- See more at: http://dikaeuphrosyne.blogspot.com/2013/04/cara-agar-artikel-di-blog-tidak-dapat.html#sthash.JcEiggbH.dpuf Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): TEORI HEGEMONI

Kamis, November 21, 2013

TEORI HEGEMONI

Antonio Gramsci dan Teori Hegemoni
Hegemoni merupakan perangkap kekuasaan dari satu pihak kepada pihak yang lain. Kondisi ini kerap terjadi dalam sektor pariwisata yang dilakukan pihak pemerintah, pengusaha kepada masyarakat/rakyat Bali. Misalnya saja dalam kasus pembebasan lahan di objek-objek wisata. Kasus hegemoni juga banyak terjadi di seluruh belahan bumi, kasus indian, aborigin, sami di Swedia dimana suku-suku pribumi banyak termarginalisasi. MC Canel menyatakan bahwa wisatawan ingin melihat sesuatu yang autentik dari sebuah daerah tujuan wisata. Indigenous people (masyarakat pribumi) sering menjadi korban dalampraktik-praktik kekuasaan.

Tokoh lainnya adalah Gramsci (1891-1937) dengan pandangan neo-marxis. Dalam konteks pemikiran Gramssci suku maya terpengaru pada ideologi dewa Matahari sehingga berjiwa ekspansionis/agresif dan berkembang menjadi kebudayaan yang besar, dengan mengorbankan manusia kepada Dewa Matahari. Pemikiran Gramsi sangat kuat pada pendidikan untuk mengembangkan kebudayaan, dimana orang-orang yang berpendidikan menempati tempat-tempat yang berpengaruh pada masyarakat. Ideologi merupakan alat untuk mencapai kekuasaan. Dominasi terletak pada aspek fisik, sedangkan Hegemoni terletak pada aspek non fisik seperti Ideologi yang sifatnya abstrak yang terkait dengan ide-ide untuk menguasai pihak-pihak inferior. Counter hegemony merupakan sebuah tindakan untuk melawan hegemoni dari pihak-pihak yang berkuasa. Kalau di Bali contohnya dapat dilihat pada kasus reklamasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat.
 Intelektual tradisional adalah penguasa yang biasanya berlawanan dengan intelektual organik (kelompok sosial class) yang sering melakukan counter hegemony terhadap kaum intelektual tradisional. Kondisi ini berlaku pada penerimaan pariwisata pada masyarakat, dimana pada awalnya menerima, kemudian apatis bahkan menolak pariwisata. Intelektual tradisional cenderung bersikap status quo dan pro kepada kekuasaan dengan mengharapkan keuntungan. 

Dalam pemikiran Gramsci, sekolah dianggap tempat menghasilkan kaum intelektual tradisional yang memiliki faham hegemony. Namun demikian pada kenyataannya saat ini sekolah juga mampu menghasilkan faham dan sikap counter hegemony seperti yang terjadi dewasa ini, dimana seringkali pihak kampuslah yang meruntuhkan kekuasaan (contoh : Suharto 1998).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar