Jumat, April 30, 2010

NILAI KRB FBII C SEMESTER 2 2009/2010

1 20091212060
Eni Erna Wati, Ketut
76.25 97.5 85 79.25
2 20091212061 Eva Rismayani, Putu 80.25 95 85 82.2
3 20091212062
Faizal Eryan
78.75 97.5 85 81.25
4 20091212063
Guna Wijaya, Pande Made
76.75 95.5 80 78.95
5 20091212064
Hari Susanto
79.5 95 90 82.1
6 20091212065 Harum Marsinta Dewi, N L P 79.63 93 85 81.5
7 20091212066
Jangga Ketaki, Ni Nengah
79.5 96.5 85 81.75
8 20091212067 Kertiyasa, I Wayan 76.75 54.5 80 74.85
9 20091212068 Krisna Dewi, Ni Luh 79.25 90.5 75 79.95
10 20091212070
Mirah Jayanti, Ni Putu
87.5 97.5 90 88.75
11 20091212071 Nanang Prasetya Aditama 79.5 99 85 82
12 20091212072
Novi Ekandari, Ni Putu
77.33 93.5 80 79.22
13 20091212073 Pariana, I Wayan 77.38 95 85 79.9
14 20091212074
Putri Novitayanti
72.5 93 0 67.3
15 20091212075
Robert Jiwa Gurano, I Made
60 93 0 57.3
16 20091212076 Saputra, I Made 79.13 75.5 85 79.35
17 20091212077 Selamet, I Nengah 78.75 92.5 80 80.25
18 20091212078 Singaraja, I Kadek 60 93.5 0 57.35
19
20091212079
Suriati, Ni Putu 79.88 93.5 80 81.25
20 20091212080 Tri Wahyuni, Ni Komang 80.5 94.5 85 82.35
21 20091212081 Wahyu Diantara, I Kadek 74.75 94 75 76.7
22 20091212082 Wira Ardika, I Ketut 60 0 0 48
23 20091212083
Wisnu Putra, Ida Bagus
78.13 100 90 81.5
24 20091212084 Yuda Sanjaya, I Gede 81.88 100 85 84
25 20091212085 Yuliandari, Ni Luh Wayan 80.5 92.5 80 81.65
26 20091212086 Yuliartini, Ni Made 80.75 92.5 80 81.85

NILAI KRB FBII B SEMESTER 2 2009/2010

1 20091212028 Priska Yanta, I Gede 78.67 88.5 85 80.28 A
2 20091212029





Puspa Titi Pai, Ni Wayan
79.67 85.5 85 80.78 A
3 20091212030 Putra Kusuma Jaya, A A 82.67 92 80 83.33 A
4 20091212031 Rini, Ni Kadek 79 0 77.5 70.95 B
5 20091212032
Rizal Januandri
70 92 0 65.2 E
6 20091212033
Sastra Wirawan, Putu
77 92.5 77.5 78.6 B
7 20091212034
Setiawati Kristiana Penfani
80.67 92.5 90 82.78 A
8 20091212035 Suliastari, Kadek 81 98 90 83.6 A
9 20091212036
Suamiasih, Ni Luh
80.33 95 0 73.77 E
10 20091212037
Taka Widiyana, I Nyoman
84 91.5 80 84.35 A
11 20091212038 Tri Wahyudi 82 84.5 82.5 82.3 A
12 20091212039 Widamayani, Ni Luh 84 92.5 85 84.95 A
13 20091212040
Wira Darma, I Gede
80 96 80 81.6 A
14 20091212041 Yanuar Vika Rahma Dewi 82 91.5 80 82.75 A
15 20091212042
Yoga Yudistira, Putu
78.67 84.5 0 71.38 E
16 20091212043 Yonathan Bobu Bili 77.67 60 0 68.13 E
17 20091212046
Adi Leo Marliko, I Putu
80.67 90.5 85 82.08 A
18 20091212047 Adi Susila Putra, I Made 75 91 77.5 76.85 B
19 20091212048 Agus Dedy Perdiana, Kadek 81.33 95 80 82.57 A
20 20091212049 Arif Raja, Ida Bagus Made 80.33 91.5 80 81.42 A
21
20091212050
Aventinus Lagur 81.33 89 0 73.97 E
22 20091212053 Bagus Yudisthira, I Gusti Ngr 60 96 85 66.1 C
23 20091212055
Dimas Chrisantus Seran N
80.67 92.5 80 81.78 A
24 20091212057
Edi Wijaya, I Wayan
80.67 81.5 75 80.19 A
25 20091212058 Edy Sanjaya, Ketut 80 92 80 81.2 A
26 20091212059
Endi Artawan, Ketut
78.33 95 80 80.17 A

NILAI KRB FBIIA SEMESTER 2 2009/2010

No NIM NAMA MAHASISWA UGAS UTS UAS RATA
1 20091212001
Adi Putra, Anak Agung Gede Agung
0 0 0 0
2 20091212002 Adi Wirastrawan, I Komang 0 0 0 0
3 20091212003
Adi Yudha Permana
74.5 92 77.5 76.55
4 20091212004
Agus Ariyanto
78.75 90.5 95 81.55
5 20091212005
Agus Herlingga Prayoga
74.5 75.5 77.5 74.9
6 20091212006
Ardi Wiguna, I Wayan
74.5 82 77.5 75.55
7 20091212007 Arnitayeni, Ni Komang 77 85 95 79.6
8 20091212008
Artayasa, I Wayan
75 96.5 85 78.15
9 20091212009 Ayu Linggawati, Ni Made 77.25 89 80 78.7
10 20091212010 Ayu Suyatmi, Ni Putu 77 67 70 75.3
11 20091212011 Coressy Yoga Pratama, Nyoman 0 0 0 0
12 20091212012
Endrayana, I Kadek
77 79 82 77.7
13 20091212013 Frengki Ariawan, Kadek 77 84.5 80 78.05
14 20091212014
Gusnaedi Putra, Ngakan Made
80 78 82.5 80.05
15 20091212015 Joni Paranata, I Nyoman 73.33 83 90 75.97
16 20091212016
Juli Anggreni, Ni Luh Putu
0 0 0 0
17 20091212017
Juniantara, I Nyoman
65 87.5 77.5 68.5
18 20091212018 Kuswiniati, Ni Luh 78.75 96 90 81.6
19 20091212019 Lita Dewi, Ni Luh 65 0 0 52
20 20091212020 Mahendri Ratna Sari, Agung Ayu 78.25 91 90 80.7
21
20091212021
Mohammad Irwan Setyobudi 78.25 90 80 79.6
22 20091212022 Nanik Arista Dewi, Ni Putu 78.5 93.5 80 80.15
23 20091212023 Novita Gunawan 81.25 99 95 84.4
24 20091212024 Nuriati, Ni Ketut 78.75 84.5 80 79.45
25 20091212025
Parna Adnyana, I Putu
78 86.5 90 80.05
26 20091212026 Pera Krisna Dewi, Ni Putu 80.5 99 90 83.3
27 20091212027 Pikawati, Ni Wayan 78.75 88.5 95 81.35

Bobot Tugas 80%, UTS 10%, UAS 10%
keterangan
80 - 100 A
70 - 79 B
57 - 69 C
45 - 56 D
0 - 44 E

Selasa, April 27, 2010

Ujian Nasional

Saat ini sedang asik-asiknya masyarakat mengamati tentang ujian nasional. Tentu saja, karena ujian nasional sangat menentukan masa depan siswa. Jika lulus, tentunya segera menghadapi tantangan yang baru lagi, kalau tidak lulus yaa harus berkutat lagi supaya lulus. Tidak kalah serunya pada tanggal 26 April 2010 pengumuman ujian nasional sudah diumumkan. Hasil cukup menggembirakan, ternyata di Bali masih menempati peringkat tertinggi kelulusan (89,70%), meskipun mengalami penurunan angka kelulusan dari tahun tahun sebelumnya.

Kalau kita jeli, sebenarnya moment pengumuman ujian nasional ini dapat dikemas sebagai atraksi wisata, yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Bali. Kenapa demikian? karena pada saat pengumuman ujian nasional, khususnya di Bali, seluruh siswa menggunakan pakaian adat Bali...(ada sisi uniknya), kemudian ada unsur emosi (lulus ataukah tidak lulus). Paket wisata ini tentunya harus diseleksi lokasinya, pilihlah sekolah-sekolah yang keamanannya terjamin dan sekolah tersebut memiliki unsur sapta pesona. Yang paling penting adalah kegiatan promosi jauh-jauh hari sebelumnya.

Kembali ke Ujian Nasional, sebenarnya belum semua sekolah dapat melaksanakan ujian nasional, karena tidak semua sekolah memiliki standar yang sama. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di pelosok terpencil? (papua, flores, sumba dan daerah kepulauan)..Benar kata Pak SBY, kalau ujian nasional perlu ditinjau ulang. Meskipun maksudnya baik, antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tapi pemerintah mestinya juga tidak menutup mata terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di daerah terpencil tadi.

Sabtu, April 17, 2010

Air Kehidupan

Teringat ketika era 80an, dikampung saya di desa Mendek, Wanagiri Kauh, Selemadeg, Tabanan. Waktu itu kakek, nenek dan orang tua saya termasuk saya sangat senang mandi di sungai. Wajar saja, karena di jaman itu belum ada PAM, belum ada pemandian umum, kamar mandi pribadi saja masih belum punya.Kami sekeluarga sangat menikmati mandi di sungai. Masih teringat, air sungai yang bening, bersih bebas dari pencemaran. Waktu itu, jika mandi di sungai (Tukad Yeh Le dan Tukad Yeh Otan) bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Bahkan airnya bisa diminum, menyegarkan.

Seiring berkembangnya jaman, ketika pemerintah menggalakkan program wc masuk desa, PAM, Listrik seiring itu pula penduduk desa termasuk kami sekeluarga mulai enggan untuk mandi ke sungai. Bahkan kalau mandi ke sungai terkesan 'ndeso'. Akibatnya kondisi ini dimanfaatkan oleh peternak babi untuk membuang limbahnya ke sungai. Hal ini menambah keengganan untuk mandi ke sungai lagi.

Entah sekian lama berlalu, mulai era milenium air sungai sudah mulai dangkal, kotor dan bau. Sudah hampir tidak ada orang yang mau mandi kesungai. Paling-paling sekelompok anak muda yang mencuci sepeda motornya.Air sungai sudah agak berbau. Jangankan melihat nyalian, mujair, kakap seperti waktu dulu.Melihat ikan kepala timah pun sudah sangat sulit.

Siapa yang salah kalau sudah begini? ketika kita sadar kita sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang kita miliki. Kebiasaan kita hanya mencari kambing hitam, menuding sesorang atau sekelompok orang untuk bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi...

Sekarang ini, kalau rindu mandi di sungai, kami sekeluarga memilih Tirta Empul untuk mandi. Sekalian melukat (= ngeruwat). Sayangnya juga, sekarang Tirta Empul dikelola seperti kolam renang, semuanya serba bayar (emang sudah jamannya kali). Yah begitulah adanya. Ada kerinudan untuk membuat semua sungai di Bali menjadi sebening Tirta Empul. Mungkinkah???...

Para pakar banyak memberikan ide-ide dan gagasan untuk mengembalikan Bali kembali sepertu dulu yang belum tercemar. Tapi sepertinya gagasan tinggal gagasan. Ambil contoh nyata saja, Tukad Badung sekarang ini, masih banyak sampah plastik berserakan. Padahal pemerintah sudah berusaha keras untuk membersihkan Tukad Badung.



Kenapa kita tidak mampu menjaga lingkungan kita seperti halnya negara-negara eropa, australia, amerika serikat, singapura, jepang ? Mereka mampu mengelola lingkungan sungainya dengan baik menjadi objek wisata, misalnya Boat Quay dan Clarke Quay di Singapore, di tepi sungai dibangun restaurant yang sangat romatis, menjadi objek wisata yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya...

Padahal mereka tidak mengenal konsep Tri Hita Karana...
Mungkin mereka tidak banyak berteori, berkhayal, tapi langsung action menjaga lingkungannya..
Mudah-mudahan kita bisa dan Mampu menjaga lingkungan kita, demi masa depan anak cucu kita yang lebih cerah

Keberagaman dalam Hindu Bali


Bali di kenal dengan sebutan "Seribu Pura", memang betul karena Tuhannya orang Bali bisa dekat dan bisa pula jauh. Dikatakan bisa jauh, karena pada awalnya pemujaan berpusat pada Gunung Himalaya tempat berstananya SIWA personifikasi Tuhan Yang Maha Esa. Karena terlampau jauh, Gunung Himalaya didekatkan lagi ke Gunung Semeru, karena masih terasa jauh, umat Hindu di Bali mendekatkannya lagi kepada Gunung Agung yang tercermin dengan adanya Pura Besakih (Mother of temple) dimana di pura tersebut terdapat Pura Pedarman yang terdiri dari berbagai sekte/klan yang ada di Bali. Masih terasa jauh, didekatkan lagi dengan Pura Kawitan, Pura Kayangan Tiga di desa pekraman masing masing, sampai Sanggah Kemulan Taksu (Konsep Rong Tiga) di rumah masing-masing. Masih terasa jauh, maka disetiap kamar terdapat 'Pelangkiran' tempat memuja Tuhan, masih terasa jauh, orang Bali menemukan Tuhan di hatinya masing-masing.

Inilah keunikan dan kelebihan Hindu Bali yang fleksible dalam menyikapi perubahan. Filsafat orang Bali yang paling sering : "De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin" merupakan cerminan sikap rendah hati yang tidak suka mengagung-agungkan kehebatan diri. Bairlah orang lain yang menilai.
Tidak heran sampai saat ini, Bali dijadikan tumpuan harapan bagi kaum urban untuk mencari sesuap nasi. Berbagai suku bangsa, agama dan kepercayaan saat ini di Bali, namun Bali tetap aman walau sudah pernah jadi korna Bom para kaum fanatis radikal. Orang Bali tetap tersenyum dan introspeksi diri, mungkin ada kesalahan yangdibuat dimasa lampau yang harus ditebus sekarang ini.

Kembali ke Pura dimana disetiap pura terdapat bangunan yang disebut Padma Sana, merupakan simbol dari Lingga dan Yoni yang mencerminkan penciptaan. Lingga dan Yoni dapat disimbolkan sebagai laki-laki (Lingga) dan perempuan (Yoni). Didirikan dibagian Timur Laut di setiap bangunan bali sebagai pemujaan tehadap Sang Hyang Surya. Pemujaan di Bali dilakukan setiap hari setiap saat. Pemujaan disini lebih luas artinya dari pada sembahyang, dimana pemujaan juga berarti mengingat nama Tuhan. Oleh karenanya banyak cara yang dilakukan umat Hindu Bali untuk mengingat Tuhan. Dapat dilakukan dengan Bhakti, Karma (perbuatan), Jnana (pengetahuan) dan banyaka cara lainnya.

Untuk dapat mengetahui lebih banyak filosofi, makna dari agama Hindu Bali dapat mengklik situs ini http://bali.stitidharma.org. Dengan mengetahui cara orang berfikir, latar belakang dan masalah yang dihadapi, diharapkan seseorang menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan. Semoga tidak ada lagi kerusuhan yang diakibatkan masalah agama, suku dan aliran kepercayaan, karena kita hidup di bumu yang sama, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama. Kita semua bersaudara, aku adalah kamu kamu adalah aku.

Jumat, April 16, 2010

NO PAIN NO GAIN!

Inilah pekerjaanku sehari hari, mengabdikan diri kepada bangsa dan negara melalui tulisan, ide, dan imajinasi berdasarkan teori-teori perhotelan dan pariwisata serta pengalaman bekerja di hotel dan kapal pesiar.

Memang,tampaknya beberapa akademisi masih memicingkan mata terhadap ilmu perhotelan dan ilmu pariwisata, karena dianggap ilmu yang belum mandiri. Tidak mengapa, karena orientasi kami bukanlah melulu teori, melainkan menciptakan sumber daya manusia yang siap bekerja dan bersaing global dalam industri hospitaliti khususnya kapal pesiar dan hotel.

Apalah ilmu tanpa di praktekan? Apalah artinya menguasai banyak teori, tetapi hidup tidak sejahtera?...

Memilih jurusan pariwisata dan perhotelan adalah sebuah keputusan tepat. Sebuah investasi masa depan yang sangat tepat. Mengapa?...
Rata-rata standar gaji di hotel dan kapal pesiar = US $ 1000,-
hmmmm......untuk modal kuliah, ambil saja diploma dua, biaya yang habis kira kira 25 jutaan. Kalau berangkat ke kapal dapet gaji US $ 1500,- per bulan..lumayan...

Memang untuk berangkat ke kapal pesiar atau bekerja di hotel luar negeri tidak semudah membalik telapak tangan..perlu kesabaran, pengorbanan dan kerja keras...
dari pada korupsi uang rakyat, lebih baik berangkat jadi tkw ke luar negeri..realistis saja...

Semoga adik-adik mahasiswa mengikuti jejak saya menjadi sailorman, menimba pengalaman diluar negeri, meskipun jadi jongos, kita belajar untuk bekerja keras, disiplin...dan yang terpenting uang yang kita peroleh itu halal...halal..halal...dari tetesan keringat, air mata bahkan darah...begitulah sesungguhnya hidup, untuk menikmati 'kenikmatan' hidup harus mengorbankan sesuatu...

Nothing come easily....no pain no gain