Tampilkan postingan dengan label pariwisata bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata bali. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 03, 2009

TAHAP PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI


Dengan meningkatnya pertumbuhan pariwisata di dunia tentunya akan meningkatkan persaingan bagi penyedia layanan wisata di seluruh dunia. Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di dunia yang diminati wisatawan. Hal ini disebabkan karena Bali memiliki daya tarik alam dan budaya Bali. Gunung, lembah,ngarai dan sungai mengukir keindahan alam Pulau Bali yang mengagumkan. Namun demikian satu hal strategis yang menjadikan Bali ‘berbeda’ dari destinasi wisata lainnya di seluruh dunia adalah kebudayaan Bali. Kebudayaan Bali meliputi tujuh (9) S, yakni :Subak, Sanggah, Seni, Sesajen, Sesana, Semita, Sime, Sekehe dan Sradaha. Kebudayaan Bali ini lah yang tidak dapat ditiru oleh daerah tujuan wisata lainnya diseluruh dunia.

Jika dilihat perkembangan asset budaya dan pariwisata Bali, dapat dibedakan dalam lima tahap, yaitu :


  1. Fase warisan budaya (masa pembentukan aset pariwisata Bali/Bali Age), ditandai dengan peninggalan sejarah berupa pura-pura oleh Rsi Markandya, dilanjutkan oleh Mpu Kuturan (kayangan tiga, kayangan jagat samuan tiga), kemudian Mpu wijaksara dan Mpu Kasogatan yang menyebarkan tradisi majapahit. Pada 1450-1480, Dang Hyang Nirartha dengan padmasana dan pemberdayaan pura-pura di pesisir.

  2. Fase penemuan, ditandai dengan dikenalkannya Bali oleh Prof.Goris di manca negara.

  3. Fase kelahiran, pada 1963 ditandai dengan berdirinya Hotel Bali Beach, dilaksanakannya Pesta Kesenian Bali dan konfrensi Pata.

  4. Fase perkembangan,
    - 1971 s/d 1981 pengembangan kawasan Nusa Dua
    - 1981 s/d 1991 investasi hotel-hotel di Nusa Dua tahap I
    - 1991 s/d 2001 pengembangan kawasan candi dasa, lovina, ubud, legian dan canggu
    - 2001 s/d 2009 investasi kawasan Nusa Dua tahap 2
    5.Fase declain, masa dimana terjadi kriminalitas (teror), perusakan dan pencemaran.

Kamis, April 02, 2009

DANAU BUYAN DAN BRATAN, SEBUAH KONTROVERSI


Gambaran Umum
WTO (Organisasi Pariwisata Dunia) telah memprediksikan bahwa pariwisata merupakan industri terbesar yang tumbuh di abad 21 dengan perkiraan mencapai 1,6 milliar wisatawan pada tahun 2020, dengan kemampuan pembelanjaan mencapai US$ 2 triliun (atau meningkat 5 kali lipat dibandingkan kondisi pada tahun 2005 yang hanya mencapai US$ 445miliar). Kondisi ini menjanjikan suatu harapan akan kesejahteraan bagi kalangan pariwisata dan kalangan yang bergerak disekitar industri pariwisata. Investasi di bidang pariwisatapun terus berkembang, mulai dari pembangunan hotel, restauran dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.


Pulau Bali merupakan daerah tujuan wisata, meskipun didera berbagai cobaan seperti bom dan isu flu burung, namun pengembangan pariwisata di Bali tak pernah berhenti. Pariwisata tetap menjadi motor utama penggerak perekonomian di Bali yang didukung oleh pemerintah, pengusaha dan seluruh masyarakat Bali. Kondisi ini tercermin dari jumlah wisatawan yang datang kepulau Bali. 27,83% wisatawan yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai menduduki posisi teratas, disusul oleh Batam 23,39% dan Jakarta 21,24%.


Sumbangan sektor pariwisata di Bali terhadap pembangunan daerah Bali sudah tidak dapat disangkal lagi. Dengan adanya pariwisata, membutuhkan sarana dan prasarana seperti hotel, restauran, biro perjalanan, jasa komunikasi, jasa perbankan, jasa suplier makanan dan minuman, dll yang menyerap banyak tenaga kerja.Sumbangan pajak yang dihasilkan sektor pariwisata sangat membantu pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di Bali. Devisa yang dihasilkan sangat membantu pemerintah di dalam menstabilkan nilai Rupiah terhadap mata uang asing dan menyeimbangkan neraca perdagangan pemerintah.


Berbagai macam produk wisata yang ditawarkan di Bali, meliputi produk kreasi budaya (culture) , peninggalan sejarah (heritage), nature atau eko-wisata dan pengembangan pariwisata alternative, seperti wisata spiritual. Bali memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan dan dikelola sebagai suatu destinasi wisata. Hal yang paling menonjol adalah kebudayaan Bali yang tidak pernah ada habis daya tariknya untuk dinikmati wisatawan manca negara maupun wisatawan domestik. Selain kebudayaan Bali yang memberikan suasana ’hidup’, Bali juga didukung oleh sumber daya alam yang dapat dikembangkan sebagai produk wisata alam. Sumber daya alam tersebut berupa gunung, sungai, danau dan sumber daya alam lainnya.

Danau di Bali Peranan dan Permasalahan yang Dihadapi
Danau menyimpan potensi wisata yang luar biasa, Bali memiliki empat buah danau, yakni : Danau Beratan (370 ha), Batur (1607 ha),. Buyan (360 ha), dan Tamblingan (110 ha). Keempat danau ini memiliki potensi wisata yang luar biasa. Menurut Prof. Mardani (2009), keempat danau di Bali ini merupakan nyawa dari Pulau Bali yang harus dijaga kelestariannya, karena keempat danau ini mengairi seluruh sungai-sungai yang ada di Bali. Tidak dapat dibayangkan jika keempat danau ini tidak dijaga kelestariannya, berbagai macam bencana akan datang menimpa Pulau Bali. Saat ini tiga danau yang sudah dikelola untuk tujuan pariwisata, yakni Danau Batur, Danau Buyan dan Danau Beratan. Bagi masyarakat Bali, danau merupakan tempat yang disucikan.Oleh karenanya pengembangan pariwisata di daerah danau harus memperhatikan aspek budaya, lingkungan dan aspirasi masyarakat sekitar danau. Dewasa ini semakin banyak alam di Bali yang dirongrong dan menjadi incaran para investor seperti kawasan Danau Beratan yang kini telah dibangun villa-villa, Pantai Kelating di Tabanan yang juga akan dibangun villa, rusaknya bukit di dreamland Pecatu yang hanya untuk pembangunan apartemen, kawasan Pantai Padang Bai yang kini juga sedang dibangun hotel berbintang meskipun kini proyek tersebut sedang terhenti karena masalah perijinan daerah. Di tempat lain masih saja ada kasus yang sama, seperti halnya di Danau Buyan yang merupakan kawasan hutan lindung dimana sumber daya alamnya masih dibutuhkan oleh masyarakat kawasan danau Buyan pada khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Kini kawasan bumi perkemahan tersebut akan dibangun villa oleh investor luar dengan dana mencapai triliunan rupiah. Kawasan Danau Buyan dianggap sebagai kawasan suci yang seharusnya dilestarikan, menurutnya juga nanti akses untuk menuju ke Buyan II kemungkinan akan ditutup untuk umum. Jelas saja itu akan sangat memberatkan masyarakat lokal pada umumnya karena kawasan hutan di danau Buyan sangat mempengaruhi kehidupan bagi penduduk setempat. Di samping itu banyak faktor lain yang membuat proyek ini menjadi proyek illegal, seperti misalnya masalah perijinan yang cacat (sumber: Walhi Bali). Lima desa di kawasan tersebut sendiri menolak adanya pembangunan villa dan sejenisnya, begitu juga dengan beberapa LSM, NGO dan Mapala jelas menolak proyek ini. Karena seperti yang sudah-sudah, pembangunan seperti itu kebanyakan tidak berpihak kepada masyarakat setempat dan terutama kepada alam dan ekosistem yang ada. Kami menyempatkan diri untuk datang melihat situasi dan kondisi Danau Buyan begitu proyek tersebut dipublikasikan, namun waktu itu proyek belum berjalan sama sekali, dua bulan berlalu kami kembali ke Danau Buyan untuk menolak pembangunan tersebut. Di lokasi kami melihat adanya galian untuk pembangunan kanalisasi limbah di areal Buyan I seperti yang tertera pada sebuah papan proyek, lalu ada sebuah bangunan baru berupa wantilan yang dibangun permanen di areal Buyan II serta sebuah menara yang dibangun dengan merabas hutan di tepi danau. Terlihat sebuah bangkai pohon besar yang telah ditebang di sana.
Menurut penduduk setempat proyek tersebut sudah sampai pada tahap pemotongan pita, namun peletakan batu pertama masih tertunda karena masalah ijin dan penolakan oleh masyarakat setempat (Walhi Bali : 2008).


Saat ini danau buyan dan danau beratan sudah mengalami pendangkalan sebagai akibat (i) pengembangan pertanian penduduk lokal sekitar danau, (ii) pembangunan villa-villa disekitar danau yang menebang hutan disekitar danau yang menyebabkan berkurangnya serapan air menuju danau, (iii) khusus untuk danau buyan pendangkalan banyak disebabkan oleh berkembangbiaknya enceng gondok disekitar danau, (mardani, 2009)
Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin sumber daya alam yang dimiliki Bali akan mengalami kerusakan yang dapat mengakibatkan hancurnya pariwisata di Bali. Oleh karenanya kalangan pemerintah dan akademisi mengubah pola pengembangan pariwisata di Bali dari konsep mass tourism menjadi konsep sustainable tourism development.


Upaya-upaya untuk menjaga kelestarian danau
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian danau yang merupakan ’nyawa Pulau Bali’ adalah sebagai berikut (Mardani, 2009):



  1. Melakukan kegiatan monitoring. Kegiatan monitoring dilakukan secara berkala, untuk memantau pencemaran tidak melampaui ambang batas yang telah ditetapkan. Saat ini sudah banyak pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas pariwisata, misalnya :
    a. Perahu boat yang menggunakan bahan bakar minyak.
    b. Pembangunan sarana akomodasi dan restaurant di sekitar danau
    Dengan kegiatan monitoring diharapkan penggunaan perahu boat dapat dibatasi, demikian pula pembangunan villa disekitar danau dapat dihentikan, karena jika makin banyak villa-villa dibangun, maka makin banyak pula pohon-pohon yang akan ditebang.

  2. Tidak melakukan penanaman secara serentak di daerah pinggiran danau. Penanaman secara serentak dipinggir danau dapat menyebabkan penyerapan air yang berlebihan ke daerah pinggiran danau. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akar-akar tanaman akan menutup pinggiran permukaan danau sedikit demi sedikit, kondisi ini akan mempersempit permukaan danau.
  3. Melakukan kegiatan replanning (penataan ulang), yakni menata ulang kembali wilayah danau untuk menjaga kelestariannya. Dalam penataan ulang ini, jika ada sarana akomodasi dan restoran serta sarana pariwisata lainnya yang perlu dihancurkan, maka demi pelestarian danau dapat dilakukan.

  4. Disinsentif pajak, yakni menaikkan pajak bagi sarana pariwisata dan entitas ekonomi sekitar danau, khususnya yang berpotensi menimbulkan perusakan danau.
    Pengembangan ekowisata di dalam kawasan danau dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem danau. Ecotraveler menghendaki persyaratan kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (commnnity based).

Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam. Pendapatan langsung untuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conservation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan, peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam. Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Hindarkan sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat. Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, tetapi daya dukunglah yang membatasi. Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.


Tri Hita Karana dapat digunakan untuk menjaga kelestarian danau buyan dan bratan. Dalam filosofi orang bali, Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan menyelaraskan hidup manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam dan lingkungan (Dalem,2007). Salah satu strategi pencapaian tujuan ini adalah dengan Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Menurut Raka Dalem (2007), aplikasi dari sistem manajemen lingkungan membutuhkan tiga koordinator yang mewakili tiga kelompok untuk melaksanakan konsep Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan dan palemahan). Dalam hal ini top manajemen (pemerintah) selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan aplikasi THK, menyusun program yang berwawasan lingkungan dengan kriteria :



  • Cocok dengan skala dan jenis kegiatan (usaha) yang dilakukan

  • Berisi komitmen terhadap perbaikan yang berkelanjutan serta pencegahan polusi

  • Mempunyai komitmen mengikuti peraturan dan perundangan yang berlaku
  • Mempunyai framework, setting, reviewing serta target lingkungan yang ingin dicapai

  • Didokumentasikan, diimplementasikan dan dipertahankan/ditetapkan serta dikomunikasikan terhadap semua tenaga kerja

  • Terbuka untuk umum ISO 4001

  • Kebijakan lingkungan mesti memperhatikan keseimbangan antara parhyangan, pawongan dan pelemahan sesuai falsafah Tri Hita Karana

Team ini membuat rencana kerja serta program yang tidak boleh bertentangan dengan Tri Hita Karana, hukum serta peraturan perundangan yang berlaku. Rencana kerja ini diimplementasikan oleh organisasi dan didanai oleh manajemen (pemerintah). Top manajemen dalam jangka waktu tertentu mengadakan review terhadap SML untuk mencapai kesesuaian yang berkelanjutan serta keefektifannya.

Simpulan
Danau Bratan dan Buyan adalah dua buah danau dari empat danau yang ada di Bali yang merupakan ’Nyawa Pulau Bali’. Keindahan danau telah menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya. Demikian pula para investor makin tertarik untuk menanamkan modalnya di bidang pariwisata di danau tersebut.
Pengembangan pariwisata di kawasan Danau Bratan dan Buyan menimbulkan kontroversi yang disebabkan dua sisi positif maupun negatif sebagai akibat dari pengembangan pariwisata. Dari sisi positif , multiflier effect ekonomi sudah dirasakan mensejahterakan masyarakat/penduduk disekitar danau. Namun sisi negatif yang ditimbulkan cukup banyak pula, misalnya terjadi pendangkalan danau, pencemaran danau dan rusaknya ekosistem sekitar danau. Tampaknya efek negatif yang ditimbulkan cukup banyak dan menimbulkan kekhawatiran bagi masa depan Pulau Bali.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian danau adalah dengan melakukan replanning (penataan ulang) (Mardani,2009) dan dengan strategi sistem manajemen lingkungan yang berdasarkan pada falsafah Tri Hita Karana (Dalem, 2007). Dengan upaya demikian, meskipun tidak mudah untuk dilakukan, diharapkan kedepan, pengembangan pariwisata di kawasan wisata Danau Bratan dan Buyan mampu menjaga kelestarian danau sebagai warisan bagi generasi penerus Bali di masa yang akan datang untuk kehidupan yang sejahtera.

Daftar Pustaka
Dalem, Raka, 2007, Sistem Manajemen Lingkungan, Tri Hita Karana dan Implementasinya Pada Hotel, Program Pasca Sarjana Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar
Mardani,2009, Danau sebagai Nyawa Pulau Bali, Materi Kuliah Perdana pada Program Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar

Jumat, Maret 20, 2009

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA 2

Unsur sosial budaya yang menjadi daya tarik wisatawan (Spillane,2008)
  1. Kerajinan, adalah segala sesuatu yang merupakan hasil kegiatan manusia yang berwujud benda unik, indah dan menarik. Contoh : Topeng,Patung, gantungan kunci, lukisan dan anyam-anyaman
  2. Bahasa, adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, tidak berwujud . Contoh : Bahasa Bali, Bahasa Indonesia
  3. Tradisi-tradisi, adalah kebiasaan-kebiasaan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang terjadi secara turun menurun dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh : Manusa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya
  4. Gastronomi, adalah hal-hal yang menyangkut makanan / kuliner/tata boga yang meliputi cita rasa, bahan baku, teknik pengolahan dan teknik penyajian. Contoh : masakan/hidangan khas bali
  5. Kesenian/Musik, adalah wujud ekspresi keindahan yang terlahir dari cipta rasa dan karsa dan terwujud dalam gerak, suara dan gambar. Contoh : tari bali, kidung/geguritan/kekawin, seni lukis
  6. Sejarah, adalah hasil perbuatan masa lampau dari suatu bangsa yang menjadi sebab dari suatu fenomena / keadaan masyarakat saat ini. Contoh : Sejarah kerajaan nusantara.
  7. Pekerjaan, adalah segala sesuatu yang dilakukan sebagai sumber penghidupan, dimana dengan melakukan hal tersebut akan mendapatkan wan prestasi. Contoh : Pekerjaan sebagai nelayan, petani, perajin, seniman dsb
  8. Arsitektur, adalah perwujudan seni pada tata bangunan dan tata ruang dan dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Contoh : arsitektur bali
  9. Agama, adalah jalan hidup manusia untuk mendekatkan diri bahkan menyatu kepada Sang Pencipta. Contoh : Hindu, Budha,Kristen, Islam
  10. Pendidikan, adalah suatu proses yang berkesinambungan dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan seseorang
  11. Mode / Costume, adalah segala sesuatu yang sedang populer pada saat sekarang dan sangat diminati masyarakat
  12. Leisure (waktu luang), adalah segala sesuatu yang dilakukan pada waktu luang dengan aktivitas yang mampu memberi efek relaksasi pada diri.
Tantangan dan peluang yang dihadapi SDM Pariwisata di era globalisasi :
  1. Tantangan, Kondisi masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan, menghadapi tata hubungan antar bangsa yang makin terbuka bebas. Arus informasi budaya yang datang dari luar makin meningkat dan tidak dapat dicegah.
  2. Peluang, Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam , budaya dan kesenian, yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisataIndonesia memiliki jumlah penduduk yang besar yang berpotensi untuk menggerakkan industri pariwisata
  3. Budaya Indonesia yang ramah tamah, berperilaku sopan dan menghargai tamu
Posisi sumber daya manusia pariwisata Indonesia / Bali dewasa ini dalam persaingan global :
Pada akhir bulan Oktober lalu, the World Economic Forum (WEF) menerbitkan Index Daya Saing Pariwisata Dunia tahun 2007. Index ini menempatkan Indonesia pada peringkat 60. Sedangkan Singapura berada pada no. 8, Malaysia no. 31 dan Thailand no. 43. Lagi-lagi ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi Indonesia. Ternyata bahwa penilaian WEF terhadap “daya saing” tidak saja diukur dari keindahan alam dan keaneka ragaman budaya dari suatu destinasi. Bukan juga semata masalah harga yang kurang menarik, ataupun sektor swasta yang kalah berbisnis. ”Rapor” daya saing versi WEF ini didasarkan kepada 13 kriteria, yaitu: perundangan, peraturan dan kebijakan yang menata dan mengembangkan pariwisata dan perjalanan (Tourism and Travel); Kebijakan lingkungan hidup; Keamanan destinasi; Kebersihan; Kesehatan; penempatan Travel and Tourism sebagai prioritas pembangunan; Infrastruktur Perhubungan Udara; Infrastruktur Pariwisata; Infrastruktur Teknologi Informasi; Daya Saing Harga; mutu dan kinerja Sumber Daya Manusia; Persepsi nasional terhadap Pariwisata; dan baru terakhir: Sumber Daya Alam dan Budaya. Jelas bahwa sebagian terbesar merupakan kewenangan instansi lain di luar Pariwisata.
Penilaian Index Pariwisata Indonesia pada tingkat 60, selain didasarkan pada statistik dan data, mau tidak mau juga didasarkan kepada persepsi dunia yang oleh media televisi global termasuk media di Indonesia sendiri, memberi kesan bahwa negara ini tetap kurang aman, kotor, tidak sehat, dll. yang semuanya menghambat keinginan dan nyali wisatawan untuk berlibur di Indonesia. Tetapi jujur saja, selain faktor eksternal, ada juga masalah internal kepariwisataan yang bermuara kepada lemahnya Indonesia bersaing di kancah pariwisata global. Bila kita teliti kriteria yang menjadi dasar penilaian WEF diatas, maka sebenarnya kelemahan Pariwisata Indonesia terletak pada lemahnya Management dan Kepemimpinan Destinasi di setiap tingkat, lemahnya profesionalisme SDM di semua tingkatan, tidak jelasnya Political Will (dari Eksekutif maupun Legislatif) yang secara konsisten memprioritaskan pengembangan kepariwisataan, yang terasa pada minimnya anggaran yang dialokasikan kepada sektor ini, sehingga dengan sendirinya Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara lain yang memiliki biaya jauh lebih besar bagi pembangunan dan pemasaran sektor pariwisata. Dan tidak kalah penting adalah kenyataan bahwa Komunikasi internasional Indonesia di pihak Pemerintah maupun pada berita media domestik ke luar negeri masih sangat lemah. Indonesia jarang meng-counter tuduhan dan berita negatif yang dilontarkan dunia internasional, sehingga berita dan citra yang usang perihal terjadinya teror, penyakit menular, bencana alam, kecelakaan pesawat di Indonesia masih melekat pada persepsi masyarakat dunia, yang berakibat kepada hilangnya kepercayaan (trust) wisatawan bahwa Indonesia adalah destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Posisi ideal yang diharapkan di masa yang akan datang :
Sumber daya manusia Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan sumber daya manusia global. Oleh karenanya perlu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata Indonesia, melalui pendidikan, pelatihan dan program sertifikasi tenaga kerja pariwisata Indonesia . Sedikit tidaknya SDM Pariwisata dalam waktu dekat sudah mampu naik peringkatnya dari urutan 53 menuju urutan 52, 51 s/d 1.
Hanya sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, baik dalam produk maupun pelayanan dapat hidup dalam persaingan global. Pernyataan ini sangat tepat, karena seperti kita ketahui bersama tingkat persaingan di dalam industri pariwisata dewasa ini sudah sangat tinggi. Oleh karenanya salah satu cara untuk bertahan dan memenangkan persaingan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Terlebih lagi di dalam industri pariwisata, produk utama yang dijual adalah pelayanan, dimana pelayanan yang prima (excellent service) hanya dapat dilakukan oleh manusia. Jika pelayanan sudah dilakukan dengan sebaik mungkin, maka kepuasan wisatawan akan dapat dicapai. Kunci strategis memenangkan persaingan adalah dengan menjamin kepuasan wisatawan melalui kualitas sumber daya manusia.
Pelaksanaan pembangunan pariwisata bagi suatu negara adalah terwujudnya kesejahteraan dan perdamaian dunia.
Pernyataan ini menunjukkan dengan pariwisata maka kesejahteraan terwujud, karena terjadi aktifitas ekonomi (transaksi) yang dapat menimbulkan efek multiflier. Hal ini tentunya akan mengarah pada pemerataan pendapatan dan berakhir pada peningkatan kesejahteraan.Perdamaian dapat diwujudkan melalui peran pariwisata, karena dengan adanya pariwisata maka terjadi pertukaran budaya dan nilai-nilai luhur, terjadi pula hubungan persahabatan dengan berbagai macam bangsa di dunia, kondisi kondusif ini akan menimbulkan suatu konsep berpikir pada masyarakat pariwisata dan berkembang pada masyarakat umum bahwa pada hakekatnya semua manusia di bumi ini adalah sama (tatwam asi), sama-sama ciptaan Tuhan, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama.

Sabtu, Maret 07, 2009

BALI SYNDROME

THE BALI SYNDROME” :THE EXPLOSION AND IMPLOSION OF ‘EXOTIC’ TOURIST SPACES

Bali sindrom, adalah sebuah usaha untuk menggambarkan adanya semacam perubahan sosial budaya yang terjadi karena pengaruh pariwisata yang terjadi di Bali. Perilaku wisatawan yang berkunjung ke Bali secara tidak disadari merubah dan menggerogoti kehidupan masyarakat Bali. Dalam tulisan Claudio Minea yang sungguh luar biasa ini, dengan tingkat intelektualitasnya yang tinggi justru menjadi hambatan baginya dalam mentransfer ide-idenya tentang pariwisata di Bali. Pemilihan bahasa inggris ’tingkat tinggi’ bahkan ada beberapa kosa kata yang tidak ada di kamus Poerwadarminta, menjadikan seni tersendiri dalam mereview tulisan Minea ini.
Pariwisata merupakan sebuah fenomena yang disebabkan perpindahan orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya yang bersifat sementara, dengan tujuan bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Konsep mass tourism yang diterapkan di Bali selama ini, memberikan landscape tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Di satu sisi pembangunan pariwisata di Bali memberikan nuansa budaya barat yang megah dan gemerlap, namun disisi lain Bali menampakkan wajah yang buram mengenai pembangunan pariwisatanya, dimana masih dapat dilihat potret kemiskinan disetiap sudut pulau bali.
Kesimpulannya, Minea mengharapkan agar pembangunan pariwisata di Bali memperhatikan konsep keseimbangan, agar nantinya Bali kedepannya menjadi lebih baik, dimana pembangunan pariwisata tidak menyisakan suatu potret buram kehidupan masyarakat Bali yang masih akrab dengan kemiskinan, bau, kriminal yang sungguh kontras dengan kemegahan hotel-hotel yang ada di kawasan Nusa Dua, Kuta, Sanur dan Jimbaran.