AYAM
Oleh : Rocco Bay
Berbicara tentang ayam, tentunya
terbayang hewan yang biasa dikonsumsi semua kalangan. Ada ayam petarung dan
adapula ayam sayur. Ayam petarung bertarung sampai mati untuk memberikan
kepuasan pada pemeliharanya, sekaligus kemudian dagingnya dijadikan ‘jukut be
cundang’ atau sayur ayam aduan yang kalah. Kata be cundang memiliki konotasi
yang sama dengan pecundang, pihak yang kalah. Semetara ayam sayur nasibnya juga
tidak kalah menyedihkan dengan ayam petarung. Nasib ayam sayur berakhir di
didalam perut manusia, tentunya setelah diolah terlebih dahulu.
Ayam adalah salah satu hewan yang
paling bermanfaat bagi manusia. Banyak hal yang diberikan ayam, misalnya saja
telurnya, dagingya, sampai bulunya. Telur ayam dapat diolah menjadi berbagai
macam hidangan mulai dari telur rebus, telur asin, sate, cake, mayonnaise, omelete,
sunny side up, turn over bahkan dapat
dapat dikonsumsi mentah untuk menambah ‘joss’ stamina. Namun karena serakahnya
sifat manusia, walaupun sudah banyak jasanya, ayam tetap harus sampai mati demi
memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Raga ayam untuk kebutuhan perut
manusia, bulu ayam untuk alat kebersihan, dan jiwa ayam sering kali dihaturkan
untuk urusan spiritual.
Begitu banyak jasa ayam.
Oleh karena jasanya yang besar
bagi manusia, berbagai macam bangsa di dunia memberikan penghargaan bagi ayam.
Perancis menjadikan ayam jago sebagai logo organisasi sepakbola dengan nama Le
Coq Sportif. Jaya Suprana menjadikan ayam jago sebagai merek usaha jamunya
dengan nama Jamu Jago. Sheila on Seven, kalau tidak salah menjadikan logo ayam
jago pada albumnya yang berisikan lagu ‘Pejantan Tangguh’. Memang sepertinya
ayam sudah ditakdirkan harus mendampingi hidup manusia.
Ayam juga identik dengan dada dan
paha. Jika kita makan ke restaurant cepat saji yang mengandalkan ayam sebagai
menu utamanya, pastilah pelayan menawarkan ‘dada’ atau ‘paha’. Kelembutan,
kekenyalan dada atau paha ayam memang sangat menggiurkan. Tapi ada juga pelanggan yang menyukai brutu
ayam, katanya gurih.
Gara-gara restoran ayam goreng cepat
saji yang mengandalkan dada dan paha sebagai daya tarik jualannya, maka ayam
mengalam penurunan citra diri. Muncul istilah ‘ayam kampus’, ‘ayam kantor’, ‘ayam
kampung’. ’ Ayam Kampus’, berarti segala sesuatu yang menawarkan ‘dada’ dan ‘paha’
di kampus. ‘Ayam kantor’, berarti segala sesuatu yang menawarkan ‘dada’ dan ‘paha’
di kantor. ‘Ayam Kampung’ berarti perawan desa yang ‘polos’ dan ‘lugu’. Kasihan
betul nasib ayam yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya, malahan namanya ‘tercemar’
karena ulah manusia yang serakah.
Gambar 1
Ayam Lucu
Begitulah nasib ayam di dunia
yang fana ini. Jika tidak ingin menjadi ‘ayam’ jadilah manusia yang tidak hanya
mengandalkan ‘dada’ dan ‘paha’ saja melainkan akal budi. Boleh saja menggunakan
dada dan paha sebagai salah satu strategi untuk mencapai tujuan. Tetapi akan
lebih mulia jika menggunakan akal budi dan kualitas. Karena manusia harkat dan
martabatnya jauh lebih tinggi daripada ayam. Manusia yang baik akan
memperlakukan ayam-ayamnya dengan baik, cukup menikmati telurnya untuk kebutuhan
hidup. Bukan tubuh dan jiwanya.