Senin, April 13, 2009

PEMASARAN PARIWISATA 1 (PRICING)




  1. Salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan adalah melalui penjualan dengan harga mahal. Penjualan dengan harga mahal dapat dilakukan jika konsumen (wisatawan) kurang sensitif terhadap perubahan harga . Dalam hal ini wisatawan lebih mengutamakan kepuasan yang diperolehnya walaupun melakukan pengorbanan yang lebih untuk mendapatkan kepuasan itu. Sebagai contoh, pada segmen pasar hotel bintang lima, meskipun harga kamar rata-rata jauh melebihi segmen pasar hotel bintang empat, tiga dua dan satu, namun tingkat occupancy hotel berbintang lima tidak kalah dengan hotel bintang empat, tiga, dua dan satu. Contoh lain pizza hut vs papa rons perhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga


  2. Sebagai manajer hotel, untuk mengevaluasi harga menu, dapat digunakan analisis menu engineering (suatu analisa seperti matrix bcg, yang memilah ,menu menjadi empat bagian berdasarkan tingkat popularitas dan margin kontribusi per menu), terkait dengan kebijakan harga, menu yang sebaiknya dinaikkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi populer/laku, tetapi memiliki margin kontribusi yang rendah. Menu yang diturunkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi tidak laku/kurang populer, tetapi memiliki marjin kontribusi yang tinggi. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas harga dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga


  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas harga dalam bisnis pelayanan dan perjalanan adalah :
    a. Pengaruh nilai unik
    b. Pengaruh kesadaran akan produk pengganti
    c. Pengaruh pengeluaran oleh perusahaan
    d. Pengaruh manfaat akhir
    e. Pengaruh pengeluaran total
    f. Pengaruh biaya bersama
    g. Pengaruh investasi terpendam
    h. Pengaruh mutu harga


  4. Banyak restaurant tidak mengikat produknya dalam satu harga, karena :
    a. Mengurangi kesempatan tamu untuk memilih makanan dan minuman yang disukainya
    b. Adakalanya dalam satu paket menu yang ditawarkan, ada makanan dan minuman yang tidak disukai,sehingga terbuang (tidak dikonsumsi)


  5. Contoh mengenai pemakaian yang efektif dari harga diskriminatif, umum digunakan pada industri penerbangan tanah air misalnya pada saat menjelang lebaran harga tiket Jakarta-Jogja naik menjadi dua kali lipat dari pada harga sebelum lebaran. Hal ini disebabkan karena value yang dimiliki menjelang dan pada saat lebaran lebih tinggi dari pada hari-hari biasa. Disini value yang dimaksud adalah bertemu keluarga pada saat lebaran.


  6. Yield management dapat dikatakan pendekatan jangka pendek untuk meningkatkan penghasilan jika hanya mengejar keuntungan jangka pendek, misalnya pada saat peak season pihak hotel menaikkan harga kamar setinggi-tingginya tanpa diiringi peningkatan value (nilai).Yield management dapat dikatakan menciptakan atau memperthankan pelanggan apabila mengejar sustainability/going concern of establihment. Misalnya pada saat peak season pihak hotel tidak menaikkan harga terlalu tinggi jika memang tidak disertai peningkatan value (nilai). Nilai yang dimaksud disini adalah segala macam augmented product maupun service product yang mampu mningkatkan kepuasan wisatawan.


  7. Kegiatan Promosi tersebut dapat dikatakan etis, karena keuntungan yang diperoleh perusahaan meskipun tidak berbentuk uang, tetapi dari tamu yang merasa puas, maka akan tercipta repeat business dan word of mouth communication yang merupakan satu ciri keberhasilan/efektivitas kegiatan promosi untuk menghasilkan keuntungan jangka panjang.

Jumat, April 03, 2009

TAHAP PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI


Dengan meningkatnya pertumbuhan pariwisata di dunia tentunya akan meningkatkan persaingan bagi penyedia layanan wisata di seluruh dunia. Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di dunia yang diminati wisatawan. Hal ini disebabkan karena Bali memiliki daya tarik alam dan budaya Bali. Gunung, lembah,ngarai dan sungai mengukir keindahan alam Pulau Bali yang mengagumkan. Namun demikian satu hal strategis yang menjadikan Bali ‘berbeda’ dari destinasi wisata lainnya di seluruh dunia adalah kebudayaan Bali. Kebudayaan Bali meliputi tujuh (9) S, yakni :Subak, Sanggah, Seni, Sesajen, Sesana, Semita, Sime, Sekehe dan Sradaha. Kebudayaan Bali ini lah yang tidak dapat ditiru oleh daerah tujuan wisata lainnya diseluruh dunia.

Jika dilihat perkembangan asset budaya dan pariwisata Bali, dapat dibedakan dalam lima tahap, yaitu :


  1. Fase warisan budaya (masa pembentukan aset pariwisata Bali/Bali Age), ditandai dengan peninggalan sejarah berupa pura-pura oleh Rsi Markandya, dilanjutkan oleh Mpu Kuturan (kayangan tiga, kayangan jagat samuan tiga), kemudian Mpu wijaksara dan Mpu Kasogatan yang menyebarkan tradisi majapahit. Pada 1450-1480, Dang Hyang Nirartha dengan padmasana dan pemberdayaan pura-pura di pesisir.

  2. Fase penemuan, ditandai dengan dikenalkannya Bali oleh Prof.Goris di manca negara.

  3. Fase kelahiran, pada 1963 ditandai dengan berdirinya Hotel Bali Beach, dilaksanakannya Pesta Kesenian Bali dan konfrensi Pata.

  4. Fase perkembangan,
    - 1971 s/d 1981 pengembangan kawasan Nusa Dua
    - 1981 s/d 1991 investasi hotel-hotel di Nusa Dua tahap I
    - 1991 s/d 2001 pengembangan kawasan candi dasa, lovina, ubud, legian dan canggu
    - 2001 s/d 2009 investasi kawasan Nusa Dua tahap 2
    5.Fase declain, masa dimana terjadi kriminalitas (teror), perusakan dan pencemaran.

Kamis, April 02, 2009

DANAU BUYAN DAN BRATAN, SEBUAH KONTROVERSI


Gambaran Umum
WTO (Organisasi Pariwisata Dunia) telah memprediksikan bahwa pariwisata merupakan industri terbesar yang tumbuh di abad 21 dengan perkiraan mencapai 1,6 milliar wisatawan pada tahun 2020, dengan kemampuan pembelanjaan mencapai US$ 2 triliun (atau meningkat 5 kali lipat dibandingkan kondisi pada tahun 2005 yang hanya mencapai US$ 445miliar). Kondisi ini menjanjikan suatu harapan akan kesejahteraan bagi kalangan pariwisata dan kalangan yang bergerak disekitar industri pariwisata. Investasi di bidang pariwisatapun terus berkembang, mulai dari pembangunan hotel, restauran dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.


Pulau Bali merupakan daerah tujuan wisata, meskipun didera berbagai cobaan seperti bom dan isu flu burung, namun pengembangan pariwisata di Bali tak pernah berhenti. Pariwisata tetap menjadi motor utama penggerak perekonomian di Bali yang didukung oleh pemerintah, pengusaha dan seluruh masyarakat Bali. Kondisi ini tercermin dari jumlah wisatawan yang datang kepulau Bali. 27,83% wisatawan yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai menduduki posisi teratas, disusul oleh Batam 23,39% dan Jakarta 21,24%.


Sumbangan sektor pariwisata di Bali terhadap pembangunan daerah Bali sudah tidak dapat disangkal lagi. Dengan adanya pariwisata, membutuhkan sarana dan prasarana seperti hotel, restauran, biro perjalanan, jasa komunikasi, jasa perbankan, jasa suplier makanan dan minuman, dll yang menyerap banyak tenaga kerja.Sumbangan pajak yang dihasilkan sektor pariwisata sangat membantu pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di Bali. Devisa yang dihasilkan sangat membantu pemerintah di dalam menstabilkan nilai Rupiah terhadap mata uang asing dan menyeimbangkan neraca perdagangan pemerintah.


Berbagai macam produk wisata yang ditawarkan di Bali, meliputi produk kreasi budaya (culture) , peninggalan sejarah (heritage), nature atau eko-wisata dan pengembangan pariwisata alternative, seperti wisata spiritual. Bali memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan dan dikelola sebagai suatu destinasi wisata. Hal yang paling menonjol adalah kebudayaan Bali yang tidak pernah ada habis daya tariknya untuk dinikmati wisatawan manca negara maupun wisatawan domestik. Selain kebudayaan Bali yang memberikan suasana ’hidup’, Bali juga didukung oleh sumber daya alam yang dapat dikembangkan sebagai produk wisata alam. Sumber daya alam tersebut berupa gunung, sungai, danau dan sumber daya alam lainnya.

Danau di Bali Peranan dan Permasalahan yang Dihadapi
Danau menyimpan potensi wisata yang luar biasa, Bali memiliki empat buah danau, yakni : Danau Beratan (370 ha), Batur (1607 ha),. Buyan (360 ha), dan Tamblingan (110 ha). Keempat danau ini memiliki potensi wisata yang luar biasa. Menurut Prof. Mardani (2009), keempat danau di Bali ini merupakan nyawa dari Pulau Bali yang harus dijaga kelestariannya, karena keempat danau ini mengairi seluruh sungai-sungai yang ada di Bali. Tidak dapat dibayangkan jika keempat danau ini tidak dijaga kelestariannya, berbagai macam bencana akan datang menimpa Pulau Bali. Saat ini tiga danau yang sudah dikelola untuk tujuan pariwisata, yakni Danau Batur, Danau Buyan dan Danau Beratan. Bagi masyarakat Bali, danau merupakan tempat yang disucikan.Oleh karenanya pengembangan pariwisata di daerah danau harus memperhatikan aspek budaya, lingkungan dan aspirasi masyarakat sekitar danau. Dewasa ini semakin banyak alam di Bali yang dirongrong dan menjadi incaran para investor seperti kawasan Danau Beratan yang kini telah dibangun villa-villa, Pantai Kelating di Tabanan yang juga akan dibangun villa, rusaknya bukit di dreamland Pecatu yang hanya untuk pembangunan apartemen, kawasan Pantai Padang Bai yang kini juga sedang dibangun hotel berbintang meskipun kini proyek tersebut sedang terhenti karena masalah perijinan daerah. Di tempat lain masih saja ada kasus yang sama, seperti halnya di Danau Buyan yang merupakan kawasan hutan lindung dimana sumber daya alamnya masih dibutuhkan oleh masyarakat kawasan danau Buyan pada khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Kini kawasan bumi perkemahan tersebut akan dibangun villa oleh investor luar dengan dana mencapai triliunan rupiah. Kawasan Danau Buyan dianggap sebagai kawasan suci yang seharusnya dilestarikan, menurutnya juga nanti akses untuk menuju ke Buyan II kemungkinan akan ditutup untuk umum. Jelas saja itu akan sangat memberatkan masyarakat lokal pada umumnya karena kawasan hutan di danau Buyan sangat mempengaruhi kehidupan bagi penduduk setempat. Di samping itu banyak faktor lain yang membuat proyek ini menjadi proyek illegal, seperti misalnya masalah perijinan yang cacat (sumber: Walhi Bali). Lima desa di kawasan tersebut sendiri menolak adanya pembangunan villa dan sejenisnya, begitu juga dengan beberapa LSM, NGO dan Mapala jelas menolak proyek ini. Karena seperti yang sudah-sudah, pembangunan seperti itu kebanyakan tidak berpihak kepada masyarakat setempat dan terutama kepada alam dan ekosistem yang ada. Kami menyempatkan diri untuk datang melihat situasi dan kondisi Danau Buyan begitu proyek tersebut dipublikasikan, namun waktu itu proyek belum berjalan sama sekali, dua bulan berlalu kami kembali ke Danau Buyan untuk menolak pembangunan tersebut. Di lokasi kami melihat adanya galian untuk pembangunan kanalisasi limbah di areal Buyan I seperti yang tertera pada sebuah papan proyek, lalu ada sebuah bangunan baru berupa wantilan yang dibangun permanen di areal Buyan II serta sebuah menara yang dibangun dengan merabas hutan di tepi danau. Terlihat sebuah bangkai pohon besar yang telah ditebang di sana.
Menurut penduduk setempat proyek tersebut sudah sampai pada tahap pemotongan pita, namun peletakan batu pertama masih tertunda karena masalah ijin dan penolakan oleh masyarakat setempat (Walhi Bali : 2008).


Saat ini danau buyan dan danau beratan sudah mengalami pendangkalan sebagai akibat (i) pengembangan pertanian penduduk lokal sekitar danau, (ii) pembangunan villa-villa disekitar danau yang menebang hutan disekitar danau yang menyebabkan berkurangnya serapan air menuju danau, (iii) khusus untuk danau buyan pendangkalan banyak disebabkan oleh berkembangbiaknya enceng gondok disekitar danau, (mardani, 2009)
Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin sumber daya alam yang dimiliki Bali akan mengalami kerusakan yang dapat mengakibatkan hancurnya pariwisata di Bali. Oleh karenanya kalangan pemerintah dan akademisi mengubah pola pengembangan pariwisata di Bali dari konsep mass tourism menjadi konsep sustainable tourism development.


Upaya-upaya untuk menjaga kelestarian danau
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian danau yang merupakan ’nyawa Pulau Bali’ adalah sebagai berikut (Mardani, 2009):



  1. Melakukan kegiatan monitoring. Kegiatan monitoring dilakukan secara berkala, untuk memantau pencemaran tidak melampaui ambang batas yang telah ditetapkan. Saat ini sudah banyak pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas pariwisata, misalnya :
    a. Perahu boat yang menggunakan bahan bakar minyak.
    b. Pembangunan sarana akomodasi dan restaurant di sekitar danau
    Dengan kegiatan monitoring diharapkan penggunaan perahu boat dapat dibatasi, demikian pula pembangunan villa disekitar danau dapat dihentikan, karena jika makin banyak villa-villa dibangun, maka makin banyak pula pohon-pohon yang akan ditebang.

  2. Tidak melakukan penanaman secara serentak di daerah pinggiran danau. Penanaman secara serentak dipinggir danau dapat menyebabkan penyerapan air yang berlebihan ke daerah pinggiran danau. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akar-akar tanaman akan menutup pinggiran permukaan danau sedikit demi sedikit, kondisi ini akan mempersempit permukaan danau.
  3. Melakukan kegiatan replanning (penataan ulang), yakni menata ulang kembali wilayah danau untuk menjaga kelestariannya. Dalam penataan ulang ini, jika ada sarana akomodasi dan restoran serta sarana pariwisata lainnya yang perlu dihancurkan, maka demi pelestarian danau dapat dilakukan.

  4. Disinsentif pajak, yakni menaikkan pajak bagi sarana pariwisata dan entitas ekonomi sekitar danau, khususnya yang berpotensi menimbulkan perusakan danau.
    Pengembangan ekowisata di dalam kawasan danau dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem danau. Ecotraveler menghendaki persyaratan kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (commnnity based).

Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam. Pendapatan langsung untuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conservation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan, peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam. Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Hindarkan sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat. Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, tetapi daya dukunglah yang membatasi. Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.


Tri Hita Karana dapat digunakan untuk menjaga kelestarian danau buyan dan bratan. Dalam filosofi orang bali, Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan menyelaraskan hidup manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam dan lingkungan (Dalem,2007). Salah satu strategi pencapaian tujuan ini adalah dengan Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Menurut Raka Dalem (2007), aplikasi dari sistem manajemen lingkungan membutuhkan tiga koordinator yang mewakili tiga kelompok untuk melaksanakan konsep Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan dan palemahan). Dalam hal ini top manajemen (pemerintah) selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan aplikasi THK, menyusun program yang berwawasan lingkungan dengan kriteria :



  • Cocok dengan skala dan jenis kegiatan (usaha) yang dilakukan

  • Berisi komitmen terhadap perbaikan yang berkelanjutan serta pencegahan polusi

  • Mempunyai komitmen mengikuti peraturan dan perundangan yang berlaku
  • Mempunyai framework, setting, reviewing serta target lingkungan yang ingin dicapai

  • Didokumentasikan, diimplementasikan dan dipertahankan/ditetapkan serta dikomunikasikan terhadap semua tenaga kerja

  • Terbuka untuk umum ISO 4001

  • Kebijakan lingkungan mesti memperhatikan keseimbangan antara parhyangan, pawongan dan pelemahan sesuai falsafah Tri Hita Karana

Team ini membuat rencana kerja serta program yang tidak boleh bertentangan dengan Tri Hita Karana, hukum serta peraturan perundangan yang berlaku. Rencana kerja ini diimplementasikan oleh organisasi dan didanai oleh manajemen (pemerintah). Top manajemen dalam jangka waktu tertentu mengadakan review terhadap SML untuk mencapai kesesuaian yang berkelanjutan serta keefektifannya.

Simpulan
Danau Bratan dan Buyan adalah dua buah danau dari empat danau yang ada di Bali yang merupakan ’Nyawa Pulau Bali’. Keindahan danau telah menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya. Demikian pula para investor makin tertarik untuk menanamkan modalnya di bidang pariwisata di danau tersebut.
Pengembangan pariwisata di kawasan Danau Bratan dan Buyan menimbulkan kontroversi yang disebabkan dua sisi positif maupun negatif sebagai akibat dari pengembangan pariwisata. Dari sisi positif , multiflier effect ekonomi sudah dirasakan mensejahterakan masyarakat/penduduk disekitar danau. Namun sisi negatif yang ditimbulkan cukup banyak pula, misalnya terjadi pendangkalan danau, pencemaran danau dan rusaknya ekosistem sekitar danau. Tampaknya efek negatif yang ditimbulkan cukup banyak dan menimbulkan kekhawatiran bagi masa depan Pulau Bali.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian danau adalah dengan melakukan replanning (penataan ulang) (Mardani,2009) dan dengan strategi sistem manajemen lingkungan yang berdasarkan pada falsafah Tri Hita Karana (Dalem, 2007). Dengan upaya demikian, meskipun tidak mudah untuk dilakukan, diharapkan kedepan, pengembangan pariwisata di kawasan wisata Danau Bratan dan Buyan mampu menjaga kelestarian danau sebagai warisan bagi generasi penerus Bali di masa yang akan datang untuk kehidupan yang sejahtera.

Daftar Pustaka
Dalem, Raka, 2007, Sistem Manajemen Lingkungan, Tri Hita Karana dan Implementasinya Pada Hotel, Program Pasca Sarjana Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar
Mardani,2009, Danau sebagai Nyawa Pulau Bali, Materi Kuliah Perdana pada Program Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar

PEMANASAN GLOBAL



A. Pendahuluan
Dampak perubahan iklim akibat pemanasan global menjadi ancaman masyarakat global. Namun demikian perbedaan kemampuan beradaptasi tiap Negara berbeda. Negara-negara yang cenderung memiliki sumber daya pengetahuan dan teknologi, manusia dan pendanaan jauh lebih siap menhadapi ancaman perubahan iklim. Laporan ke 4 (fourth assessment report) yang dipublikasikan pertengahan April 2007 oleh kelompok kerja II IPCC - Intergovernmental Panel on Climate Change (Panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia) semakin memperkuat keyakinan akan dampak ancaman perubahan iklim terhadap umat manusia di bumi ini. Diantaranya adalah naiknya rata-rata temperatur suhu udara, naiknya permukaan air laut yang menyebabkan tenggelamnya pesisir dan pulau-pulau kecil, musim kemarau yang panjang dengan curah hujan yang rendah, musim hujan yang pendek namun memiliki intensitas yang tinggi dan mencairnya tutupan serta ketebalan salju. Ancaman tersebut tentunya melahirkan konsekuensi negatif terhadap lingkungan dan infrastruktur, sosial serta ekonomi. Dipastikan bahwa pertumbuhan suatu negara akan menuju titik terendah dalam ekonomi makro mereka. Dampak perubahan iklim yang menjadi ancaman besar lainnya apabila dikaitkan dengan kondisi geografis Indonesia adalah naiknya permukaan air laut (sea level rise). Ancaman terhadap naiknya permukaan air laut dan ancaman terhadap tenggelamnya pulau-pulau. Tenggelam atau hilangnya suatu pulau kecil merupakan salah satu fenomena yang akan pasti terjadi apabila dampak perubahan iklim tidak diindahkan.
Hasil penelitian (Indonesia Report, 2007) menyebutkan bahwa dengan kenaikan sekitar 1 meter, diperkirakan sekitar 405,000 ha dari lahan pesisir termasuk kepulauan kecil akan banjir. Didasari oleh proyeksi di atas tersebut, maka sejak bulan Mei 2007 dibangun sebuah program kerjasama antara WWF Indonesia/WWF NTB dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat untuk memasukkan rencana strategi adaptasi perubahan iklim terhadap kebijakan pembangunan daerah mereka.


B. Latarbelakang pemilihan Kepulauan NTB
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terdiri dari dua pulau utama yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa serta puluhan pulau-pulau kecil disekitarnya. Berdasarkan konvensi internasional, pulau Lombok dapat dikategorikan sebagai pulau kecil karena luas wilayah daratannya hanya 4.738,70 km2. Menurut konvensi internasional tersebut yang tergolong pulau kecil adalah pulau-pulau yang luas wilayah daratannya kurang dari 10.000 km2.
Sebagian besar wilayah pulau Lombok adalah pesisir dan laut. Aktivitas ekonomi sektor-sektor unggulan dan strategis terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dari potensi wilayah pesisir dan laut Pulau Lombok terdapat tiga sektor ekonomi utama yaitu : pertanian, perikanan, dan pariwisata. Penduduk Pulau Lombok dari 1994 sampai dengan 1998 mengalami perkembangan yang cukup signifikan, yaitu rata-rata sebesar 1,99 persen per tahun.
Potensi ancaman iklim didasari oleh perubahan temperatur yang berpengaruh pada kegiatan utama ekonomi mereka. Temperatur udara pada tahun 1948 di NTB mencapai 26,5 – 270 C, sedangkan temperatur udara pada tahun 2007 meningkat menjadi 28 – 28,50C . Akibat yang ditimbulkan dapat berupa penurunan kualitas dan kuantitas sumber mata air dari tahun ke tahun, banjir dan longsor dibeberapa titik rawan, keterlambatan musim hujan (pergeseran masa tanam), kenaikan muka laut yang dapat memicu abrasi pantai, meninkatnya intensitas badai dan gelombang laut. Dampak perubahan iklim di NTB, telah mempengaruhi kenaikan temperatur udara dan peningkatan curah hujan.
Beberapa fakta sosial dan lingkungan yang terkait dengan kenaikan temperatur udara dan peningkatan curah hujan yang telah terjadi di NTB antara lain melalui peristiwa peristiwa di bawah ini :
1. Hilangnya sejumlah mata air dan berkurangnya debit air. Pada tahun 1985 jumlah mata air di NTB + 580 titik mata air, dan pada tahun 2006 hanya tersisa 180 titik mata air saja;
2. Abrasi pantai Penghulu Agung Gatep, Ampenan- Lombok yang terjadi pada awal Maret 2007;
3. Banjir bandang yang terjadi di Sembalun dan Sambelie, Lombok Timur pada tahun 2006, serta banjir bandang yang menghanyutkan 28 rumah penduduk, hewan ternak dan harta benda lainnya di Empang dan Terano, Sumbawa yang terjadi pada pertengahan April 2007 menyebabkan kerugian senilai + Rp 30 milyar;
4. Kekeringan pada sebagian lahan pertanian di wilayah pulau Lombok dan pulau Sumbawa yang terjadi pada saat musim penghujan (Januari 2007) telah menyebabkan terjadinya gagal panen.
Fakta sosial dan lingkungan yang lebih didominasi oleh anomali/perubahan ekstrem cuaca dan variabilitas iklim. Gejala perubahan iklim belum disadari dan dipahami, termasuk di lingkungan pemerintah daerah NTB. Akibatnya belum ada Rumusan Kebijakan, Strategi dan Program –yang sesuai dengan karakteristik masyarakat dan lingkungan pulau-pulau kecil di NTB-- untuk mengantisipasinya.
C. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Upaya mengembangkan kapasitas kelembagaan daerah untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim global ini dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Round Table Discussion. Diskusi terbatas dalam bentuk meja bundar ini dilakukan untuk meningkatakan pemahaman peserta diskusi tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan skenario perubahan iklim dan dampaknya. Selanjutnya peserta diskusi dapat mulai mengembangkan gagasan-gasan umum tentang strategi dan program aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di NTB (lihat lampiran 1).
2. Lokakarya. Lokakarya ini dimaksudkan untuk memperluaskan jangkauan pemahaman tentang perubahan iklim global kepada stakeholder lainnya, sekaligus mengembangkan kesepakatan-kesepakatan tentang strategi dan program aksi untuk adaptasi dan mitigasi, rumusan rekomendasi untuk masukan kebijakan pembangunan daerah dan pembentukan gugus tugas (Task Force).
3. Memfasilitasi terbentuknya kelembagaan berupa Gugus Tugas yang dilandasi oleh Payung Legalitas (SK Gubernur), dan didalamnya dilengkapi oleh perangkat organisasi dan kerangka kerja yang jelas (lihat lampiran 2).
4. Dalam melakukan implementasi berkaitan dengan peran dan tugas, maka Gugus Tugas perlu dilengkapi dengan perangkat pendukung yaitu : Renstra sebagai panduan untuk mendorong perencanaan adaptasi dan mitigasi di daerah melalui mekanisme program dan anggaran daerah, media informasi dan komunikasi sebagai bahan dan materi kampanye kepada publik, serta pertemuan berkala dalam rangka melaksanakan fungsi kontrol, penelaahan kritis sebagai bahan masukan kebijakan dan program khususnya kepada pemerintah daerah (lihat lampiran 3).
5. Pelaksanaan Kerja Gugus Tugas selalu menekankan pada sistem kerja kolaboratif, dan agar pola komunikasi dan kerja kolaboratif dapat lebih efektif, maka diperlukan kesekretariatan yang bertempat disalah satu lembaga yang disepakati.
6. Program dan Kebijakan yang telah dirumuskan oleh Gugus merupakan panduan yang dalam implementasinya akan diintegrasikan melalui program dinas/instansi yang relevan dan dalam penganggarannya menggunakan mekanisme penyusunan anggaran daerah (APBD).
D. Pengembangan Strategi Adaptasi Lokal
Langkah antisipatif akan lebih efektif dan biaya yang dikeluarkan akan lebih rendah bila dibanding dengan upaya adaptasi yang dilakukan nanti pada saat keadaan sudah semakin memburuk dimana dampak sudah semakin besar sehingga upaya adaptasi akan membutuhkan biaya lebih mahal. Oleh sebab itu, sangatlah mendesak untuk segera melakukan upaya-upaya adaptasi, guna menyesuaikan ataupun mengurangi dampak-dampak ekstrem perubahan iklim. Tingkat intervensi (level of intervention) kebijakan advokasi harus dilihat dengan perkembangan informasi yang ada serta kebutuhan nyata wilayah dari pulau tersebut. Oleh sebab itu analisa dan respon dampak perubahan ekosistem, sosial/ ekonomi serta budaya (termasuk menggali dan menggunakan kearifan lokal) merupakan prioritas yang harus dilakukan oleh pemerintah. Perumusannya yang melibatkan sektor-sektor yang terkait dan stakeholder lainnya serta mengikuti metodologi yang telah ada saat ini dipastikan menghasilkan sebuah dokumen yang aplikatif. Adanya satuan gugus tugas (Task Force) untuk mengawal dan merumuskan kebijakan perubahan iklim yang keanggotaannya para pemangku kepentingan (stakeholder) menjadi langkah strategis.
D.1. Hasil Identifikasi Awal
1. Sektor Pertanian berupa Inovasi varietas tanaman, variasi tanaman pertanian, diversifikasi tanaman, mekanisasi pertanian, meningkatkan kapasitas irigasi, menggunakan drip irrigation dan intergrated pest management.
2. Sektor Sumber Daya Air berupa modifikasi infrastruktur yang tersedia, konstruksi infrastruktur baru, pengelolaan alternative atau modifikasi system ketersediaan air yang telah tersedia, perbaikan infrastruktur yang rusak sesegera mungkin meningkatkan kapasitas reservoir, desalinasi,pembuatan inter-basin transfer
3. Sektor Kehutanan berupa membentuk forest fire attack unit dan forest fire preventionprogram , membentuk sistem peringatan bencana kekeringan melalui media public, menyusun forest risk meter, memperbaiki area yang rusak dengan menanam spesies tanaman yang berbeda yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, menentukan kuota untuk penebangan legal dan mendorong reforestasi/rehabilitasi (sustainable forest management) dan mendukung tree planting day
4. Sektor Pesisir dan Pantai berupa pembangunan infrastruktur (sea walls, breakwaters) , sistem peringatan dini dan sistem evakuasi terhadap kejadian ekstrim, hazard insurance , sistem desalinasi untuk ketersediaan air bersih, membangun zona set-back
5. Sektor Kehati berupa strategi nasional keanekaragaman hayati dan rencana aksi kebijakan nasional keanekaragaman hayati dan hidupan liar (biodiversity bill, biosafety policy), national invasive alien species, national invasive species strategy, national biosafety framework , strategi pengelolaan bantaran sungai, daerah pesisir dan kelautan (mencakup marine protected areas (mpas), marine and terrestrial conservation areas), sistem informasi dan database keanekaragaman hayati, kebijakan pelarangan perburuan dan penerapannya
6. Sektor Kesehatan berupa penyuluhan kepada masyarakat untuk mencegah terjangkitnya wabah melalui Posyandu dan Puskesmas,mencegah transmigrasi serta penebangan hutan secara liar, pengendalian populasi nyamuk, peningkatan akses terhadap air bersih, peningkatan kepedulian masyarakat untuk membersihkan lingkungan dari vector-borne disease, meningkatkan pengelolaan air limbah dan sanitasi.
7. Sektor Infrastruktur Perkotaan berupa meminimalkan paved surfaces dan meningkatkan penanaman pohon untuk mengurangi efek ’urban heat island’ dan menurunkan energi untuk penggunaan air conditioning , pembatasan pembangunan di daerah rawan banjir dan rawan longsor, penatakotaan cluster daerah pemukiman, perkantoran dan daerah industri/perdagangan, menggunakan physical barriers untuk melindungi instalasi industri dari kemungkinan banjir , membangun sistem industri jauh dari daerah rentan

C.2. Isu Prioritas
Beberapa sektor utama yang merasakan dampak terhadap perubahan iklim yaitu sektor pertanian, kehutanan, sumberdaya air, pesisir dan energi. Adapun rumusan untuk menyikapi akibat perubahan iklim tersebut yakni :

Senin, Maret 23, 2009

TIPS BEKERJA DI KAPAL PESIAR


Oleh : Made Bayu dan Made Ary Suryathi
Bekerja di kapal Pesiar merupakan impian bagi sebagian besar mahasiswa perhotelan. Tidak bisa dipungkiri , di jaman krisis seperti ini, tawaran untuk memburu dolar lewat jalur bekerja di kapal pesiar, masih merupakan alternatif utama mendapatkan uang dalam jumlah besar. Sebelum bekerja di kapal pesiar umumnya para pelamar diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Saat ini banyak pemeriksaan kesehatan yang ditawarkan berbagai rumah sakit dan balai pemeriksaan kesehatan. Demikian juga berbagai persyaratan yang diwajibkan oleh badan penyelenggara tenaga kerja ke kapal pesiar. Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa hal tentang jenis pemeriksaan dan hal-hal yang sebaiknya diketahui sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan.
Jenis pemeriksaan kesehatan yang umum dilaksanakan dalam rangka pemberangkatan tenaga kerja ke kapal pesiar adalah:
1. Pemeriksaan Fisik
2. Pemeriksaan THT & Audiogram
3. Pemeriksaan Mata
4. Rontgen Thorax
5. Pemeriksaan Laboratorium :
a. Darah lengkap
b. Gula Darah Puasa
c. Fungsi Hati (Bilirubin Total, bilirubin direct/indirect, protein total, albumin/globulin, SGOT,SGPT, ALP)
d. Fungsi ginjal (Ureum, kreatinin, asam urat)
e. Lemak darah (Trigliserida, kolestrol total, HDL/LDL)
f. Imuno-Serologi (HbsAg, Anti HCV, VDRL, Anti HAV)
g. Urine lengkap (tambahan PPT khusus wanita)
h. Narkoba (Ampetamin, Benzodiazepin, Opium, Locain, PCP, THC, Barbiturat)
6. Konsultasi Dokter Spesialis


Berikut akan diuraikan beberapa hal tentang pemeriksaan-pemeriksaan diatas.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umumnya dilakukan oleh seorang dokter umum yang sudah terlatih untuk melakukan pemeriksaan general check up. Yang dimaksudkan dengan pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan seseorang dari ujung rambur sampai ujung kaki. Pemeriksaan ini akan lebih dikhususkan jika terdapat keluhan, seperti misalnya sering nyeri ulu hati, sering pilek, sering sulit BAB, dan sebagainya. Calon tenaga kerja akan diperiksa berat badan, tinggi badan, tekanan darah, nadi, pernafasan, kondisi mata, THT, paru-paru, jantung, perut, tangan dan kaki.
Pemeriksaan THT & Audiogram
Umumnya dilakukan oleh seorang dokter spesialis THT atau dokter umum yang sering menangani kasus-kasus THT. Pada pemeriksaan ini akan ditanyakan apakah calon tenaga kerja memiliki keluhan di organ tubuh telinga, hidung,dan atau tenggorokan. Jika tidak, tetap dilakukan pemeriksaan standar THT. Pada beberapa pemeriksaan, seringkali ditemukan keluhan radang tenggorokan dan pilek oleh karena alergi. Kedua penyakit ini bukanlah suatu kondisi yang akan menyulitkan calon tenaga kerja lulus pada pemeriksaan kesehatan. Oleh karena penyakit ini seringkali dialami oleh orang sehat yang mengalami kelelahan, memiliki kecenderungan alergi, dan beban stres psikologi. Sebab itu disarankan untuk cukup istirahat, banyak minum air putih, mengurangi rokok dan minuman bersoda, serta olahraga sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan.
Audiogram sendiri tidak rutin dilaksanakan, oleh karena gangguan pendengaran umumnya jarang dijumpai pada usia muda. Audiogram memerlukan alat khusus dan tidak semua instansi kesehatan memilikinya. Selain itu tidak semua lembaga penyalur tenaga kerja mensyaratkan pemeriksaan kesehatan ini.
Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan oleh sorang dokter spesialis mata atau dokter umum yang terbiasa mengangani kasus-kasus penyakit mata. Jika tidak ada keluhan, calon tenaga kerja akan diperiksa ketajaman penglihatan dan tes buta warna. Tes ketajaman penglihatan dilakukan dengan cara calon tenaga kerja diminta membaca huruf dan angka dari ukuran besar sampai yang paling kecil. Jika calon tenaga kerja bisa membaca sampai batas normal mata manusia tanpa kacamata, maka pemeriksaan tersebut dalam batas normal. Sedangkan tes buta warna dilakukan dengan cara calon tenaga kerja diminta untuk membaca angka – angka yang berwarna yang diberi latar belakang yang berwarna lebih terang. Jika calon memiliki kecenderungan buta warna, tentunya akan sulit membaca angka-angka tersebut. Kecenderungan buta warna merupakan salah satu masalah untuk keberangkatan calon tenaga kerja. Umumnya pria lebih banyak menderita buta warna dibandingkan wanita.
Pemeriksaan thorax foto
Pemeriksaan ini rutin dilaksanakan untuk menilai fungsi paru-paru. Biasanya kelainan pada paru-paru akan memberikan gejala pada penderitanya, tetapi bisa saja asimptomatis, yakni tanpa gejala. Hal yang paling umum memberatkan calon tenaga kerja untuk berangkat barlayar, adalah penyakit TBC. Jika calon tenaaga kerja terdiagnosa menderita TBC, maka calon disarankan untuk menunda keberangkatan, dan menjalani pengobatan selama 6-9 bulan. Setelah itu akan dievaluasi ulang, jika kondisi membaik dan TBC sudah teratasi, biasanya calon bisa berangkat bekerja. Gejala TBC adalah batuk lama lebih dari 3 minggu, batuk dengan dahak isi darah, nafsu makan kurang dan berat badan yang cenderung turun.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan ini seringkali menjadi benturan bagi calon tenaga kerja. Oleh karena jika ada sesuatu yang tidak normal pada hasil laboratorium umumnya calon tenaga kerja akan mengalami kesulitan untuk berangkat. Disarankan untuk berpuasa selam 6-12 jam sebelum melakukan tes darah. Puasa termasuk tidak minum air putih, teh manis, dsb.Hal ini dimaksudkan agar hasil tes benar-benar murni, tidak terpengaruh oleh makanan dan minuman yang baru saja dikonsumsi. Berikut akan diuraikan secara singkat tentang pemeriksaan laboratorium yang rutin dilakukan sebagai persyaratan keberangkatan calon tenaga kerja. Pemeriksaan laboratorium dibawah ini dilakukan dengan cara mengambil darah dari calon tenaga kerja dan diperiksa di laboratorium.
a. Pemeriksaan darah lengkap.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan eritrosit&hemoglobin, (jumlah sel darah merah), leukosit (jumlah sel darah putih, sebagai penanda apakah terjadi proses infeksi atau tidak), trombosit (jumlah keping darah), eosinofil (penanda alergi), limfosit (penanda infeksi kronis).
b. Gula darah puasa
Pemeriksaan ini dipengaruhi oleh makanan yang diamakan 2 jam sebelum penderita diperiksa darahnya. Oleh karen itu calon tenaga kerja dianjurkan untuk puasa 6-12 jam sebelum pemeriksaan.
Kadar gula puasa normal <120>

Sabtu, Maret 21, 2009

DARK TOURISM by Jones Sirait, Geografiana






Dark Tourism(1): Cara Berwisata Masyarakat Posmo? By Jones Sirait Cetak E-mail






20 Maret 2009

Buana Katulistiwa- Terminologi “Dark Tourism” mungkin belum begitu akrab dalam telinga banyak orang. Hal itu tidak mengherankan sebab secara konsep, terminologi itu belum lama usianya jika dibandingkan dengan “Eco-Tourism” yang sebelumnya sudah populer, bahkan telah menjadi fenomena tersendiri dalam pariwisata dunia.

Sebagai sebuah terminologi baru dalam konsepsi akademis, kata itu pertama kali diperkenalkan oleh Malcolm Foley and J John Lennon (1996), melalui buku mereka “Dark Tourism: The Attraction of Death and Disaster”. Lalu berkembang semakin meluas pada 2003-2005, melalui munculnya berbagai diskusi, publikasi dan penelitian yang berkait dengan terminologi ini.


Terus terang ada kesulitan tersendiri untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menerjemahkan kata “Dark Tourism” yang tak lain adalah sebuah istilah yang berhubungan dengan perjalanan wisata ke tempat-tempat yang berkait dengan kematian (death-related), tragedi dan atau kekejaman. Ia jauh lebih luas dari sekadar wisata bencana alam.


Ada beberapa pilihan kata yang sulit. Misalnya “Wisata Gelap”, “Wisata Kelam” atau “Wisata Hitam” atau “Wisata Duka”? Kesulitannya adalah jika pilihannya “Wisata Gelap” konotasi yang lahir adalah sebuah perjalanan wisata yang dilakukan pada malam hari atau ada pula kesan semacam wisata yang berkaitan dengan kemaksiatan (karena kata “gelap-gelapan” yang menyertainya. Jika “Wisata Hitam” ada ekses buruk terhadap rasial, sedangkan “Wisata Kelam” ada kesan kejanggalan di situ, dan tentu saja beberapa istilah ini “tidak menjual” sebagaimana tujuan awalnya.


Saya sendiri sebenarnya lebih senang menggunakan istilah dasar, yaitu “Darkwisata” atau “Darkturisme” seperti yang dilakukan pada “eco-tourism”, yang banyak kalangan kemudian meng-Indonesia-kannya sebagai “Ekowisata” atau “Ekoturisme”. Meskipun dari segi penggunaan bahasa Indonesia yang benar memang akan mengundang berbagai perdebatan.


Philip R Stone (dalam e-Review of Tourism Research (eRTR), Vol. 3, No. 5, 2005) atau Stephanie Marie Yuill (dalam thesisnya berjudul Dark Tourism: Undertanding Visitor Motivation at Sites of Death and Disaster, 2003) mencatat, ada beberapa terminologi yang sebelumnya pernah muncul yang berkait dengan istilah “Dark Tourism - walaupun dari segi motivasi ada perbedaan-perbedaan penekanan-, seperti “thanatourism” (Seaton, 1996), “holiday in hell” (O’Rourke, 1988), “morbid tourism” (Blom, 2000), “black-spot” tourism (Roject, 1993) atau “milking the macabre” (Dann, 1994).


Foley dan Lennon sendiri mendisktipsikan “Dark Tourism” sebagai “the phenomenon which encompasses the presentation and consumption (by visitors) of real and commodified death and disaster sites”, tanpa terkait dengan sikap “melakukan atau tidak melakukan sesuatu” dari wisatawan. Sehingga menurut mereka, teman, saudara korban bukanlah termasuk Dark Tourism.


Hal ini pula yang membedakannya dengan “Thanatourism” yang diperkenalkan Seaton, yang menekankan pada dua faktor yaitu perilaku dan ketidakabsolutan, dalam arti penekanan pada motif yang menaruh perhatian pada kematian. Dia kemudian memperkenalkan lima kategori aktivitas yang berkaitan dengan turisme kematian berdasarkan motivasi si wisatawan.


Kelimanya adalah: 1. Travel to watch death (i.e. public hangings or executions; 2. Travel to sites after death has occurred (i.e. Auschwitz); 3. Travel to internment sites and memorials (i.e. graves and monuments); 4. Travel to re–enactments (i.e. Civil War re–enactors); dan 5. Travel to synthetic sites at which evidence of the dead has been assembled (i.e. museums).


Sementara Foley dan Lennon membagi “Dark Tourism” ke dalam lima tipe yaikni : Witness, Death Sites, Visiting Cemeteries/Internment Sites/Memorial, Visiting Musem and Exhibitions dan Re-enactment/Staged Events.


“Posmo”


Kematian dan bencana telah menjadi tujuan wisatawan, yang oleh beberapa literatur pariwisata meyakini sebagai bagian dari budaya post-modernisme yang signifikan mempengaruhi produk wisata. Masyarakat dunia sepertinya telah meninggalkan turisme masa tradisional, menuju apa yang disebut Munt (1994) sebagai turisme post-modern (Posmo).


Turisme ini, sebagaimana diungkapkan Stephanie Marie Yuill (2003) ditandai dengan pengejaran tujuan dan pengalaman baru melalui beragamnya produk, mulai dari ekoturisme ke turisme warisan sejarah, yang lebih otentik, jujur, berkait dengan masyarakat lokal (pribumi), menaruh perhatian pada lingkungan dan kesinambungan pengalaman perjalanan. Atau juga seperti kata Light (2000), wisatawan yang memiliki peningkatan penekanan pada intelektualisasi liburan dengan penekanan pada studi dan pelajaran. Sebab wisatawan ini menghendaki adanya peningkatan cultural capital mereka.


Hal ini diakui pula oleh Folley dan Lennon, bahwa fenomena perkembangan “Dark Tourism” sangat dipengaruhi antara lain oleh media dan peran pentingnya sebagai elemen edukasi bagi wisatawan. Sebab menurut dia, masyarakat sekarang merupakan masyarakat yang rasional, yang lebih membutuhkan sesuatu wisata yang bukan dibuat-buat atau fiksi melainkan sesuatu yang nyata terjadi.


Rojek (1993) mengungkapkan dalam masyarakat postmodern setiap orang merupakan perpindahan dari masa sekarang. Baik bagi masyarakat di lokasi destinasi maupun bagi wisatawan. Dalam banyak manfaat sebuah memorial, unsur mengenang dan pembelajaran menjadi unsur penting di sana. Dan, harus pula diterima fakta bahwa turisme akan tetap datang (karena kebutuhan tadi), meskipun masyarakat lokal ingin melupakannya.


Sebuah tragedi bencana atau yang berkait dengan kematian, menjadi pusat pemberitaan dunia yang pada sisi lain telah memancing keinginan orang-orang untuk melihatnya secara langsung, untuk sekadar menambah pengalaman hingga mengenang dan mengambil hikmah dari tragedi itu.


Kita telah menyaksikan bagaimana serangan bom di Bali, dan menyaksikan banyak darah, luka, kematian, tangisan dan kesaksian-kesaksian keluarga yang kehilangan. Kita telah menyaksikan pula bagaimana keprihatinan, kecaman, kutukan dan perburuan sengit diberikan kepada para pelakunya. Untuk sesaat muncul ketakutan melakukan perjalanan, namun tak lama kemudian justru mendorong wisatawan yang ingin tahu berdatangan. Itulah realitas pariwisata saat ini.


Di berbagai belahan dunia, tempat-tempat kematian dan bencana telah memancing kunjungan jutaan wisatawan. Mulai dari Ground Zero World Trade Center (New York), Auschwitz-Birkenau, Anne Frank’s House, Graceland, Oklahoma City, Gettysburg, Vimy Ridge, the Somme, Arlington National Cemetery, pembantaian manusia di Kamboja, Maritime Museum di Liverpool (Inggris), Taj Mahal (India), The Pyramids (Mesir), Xian Terracotta warriors, Dallas 6th Floor.


Beberapa catatan mengungkapkan bahwa pada tahun 2000, tercatat 434.000 wisatawan mengunjungi Memorial dan Museum Auschwitz-Birkenau, yaitu kamp yang diketahui telah menjadi tempat kematian sekitar 1,5 juta orang sepanjang Perang Dunia II. Pada 1998, Anne Frank House di Amsterdam dikunjungi 822.700 wisatawan. Tahun 1999, Alamo in San Antonio menjadi tempat terbanyak dikunjungi wisatawan di Texas, dengan wisatawan 2,5 juta orang, untuk melihat tempat kematian 179 orang dalam mempertahankan visi kemerdekaan Texas.


Kapal Titanic, pada The Maritime Museum of Atlantic di Halifax, Nova Scotia, terus mengalami peningkatan kunjungan, contohnya pada 1997 dikunjungi 112.600 orang lalu meningkat dua kali lipat 1998 menjadi 244.000 wisatawan. Demikian juga dengan The National Voting Right Museum and Institute di Selma, Alabama, sejak dibuka 1993 setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 480.000 orang wisatawan, untuk melihat perbudakan dan gerakan kelompok kulit hitam yang memperjuangkan Apartheid.


Namun begitu, selain dari sisi mendatangkan wisatawan, peran penting Dark Tourism sangat penting dalam upaya dokumentasi sejarah. Jenis wisata ini tentunya akan mendorong semua pihak yang terlibat dalam studi sejarah maupun sosial budaya akan memberikan sumbangsih besar untuk menggali dan melestarikan dokumentasi-dokumentasi penting yang seringkali terabaikan sebelumnya.


Bagaimana momentum ini dapat digunakan untuk memperkuat pariwisata Indonesia yang telah sekian lama berada dalam kejenuhan, baik dari segi produk, destinasi, maupun negara pasar wisatawan? (jones sirait/dari berbagai sumber)

BALI AND GLOBAL TOURISM: POTENSI HOTEL (ACCOMODATION AND HOSPITALITY SERVICE)

BALI AND GLOBAL TOURISM: POTENSI HOTEL (ACCOMODATION AND HOSPITALITY SERVICE)