Tampilkan postingan dengan label pro kontra pembangunan bandara bertaraf internasional di buleleng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pro kontra pembangunan bandara bertaraf internasional di buleleng. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 11, 2018

Bandar Udara International di Buleleng Bali

Jadi atau Tidak ?
Isu yang hangat saat ini adalah mengenai pembatalan pembangunan bandar udara di Kubu Tambahan Buleleng Bali. Tidak jelas apakah pembatalan tersebut jadi dilakukan. Entah apa yang terjadi pada kebijakan pemerintah di atas sana ya? Tapi saya meyakini, segala kebijakan pemerintah tentu sudah dipertimbangkan masak-masak demi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang. Terlebih lagi track record pemerintah saat ini memang tegas, penuh perhitungan dan berorientasi menuju Indonesia emas.


Over Capacity di Kawasan Selatan Bali
Tidak dapat dipungkiri, Pulau Bali yang kecil ini sudah terasa cukup sesak dengan bertumbuhnya kepariwisataan, khususnya pada kawasan Bali Selatan (Denpasar, Badung, Gianyar dan Pesisir Tabanan). Kemacetan di sepanjang lingkar Bandara Ngurah Rai, yang sambung menyambung sampai perbatasan Gianyar, Tabanan, dan Denpasar membuat tidak nyaman. Polusi udara, akibat berlimpahnya kendaraan bermotor di sepanjang jalan, membuat pengendara sepeda motor memakai masker. Gaya hidup hedonis yang dekat dengan prostitusi, dan obat terlarang semakin marak. Harga tanah yang semakin melambung tinggi membuat orang Bali tergiur menjual tanah leluhur untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Suatu keadaan yang tidak menyenangkan.


Ketimpangan Utara - Selatan
Ketimpangan pembangunan sangat terasa, kawasan selatan begitu pesat, sementara kawasan utara tertinggal. Cukup banyak kantong-kantong kemiskinan di kawasan utara. Sebut saja daerah Kintamani (Songan, Kedisan, dan Trunyan), Karang Asem (Munti, Tembok), Tabanan, Negara, Bangli. Sungguh ironis, dalam gemerlap pariwisata Bali masih banyak orang miskin. Banyak tenaga kerja muda yang tidak mau menjadi petani. Mereka cenderung pergi ke kawasan selatan Bali untuk bekerja pada sektor pariwisata. Suatu ancaman bagi masa depan Bali.

Cukup Satu Bandara,  Meniru Pengelolaan Transportasi di Singapura
Tampaknya memang tidak mudah untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul di kawasan selatan Bali akibat pariwisata. Contohnya, kemacetan di wilayah Kuta, Nusa Dua dan Denpasar. Terutama yang di daerah Bandara Ngurah Rai. Pemerintah sudah berupaya membuat jalan tol di atas air, under pass di Simpang Siur, pelebaran jalan, menata ulang arus lalu lintas, sampai pemberlakuan e-money. Tapi tampaknya masalah macet tidak dapat dipecahkan. Jumlah kendaraan jauh melebihi jumlah ruas jalan. Kalau membangun jalan layang, tidak mungkin. 

Rencana pembangunan Bandara Internasional di Kawasan Utara Bali (Buleleng), sebenarnya masuk akal untuk memecah terpusatnya dan jenuhnya pembangunan di Kawasan Selatan Bali. Boleh dikatakan saat ini penyebab semua masalah tersebut, karena lokasi bandara ada di selatan Bali. Semua orang ingin membangun dekat bandara. Akibatnya semua aktifitas ekonomi berada di sana. Banyak wisatawan mengeluh mengenai kemacetan lalu lintas ini, bukan tidak mungkin mereka enggan datang ke Bali lagi apabila permasalahan ini tidak di atasi.

Mungkin juga muncul kekhawatiran dari pelaku bisnis pariwisata saat ini, apabila jadi bandar udara di bangun di Buleleng akan berdampak negatif bagi usahanya. Logikanya, sebagian wisatawan akan berpindah menginap ke Bali utara. Tampaknya hal ini yang dominan menjadi penyebab pembatalan pembangunan bandar udara di utara Pulau Bali.

Apakah bandar udara masih perlu dibangun lagi di Bali utara?
atau
Memperbaiki sistem transportasi di kawasan Bali selatan?
Misalnya meniru sistem transportasi di Singapura. Sebab Singapura tampaknya mampu mengatasi permasalahan terkait dengan kemacetan dan transportasi. Padahal, mereka memiliki satu bandar udara saja, dengan jumlah wisatawan dan penduduk jauh lebih banyak dari Pulau Bali. Sementara luas daratan lebih kecil dari Pulau Bali.
dan 
Membuat jalur bebas hambatan dari Bandara Ngurah Rai menuju Bali Utara (Buleleng); Bali Timur (Karang Asem) dan Bali Barat (Negara). 

atau

Menjadikan Bali sebagai destinasi yang mahal dan berkualitas (quality tourism)?
Sebenarnya Bali punya potensi untuk ini. Tapi penerapan konsep quality tourism, tidak mudah. Belum ada studi yang fokus ke hal ini.

Transparan
Mayarakat perlu tahu, bagaimana sebenarnya kajian ilmiah terhadap permasalahan ini. Keputusan apapun yang diambil, jika didasari dengan kajian ilmiah, studi kelayakan, dan diketahui oleh masyarakat luas (transparan), tentunya akan berdampak baik di masa depan.

Tentunya hal ini akan menjadi suatu pembelajaran yang baik bagi pemerintah dan masyarakat dalam membangun Bali.


Rabu, Juli 04, 2012

Pembangunan Bandara International di Buleleng

Beberapa waktu belakangan ini, banyak orang memperdebatkan pembangunan bandara bertaraf internasional di Buleleng (Bali Utara). Hal ini tentunya sangat menarik perhatian untuk diamati, karena pembangunan bandara internasional di daerah Bali bagian utara memiliki posisi strategis bagi pembangunan Bali  di masa depan.
Wacana pembanguna bandara di Bali bagian utara (daerah Buleleng) tentunya dikembangkan untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat mengenai kemungkinan dampak baik maupun buruk yang akan terjadi. Ada yang mendukung, adapula yang antipati. Berbagai kalangan mulai praktisi, akademisi dan pemerintah ikut serta urun rembug. Pendapat yang mendukung pembangunan bandar udara bertaraf internasional antara lain sebagai berikut :
  1. Keterbatasan daya tampung Bandara Ngurah Rai. Berdasarkan catatan dari Kemenhub, jumlah wisatawan yang masuk melalui Bandara Ngurah Rai saat ini mencapai 12 juta orang setiap tahun. Jumlah ini akan terus bertambah, di mana pada tahun 2017 nanti diperkirakan mencapai 17 juta orang pertahun, dengan asumsi tingkat pertumbuhan 20,00% pertahun. Di Bandara Ngurah Rai sudah tidak memungkinkan untuk menambah landasan pacu.
  2. Pemerataan pertumbuhan ekonomi. Tidak dapat dipungkiri lagi, pertumbuhan perekonomian di wilayah Bali bagian selatan, sangat pesat. Saking pesatnya, pertumbuhan ini justru menimbulkan ketimpangan dengan wilayah Bali bagian utara. Fenomena ini dapat kita lihat dari beberapa indikator, antara lain : (i) harga tanah yang teramat sangat mahal di wilayah Bali bagian selatan (sebagai ilustrasi, harga tanah di Kuta per are dapat mencapai Rp. 1-3 milyar,bahkan lebih. Itupun kalau ada yang mau jual), coba kita bandingkan dengan daerah Buleleng, berani jamin, dengan uang Rp.1 milyar, boleh dapat tanah seluas 0,5 hektar sampai dengan 1 hektar); (ii) biaya hidup di daerah Bali bagian selatan jauh lebih tinggi dengan Bali bagian utara, (iii) lapangan pekerjaan jauh tersedia lebih banyak tersedia di wilayah Bali bagian selatan, sehingga banyak terjadi urbanisasi ke kota Denpasar dan sekitarnya. Kalau di Bali bagian utara karena pertumbuhan perekonomian tidak sebaik di Bali bagian selatan, tentunya lapangan pekerjaan yang tersedia lebih sedikit.
  3. Mengatasi kemacetan lalu lintas. Tidak dapat dipungkiri, dengan adanya Bandara Ngurah Rai, mendorong pembangunan sarana dan prasarana pariwisata. Hotel, restaurant, biro perjalanan, kantor-kantor, super market, sebagian besar dibangun pada radius yang dekat dengan bandara. Kondisi ini menyebabkan arus lalulintas terpusat pada wilayah sekitar bandara, akibat aktivitas perekonomian.
Harapan yang timbul dengan adanya pembangunan Bandara bertaraf internasional di wilayah Bali bagian utara adalah mampu meningkatkan daya tampung bandara bagi kedatangan wisatawan atau pengunjung, meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi sebagai efek jangka panjang karena pembangunan bandara mampu menggairahkan perekonomian di wilayah Bali bagian utara dan kemacetan lalulintas dapat di atasi karena aktivitas pariwisata dan perekonomian sebagian beralih ke Bali bagian utara.

Pendapat yang tidak mendukung pembangunan bandara bertaraf internasional di Bali bagian utara antara lain :
  1. Daya dukung Pulau Bali yang sangat terbatas. Bali adalah pulau kecil dengan suber daya alam yang sangat terbatas. Apabila dibangun bandara lagi, maka ada kekhawatiran makin banyak pula wisatawan yang datang, makin banyak pula hotel-hotel, restauran, supermarket dan sarana pariwisata lainnya yang akan dibangun. Oleh karena itu makin banyak pula sumber daya alam Pulau Bali yang akan dieksploitasi yang nantinya merusak Pulau Bali itu sendiri.
  2. Bertentangan dengan konsep "Sustainable Tourism Development". Saat ini para akademisi dan praktisi pariwisata yang insaf terhadap keberlanjutan Pulau Bali mendengung-dengungkan konsep ecotourism, pro-poor tourism, community based tourism, green tourism, dan quality tourism yang pada intinya mengembangkan kepariwisataan yang berkelanjutan, di mana kedepannya nanti generasi penerus masyarakat Bali dapat menikmati 'kue' pariwisata tanpa harus menderita akibat dampak negatif pengembangan pariwisata seperti : kerusakan alam dan lingkungan, akulturisasi budaya, hilangnya kepemilikan lahan (seperti masyarakat Betawi di Jakarta).
Dari kedua  pendapat yang bertentangan, seperti kata Pak Karni Ilyas (di TV One) pandangan optimis dan pesimis, semuanya berguna bagi pembangunan. Yang optimis membuat kapal terbang, yang pesimis membuat pelampung, yang optimis menginjak gas, yang pesimis menginjak rem.
Pandangan penulis sendiri, (mohon maaf) SETUJU dengan pembangunan Bandara Bertaraf Internasional di Bali bagian Utara (Buleleng), demi menyeimbangkan arus wisatawan dan pengunjung yang datang ke Pulau Bali melalui udara dengan harapan terciptanya pemerataan pembangunan ekonomi yang kedepannya mampu menjawab masalah lingkungan, sosial, budaya yang timbul seperti saat ini. Dengan satu syarat yakni tetap teguh mengembangkan kepariwisataan dalam konsep SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT.