Sabtu, Oktober 05, 2013

Menggali Permata dalam Lumpur




Menyusun sebuah karya ilmiah, bukanlah perkara yang mudah. Ketekunan, kesabaran, ketangguhan, semangat, konsentrasi, ketersediaan waktu, biaya dan pengorbanan merupakan salah satu dari sekian banyak variabel yang harus dimiliki dalam diri seorang peneliti, pelajar , akademisi. Seringkali  hantu kegagalan menggoda dalam setiap langkah dalam menyusun sebuah karya ilmiah yang bermutu .
Masalah-masalah yang umumnya dihadapi dalam penulisan karya ilmiah anatra lain:

  1. Kurang mampu konsentrasi. Konsentrasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam menulis karya ilmiah. Konsentrasi merupakan ‘pisau’ yang sangat tajam yang mampu membelah, mengiris sekaligus mengarahkan setiap ide-ide dan merangkainya dalam susunan kata-kata yang tepat sesuai tahapan-tahapan dalam penyusunan karya ilmiah. Konsentrasi yang lemah membuat penyelesaian sebuah karya ilmiah menjadi lama, monoton dan berputar-putar. 
  2.  Keterbatasan sumber bacaan yang relevan. Seringkali sumber bacaan atau literatur yang terbatas menjadi hambatan dalam menjustifikasi ide yang brilian. Sebuah justifikasi dari jurnal imiah internasional yang terakreditasi merupakan sebuah syarat mutlak bagi karya ilmiah yang bermutu. Sayangnya, ketika ide brilian itu muncul, mungkin sudah ada dalam penelitian orang lain sebelumnya namun si penulis tidak memiliki penelitian tersebut. Akibatnya proses penulisan karya ilmiah menjadi terhambat, karena harus mencari dimana ‘ide brilian’  itu berada. 
  3. Keterbatasan peralatan dan perlengkapan. Untuk menulis karya ilmiah, dibutuhkan peralatan ‘sewajarnya’ seperti komputer, kamus, jurnal-jurnal ilmiah bermutu, telepon dan nomor telepon ‘brainstorming’ partner,koneksi internet dan literatur-literatur. Apabila salah satu dari peralatan dan perlengkapan ini tidak tersedia, dapat menghambat kelancaran penulisan karya ilmiah. 
  4. Kurangnya nara sumber. Relasi, koneksi pada para pakar yang membidangi tema karya ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Makin banyak pakar dan nara sumber yang bersedia membantu memberikan sumbangan ide, petunjuk, maka makin ‘bersinar’ karya ilmiah yang dibuat. 
  5. Keterbatasan waktu. Untuk menulis sebuah karya ilmiah, dibutuhkan waktu yang lapang. Sering kali, khususnya di Indonesia, budaya menulis belum seperti di negara-negara maju, dimana menulis karya ilmiah masih dianggap sebuah pekerjaan sampingan, atau mengisi kesibukan deitengah pekerjaan pokok. Waktu untuk menulis karya ilmiah merupakan waktu ‘sisa’ setelah mengerjakan pekerjaan pokok di kantor. Ide-ide yang brilian, biasanya seringkali muncul di pagi hari sebelum jam 12.00 siang atau pada malam hari setelah jam 12.00 malam. 
  6. Keterbatasan dana. Untuk menulis karya ilmiah membutuhkan beberapa survey pendahuluan, pengumpulan data, membeli buku-buku, berlangganan jurnal ilmiah, dan beberapa software komputer. Apabila dana tidak mencukupi, maka dapat dipastikan penyelesaian karya ilmiah dapat terhambat. 
  7. Lingkungan yang kurang mendukung. Faktor lingkungan yang nyaman, tenang, bebas dari suara berisik, aroma dan atmosphere ruangan yang ‘menginspirasi’ merupakan hal yang sangat penting. Konsentrasi sangat bergantung pada suasana lingkungan sekitar. Suasana lingkungan yang kondusif merupakan hal yang patut diusahakan dan dimiliki oleh penulis karya ilmiah. 
  8. Malas membaca.Membaca merupakan aktivitas yang dapat  memperkaya pengetahuan dan sumber inspirasi bagi penulis. Tanpa membaca yang banyak, maka ide,inspirasi tidak mungkin muncul dengan cemerlang. 
  9. Malas menulis.Karya ilmiah yang jumlahnya ribuan kata, berawal dari satu kata yang ditulis. Sering kali sifat menunda-nunda waktu menjadi bumerang terhadap penyelesaian karya ilmiah.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan, tentunya dengan menaklukan semua faktor penghambat tersebut di atas. Memang bukan hal mudah, karena seringkali komitmen dalam menulis sebuah karya ilmiah bukanlah sebuah komitmen utama  bagi seorang pelajar atau penulis. Menulis sering dianggap sebagai pekerjaan sambilan yang kurang bermanfaat, atau pekerjaan yang menjemukan dan sangat sulit untuk dilakukan. 

Bagi seorang mahasiswa, untuk menyelesaikan studinya harus menulis karya ilmiah entah berupa Laporan Tugas Akhir, Paper, Report, Skripsi, Tugas Akhir, Thesis bahkan disertasi. Mau tidak mau harus ‘memaksa’diri untuk menulis dan hal tersebut memang tidak mudah. Terlebih lagi saat ini pengawasan terhadap ‘plagiarisme’ atau penjiplakan sudah menjadi aktifitas yang digalakkan bagi setiap institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Tulisan ini merupakan refleksi penulis terhadap berbagai kendala yang dihadapi pada saat menulis sebuah tulisan /karya ilmiah. Namun demikian, kenikmatan dan ephoria sudah mulai terasa pada saat mulai menuangkan ide-ide dalam paragraf. Memang tidak dan jauh dari sempurna. Namun demikian, paling tidak sudah mulai belajar menulis dan menikmati kegiatan menulis.

Semoga dengan kekuatan yang muncul dari pikiran dan hati, mampu menggali dan  meraih ‘permata’ atau ‘karya ilmiah cemerlang’ yang mampu memperkaya lentera-lentera dalam kegelapan, kebodohan, kemalasan, sehingga semua menjadi lebih terang sebagai pedoman dalam melangkah.

Kamis, Oktober 03, 2013

HAND OUT KASIR RESTORAN DAN BAR

Berikut, hand out yang dapat di download untuk materi kasir restaurant dan bar. Materi meliputi :

  1. Captain Order
  2. Restaurant Check
  3. Summary of Sales
  4. Housebank Report
  5. Remittance of Fund
Materi yang lain dapat dilihat pada handbook dan suplement book
Silakan download melalui link di bawah ini :

Hand Out Kasir Restoran dan Bar

Jalan Tol Bali Mandara

Selamat dan sukses atas dibukanya Jalan Tol Bali Mandara yang menghubungkan segitiga rawan macet : Benoa (Denpasar), Tuban (Kuta-Badung) dan Nusa Dua. Harapan kedepan, mudah-mudahan kehadiran jalan tol ini betul-betul mampu memecah kemacetan yang terjadi di jalur strategis pariwisata Bali Selatan ini. Jalan tol ini juga merupakan kebanggaan Bali, karena satu-satunya jalan tol yang berada di atas perairan di kawasan Asia Tenggara.

Jalan Tol Bali Mandara juga merupakan daya tarik wisata yang mampu mengundang minat wisatawan untuk datang ke Bali. Ketika melintasi jalan ini, pemandangan sangat indah : laut biru, hutan bakau yang asri, pemandangan Benoa, Tanjung Benoa, Bukit Jimbaran dan atmosfer"Bali Modern" terasa sekali.

Bagi kawan-kawan yang belum sempat"mencoba" jalan tol yang indah ini, berikut saya tampilkan kenangan perjalanan saya dalam video berikut :



 







Tenganan Pegringsingan

Tenganan, sebuah desa dengan tradisi kuno yang menjadi keindahan tersendiri di Kabupaten Karang Asem, Bali. Banyak hal yang dapat dipelajari di sini, mulai dari cara hidup, sistem organisasi adat, kesenian dan kerajinan. Semuanya menjadi icon dan daya tarik yang tiada pernah habisnya untuk dinikmati.

Sayang sekali, tidak dapat menikmati seutuhnya kehidupan masyarakat Tenganan, karena memang desa ini tertutup bagi pengunjung yang ingin menginap untuk menikmati keseharian bersama penduduk setempat. Tidak mengapa, demi menjaga pengaruh luar yang tidak seumuanya baik dan dapat merusak tata cara hidup yang sudah ada.

Tenunan asli Tenganan Pegringsingan yang sangat natural dan bercirikhas, dibuat dalam waktu sampai satu setengah tahun, dengan harga 2 juta per meternya. Sebuah harga yang fantastis, namun sangat wajar untuk sebuah nilai seni. Aktivitas menenun dapat dilihat dalam keseharian, jika berkunjung ke desa nan indah ini.

Jika memasuki areal Tenganan, seperti memasuki Bali dalam dua abad yang lampau. Bangunan yang sangat khas, pakaian sehari-hari penduduknya yang sangat bersahaja, jauh dari kesan modern. Namun, dibalik kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai luhur, nilai-nilai demokrasi yang sangat tinggi dalam pandangan hidup masyarakat Desa Tenganan.

Berikut, saya tampilkan beberapa cuplikan gambar mengenai Desa Tenganan dan Film amatir yang saya buat pada pertengahan tahun 2013.Silakan dinikmati sebagai oleh-oleh perjalanan hidup saya dalam satu waktu menghirup nafas dalam atmosfir Desa Tenganan Pagringsingan.









Minggu, September 22, 2013

Relasi Kekuasaan di Balik Reklamasi Teluk Benoa

Interaksi Kekuasaan

Kalau kita amati apa yang terjadi pada kawasan Teluk Benoa saat ini, bagai bongkahan emas yang diintip dan ingin dimiliki berbagai kalangan. Boleh juga kalau kita sebut sebagai Emas Keramat yang sangat angker, apabila salah memperlakukannya akan mendapat kutukan dari yang Maha Kuasa. Kalau benar kita berbuat, maka "emas" ini menjadi berkilau, memancarkan "taksu" bagi kemuliaan, keagungan, kesejahteraan rakyat Bali, dan betul-betul Bali mencapai jaman keemasannya. Sebaliknya, apabila tidak benar membawa pusaka ini, maka "emas" itu berubah menjadi kuning, dan kuning itu seperti ampas yang berbau tidak sedap,

Sebenarnya proses demokrasi sudah terjadi semenjak Gubernur Pastika menjabat. Beliau sangat demokratis. Mungkin kita perlu melirik latar belakang Gubernur kita sekarang ini, seorang Jenderal, Perwira Tinggi Polisi, memiliki reputasi nasional,cerdas, dan nasionalis. Beliau menerima pendapat yang bersebrangan dengan pendapat dirinya. Dari sisi perseorangan, memang beliau sangat layak untuk memimpin Bali, putra Bali terbaik yang dimiliki saat ini.

Demikian pula para pecinta lingkungan hidup yang tergabung dalam WALHI, dengan lantang dan heroik berupaya menggalang kekuatan untuk menggagalkan rencana reklamasi. Kenyataannya upaya yang ditempuh berhasil, sampai saat ini melalui jalur hukum, upaya pak Wayan "Gendo"Suardana menuai simpati masyarakat dan kalangan akademisi. Sampai saat ini Pak Wayan mampu memberikan pelajaran bagi sang Gubernur mengenai kasus Tahura, dimana Gubernur Pastika kalah di PTUN. Saat ini Pak Wayan masih ngotot agar SK Reklamasi Jilid 2 di cabut, yakni SK 1727/01-B/HK/2013 secara prinsip memiliki kesamaan dengan SK 2138/02-C/HK/2012 yang telah dicabut.

Bahkan RAJA MAJAPAHIT XIX juga menolak reklamasi (hmmm.....kayak di sinetron aja jadinya), bahkan ikut berseteru dengan Gubernur Pastika. Sang Raja menolak reklamasi berdasarkan kajian ilmiah dari UNUD,yakni dari aspek sosial budaya, teknis, lingkungan dan ekonomi finansial. Sang Raja yang juga mantan anggota Boy Band FBI bersama presenter Indra Bekti siap "bertarung" empat mata melawan Pak Gubernur dalam berargumen soal Reklamasi. Ditambah lagi, Kekuatan media nomor 1 di Bali, dengan moto"kenali dan nikmati dunia ini" bersama segenap pasukannya yang sejak awal sudah alergi dengan Geubernur sekarang turut serta setiap jam menghembuskan opini opini dari kontra reklamasi. Waaaaddduuuuhhhhhhh.........

Artinya, kekuatan dari Tokoh Masyarakat (Raja Maja Pahit), LSM (WALHI), Media, dan Masyarakat masing-masing sudah memiliki wakil  untuk "menjegal" putusan Gubernur soal Reklamasi. Kita anggap kelompok ini merupakan kaum intelektual organik progresif. Selanjutnya dari Akademisi yang diwakili UNUD dan forum rektor (intelektual tradisional) juga menolak reklamasi dengan tegas.


GAMBAR 1
INTERAKSI KEKUASAAN DALAM  REKLAMASI TELUK BENOA


 

Pandangan Foucoldian terhadap Kasus Reklamasi
Mungkin kalau Machavelli dan Marx masih hidup, mereka bakal sedikit  berdebat dengan Nietzche atau Michael Foucault. Machiavelli dan Marx memandang kekuasaan bersifat dikotomi, dua arah ada yang tertekan dan ada yang ditekan. Sementara Foucault melihat kekuasaan itu menyebar ke segala arah, ada di mana-mana, kekuasaan melahirkan pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri adalah kekuasaan.

Disini, dapat dilihat bahwa relasi kekuasaan dalam kasus reklamasi Teluk Benoa bersifat menyebar dari segela arah. Gubernur Bali sebagai EXECUTIVE dalam hal ini yang membuat peraturan dengan alasan yang sangat rasional untuk memajukan Bali ke depan melalui reklamasi, menerima kenyataan dalam sistem, dimana tidak semua ide briliannya dapat dieksekusi. Demikian juga komponen yang lain juga memainkan peranan yang baik dalam sistem, sehingga fungsi pengawasan terhadap pengembangan pariwisata Bali dapat terlaksana. Artinya pembangunan yang dilaksanakan tidak terlalu kebablasan, mengingat ketimpangan Bali Selatan dan Bali Utara yang sangat amat (dampak negatif seperti urbanisasi, kemacetan, sampah dan berbagai masalah sosial) dirasakan mulai mengganggu kehidupan masyarakat Bali Selatan.

Pendekatan yang Sebaiknya Dilakukan

GAMBAR 2
PENDEKATAN PENGEMBANGAN DESTINASI

Jika dilihat pada Gambar 2 , secara konseptual memang harus ada keseimbangan antara aspek Lingkungan, sosial dan ekonomi, demi tercapainya GREEN TOURISM, atau Sustainable Tourism Development. Kajian yang  sudah dilakukan oleh Universitas Udayana, alangkah baiknya dipublikasi pada publik, paling tidak pada forum-forum ilmiah.
Artinya, jangan sampai keputusan mengenai reklamasi ini berubah-ubah, karena dapat menurunkan wibawa hukum dan pemerintah. Akibatnya sungguh memalukan dan memilukan nantinya, apabila ranah hukum dipermainkan untuk kepentingan sekelompok orang.
Ada kekhawatiran kasus reklamasi diredam sementara, mengingat di Bali saat ini berlangsung perhelatan akbar bersekala internasional, demi menjaga stabilitas keamanan. Setelah perhelatan selesai, maka kembali Reklamasi jilid 2 berlanjut.
Masalahnya bukan takut berlanjut, disini kalau memang Reklamasi memberi manfaat yang lebih besar untuk Bali ke depan, mengapa tidak? Singapura, Maldives, Jepang, melakukan reklamasi dan tampaknya baik-baik saja. Disisi lain, kekhawatiran yang dimunculkan WALHI dan Raja Majapahit juga sangat beralasan. Solusinya ya itu tadi, mari di buka ke hadapan publik mengenai hasil kajian terhadap reklamasi secara ilmiah dan objektif, atau perlu alternatif kajian dari pihak kedua sebagai pembanding???
Kembali, masalah di sini, bukan takut reklamasi jalan atau tidak. Yang penting kejelasan mengenai dampak negatif dan antisipasi terhadap dampak negatif yang dihasilkan.Kalau memang dampak negatif dapat diatasi dengan baik, ya.....silakan jalan.
TAPI---Kenapa PEMPROV atau Pemerintah Pusat tidak membangun akses yang sangat baik ke Bali Utara, sehingga investor tertarik untuk mengembangkan pariwisata di  sana? atau.... STOP Pembangunan fisik untuk fasilitas pariwisata, dana dialihkan untuk pengembangan ECOTOURISM dengan konsep Community Based Tourism?
***BAY***
Link
http://posbali.com/tolak-reklamasi-forbali-kembali-demo/
http://regional.kompas.com/read/2013/09/11/1722296/Raja.Majapahit.XIX.Tolak.Reklamasi.Teluk.Benoa.Bali
http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=80195

Senin, September 02, 2013

Sejarah Pariwisata Bali

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.


Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti :

Seniman Sastra

Dr Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh Dunia pada tahun 1920 yang bersangkutan tinggal di Bangli.
Miguel Covarrubias dengan bukunya the Island of Bali tahun 1930
Magaret Mead
Collin Mc Phee
Jone Bello
Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise
Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali menetap di Bali tahun 1928
Lovis Conperus (1863-1923) dengan bukunya Easwords (Melawat ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.
Seniman Lukis

R. Bonet mendirikan museum Ratna Warta
Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance dan Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925.
Arie Smith yang membentuk aliran young artist
Le Mayeur orang Belgia mengambil istri di Bali tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali 5. Mario Blanco orang Spanyol juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud.
Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil obyek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar keseluruh Eropa dan Amerika.

Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.

Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.

Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara.

Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.

Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.

Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :

The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya.
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.

Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.

Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.

Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.

Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.

Sumber : baliaga.com

Kamis, Agustus 29, 2013

Hotel itu Pariwisata, Pariwisata juga Hotel

Bicara tentang hotel, tentu tidak dapat lepas dari pariwisata. Kalau dilihat dari kegiatan yang dilakukan wisatawan selama menikmati kunjungannya ke DTW atau objek wisata, tentunya membutuhkan sarana akomodasi, pelayanan makan dan minum serta pelayanan penunjang lainnya. Kebutuhan ini terjawab dengan adanya hotel. Oleh karena itu keberadaan hotel dalam dunia pariwisata merupakan sebuah dukungan bagi terlaksananya pelayanan pariwisata yang optimal.

Hotel adalah usaha akomodasi yang dikelola secara komersial, menyediakan fasilias makan, minum dan fasilitas penunjang lainnya, dibuka untuk umum dengan menggunakan sebagian ata
u seluruh bangunannya. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa dalam sebuah hotel harus tersedia : (i) sarana akomodasi berupa kamar tamu, (ii) pelayanan makan dan minum berupa restoran dan bar, dan (iii) pelayanan fasilitas penunjang lainnya berupa pusat kebugaran, drugstore, penukaran uang, kolam renang, faasilitas penyelenggaraan MICE dan lain sebagainya.

Dalam satu hari, hampir sebagian besar waktu dihabiskan wisatawan untuk tinggal di hotel, khususnya wisatawan segmen MICE. Wisatawan dalam segmen  lainnya seperti minat khusus, budaya, sedikitnya menghabiskan waktu selama 8-12 jam di hotel. Kondisi ini menuntut manajemen hotel untuk  menyediakan pelayanan yang paripurna, sehingga membawa kesan dan kenangan indah.

Pariwisata sendiri memiliki arti perjalanan orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan tujuan bersenang-senang, tidak untuk menetap, bekerja dan bersifat sementara, dimana fenomena ini membutuhkan banyak ketersediaan sarana dan prasarana yang melibatkan unsur pemerintah, pengusaha dan masyarakat.
Kegiatan berwisata menitik beratkan pada kesenangan. Oleh karena itu Hotel harus mampu mewujudkan sebuah pelayanan yang menyenangkan, sehingga mampu meningkatkan citra layanan keseluruhan dari sebuah daerah tujuan wisata.