Kamis, Juni 15, 2017

Isu Reklamasi dan Politik

Bekerja sebagai pendidik, adalah pekerjaan yang mulia. Mengapa mulia? karena memberikan ilmu, keterampilan yang berguna bagi murid-muridnya sebagai bekal mengarungi kehidupannya kelak. Oleh karenanya untuk menjadi pendidik yang baik, harus selalu update informasi.jangan sampai ilmu yang diberikan adalah ilmu yang jadul. Terlebih lagi pada sektor perhotelan dan pariwisata yang sangat dinamis. Seorang pendidik di bidang pariwisata mestinya harus observasi ke hotel, minimal enam bulan sekali sebagai tamu dan sekaligus mengamati salah satu bidang di hotel yang diampunya. Tapi masalahnya ujung-ujungnya pasti pendanaan, klasik...

Sering kali, fenomena yang terjadi dalam industri pariwisata menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji. Misalnya (i) kasus reklamasi, (ii) taksi online, (iii) sistem outsourcing pekerja hotel, (iv) kemacetan lalu lintas, (v) sampah, dsb dll

Kasus reklamasi Teluk Benoa sampai saat ini masih menjadi misteri. Belum ada titik cerah bagi penyelesaian masalah. Reklamasi mau lanjut atau bubar?. Kalau melihat gencarnya aksi Kontra Reklamasi belakangan ini, rasanya masyarakat di daerah sekitar Teluk Benoa dengan radius 5 s/d 10 kilometer cendrung tidak setuju terhadap reklamasi. Mungkin pula masyarakat Bali sebagian besar tidak setuju dengan Reklamasi. (Tapi belum ada sensus siapa yang kontra reklamasi di seluruh Bali).

Tapi kalau melihat video-video mengenai pemanasan global yang menunjukkan Bali akan terpisah menjadi dua pulau, dimana nantinya wilayah sekitar Bandara Ngurah Rai akan tergenang air laut, yang memutus wilayah Kuta dengan wilayah Nusa Dua, Jimbaran, Pecatu, Kelan,  rasanya Reklamasi itu perlu dilakukan. (Mungkin saja ini propaganda dari pihak Pro-Reklamasi). Logis juga kalau melihat trend pemanasan global saat ini. Lihat link berikut Pemanasan global menyebabkan wiayah Bali terpisah 

Ada banyak kepentingan yang bermain dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, Ada banyak sudut pandang yang membuat belum jelasnya kasus reklamasi ini. 

Isu Reklamasi ini tentunya akan menjadi komoditas politik di Tahun 2018 (Pilkada Bali) dan 2019 (Pil Pres).

Semoga calon-calon pemimpin Bali, dan Pimpinan Nasional mampu mengatasi persoalan ini dengan bijak. Astungkara.


Nomor Kude kira-kira sane cocok niki Jeroooo? Jeg makejang keren asane.