- See more at: http://dikaeuphrosyne.blogspot.com/2013/04/cara-agar-artikel-di-blog-tidak-dapat.html#sthash.JcEiggbH.dpuf Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): Maret 2009

Senin, Maret 23, 2009

TIPS BEKERJA DI KAPAL PESIAR


Oleh : Made Bayu dan Made Ary Suryathi
Bekerja di kapal Pesiar merupakan impian bagi sebagian besar mahasiswa perhotelan. Tidak bisa dipungkiri , di jaman krisis seperti ini, tawaran untuk memburu dolar lewat jalur bekerja di kapal pesiar, masih merupakan alternatif utama mendapatkan uang dalam jumlah besar. Sebelum bekerja di kapal pesiar umumnya para pelamar diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Saat ini banyak pemeriksaan kesehatan yang ditawarkan berbagai rumah sakit dan balai pemeriksaan kesehatan. Demikian juga berbagai persyaratan yang diwajibkan oleh badan penyelenggara tenaga kerja ke kapal pesiar. Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa hal tentang jenis pemeriksaan dan hal-hal yang sebaiknya diketahui sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan.
Jenis pemeriksaan kesehatan yang umum dilaksanakan dalam rangka pemberangkatan tenaga kerja ke kapal pesiar adalah:
1. Pemeriksaan Fisik
2. Pemeriksaan THT & Audiogram
3. Pemeriksaan Mata
4. Rontgen Thorax
5. Pemeriksaan Laboratorium :
a. Darah lengkap
b. Gula Darah Puasa
c. Fungsi Hati (Bilirubin Total, bilirubin direct/indirect, protein total, albumin/globulin, SGOT,SGPT, ALP)
d. Fungsi ginjal (Ureum, kreatinin, asam urat)
e. Lemak darah (Trigliserida, kolestrol total, HDL/LDL)
f. Imuno-Serologi (HbsAg, Anti HCV, VDRL, Anti HAV)
g. Urine lengkap (tambahan PPT khusus wanita)
h. Narkoba (Ampetamin, Benzodiazepin, Opium, Locain, PCP, THC, Barbiturat)
6. Konsultasi Dokter Spesialis


Berikut akan diuraikan beberapa hal tentang pemeriksaan-pemeriksaan diatas.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umumnya dilakukan oleh seorang dokter umum yang sudah terlatih untuk melakukan pemeriksaan general check up. Yang dimaksudkan dengan pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan seseorang dari ujung rambur sampai ujung kaki. Pemeriksaan ini akan lebih dikhususkan jika terdapat keluhan, seperti misalnya sering nyeri ulu hati, sering pilek, sering sulit BAB, dan sebagainya. Calon tenaga kerja akan diperiksa berat badan, tinggi badan, tekanan darah, nadi, pernafasan, kondisi mata, THT, paru-paru, jantung, perut, tangan dan kaki.
Pemeriksaan THT & Audiogram
Umumnya dilakukan oleh seorang dokter spesialis THT atau dokter umum yang sering menangani kasus-kasus THT. Pada pemeriksaan ini akan ditanyakan apakah calon tenaga kerja memiliki keluhan di organ tubuh telinga, hidung,dan atau tenggorokan. Jika tidak, tetap dilakukan pemeriksaan standar THT. Pada beberapa pemeriksaan, seringkali ditemukan keluhan radang tenggorokan dan pilek oleh karena alergi. Kedua penyakit ini bukanlah suatu kondisi yang akan menyulitkan calon tenaga kerja lulus pada pemeriksaan kesehatan. Oleh karena penyakit ini seringkali dialami oleh orang sehat yang mengalami kelelahan, memiliki kecenderungan alergi, dan beban stres psikologi. Sebab itu disarankan untuk cukup istirahat, banyak minum air putih, mengurangi rokok dan minuman bersoda, serta olahraga sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan.
Audiogram sendiri tidak rutin dilaksanakan, oleh karena gangguan pendengaran umumnya jarang dijumpai pada usia muda. Audiogram memerlukan alat khusus dan tidak semua instansi kesehatan memilikinya. Selain itu tidak semua lembaga penyalur tenaga kerja mensyaratkan pemeriksaan kesehatan ini.
Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan oleh sorang dokter spesialis mata atau dokter umum yang terbiasa mengangani kasus-kasus penyakit mata. Jika tidak ada keluhan, calon tenaga kerja akan diperiksa ketajaman penglihatan dan tes buta warna. Tes ketajaman penglihatan dilakukan dengan cara calon tenaga kerja diminta membaca huruf dan angka dari ukuran besar sampai yang paling kecil. Jika calon tenaga kerja bisa membaca sampai batas normal mata manusia tanpa kacamata, maka pemeriksaan tersebut dalam batas normal. Sedangkan tes buta warna dilakukan dengan cara calon tenaga kerja diminta untuk membaca angka – angka yang berwarna yang diberi latar belakang yang berwarna lebih terang. Jika calon memiliki kecenderungan buta warna, tentunya akan sulit membaca angka-angka tersebut. Kecenderungan buta warna merupakan salah satu masalah untuk keberangkatan calon tenaga kerja. Umumnya pria lebih banyak menderita buta warna dibandingkan wanita.
Pemeriksaan thorax foto
Pemeriksaan ini rutin dilaksanakan untuk menilai fungsi paru-paru. Biasanya kelainan pada paru-paru akan memberikan gejala pada penderitanya, tetapi bisa saja asimptomatis, yakni tanpa gejala. Hal yang paling umum memberatkan calon tenaga kerja untuk berangkat barlayar, adalah penyakit TBC. Jika calon tenaaga kerja terdiagnosa menderita TBC, maka calon disarankan untuk menunda keberangkatan, dan menjalani pengobatan selama 6-9 bulan. Setelah itu akan dievaluasi ulang, jika kondisi membaik dan TBC sudah teratasi, biasanya calon bisa berangkat bekerja. Gejala TBC adalah batuk lama lebih dari 3 minggu, batuk dengan dahak isi darah, nafsu makan kurang dan berat badan yang cenderung turun.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan ini seringkali menjadi benturan bagi calon tenaga kerja. Oleh karena jika ada sesuatu yang tidak normal pada hasil laboratorium umumnya calon tenaga kerja akan mengalami kesulitan untuk berangkat. Disarankan untuk berpuasa selam 6-12 jam sebelum melakukan tes darah. Puasa termasuk tidak minum air putih, teh manis, dsb.Hal ini dimaksudkan agar hasil tes benar-benar murni, tidak terpengaruh oleh makanan dan minuman yang baru saja dikonsumsi. Berikut akan diuraikan secara singkat tentang pemeriksaan laboratorium yang rutin dilakukan sebagai persyaratan keberangkatan calon tenaga kerja. Pemeriksaan laboratorium dibawah ini dilakukan dengan cara mengambil darah dari calon tenaga kerja dan diperiksa di laboratorium.
a. Pemeriksaan darah lengkap.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan eritrosit&hemoglobin, (jumlah sel darah merah), leukosit (jumlah sel darah putih, sebagai penanda apakah terjadi proses infeksi atau tidak), trombosit (jumlah keping darah), eosinofil (penanda alergi), limfosit (penanda infeksi kronis).
b. Gula darah puasa
Pemeriksaan ini dipengaruhi oleh makanan yang diamakan 2 jam sebelum penderita diperiksa darahnya. Oleh karen itu calon tenaga kerja dianjurkan untuk puasa 6-12 jam sebelum pemeriksaan.
Kadar gula puasa normal <120>

Sabtu, Maret 21, 2009

DARK TOURISM by Jones Sirait, Geografiana






Dark Tourism(1): Cara Berwisata Masyarakat Posmo? By Jones Sirait Cetak E-mail






20 Maret 2009

Buana Katulistiwa- Terminologi “Dark Tourism” mungkin belum begitu akrab dalam telinga banyak orang. Hal itu tidak mengherankan sebab secara konsep, terminologi itu belum lama usianya jika dibandingkan dengan “Eco-Tourism” yang sebelumnya sudah populer, bahkan telah menjadi fenomena tersendiri dalam pariwisata dunia.

Sebagai sebuah terminologi baru dalam konsepsi akademis, kata itu pertama kali diperkenalkan oleh Malcolm Foley and J John Lennon (1996), melalui buku mereka “Dark Tourism: The Attraction of Death and Disaster”. Lalu berkembang semakin meluas pada 2003-2005, melalui munculnya berbagai diskusi, publikasi dan penelitian yang berkait dengan terminologi ini.


Terus terang ada kesulitan tersendiri untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menerjemahkan kata “Dark Tourism” yang tak lain adalah sebuah istilah yang berhubungan dengan perjalanan wisata ke tempat-tempat yang berkait dengan kematian (death-related), tragedi dan atau kekejaman. Ia jauh lebih luas dari sekadar wisata bencana alam.


Ada beberapa pilihan kata yang sulit. Misalnya “Wisata Gelap”, “Wisata Kelam” atau “Wisata Hitam” atau “Wisata Duka”? Kesulitannya adalah jika pilihannya “Wisata Gelap” konotasi yang lahir adalah sebuah perjalanan wisata yang dilakukan pada malam hari atau ada pula kesan semacam wisata yang berkaitan dengan kemaksiatan (karena kata “gelap-gelapan” yang menyertainya. Jika “Wisata Hitam” ada ekses buruk terhadap rasial, sedangkan “Wisata Kelam” ada kesan kejanggalan di situ, dan tentu saja beberapa istilah ini “tidak menjual” sebagaimana tujuan awalnya.


Saya sendiri sebenarnya lebih senang menggunakan istilah dasar, yaitu “Darkwisata” atau “Darkturisme” seperti yang dilakukan pada “eco-tourism”, yang banyak kalangan kemudian meng-Indonesia-kannya sebagai “Ekowisata” atau “Ekoturisme”. Meskipun dari segi penggunaan bahasa Indonesia yang benar memang akan mengundang berbagai perdebatan.


Philip R Stone (dalam e-Review of Tourism Research (eRTR), Vol. 3, No. 5, 2005) atau Stephanie Marie Yuill (dalam thesisnya berjudul Dark Tourism: Undertanding Visitor Motivation at Sites of Death and Disaster, 2003) mencatat, ada beberapa terminologi yang sebelumnya pernah muncul yang berkait dengan istilah “Dark Tourism - walaupun dari segi motivasi ada perbedaan-perbedaan penekanan-, seperti “thanatourism” (Seaton, 1996), “holiday in hell” (O’Rourke, 1988), “morbid tourism” (Blom, 2000), “black-spot” tourism (Roject, 1993) atau “milking the macabre” (Dann, 1994).


Foley dan Lennon sendiri mendisktipsikan “Dark Tourism” sebagai “the phenomenon which encompasses the presentation and consumption (by visitors) of real and commodified death and disaster sites”, tanpa terkait dengan sikap “melakukan atau tidak melakukan sesuatu” dari wisatawan. Sehingga menurut mereka, teman, saudara korban bukanlah termasuk Dark Tourism.


Hal ini pula yang membedakannya dengan “Thanatourism” yang diperkenalkan Seaton, yang menekankan pada dua faktor yaitu perilaku dan ketidakabsolutan, dalam arti penekanan pada motif yang menaruh perhatian pada kematian. Dia kemudian memperkenalkan lima kategori aktivitas yang berkaitan dengan turisme kematian berdasarkan motivasi si wisatawan.


Kelimanya adalah: 1. Travel to watch death (i.e. public hangings or executions; 2. Travel to sites after death has occurred (i.e. Auschwitz); 3. Travel to internment sites and memorials (i.e. graves and monuments); 4. Travel to re–enactments (i.e. Civil War re–enactors); dan 5. Travel to synthetic sites at which evidence of the dead has been assembled (i.e. museums).


Sementara Foley dan Lennon membagi “Dark Tourism” ke dalam lima tipe yaikni : Witness, Death Sites, Visiting Cemeteries/Internment Sites/Memorial, Visiting Musem and Exhibitions dan Re-enactment/Staged Events.


“Posmo”


Kematian dan bencana telah menjadi tujuan wisatawan, yang oleh beberapa literatur pariwisata meyakini sebagai bagian dari budaya post-modernisme yang signifikan mempengaruhi produk wisata. Masyarakat dunia sepertinya telah meninggalkan turisme masa tradisional, menuju apa yang disebut Munt (1994) sebagai turisme post-modern (Posmo).


Turisme ini, sebagaimana diungkapkan Stephanie Marie Yuill (2003) ditandai dengan pengejaran tujuan dan pengalaman baru melalui beragamnya produk, mulai dari ekoturisme ke turisme warisan sejarah, yang lebih otentik, jujur, berkait dengan masyarakat lokal (pribumi), menaruh perhatian pada lingkungan dan kesinambungan pengalaman perjalanan. Atau juga seperti kata Light (2000), wisatawan yang memiliki peningkatan penekanan pada intelektualisasi liburan dengan penekanan pada studi dan pelajaran. Sebab wisatawan ini menghendaki adanya peningkatan cultural capital mereka.


Hal ini diakui pula oleh Folley dan Lennon, bahwa fenomena perkembangan “Dark Tourism” sangat dipengaruhi antara lain oleh media dan peran pentingnya sebagai elemen edukasi bagi wisatawan. Sebab menurut dia, masyarakat sekarang merupakan masyarakat yang rasional, yang lebih membutuhkan sesuatu wisata yang bukan dibuat-buat atau fiksi melainkan sesuatu yang nyata terjadi.


Rojek (1993) mengungkapkan dalam masyarakat postmodern setiap orang merupakan perpindahan dari masa sekarang. Baik bagi masyarakat di lokasi destinasi maupun bagi wisatawan. Dalam banyak manfaat sebuah memorial, unsur mengenang dan pembelajaran menjadi unsur penting di sana. Dan, harus pula diterima fakta bahwa turisme akan tetap datang (karena kebutuhan tadi), meskipun masyarakat lokal ingin melupakannya.


Sebuah tragedi bencana atau yang berkait dengan kematian, menjadi pusat pemberitaan dunia yang pada sisi lain telah memancing keinginan orang-orang untuk melihatnya secara langsung, untuk sekadar menambah pengalaman hingga mengenang dan mengambil hikmah dari tragedi itu.


Kita telah menyaksikan bagaimana serangan bom di Bali, dan menyaksikan banyak darah, luka, kematian, tangisan dan kesaksian-kesaksian keluarga yang kehilangan. Kita telah menyaksikan pula bagaimana keprihatinan, kecaman, kutukan dan perburuan sengit diberikan kepada para pelakunya. Untuk sesaat muncul ketakutan melakukan perjalanan, namun tak lama kemudian justru mendorong wisatawan yang ingin tahu berdatangan. Itulah realitas pariwisata saat ini.


Di berbagai belahan dunia, tempat-tempat kematian dan bencana telah memancing kunjungan jutaan wisatawan. Mulai dari Ground Zero World Trade Center (New York), Auschwitz-Birkenau, Anne Frank’s House, Graceland, Oklahoma City, Gettysburg, Vimy Ridge, the Somme, Arlington National Cemetery, pembantaian manusia di Kamboja, Maritime Museum di Liverpool (Inggris), Taj Mahal (India), The Pyramids (Mesir), Xian Terracotta warriors, Dallas 6th Floor.


Beberapa catatan mengungkapkan bahwa pada tahun 2000, tercatat 434.000 wisatawan mengunjungi Memorial dan Museum Auschwitz-Birkenau, yaitu kamp yang diketahui telah menjadi tempat kematian sekitar 1,5 juta orang sepanjang Perang Dunia II. Pada 1998, Anne Frank House di Amsterdam dikunjungi 822.700 wisatawan. Tahun 1999, Alamo in San Antonio menjadi tempat terbanyak dikunjungi wisatawan di Texas, dengan wisatawan 2,5 juta orang, untuk melihat tempat kematian 179 orang dalam mempertahankan visi kemerdekaan Texas.


Kapal Titanic, pada The Maritime Museum of Atlantic di Halifax, Nova Scotia, terus mengalami peningkatan kunjungan, contohnya pada 1997 dikunjungi 112.600 orang lalu meningkat dua kali lipat 1998 menjadi 244.000 wisatawan. Demikian juga dengan The National Voting Right Museum and Institute di Selma, Alabama, sejak dibuka 1993 setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 480.000 orang wisatawan, untuk melihat perbudakan dan gerakan kelompok kulit hitam yang memperjuangkan Apartheid.


Namun begitu, selain dari sisi mendatangkan wisatawan, peran penting Dark Tourism sangat penting dalam upaya dokumentasi sejarah. Jenis wisata ini tentunya akan mendorong semua pihak yang terlibat dalam studi sejarah maupun sosial budaya akan memberikan sumbangsih besar untuk menggali dan melestarikan dokumentasi-dokumentasi penting yang seringkali terabaikan sebelumnya.


Bagaimana momentum ini dapat digunakan untuk memperkuat pariwisata Indonesia yang telah sekian lama berada dalam kejenuhan, baik dari segi produk, destinasi, maupun negara pasar wisatawan? (jones sirait/dari berbagai sumber)

BALI AND GLOBAL TOURISM: POTENSI HOTEL (ACCOMODATION AND HOSPITALITY SERVICE)

BALI AND GLOBAL TOURISM: POTENSI HOTEL (ACCOMODATION AND HOSPITALITY SERVICE)

Jumat, Maret 20, 2009

INFORMATION AND TECHNOLOGY IN HOTEL


Information and Technology play an important roles for tourism industry and development. It can't deny that nowadays every body needs information as a basic needs. In tourism, information and technology could improve the progress and development. For examples : The hotel and accomodation need softwares for simplying the accounting transaction. The assistence of technology and information could make everything more accurate, effective and effisient.
According to my experiences when I Worked in a five star hotel at Kuta-Bali, The hotel using LIBICA as Hotel Integrated System. LIBICA used in front office and housekeeping section, such as : front desk officer, reservation, and order tacker. It really help the hotel staffs and manager to do their job. For example, when handling guest check out, to show the guest account, we just choose the guest name or room number in the system, print it and show the guest. After guest paying the bills, automatically all guest's data from the system, recognized as 'out'. So that the staff doesn't need to make in house guest list or departure guest list. Above all shows that Information and Technology really assist the hotel's operational.
For the students, knowing and operating computer, is a must. Otherwise, they cannot compete in tight competition of labour market in Bali.

Tasks :
1. Why Information and Technology play an important role in hotel industry?
2. According to your oppinion, why do you need to able operating computer?
3. Mention minimumly three soft ware that you recognize and give the explanation about the function!

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA 2

Unsur sosial budaya yang menjadi daya tarik wisatawan (Spillane,2008)
  1. Kerajinan, adalah segala sesuatu yang merupakan hasil kegiatan manusia yang berwujud benda unik, indah dan menarik. Contoh : Topeng,Patung, gantungan kunci, lukisan dan anyam-anyaman
  2. Bahasa, adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, tidak berwujud . Contoh : Bahasa Bali, Bahasa Indonesia
  3. Tradisi-tradisi, adalah kebiasaan-kebiasaan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang terjadi secara turun menurun dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh : Manusa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya
  4. Gastronomi, adalah hal-hal yang menyangkut makanan / kuliner/tata boga yang meliputi cita rasa, bahan baku, teknik pengolahan dan teknik penyajian. Contoh : masakan/hidangan khas bali
  5. Kesenian/Musik, adalah wujud ekspresi keindahan yang terlahir dari cipta rasa dan karsa dan terwujud dalam gerak, suara dan gambar. Contoh : tari bali, kidung/geguritan/kekawin, seni lukis
  6. Sejarah, adalah hasil perbuatan masa lampau dari suatu bangsa yang menjadi sebab dari suatu fenomena / keadaan masyarakat saat ini. Contoh : Sejarah kerajaan nusantara.
  7. Pekerjaan, adalah segala sesuatu yang dilakukan sebagai sumber penghidupan, dimana dengan melakukan hal tersebut akan mendapatkan wan prestasi. Contoh : Pekerjaan sebagai nelayan, petani, perajin, seniman dsb
  8. Arsitektur, adalah perwujudan seni pada tata bangunan dan tata ruang dan dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Contoh : arsitektur bali
  9. Agama, adalah jalan hidup manusia untuk mendekatkan diri bahkan menyatu kepada Sang Pencipta. Contoh : Hindu, Budha,Kristen, Islam
  10. Pendidikan, adalah suatu proses yang berkesinambungan dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan seseorang
  11. Mode / Costume, adalah segala sesuatu yang sedang populer pada saat sekarang dan sangat diminati masyarakat
  12. Leisure (waktu luang), adalah segala sesuatu yang dilakukan pada waktu luang dengan aktivitas yang mampu memberi efek relaksasi pada diri.
Tantangan dan peluang yang dihadapi SDM Pariwisata di era globalisasi :
  1. Tantangan, Kondisi masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan, menghadapi tata hubungan antar bangsa yang makin terbuka bebas. Arus informasi budaya yang datang dari luar makin meningkat dan tidak dapat dicegah.
  2. Peluang, Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam , budaya dan kesenian, yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisataIndonesia memiliki jumlah penduduk yang besar yang berpotensi untuk menggerakkan industri pariwisata
  3. Budaya Indonesia yang ramah tamah, berperilaku sopan dan menghargai tamu
Posisi sumber daya manusia pariwisata Indonesia / Bali dewasa ini dalam persaingan global :
Pada akhir bulan Oktober lalu, the World Economic Forum (WEF) menerbitkan Index Daya Saing Pariwisata Dunia tahun 2007. Index ini menempatkan Indonesia pada peringkat 60. Sedangkan Singapura berada pada no. 8, Malaysia no. 31 dan Thailand no. 43. Lagi-lagi ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi Indonesia. Ternyata bahwa penilaian WEF terhadap “daya saing” tidak saja diukur dari keindahan alam dan keaneka ragaman budaya dari suatu destinasi. Bukan juga semata masalah harga yang kurang menarik, ataupun sektor swasta yang kalah berbisnis. ”Rapor” daya saing versi WEF ini didasarkan kepada 13 kriteria, yaitu: perundangan, peraturan dan kebijakan yang menata dan mengembangkan pariwisata dan perjalanan (Tourism and Travel); Kebijakan lingkungan hidup; Keamanan destinasi; Kebersihan; Kesehatan; penempatan Travel and Tourism sebagai prioritas pembangunan; Infrastruktur Perhubungan Udara; Infrastruktur Pariwisata; Infrastruktur Teknologi Informasi; Daya Saing Harga; mutu dan kinerja Sumber Daya Manusia; Persepsi nasional terhadap Pariwisata; dan baru terakhir: Sumber Daya Alam dan Budaya. Jelas bahwa sebagian terbesar merupakan kewenangan instansi lain di luar Pariwisata.
Penilaian Index Pariwisata Indonesia pada tingkat 60, selain didasarkan pada statistik dan data, mau tidak mau juga didasarkan kepada persepsi dunia yang oleh media televisi global termasuk media di Indonesia sendiri, memberi kesan bahwa negara ini tetap kurang aman, kotor, tidak sehat, dll. yang semuanya menghambat keinginan dan nyali wisatawan untuk berlibur di Indonesia. Tetapi jujur saja, selain faktor eksternal, ada juga masalah internal kepariwisataan yang bermuara kepada lemahnya Indonesia bersaing di kancah pariwisata global. Bila kita teliti kriteria yang menjadi dasar penilaian WEF diatas, maka sebenarnya kelemahan Pariwisata Indonesia terletak pada lemahnya Management dan Kepemimpinan Destinasi di setiap tingkat, lemahnya profesionalisme SDM di semua tingkatan, tidak jelasnya Political Will (dari Eksekutif maupun Legislatif) yang secara konsisten memprioritaskan pengembangan kepariwisataan, yang terasa pada minimnya anggaran yang dialokasikan kepada sektor ini, sehingga dengan sendirinya Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara lain yang memiliki biaya jauh lebih besar bagi pembangunan dan pemasaran sektor pariwisata. Dan tidak kalah penting adalah kenyataan bahwa Komunikasi internasional Indonesia di pihak Pemerintah maupun pada berita media domestik ke luar negeri masih sangat lemah. Indonesia jarang meng-counter tuduhan dan berita negatif yang dilontarkan dunia internasional, sehingga berita dan citra yang usang perihal terjadinya teror, penyakit menular, bencana alam, kecelakaan pesawat di Indonesia masih melekat pada persepsi masyarakat dunia, yang berakibat kepada hilangnya kepercayaan (trust) wisatawan bahwa Indonesia adalah destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Posisi ideal yang diharapkan di masa yang akan datang :
Sumber daya manusia Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan sumber daya manusia global. Oleh karenanya perlu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata Indonesia, melalui pendidikan, pelatihan dan program sertifikasi tenaga kerja pariwisata Indonesia . Sedikit tidaknya SDM Pariwisata dalam waktu dekat sudah mampu naik peringkatnya dari urutan 53 menuju urutan 52, 51 s/d 1.
Hanya sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, baik dalam produk maupun pelayanan dapat hidup dalam persaingan global. Pernyataan ini sangat tepat, karena seperti kita ketahui bersama tingkat persaingan di dalam industri pariwisata dewasa ini sudah sangat tinggi. Oleh karenanya salah satu cara untuk bertahan dan memenangkan persaingan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Terlebih lagi di dalam industri pariwisata, produk utama yang dijual adalah pelayanan, dimana pelayanan yang prima (excellent service) hanya dapat dilakukan oleh manusia. Jika pelayanan sudah dilakukan dengan sebaik mungkin, maka kepuasan wisatawan akan dapat dicapai. Kunci strategis memenangkan persaingan adalah dengan menjamin kepuasan wisatawan melalui kualitas sumber daya manusia.
Pelaksanaan pembangunan pariwisata bagi suatu negara adalah terwujudnya kesejahteraan dan perdamaian dunia.
Pernyataan ini menunjukkan dengan pariwisata maka kesejahteraan terwujud, karena terjadi aktifitas ekonomi (transaksi) yang dapat menimbulkan efek multiflier. Hal ini tentunya akan mengarah pada pemerataan pendapatan dan berakhir pada peningkatan kesejahteraan.Perdamaian dapat diwujudkan melalui peran pariwisata, karena dengan adanya pariwisata maka terjadi pertukaran budaya dan nilai-nilai luhur, terjadi pula hubungan persahabatan dengan berbagai macam bangsa di dunia, kondisi kondusif ini akan menimbulkan suatu konsep berpikir pada masyarakat pariwisata dan berkembang pada masyarakat umum bahwa pada hakekatnya semua manusia di bumi ini adalah sama (tatwam asi), sama-sama ciptaan Tuhan, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama.

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA

Pariwisata adalah keseluruhan gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang timbul akibat perpindahan/perjalanan orang-orang dari satu tempat ke tempat yang lain, dimana perpindahan tersebut bertujuan untuk bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Perjalanan tersebut membutuhkan sarana-sarana seperti akomodasi (penginapan), pelayanan makanan dan minuman (restauran dan bar), fasilitas-fasilitas penunjang lainnya (SPA, kolam renang,business center, dsb.), biro perjalanan, alat-alat transportasi, pemandu wisata, objek wisata dsb yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, harapan orang-orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan bersenang-senang tersebut (wisatawan)
Dalam arti sempit, pariwisata merujuk pada aktivitas perjalanan untuk kepentingan penyegaran diri pribadi, untuk pendidikan, dan untuk bersenang-senang. Dalam arti luas, pariwisata adalah bisnis yang menyediakan informasi, transformasi, akomodasi, dan pelayanan lain bagi wisatawan.

Mengapa pelayanan sangat penting dalam dunia industri pariwisata?
Industri pariwisata adalah kumpulan dari berbagai perusahaan yang secra bersama-sama menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan para wisatawan selama dalam perjalanan. Induastri pariwisata sangat mengutamakan jasa sebagai produk yang ditawarkan, karena itu pariwisata menekankan pada jasa pelayananan. Industri pariwisata adalah bisnis pelayanan yang menekankan pada orang, bukan pada peralatan. Tidak ada pengetahuan teknis atau keterampilan yang bisa menggantikan pengabdian tulus seseorang untuk melayani dan berdasarkan standar etika yang tinggi. Oleh karena itu, pelayanan sangat penting artinya dalam industri pariwisata.




Apa tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia?
Tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia:
a. Dilihat dari kelengkapan sarana dan prasarana pariwisata, tentunya industri pariwisat terbesar di dunia memiliki kelengkapan melebihi industri-industri lainnya. Misalnya jumlah hotel (akomodasi) , restoran, dan fasilitas penunjang lainnya yang sangat memadai
b. Dilihat dari dampak positif pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat, dan lingkungan hidup, tentunya pariwisata dapat memberikan banyak kemajuan terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat dan lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena dengan berkembangnya pariwisata yang memberikan juga dampak negatif, dimana masyarakat, pemerintah dan pengusaha sudah mampu menanggulanginya.
c. Dilihat dari trend , pariwisata sudah bergeser dari konsep mass tourism menuju alternative tourism (green tourism, wilderness turism, ecotourism) dan pengembangan pariwisata menggunakan konsep sustainable tourism dengan melibatkan masyarakat (community based tourism).

Mengapa setiap negara dewasa ini cenderung melaksanakan pembangunan pariwisata?
Setiap negara cendrung melaksanakan pembangunan pariwisata, karena melihat trend pariwisata dewasa ini yang cenderung memberikan dampak positif lebih besar daripada pengembangan industri-industri lainnya. Dampak positif yang lebih besar seperti : penerimaan devisa, pemberantasan pengangguran dan lebih ramah lingkungan dibandingkan pengembangan industri lainnya seperti industri otomotif, tekstil, mesin, kimia dsb.




Paradigma hubungan timbal balik antara pariwisata dengan sosial budaya masyarakat.
Hubungan pariwisata dengan sosial budaya masyarakat, yaitu:
· mewujudkan pembangunan bersama
· memeanfaatkan kebudayaan sebagai sumber daya pariwisata
· kebudayaan tidak boleh dieksploitasi sebagai alat untuk mengembangkan pariwisata
· tanpa pengendalian kebudayaan asli, akan terjadi dampak negatif pariwisata
· kebudayaan merupakan unsur pariwisata yang penting, tetapi mudah rusak karena pariwisata, hal-hal tesebut diatas dapat diuraikan dalam skema berikut:

Apa dampak pesatnya perkembangan pariwisata terhadap sosial budaya. Dan apa langkah-langkah untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.
Dampak pariwisata terhadap sosial budaya memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu :
Meningkatkan ilmu pengetahuan
Meningkatkan pendapatan
Meningkatkan hubungan persaudaraan antar bangsa dan negara
Dampak negatif yaitu :
· Pencemaran lingkungan
· Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan peruntukkkan
· Kerawanan ssil
· Pergeseran nilai

Langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya: yaitu mengedepankan pembangunan pariwisata secara holistik, yaitu yang meliputi agama, adat, budaya, sosial, ideologi, plitik, ekonmi, teknologi. Selain itu dikelbangkan juga pembangunan pariwisata berkelanjutan dimana usaha ini menjamin sumber daya alam, sosial, dan budaya yang dimanfaatkan sebagai sumber pembangunan pariwisata dewasa ini yang dilestarikan untuk generasi mendatang. Pengelola pariwisata hari ini bertanggung jawab untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi mendatang. Hal-hal tersebut diatas dilakukan untuk memecahkan damnpak negatif dari pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.

Sabtu, Maret 07, 2009

BALI SYNDROME

THE BALI SYNDROME” :THE EXPLOSION AND IMPLOSION OF ‘EXOTIC’ TOURIST SPACES

Bali sindrom, adalah sebuah usaha untuk menggambarkan adanya semacam perubahan sosial budaya yang terjadi karena pengaruh pariwisata yang terjadi di Bali. Perilaku wisatawan yang berkunjung ke Bali secara tidak disadari merubah dan menggerogoti kehidupan masyarakat Bali. Dalam tulisan Claudio Minea yang sungguh luar biasa ini, dengan tingkat intelektualitasnya yang tinggi justru menjadi hambatan baginya dalam mentransfer ide-idenya tentang pariwisata di Bali. Pemilihan bahasa inggris ’tingkat tinggi’ bahkan ada beberapa kosa kata yang tidak ada di kamus Poerwadarminta, menjadikan seni tersendiri dalam mereview tulisan Minea ini.
Pariwisata merupakan sebuah fenomena yang disebabkan perpindahan orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya yang bersifat sementara, dengan tujuan bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Konsep mass tourism yang diterapkan di Bali selama ini, memberikan landscape tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Di satu sisi pembangunan pariwisata di Bali memberikan nuansa budaya barat yang megah dan gemerlap, namun disisi lain Bali menampakkan wajah yang buram mengenai pembangunan pariwisatanya, dimana masih dapat dilihat potret kemiskinan disetiap sudut pulau bali.
Kesimpulannya, Minea mengharapkan agar pembangunan pariwisata di Bali memperhatikan konsep keseimbangan, agar nantinya Bali kedepannya menjadi lebih baik, dimana pembangunan pariwisata tidak menyisakan suatu potret buram kehidupan masyarakat Bali yang masih akrab dengan kemiskinan, bau, kriminal yang sungguh kontras dengan kemegahan hotel-hotel yang ada di kawasan Nusa Dua, Kuta, Sanur dan Jimbaran.

POTENSI HOTEL (ACCOMODATION AND HOSPITALITY SERVICE)

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Pariwisata merupakan sebuah fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang ditimbulkan akibat perpindahan orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan tujuan bersenang-senang, tidak mencari nafkah dan menetap ( S.Pendit, 2006 : 1). Dengan bepergian orang-orang tersebut, maka membutuhkan fasilitas-fasilitas akomodasi (tempat tinggal), makan dan minum, serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.
Tidak dapat dipungkiri, di Bali sendiri dengan adanya pariwisata, maka menjamur pula hotel-hotel dan restaurant, nite club, biro perjalanan dan fasilitas-fasilitas penunjang pariwisata lainnya. Sisi baik dengan munculnya hotel (sarana akomodasi) dan hospitality service lainnya adalah : memperluas dan menyerap lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pertukaran budaya, tumbuhnya kebanggan terhadap budaya Bali yang dikagumi dunia international, serta multiflier efek lainnya yang pada intinya adalah mensejahterakan kehidupan masyarakat Bali..
Hotel sendiri adalah sarana akomodasi yang dikelola secara komersial dengan menggunakan sebagian atau seluruh bangunannya memberikan pelayanan dan fasilitas makan, minum dan fasilitas penunjang lainnya bagi wisatawan. Dengan berdirinya hotel maka sumber daya alam di Bali digunakan seoptimal dan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan berdirinya hotel, yakni profit orientation through guest satisfaction. Profit orientation berarti, tujuan berdirinya hotel tidak lepas dari keinginan dan harapan untuk mencapai laba (keuntungan) melalui kepuasan tamu. Berbagai macam upaya dilakukan untuk mencapai kepuasan tamu (harapan dan keinginan tamu terpenuhi), seperti adanya fasilitas kolam renang, lapangan golf, olah raga air, keindahan pemandangan hotel dan banyak hal lainnya.
Konsekuensi investor dan manajemen dalam mencapai tujuan memuaskan tamu tersebut, adalah dengan mengeksploitasi sumber daya alam Bali. Fenomena yang dapat kita lihat saat ini adalah, banyaknya tebing yang dikikis di daerah Jimbaran dan Ubud untuk mendirikan hotel dan vila, sempadan pantai Lovina dan Tanah Lot dilewati demi berdirinya hotel-hotel, kawasan hijau (hutan, sawah,ladang,perkebunan) semakin menyusut, kualitas dan kuantitas air di Bali yang semakin menurun, sampai pada makin meningginya permukaan air laut yang menggerus pantai kuta dan sanur serta pantai-pantai lainnya di Bali. Suhu/tempratur Pulau Bali yang semakin meninggi (bulan oktober 2008 sampai dengan 37o C).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan :
1.2.1 Bagaimanakah potensi hotel (accomodation dan hospitality service) dalam memberikan tekanan pada lingkungan di Bali?
1.2.2 Pendekatan apakah yang sebaiknya dilakukan oleh manajemen hotel?
Kajian Pustaka
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004
Dalam Adnyana dan Suarna (2007 : 3) menyatakan UU No 3 Tahun 2004 Mewajibkan pemerintahan daerah untuk melaksanakan pengendalian lingkungan hidup. Peraturan tersebut memberikan kewenangan kepada daerah untuk merencanakan, memanfaatkan, dan mengelola sumberdaya alam yang ada di wilayahnya. Terkait dengan pengelo-laan sumberdaya tersebut, diharapkan daerah dapat mengangkat dan memberdayakan segala kearifan lokal yang ada sehingga terwujudnya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
2.1.2 Undang Undang No. 24 tahun 1992
Dalam Adhika (2007 : 163) tentang Penataan Ru­ang ,telah menimbang pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara. Dalam kaitan dengan ini perlu dilakukan secara terkordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang ber-kelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam suatu kesatuan tata lingkungan yang dinamis. Di samping itu mesti tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangun­an berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Undang-undang telah mempertimbangkan lingkungan hidup secara terkordinasi, terpadu, dan mengadopsi dina-mika masyakat agar kelestarian lingkungan terjaga secara berkelanjut-an.
2.1.3 Lingkungan Hidup
S.Pendit (2006: 146) Lingkungan hidup dapat dibagi sebagai lingkungan hidup alamiah dan binaan. Lingkungan hidup alamiah adalah suatu sistem yang amat dinamis dan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup serta komponen-komponen biotik maupun abiotik lainnya, tanpa adanya dominasi manusia. Interaksi yang terjadi dalam lingkungan alamiah dan sekitamya membentuk suatu sistem ekologi atau disebut pula ekosistem.
2.1.4 Eco Tourism
S.Pendit (2006 : 147) Eco-tourism, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi eko-wisata, juga eko-pariwisata atau wisata-ekologi (pariwisata ekologi), menurut Hecktor Ceballos-Lascurain, terdiri atas wisata ke atau mengunjungi kawasan alamiah yang relatiftak terganggu, dengan niat betul-betui objektif untuk melihat, mempelajari, mengagumi wajah keindahan alam, flora, fauna, termasuk aspek-aspek budaya baik di masa lampau maupun sekarang yang mungkin terdapat di kawasan tersebut. Eko-wisata berarti pula melibatkan masyarakat setempat dalam proses sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan sosio ekonomi dari proses dimaksud. Ini juga meliputi petunjuk-petunjuk ketat yang diletakkan oleh berbagai pejabat penguasa sehingga fluktuasi wisatawan yag tiba sekurang-kurangnya membawa pengaruh negatif, minimal terhadap lingkungan kawasan tersebut.

2.1.5 Analisis POT (Potensi dan Tantangan).
Geriya (2007 : 57) menyatakan kerangka analisis POT ini berpijak pada dua perspektif, yaitu : perspektif lokal dan global. Tiap perspektif memiliki potensi dan tantangan yang secara memokok dapat dielaborasi atas tiga tataran : (1) Tataran filosofi (way of life), (2) tataran mentalitas atau sikap mental dan (3) tataran perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan individual atau kolektif.
Sumber : Geriya, 2007
Kekuatan antitesis antara besaran potensi dan tantangan akan memberi dampak penting terhadap kondisi dan kualitas lingkungan hidup yang membawa resiko negatif seperti polusi, pemborosan, pengrusakan lingkungan atau memberi peluang konstruktif, seperti konservasi,proteksi, rehabilitasi dan beragam bentuk pelestarian yang lain.
2.1.5 Strategi Revitalisasi
Geriya (2007 : 57) menyatakan bahwa strategi revitalisasi merupakan strategi tiga aspek yang perlu digarap secara sinergis, komplementer dan berkelanjutan. Terkait dengan hal ini diperlukan manajemen strategis yang mencakup perencanaan, implementasi, koordinasi dane valuasi nyata pada level mikro, meso dan makro Strata 1 meliputi moral dan mental, Strata 2 mencakup legislasi dan institusi, strata 3 mencakup edukasi , network dan pendampingan.



Pembahasan
Tidak dapat dipungkiri lagi, dengan berdirinya hotel-hotel dan restaurant di bali memberikan dampak negatif bagi alam dan lingkungan Pulau Bali. Potensi kerusakan alam dan lingkungan Pulau Bali antara lain (diadaptasi dari Wiyasha,2008) : water resources (sumber air) , local resources like energy, food, and other raw materials (sumber daya local seperti energi, makanan dan bahan-bahan mentah lainnya) , Land degradation (penurunan kualitas tanah) , Air emissions (emisi udara) , Noise (suara), Solid waste and littering (Sampah keras dan lunak) , Releases of sewage (limbah), Oil and chemicals (minyak dan bahan-bahan kimia), Even architectural/visual pollution (polusi arsitek) .
Pendirian sebuah hotel yang hanya mengindahkan sisi ekonomi dan arsitek (Manuaba,2008) tanpa memperhatikan aspek lainnya secara terintegrasi, seperti aspek sosial budaya dan lingkungan, akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Hal ini terbukti dengan keadaan yang dirasakan saat ini, terutama dilihat dari sudut pandang lingkungan. Tempratur Bali yang semakin tinggi, abrasi pantai, meningkatnya kasus demam berdarah, nenurunnya kualitas air dan udara Pulau Bali, merupakan akibat dari lalainya investor, pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan pembangunan pariwisata di Pulau Bali. Meskipun berbagai macam aturan telah di tetapkan seperti (i) UU No 24 Tahun 1992, tentang tata ruang dengan konsep pembangunan berkelanjutan, (ii) UU No 3 Tahun 2004,tentang pengendalian pengelolaan lingkungan, namun masih saja ada investor yang ’nakal’. ’Kenakalan’investor tidak lepas dari motiv ekonomi. Mereka membangun hotel dengan memangkas tebing, jurang, pantai, demi sebuah pemandangan yang indah bagi hotelnya untuk dapat dinikmati tamu/wisatawan.Mereka menggunakan air tanah untuk mengisi kolam renang, menyirami lapangan golf. Kondisi ini semakin parah karena nampaknya carrying capacity Pulau Bali sudah sampai pada titik nadir, yang tidak mampu mentoleransi hal-hal seperti itu.
Konsep yang dapat diterapkan manajemen hotel, antara lain menggunakan analisis POT (potensi dan tantangan). Dengan analisis POT , permasalahan lingkungan dapat dipecahkan melalui potensi: (1) Tataran filosofi (way of life), yakni menetapkan visi dari manajemen untuk membangun hotel dengan konsep sustainable tourism development dan community based tourism (2) tataran mentalitas atau sikap mental dan , yakni dengan jalan membuat program-program yang mendukung sustainable tourism development dan community based tourism , seperti : (i) memberikan program pendidikan pada manajemen mengenai sustainable tourism development dan community based tourism dan (ii) cinta lingkungan dengan wujud nyata penggunaan bahan-bahan pembersih yang tidak merusak lingkungan (contoh ecolab product) (3) tataran perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan individual atau kolektif, adalah dengan mendukung berbagai upaya pelestarian lingkungan, seperti : mendukung gerakan kebersihan pantai, tidak menggunakan air tanah untuk keperluan hotel, tidak membangun hotel melewati sepadan pantai, dan tidak membangun hotel di kawasan yang dapat menjaga keseimbangan alam, seperti :hutan, tebing, jurang serta lahan produktif.
Strategi revitalisasi yang mencakup perencanaan, implementasi, koordinasi dane valuasi nyata pada level mikro (manajemen hotel), meso (seluruh karyawan hotel) dan makro(tamu-tamu dan seluruh karyawan hotel). Strata 1 meliputi moral dan mental,yakni menanamkan sikap cinta lingkungan bagi seluruh hotelier, Strata 2 mencakup legislasi dan institusi,yakni menetapkan dan melaksanakan peraturan-peraturan dalam hotel yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, serta strata 3, mencakup edukasi , network dan pendampingan,yakni memberikan pendidikan, pelatihan serta kerja sama dengan institusi lain seperti : competitor, saluran-saluran distribusi, pemerintah dan masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan.

Simpulan dan saran
4.1. Simpulan
4.1.1 Hotel (accomodation dan hospitality service) memiliki potensi dalam memberikan tekanan pada lingkungan di Bali.
4.1.2 Pendekatan yang dilakukan manajemen hotel, adalah dengan menggunakan analisis POT (Potensi dan Tantangan) serta strategi revitalisasi yang digarap secara sinergis, komplementer dan berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan Pulau Bali.
4.2. Saran
Manajemen hotel (accommodation dan hospitality service) sebaiknya melaksanakan prinsip sustainable tourism development. Pemerintah harus tegas dalam menerapkan peraturan dan perundangundangan mengenai pelestarian alam dan lingkungan.


Daftar Pustaka

Adnyana dan Suarna.2007.Permasalahan dan Kerusakan Lingkungan Hidup. Jurnal dalam Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Denpasar : UPT Penerbit Universitas Udayana
Adhika,Made.2007.Pertimbangan Lingkungan dalam Penataan Ruang. Jurnal dalam Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Denpasar : UPT Penerbit Universitas Udayana
Geriya,I Wayan. 2007. Konsep dan Strategi Revitalisasi Kearifan Lokal Dalam Penataan Lingkungan Hidup Derah Bali. Jurnal dalam Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Denpasar : UPT Penerbit Universitas Udayana
Pendit,Nyoman S. 2006.Pengantar Ilmu Pariwisata. Jakarta : Pradnya Paramita
Wiyasha,IBM.2008.Environmental Impact of Tourism.Materi Kuliah Manajemen Pariwisata Berkelanjuan. Denpasar : Universitas Udayana
PARIWISATA MASA DEPAN
BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang MasalahPariwisata Indonesia pada saat ini mengalami kondisi pasang surut akibat beberapa hal., mulai dari bom yang mengguncang Indonesia, terutama Bali sampai dengan krisis global yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di beberapa kalangan. Pariwisata sendiri sebenarnya sebuah industri yang berkembang dengan melibatkan berbagai kompnen. Alam, masyarakat, pemerintah, penyedia jasa, dan para wisatawan sendiri.Pada tulisan ini sesuai dengan judulnya, kami akan mengangkat masalah pengembangan pariwisata masa depan (tourism future) dengan aspek-aspek pengelolaannya sehingga menjadi berkelanjutan (sustainable). Tulisan ini merupakan tulisan empirik, dimana penulis tidak melakukan penelitian secara langsung pada obyek-obyek penelitian, melainkan penulis membaca, merangkum, menyimpulkan, dan kemudian mengkaji beberapa sumber-sumber penulisan (jurnal) yang sudah terlebih dahulu terbit. Tulisan ini bersifat mengkaji pengembangan pariwisata masa depan (tourism future) dengan aspek-aspek pengelolaannya sehingga menjadi berkelanjutan (sustainable).Latar belakang yang mendorong penulis mengetengahkan judul diatas salah satunya adalah keprihatinan penulis terhadap pengembangan pariwisata Indonesia pada saat ini. Seperti yang kita ketahui bersama, sebelum tahun 1990, konsep pariwisata yang dikembangkan di Indonesia adalah konsep masstourism, dimana konsep ini pada prinsipnya mengharapkan kedatangan wisatawan baik lokal/internasional secara besar-besaran tanpa memikirkan akibat atau dampak terhadap lingkungan dan alam sekitarnya. Banyak hal yang tidak terpikirkan akibat aplikasi nyata konsep ini. Lingkungan hidup yang tidak terawat, polusi, limbah, pembangunan villa dan resort secara besar-besaran yang tidak memikirkan kondisi alam adalah konsekuensi sistem tersebut. Hal ini jika dibiarkan berlaru-larut, bukan tidak mungkin industri pariwisata hanya bertahan beberapa tahun lagi dan alam menjadi tidak terawat dan terbengkalai. Keadaaan yang berlangsung terus menerus seperti ini, memacu para pemikir di bidang pariwisata untuk mengembangkan konsep-konsep dan pemikiran – pmikiran baru mengenai pengelolaan pariwisata di masa yang akan datang, dimana pariwisata tetap pada tempatnya yaitu industri yang mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang cukupb sehingga menambah devisa dan meningkatkan taraf hidup rakyat, namun disisi lain, pariwisata juga merupakan industri yang dikembangkan melalui pola pikir yang cermat,. Tetap mendatangkan wisatawan, dan juga memperhatikan aspek alam, budaya, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya. Pola pikir atau konsep ini dikenal dengan konsep Community Based Tourism dan Sustainable Tourism Development 1. Konsep ini menitikberatkan pada pembangunan pariwisata dengan mengembangkan kemampuan lokal, mengikutsertakan peran rakyat kecil sehingga hasil industri pariwisata tidak hanya dinikmati oleh pemerintah dan penyedia jasa saja, tetapi juga rakyat pada umumnya dengan tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar.1.2. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:Bagaimana pengelolaan pariwisata masa depan (future tourism) sehingga menjadi pariwisata yang berkelanjutan (sustainable) ?1.3. Tujuan PenulisanMengkaji pariwisata masa depan (tourism future) dengan aspek-aspek pengelolaannya sehingga menjadi pariwisata yang berkelanjutan (sustainable).BAB IILANDASAN TEORI2.1 Pembangunan Pariwisata BerkelanjutanErawan (2008) menyatakan bahwa konsep tentang pembangunan pariwisata berkelanjutan pada awalnya masuk ke dalam perbendaharaan kata pariwisata pada kahir tahun 1980an ketika negara-negara, khususnya negara-negara di Eropa mulai memperhatikan dampak negatif dari pariwisata yang tak terencana dan tak terorganisir pada lingkungan fisik maupun sosial budaya di daerah tujuan wisatanya.Seperti halnya pada semua konsep awal, pendapat mengenai pembangunan pariwisata berkelanjutan menyatu kedalam pembangunan pariwisata berkelanjutan secara ekologi (dimana pandangan ini ditekankan pada proteksi atau pemeliharaan sumber-sumber) dan pembangunan pariwisata berkelanjutan secara ekonomi (Suatu pandangan berupa konsuttisi sumber-sumber)Cooper, Fletcher, Gilbert dan Wanhill dalam Erawan (2008) mengambil suatu pendekatan antar generasi yang sederhana dan memandang hakikat pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai suatu trade off antara kebutuhan sekarang dan masa depan dari pariwisata.Selanjutnya erawan (2008) menyimpulkan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata memiliki potensi untuk menciptakan, menambah, dan atau mengurangi nilai yang dirasakan oleh daerah tujuan sehingga pariwisata itu sendiri tidak boleh menghancurkan sumber-sumber itu yang menyebabkan tempat pertama maju dengan pesat. Ini berarti bahwa pariwisata harus dikelola secara bertanggung jawab dan efektif agar bisa berkelanjutan. Dari perspektif tuan rumah, perencanaan yang efektif dan bertanggung jawab, pengelolaan dan pembangunan pariwisata oleh karenanya wajib bila tujuan keseirnbangan daripada derajat ekonomi yang lebih tinggi, sosial, budaya dan ekologi ingin dicapai. demikian juga wisatawan mempunyai tanggung jawab dan respek terhadap kebutuhan serta aspirasi dari masyarakat di daerah tujuan. Masalahnya kemudian terletak pada banyak dan bertentangannya persepsi dari nilai-nilai yang terikat pada daerah tujuan oleh tamu dan tuan rumah, yang mana kedua-duanya mempunyai kepentingan di daerah tujuan. Persepsi ini pada gilirannya akan dipengaruhi oleh perbedaan sistem nilai yang mana juga akan bervariasi pada tempat dan waktu yang berbeda.WTO (Gee,CY dan Fayos -Sola, E.) dalam Ardika (2003 ) mengemukakan prinsip-prinsip dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan antara lain sebagai berikut : (i) Wisatawan, perwakilan ataupun perusahaan yang bergerak dibidang pariwisata harus menghormati kebudayaan,pandangan hidup, dan perilaku masyarakat lokal. (ii) Perencanaan, pembangunan dan operasional pariwisata harus bersifat sektoral, terintegrasi, melibatkan peinerintah dan masyarakat 1oka1 serta memberikan keuntungan bagi masyarakat luas.(iii) Pariwisata harus dilakukan secara adit dan wajar dalam pendistribusian keuntungan dan biaya antara perilakuk industri dan masyarakat lokal. (iv) Pada seluruh tahapan pengembangan dan pelaksanaan pariwisata harus dilakukan penilaian secara hati-hati monitoring program mediasi/penyelesaian sengketa dengan memberikan masyarakat lokal maupun pihak lain keuntungan dan kesempatan merespon perubahan.Manuaba (2008) Di dalam menerapkan pariwisata berkelanjutan hendaknya ketiga komponen yang terkait dengan aktivitas pariwisata berada di dalam keseimbangan dinamis sepanjang jaman. Wisatawan harus benar-benar bisa terpenuhi mimpinya, masyarakat setempat menikmati keberadaan wisatawan dalam artian memperoleh manfaat atas kehadiran mereka, dan lingkungan dimana terdapat aktivitas pariwisata tcrsebut terjamin kelestariannya.Pembangunan berkelanjutan harus menjamin berlanjutnya produksi dan proses dari sumber daya alam dan budaya, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat. Kalau diantara ketiga komponen ini ( wisatawan, masyarakat, dan lingkungan) terjadi ketimpangan maka pariwjsata sebagai a1at akan kehilangan pamor dan keberadaannya, dimana wisatawan ternyata tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya, masyarakat setempat tidak berhasil menikmati keuntungan dengan adanya wisatawan disitu, dan rusaknya lingkungan dimana aktivitas pariwisata tersebut berlangsung. Kalau kita memang ingin pariwisata bisa berlanjut, keseimbangan dan harmonisasi dari ketiga komponen haus dijaga dan ditumbuh kembangkan secara dinamis.2.2 Pengertian EkowisataBeragam definisi Ecotourism yang diberikan oleh banyak ahli dan praktisi. Namun demikian pada dasamya memiliki konsistensi di dalam isinya, yaitu konsep keberlanjutan. Beberapa pandangan melihat Ecotourism sebagai suatu kegiatan atau perilaku wisatawan dalam melakukan perjalanan, seperti yang didefinisikan oleh Ceballos-Lascurain (1987); .....Perfalanan ke ternpat-tempat alami yang relatif belum terganggu dan terpolusi, dengan tujuan spesifik untuk helajar, mengagumi dan menikmati pemandangahn alam dengan tumbuhan dan satwa liarnya serta budaya yang ada di tempat tersebut. Sementara itu The International Ecotourism Society mendifinisikan Ecotourism sebagai... ...penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab ke tempat-tempat alami, yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Beberapa negara bahkan mendifinisikan Ecotourism secara berbeda, yang disesuaikan dengan karakteristik setempat, dengan kata kunci konservasi dan pelibatan masyarakat. Pada beberapa negara meimlih fokus pada konservasi alam dan budaya, sementara pada beberapa negara lain, lebih menfokuskan kegiatan ekowisatanya pada pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui serangkaian pertemuan , seminar, lokakarya dan diskusi, Indecon {Indonesian Ecotourism Network) telah menghasilkan prinsip dan kriteria pengembangan ekowisata untuk Indonesia. Walaupun prinsip dan kriteria ini bukanlah mempakan hasil final, akan tetapi masih terus perlu disempumakan, dengan menerima masukan-masukan dari penerapannya di lapangan.Secara konseptual ekowisata dapat didefinisikan sebagai konsep pengembangan pariwisata herkelanjutan yang hertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian linghingan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat.Sementara ditinjau dari segi pengelolaannya, ekowisata dapat didefinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan secaraekonomi berkelanjutan, yang mendnkurig upaya-upaya pelestarian Irngkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.2.3 Prinsip Pengembangan EkowisataEkowisata juga diyakini beberapa pihak memiliki kemampuan untuk membangun pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, jika Conservation International 7 dikembangkan dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip yang dikandongnya. Hai-hal yang rnendukung penyataan tersebut adalah:(1) Ekowisata sangat bergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya; (2) Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya; (3) Ekowisata memprioritaskan partisipasi masyarakat, sebagai salah satu prinsip dalam mencapai keberlanjutan. Oleh karena itu dalam konteks ekowisata, maka sumber daya alam jangan dipandang hanya sebagai suatu sumber daya, karena ini akan melahirkan pandangan dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya ekstraktif. Akan tetapi Sumber Daya Alam harus dipandang sebagai ASET, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilahirkan akan bersifat non-ekstraktif dan mengelola sumber daya alam sebagai aset yang miliki nilai ekonomi tinggi. Pendekatan yang kemudian muncul dan harus digunakan para pengembang ekowisata adalah yang bersifat simbiotik. Dimana para pelaku wisata berinteraksi positif dengan kawasan yang dikelulanya dan bukan bersifat parasitik, sepcrti yang banyak terlihat di kawasan pariwisata Indonesia.Konsep ekowisata ini dinilai cocok untuk dikembangkan di Indonesia, dengan beberapa alasan yang melandasinya, pertama; Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dan ekowisata bertumpu pada sumberdaya alam dan budaya sebagai atraksi. Namun disisi lain Indonesia juga mengalami ancaman terbesar dari degradasi keanekaragaman hayati baik darat maupun laut, sehingga memerlukan startegi yang tepat dan alafsarana yang tepat pula, guna melibatkan kepedulian banyak pihak, untuk menekan laju kerusakan alam. Kedua pelibatan masyarakat, konsep ini cocok untuk mengubah kesalahan-kesalahan dalam konsep pengelolaan pariwisata terdahulu, yanglebih bersifat komersial dan memarginalisasikan masyarakat setempat, serta mampu menyerap tenaga kerja yang lebih besar.Dalam upaya meneapai tujuan maka penerapan ekowisata sebaiknya mencerminkan 3 (tiga) prinsip utama yaitu : (1) Prinsip konservasi; (2) Prinsip Partisipasi Masyarakat; dan (3) Prinsip Ekonomi; Selain tiga prinsip diatas, dua prinsip penunjang juga perlu diperhatikan yaitu (1) Prinsip Edukasi; dan (2)Prinsip wisata. Di bawah mi dijabarkan prinsip penerapan. 2.4 Prinsip Ekowisata1. Prinsip KonservasiMemiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya, melaksanakan kaidah-kaidah usaha yang bertanggung jawab dan ekonomi berkelanjutan. Prinsip Konpervasi, Alam Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian alam serta pembangunan hams mengikuti kaidah ekologis. Prinsip Konservasi Budaya, Peka dan menghormati nilai-nilai sosial-budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat.2. Prinsip Partisipasi MasyarakatPerencanaan dan Pengembangan harus melibatkan masyarakat setempat secara optimalmelalui musyawarah dan mufakat.3. Prinsip EkonomiMemberikan manfaat yang optimal kepada masyarakat setempat dan berkelanjutan.Selain ketiga prinsip di atas, produk ekowisata juga harus mencerminkan dua prinsip pendukung lainnya: a. Prinsip Edukasi Meningkatkan kesadaan dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya serta memberikan nilai tambah dan pengetahuan bagi wisatawan, masyarakat, dan pihak yang terkait.b. Prinsip WisataMenciptakan rasa aman, nyaman dan memberikan kepuasan serta menambah pengalaman bagi pengunjung.BAB IIIANALISIS DAN PEMBAHASANJumlah perjalanan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia pada tahun 2004 mengalami pertumbuhan sebesar 19,1% dibanding tahun 2003. Sedangkan penerimaan devisa mencapai US$ 4,798 miliar, meningkat 18,8% dari penerimaan tahun 2003 sebesar US$ 4,037 miliar. Berdasarkan catatan sementara dari Biro Pusat Statistik, jumlah wisman ke Indonesia pada tahun 2005 berjumlah 5,007 juta atau mengalami penurunan sebesar 5,90%. Penerimaan devisa diperkirakan mencapai US$ 4,526 miliar atau mengalami penurunan sebesar 5,66% dibanding tahun 2004. Namun demikian angka perjalanan wisata di dalam negeri (pariwisata nusantara) tetap menunjukan pertumbuhan yang berarti. Di tahun 2005 diperkirakan terjadi 206,8 juta perjalanan (trips) dengan pelaku sebanyak 109,9 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar Rp 86,6 Triliun (Boxwell dan Robert. , 1994). Pendapatan yang demikian besarnya seringkali membuat para pelaku dalam dunia industri pariwisata lupa untuk menjaga kelestarian alam sekitar. Padahal tanpa menjaga kelestarian alam sekitar, tidak mungkin industri pariwisata dapat bertahan lama bahkan dapat kita wariskan kepada anak cucu kita.Pengembangan pariwisata dimasa depan (future tourism) menitikberatkan pada industri pariwisata, masyarakat, pemerintah, wisatawan, dan lingkungan alam. Semua komponen ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga dapat menuju pada hasil akhir yaitu pariwisata yang berkelanjutan (sustainable) (WTO,2005). Pariwisata berkelanjutan menjadi ide yang menarik dalam penelitian sejak akhir 1980. Dimana perdebatan mengenai pariwisata berkelanjutan ini tidaklah sama, seringkali salah kaprah baik dalam perkiraan - perkiraan maupun argumen yang keliru. Konsep pengembangan yang berkelanjutan dimulai dan mulai berkembang pada awal tahun 1970. Ide dari pengembangan yang berkelanjutan pertama kali dipublikasikan oleh ”Internasional Union for Conversation of nice and natural resources”. Dalam strategi percakapan dunia pada tahun 1987, komisi Brondhard melaporkan perkembangan yang berkelanjutan sebagai perkembangan yang terlihat tanpa memperhatikan kemampuan generasi selanjutnya untuk mengetahui sendiri apa yang mereka butuhkan (Lua Liu, 2003)Perkembangan pariwisata yang berkelanjutan memerlukan perkembangan pariwisata dari daerah asal yang memerlukan perlindungan dan kesempatan dikemudian hari. Hal tersebut mempertimbangkan dari seluruh sumber, dan juga bidang ekonomi, sosial dan kesenian dan dapat juga melalui integritas kebudayaan, ekologi dan sistim pendukung hidup yang baik.Berkelanjutan memiliki pandangan yang luas dalam perubahan sosial yang akan mengarah pada perkembangan pariwisata berkelanjutan . Sejalan dengan pengembangan pariwisata ,hal tersebut menjadi penting untuk didiskusikan.Hal-hal penting yang harus digarisbawahi pada pengelolaan pariwisata masa depan (future tourism) sehingga tercapai pariwisata yang berkelanjutan (sustainable) (Baver, 2008):1. Ketika penekanan berada pada pengembangan pariwisata berkelanjutan,maka perhatian haruslah difokuskan untuk memenuhi kebutuhan tamu,terutama level keyakinan,dimana hal tersebut haruslah menjadi catatan global.2. Ketika diskusi sumber-sumber yang berkelanjutan dilakukan, seringkali percakapan mengenai sumber-sumber sangat kompleks dan dinamis.3. Ketika penekanan terhadap kemampuan intergenerasi, kemampuan tumbuh dan berkembang diantara grup stakeholder pada perkembangan pariwisata dapat diadakan.4. Ketika perjatian terhadap populasi , kemampuan penulis dapat disamakan untuk menilai kemampuan ekonomi.5. Batas untuk tingakt absolut dan perkembangan tanpa masalah. Banyak organisasi pariwisata dan akademik mencari cara untuk membatasi pertumbuhan pariwisata , melalui identitas kapasitas dan indikasi dari perkembangan.6. Arti dari instrumen untuk menerima perkembangan pariwisata yang berkelanjutan , seringkali secara nyata. Kebanyakan penulis dan praktisi secara antusias mempromsikan pariwisata alternatif, tanggung jawab pariwisata dan juga perkembangan pariwisata yang berkelanjutan. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa tidak satu bentuk pun dapat menjadikan pariwisata sebagai industri yang bukan bertaraf nasional.Apakah pariwisata berkelanjutan hanya sekedar wacana (Shinji Yamoshita, 1997) ?Permintaan pariwisata berkelanjutan seseuai dengan perkembangan kontribusi dari keperluan ekonomi dan sosial dari sumber lingkungan dan sumber alam. Perkembangan pariwisata adalah kebutuhan antara permintaan dan penawaran. Evolusi dari satu permintaan akan berpengaruh dengan permintaan yang lain. Perkembangan pariwisata adalah proses dinamis dari sumber pariwisata antara permintaan dan penawaran.Secara global, pariwisata berkembang menjadi keputusan perjalanan ketika faktor pemenuhan kebutuhan diberikan menuju bagian yang lebih sederhana. Ukuran dan kesenangan permintaan pariwisata global ditentukan dari beberapa hal. Hanya ada beberapa perusahaan yang terorganisasi dan beroprasi untuk membuat kesempatan tumbuh dan berkembang. Industri yang mengasumsikan diri untuk melakukan kesempatan tumbuh dan berkembang. Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa perlu adanya aturan mengenai pariwisata yang menata pengelolaan sumber-sumber alam pariwisata,baik secara umum; aturan kepariwisataan hal promosi kemajuan sosial budaya, pengaturan yang berkelanjutan dan bentuk-bentuk perkembangan yang berkelanjutan .Pada akhirnya, pariwisata yang berkelajutan akan menjadi sebuah sistim yang terbuka dan interdisipliner pada tingkat ilmu pengetahuan.BAB IVSIMPULAN DAN SARANPengelolaan pariwisata masa depan (future tourism) sehingga menjadi pariwisata yang berkelanjutan (sustainable) adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan dan prinsip ekowisata, sebagai berikut:1. Prinsip pembangunan pariwisata, berkelanjutana. Wisatawan, perwakilan ataupun perusahaan yang bergerak dibidang pariwisata harus menghormati kebudayaan, pandangan hidup, dan pcrilaku masyarakat lokal.b. Perencanaan, pembangunan dan operasiorial pariwisata hams bersifat sektoral, terintegrasi, melibatkan pemerintah dan masyarakat lokal serta memberikan keuntungan bagi masyarakat luasc. Pariwisata hams dilakukaii secara adil dan wajar dalam pendistribusian keuntungan dan biaya antara perilaku industri dan masyarakat lokal.d. Pada seluruh tahapan pengembangan dan pelaksanaan pariwisata harus dilakukan penilaian secara hati-hati monitoring program mediasi/penyelesaian sengketa dengan memberikan masyarakat lokal maupun pihak lain keuntungan dan kesempatan merespon perubahan.2. Prinsip ekowisataa. Prinsip Konservasi, memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya, dan belum sepenuhnya melaksanakan kaidah-kaidali usaha yang bertanggimg jawab dan ekonomi berkelanjutan.b. Prinsip Partisipasi Masyarakat, perencanaan dan Pengembangan harus melibatkan masyarakat setempat secara optimal melalui musyawarah dan mufakat.c. Prinsip Ekonomi, memberikan manfaat yang optimal kepada masyarakat setempat dan berkelanjutan.d. Prinsip Edukasi, meningkatkan kesadaan dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya serta memberikan nilai tambah dan pengetahuan bagi wisatawan, masyarakat, dan para pihak yang terkait.e. Prinsip Wisata, menciptakan rasa aman, nyaman dan memberikan kepusan serta menambah pengalaman bagi pengunjung.Meskipun untuk mencapai kondisi ideal seperti dalam prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekowisata tidaklah semudah membalik telapak tangan, namun dengan bercermin pada prinsip-prinsip tersebut akan mampu menyimak gambaran mengenai keadaan Pulau Bali saat ini. Kebaikan maupun keburukan dalam sebuah pembangunan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.Dengan melandaskan diri pada prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan dan prinsip ekowisata, diharapkan dampak negatif dari pariwisata akan dikurangi. Pada akhirnya Bali sebagai titipan dari generasi penerus akan tetap lestari dimana pariwisata yang menjadi motor pembangunan di Bali akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Bali dan Indonesia.Daftar PustakaAdhika, Made.2007. Pertimbangan Lingkungan dalam Penataan Ruang. Jurnal dalam Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Denpasar : UPT Universitas UdayanaAdnyana dan Suarna.2007. Permasalahan dan Kerusakan Lingkungan Hidup. Jurnal dalam Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Denpasar : UPT Universitas UdayanaBox Well, Robert J, Jr. 1994. Bench Marking for Competitive Advantage. Mc. Graw Hill, Inc. New YorkPitana,IGN. 2008. Community Based Tourism for Poverty Alleviations in Rural Setting. Ministry of Culture and Tourism Republic of IndonesiaShinji Yamoshita.1997. Tourism and Cultural Development in Asia and Oceania. University Kebangsaan.MalaysiaThomas G Bauer.2008. Community Based Tourism in Protected Areas. UNESCAP APETIT Seminar on Promotion of Community Based Tourism.United Nations, WTO. 2005. Tourism Highlight 2005. UN-WTO. MadridZhen Lua Liu.2003. Sustainable Tourism Development : A Critique. The Scottish Hotel School. University of Sirathelyde. Curran Building.Glasgow.United Kingdom. Journal of Sustainable Tourism. Vol 11 No 6
draft
12:50:00
oleh BALI TOURISM
Hapus
document.write("\x3ca id\x3d\x22publish-btn\x22 class\x3d\x22cssButton\x22 href\x3d\x22javascript:void(0)\x22 onclick\x3d\x22if (this.className.indexOf(\x26quot;ubtn-disabled\x26quot;) \x3d\x3d -1) {publishPosts();} return false;\x22 target\x3d\x22\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonOuter\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonMiddle\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonInner\x22\x3ePublikasikan yang Dipilih\x3c/div\x3e\x3c/div\x3e\x3c/div\x3e\x3c/a\x3e");

Publikasikan yang Dipilih

document.write("\x3ca id\x3d\x22delete-btn\x22 class\x3d\x22cssButton\x22 href\x3d\x22javascript:void(0)\x22 onclick\x3d\x22if (this.className.indexOf(\x26quot;ubtn-disabled\x26quot;) \x3d\x3d -1) {deletePosts();} return false;\x22 target\x3d\x22\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonOuter\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonMiddle\x22\x3e\x3cdiv class\x3d\x22cssButtonInner\x22\x3eHapus yang Dipilih\x3c/div\x3e\x3c/div\x3e\x3c/div\x3e\x3c/a\x3e");

Hapus yang Dipilih

1 – 1 dari 1

_uacct="UA-18003-7";
_uanchor=1;
_ufsc=false;
_usample = 10;
urchinTracker();
_uff=0;