderungan pembeli yang pada akhirnya mengurangi penghayatan terhadap nilai budaya tradisional
- Masyarakat terpacu untuk mempelajari bahasa asing sehingga bahasa daerah dilupakan








C. Dampak Terhadap Lingkungan
1. Dampak Positif
- Timbuhnya niat untuk melestarikan lingkungan dari masyarakat
- Tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih.
- Tumbuhannya kesadaran masyarakat untuk menjaga keindahan lingkungan sehingga menarik minat wisatawan untuk melakukan perjalanan pariwisata ke daerah wisata mereka
- Mulai datangnya duta – duta asing wisatawan
- Meningkatkan fasilitas umumya untuk kebutuhan wisatawan
- Reboisasi (penghijauan)

2. Dampaik Negatif
- Adanya pencemaran limbah akibat dari limbah industri hotel
- Timbulnya penyakit – penyakit asing yang dibawa oleh para wisatawan di lingkungan pariwisata
- Berkurangnya minat wisatawan untuk mengunjungi objek wisata karena lingkungan yang tidak nyaman
- Rusaknya lingkungan masyarakat akibat pergaulan orang asing yang berlebihan
- Sempitnya areal pertanian
- Perburuan binatang secara liar
- Berkurangnya lahan hijau
- Timbulnya polusi seperti polusi udara dan suara
- Terbangunnya fasilitas – fasilitas perhotelnya yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan
- Penebangan hutan secara liar

Latar belakang masalah Pariwisata Indonesia pada saat ini mengalami kondisi pasang surut akibat beberapa hal. Mulai dari bom yang mengguncang Indonesia, terutama Bali sampai dengan krisis global yang baru – baru ini menjadi perbincangan hangat di beberapa kalangan. Pariwisata sendiri sebuah industri yang berkembang dengan melibatkan berbagai komponen. Alam masyarakat, pemerintah penyedia jasa dan para wisatawan sendiri.
Pada tulisan ini sesuai dengan judulnya, kami akan mengangkat masalah pengembangan pariwisata masa depan (tourism future) dengan aspek – aspek pengelolanya sehingga menjadi berkelanjutanya (sustainable). Tulisan ini merupakan tulisan, empiric, dimana penulis tidak melakukan penelitian secara langsung pada obyek – obyek penelitian, melainkan penulis membaca, merangkum, menyimpulkan, dan kemudian mengkaji beberapa sumber – sumber penulisan (jurnal) yang sudah terlebih dahulu terbit.
Tulisan ini bersifat mengkaji pengenbangan pariwisata masa depan ( tourism future ) dengan aspek – aspek pengelolannya sehingga menjadi berkelanjutan (sustainable).

1 komentar: