Senin, Desember 17, 2012

STIPAR TRIATMA JAYA BADUNG Award-winning GOLD from APTISI Region VIII A, 2012


APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) region VIII-A, is an educational organization which consists of private University, Institute and Academy in Bali, aims to improve the quality of private colleges based on the implementation of the Tri Dharma Perguruan Tinggi , which include: education and teaching, research, and public service, making Bali as The Island of Knowledge. APTISI the region VIII-A aims to produce graduates who are intelligent, intellectual, emotional, spiritual, physical, healthy and intelligent in facing  global challenges (ASEAN Economic Society 2015) as well as ready to answer the challenge of the entry of foreign universities in year of  2020.

On the granting of a second award, held on December 12, 2012 gives awards to 25 private colleges in Bali. Awards are given in two categories namely GOLD (good) and SILVER (moderate). There are 5  Private colleges are awarded GOLD,  and SILVER, while as many as 20 colleges. As for the purpose of the APTISI AWARD is to motivate members of 52 private University in Bali to always improve the quality teaching and learning on campus, and reward private university who have managed to grab the value of accreditation BAN-PT. Event was attended by the Deputy Governor of the province of Bali, the Walikota of Denpasar, A coordinator of KOPERTIS Region VIII , Administrator of APTISI Bali, Chairman of the foundation of the entire Bali, Rector, Chairman , Director of the private colleges all over Bali.
STIPAR Triatma Jaya won the GOLD based on a questionnaire given to each private colleges all over Bali about the value of accreditation BAN-PT (National Accreditation Board) then in the crosscheck by the Committee through the website BAN-PT. The award was very motivating the entire civitas akademika STIPAR Triatma Jaya, who had been struggling in preparing human resources hotelier, to embody its vision: to be the leading of tourism institute  in Bali in 2018 in producing human resources in the field of hospitality and tourism of competent, creative, entrepreneur, mastering in information and technology  and has good manner.
STIPAR Triatma Jaya who throughout their courses accredited B of BAN-PT, besides manages to win the GOLD award of the APTISI Region VIII-A, also carved out a variety of achievement among others: Win PHP-Program of HIGHER EDUCATION of the PTS, continually for 3 times (2010 s/d 2012), won the APTISI Region VIII-A category SILVER award 2011, best Operator EPSBED-2 the year 2012 in KOPERTIS REGION VIII, champion of Flair Bartending in Bali and ASEAN, and a variety of other achievements.
The STIPAR Triatma Jaya’s curriculum that follows the development of the tourism and hospitality industry, 90% of educated lecturer S-2 with a background in hospitality and tourism facilities, fully air-conditioned classrooms, Multimedia, international-standard Laboratories, a network of cooperation with the company's cruise ships (Costa Crociere, Princess Cruise), Viking and Mega YACHT (Greece), five-star hotel in Bali, Singapore and France, is a guarantee for students to meet the future hit in the world of hospitality and tourism.

Rabu, Desember 05, 2012

TUGAS KASIR KANTOR DEPAN 1


SOAL
BERDASARKAN INFORMASI YANG ADA PADA CASH SHEET BERIKUT INI, KERJAKANLAH :
1.   HOUSE BANK REPORT,  APABILA DIKETAHUI PADA AWAL SHIFT SAUDARA MENERIMA RP.750.000,- DARI SHIFT SEBELUMNYA, DIMANA PADA AKHIR SHIFT TOTAL UANG YANG ADA DALAM LACI SAUDARA SEBELUM DISETOR PADA GENERAL CASHIER, SEBESAR RP.57.000.000,-
2.   REMITTANCE OF FUND / CASH TRANSMITTAL LIST


d


Senin, Oktober 08, 2012

Obrolan di Warung Kopi

Sore ini, sepulang kerja kira-kira jam 8 malam, nongkrong dulu di warung kopi sebelah baker's corner Teuku Umar. Biasalah, kebiasaan nongkrong emang sudah dari sononya. Niatnya cuma minum yang hangat, sambil ngemil, dengan (sebatang rokok / optional choice). Kali-kali aja ketemu sohib lama waktu es em a, atau es em pe, soalnya sekali waktu emang suka ketemuan di warung ini. Kalo ketemu, asik juga nostalgi masa lampau, nanyain kabar sohib-sohib lainnya dan kali-kali aja dapet info tentang sang mantan yang tak tahu rimbanya ( emang ga niat tau kabarnya, tapi kalau dapet selentingan, asik juga jadi bahan obrolan).
Seperti biasa, daku pesan secangkir white coffee dan sebungkus keripik singkong sama i meme yang jualan. Katanya white coffee tidak berbahaya bagi lambung, dan baik buat kesehatan, makanya daku pesan. Kalau keripik singkong, mah emang demenan leluhur dari jaman Majapahit dulu. Nah, kalau i meme asalnya dari Tabanan, tapi tinggal seputaran Dalung dan buka dagangan di Teuku Umar. Asik juga tempatnya, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Harganya juga impas banget dengan honor ngajar (hehehe), artinya ga bakal buat dompet jadi cekak. Soalnya saat ini setelah berkeluarga, pengeluaran musti di kontrol dengan ketat, istri lanjut kuliah, anak juga sedang sekolah, belum lagi urusan rumah tangga, semuanya perlu dana. Tapi bagaimanapun hobi nongkrong ini harus tetap jalan. 

Kadang-kadang lebih banyak pengetahuan yang didapat dengan hobi nongkrong di warung kopi dari pada duduk di bangku kuliah. Kalau nongkrong, pengetahuan yang di dapat lebih 'fresh' actual dan terpercaya langsung dari nara sumber. Nah, fenomena dan informasi yang didapat dari nongkrong ini, boleh jadi sebagai penguat teori yang diperoleh di buku atau bangku kuliah. Kadang juga jadi inspirasi untuk buat tulisan di Blog ini.

Sedang asik nyeruput kopi, " sruuuuuuttt.....", tiba-tiba di sampingku duduk seorang pemuda berambut cepak dengan gaya sedikit slengekan. " Malam, Pak, punapi gatrane...", begitu sapanya. Dakupun menjawab dengan spontan , " Nggih selamat malam Dik, nggih niki sedang santai dumun...", (dalam hati bertanya-tanya, apakah ini pemuda adalah mahasiswaku atau mantan mahasiswa, atau kenalan dimana??? rasanya emang ga pernah kenal. Cuma sikap hospitalitynya itu yang membuat daku salut. Obrolan pun kami lanjutkan.

"Bapak lakar lunga kija?" (Bapak mau pergi ke mana? / where are you going sir?) demikian tanya si pemuda. " Tyang, wau teka uli megae, tyang nyante dumun" (saya baru saja datang dari tempat kerja, mau rehat sejenak), demikian jawabku.

Demikianlah, dialog basa-basi awal semakin menghangatkan suasana malam itu. Dari obrolan yang terjadi, dan beberapa pertanyaan "pancingan" yang kuberikan kepada si pemuda, dapat kusimpulkan bahwa pemuda ini, tinggal di sekitar Jalan Teuku Umar, dengan pekerjaan yang tidak tetap...dan kemungkinan besar preman (soalnya pakai tato, dan menyebut-nyebut nama pentolan sebuah ormas yang membidangi masalah keamanan di Denpasar dan Badung). Si Pemuda kerap kali mengeluh tidak punya uang, dan sulitnya mencari pekerjaan. Namun, ada rasa kasian juga melihat nasib si Pemuda ini. Sambil menghisap rokoknya si pemuda permisi sebentar untuk membantu parkir kendaraan sekitar warung kopi. Ternyata rejeki menghampiri si pemuda, karena setiap kali memarkir mendapat uang kisaran seribu sampai dua ribu. "Lumayan Pak, ade anggon pemeli roko", ucap si pemuda.
Sambil menyedot rokoknya si pemuda bercerita, bahwa hidupnya sungguh tak menentu arah. Meskipun statusnya sebagai penduduk asli Denpasar, dan memiliki beberapa petak tanah yang mungkin nantinya diwariskan untuknya, tetap saja pandangan pesimis mewarnai cerita anak muda tersebut. Yah, demikianlah, saya mendengarkan dengan seksama setiap patah kata yang diucapkannya, dan sesekali menimpali sambil menyemangatinya.
"Maaf Pak,...", ujar si pemuda. " oh, punapi, adi ngidih pelih?" begitu jawab saya. "Ehm....begini Pak, ampura pak, tyang jagi metaken niki." ucap si pemuda dengan agak sungkan. "Silakan dik,wenten napi?" saya menimpali. "......ehm, Bapak mekeneh ngalih cewek?" demikian tanya si pemuda.

Pertanyaan si pemuda yang terakhir rupanya memancing naluri saya untuk mengorek sedikit mengenai fenomena 4S dalam dunia pariwisata. Fenomena S yang terakhir (Sun, Sea, Sand and Sex).

" Wah, maaf, ampura niki, tyang ten wenten keneh ngalih keto-keto, kewala, dadi tyang metaken?" (Wah, maaf, saya tidak minat cari cewek, tapi boleh saya bertanya) demikian jawab saya. " Oh nggih Pak" demikian jawab si pemuda. "Tyang cuma metaken siki manten" (saya bertanya cuma satu saja), demikian balas saya,  "Wenten anak Bali megae keto (wanita PSK) ???". Si Pemuda menjawab, "Wenten Pak".

Hal ini membuat bulu kuduk saya merinding. Saya tidak percaya kalau ternyata ada wanita Bali yang bekerja sebagai PSK. Namun saya membuat dugaan dan pengharapan, semoga wanita yang dimaksud adalah wanita pendatang yang  ber KTP Bali, atau dengan kata lain bukan orang Bali asli.

Memang, glamour dunia Pariwisata tidak mungkin lepas dari unsur S yang ke 4 (SEX). Meskipun pemerintah sudah mendengungdengungkan tentang konsep pariwisata budaya yang di kembangkan di Bali, namun tidak mampu menutup atau meredam unsur SEX in Tourism in Bali. Hal ini disebabkan karena kegiatan Pariwisata adalah bersifat "have fun" atau mencari kesenangan. Demikian pula, kebutuhan SEX merupakan kebutuhan fisiologis yang menjadi dasar bagi kebutuhan manusia dalam teori Maslow. Artinya kebutuhan ini memang harus terpenuhi. Olehkarena berlaku pula dalil permintaan dan penawaran.

Si pemuda juga bercerita bahwa setiap bulannya pasokan PSK ke Bali dari Jawa terus mengalir rata-rata masih berusia di bawah 20 tahun (ABG). Pangsa pasarnya adalah penduduk lokal, wisatawan domestik dan wisatawan manca negara. Harganyapun bervariasi tergantung"kelas".  Demikian pula, masalah kamar, transportasi bisa diatur, yang penting dana mecukupi.

Sebuah kengerian muncul di benak saya. Jangan sampai Bali seperti Thailand yang mengandalkan SEX sebagai icon utama untuk menarik wisatawan. Hal ini sangat penting, mengingat dampak yang buruk pasti menghantui dalam jangka panjang apabila fenomena ini tidak dikelola dengan baik.
Disisi lain saya berpikir, mungkin juga fenomena SEX di Bali sama dengan industri rokok. Artinya, pemerintah sudah mengimbau masyarakat untuk tidak merokok, namun tetap saja masyarakat membeli rokok.

Malampun mulai larut, tanpa ku sadar, si pemuda entah di mana.....
Namun otak ini berpikir, dan terus berpikir
Semoga Bali tetap ajeg, Semoga semua insan yang hidup dan mencari makan di Bali menjaga kelestarian Bali dalam konsep Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan,...
Semoga, semoga semoga

Sabtu, September 29, 2012

Why I Choose Hotel and Tourism?

When I was 10 years old, I have a dream to be a docter, so I can cure the patience and help many people, and recognized. All my parents support my dream, and they said me to learn more and more. Actually I'm not clever boy at that time. Most of my time I used for playing kite, fishing, and walking around by bycicle. Some times I do fighting with my enemy till I broke my nose and oftenly get loose. I was a quite naughty boy at that time.
Time goes by, after  graduating my elementary school at SDK Swastiastu I Denpasar, fortune I accepted to continue study at junior high school in SMP Negeri I Denpasar. Here all my friends are very hard learner, the competition to gain knowledge and good mark from teacher are very thight. I was the most stupid student at the class, and oftenly get rank number two from behind. I don't care about studying, I just want to enjoy what I want to do. Finally after graduating my junior high school, I continue to study at senior high school in SMAN 1 Denpasar.
I Never dream to work and invest my future in tourism industry, especially in academic field, till I visited my uncle in hospital. When I entered the hospital, I couldn't breath well because I heard people crying, suffering, an alcohol smell. I saw broken body in emergency, blood, tears, panic, hysteria the victim of accident. I feel sick, and I changed my mind not to be a docter, but I would like to work and invest my future in a place where I could see a beautifull things like heaven, I would like to see people smile, happy, good smeel, nice aroma, nice atmosphere, and I would like to see a new world, a travel, and gain money, experience.
Thats why, after graduating my senior high school, I accepted to study in Hotel and Tourism Training Institute (STP Nusa Dua). I took a Diploma IV Hotel Administration. Here I learn a lot about hotel, especially in management and administration field. I also learn how to cook, how to serve the guest, how to maintain my attitude to be a good hotelier. Fortunately I could get training in Orchard Hotel Singapore focused on FB service. So I knew Singapore a wonderfull country, sophisticated, clean and tidy.
After graduating my study at STP Nusa Dua, I worked in some five stars hotels in Kuta and Nusa Dua and continue to work in MSC Cruise, MV. Melody as an Assistant Waiter. Here I could see the world, the old and romantic city in Europe, Afrique and America such as : Genova, Napoli, Palermo, Sicilia, Tunisia, Katakolon, Heraklion, Palma de Mallorca, Marseille, Cassablanca.
Actually Hospitality is mostly a practice, an attitude. That's the investor want from us who learn hospitality. We don't need 'too much' clever. Clever means nothing when we can't smile and respect each other. That's a message that I could catch till now from learn hospitality.
Now, I have a dream to be a great writer, researcher, accademician in Tourism and Hospitality. I would like to take apart in keep Bali on the track of Sustainable Tourism Development, I would like to write books about hotel management, and I would like to make all my students success go abroad working in cruise ship or hotels, I have a dream I could change my students attitude become a great hotelier. Finally may God Bless Us...Everything happened as God Will.

Last but not least, I try to write in English, just want to practice my English, it has been a long time a never use my English. I'm very sory if ther is a lot of mistakes in structure, gramatical. I just want to enjoy my self by writing and sharing my idea. Thank you very much, bang siu aturang samas!

Jumat, September 28, 2012

If You Wanna be A Sailor Man (Popeye)

LIFE ON BOARD


Life onboard a ship is unique. In the beginning, you will perhaps feel a little lost, but at the same time feel excited Try to keep a positive attitude towards all the new impressions and you will soon enjoy every minute onboard. Always remember that the rest of the crew welcomes you onboard. In most cases, you will arrive on an embarkation day (when passengers leave and passengers arrive). Embarkation day is a busy time for everyone onboard, and crewmembers may seem less patient. Do not despair, as you will soon be included as a member of this busy team.

Your Cabin
Because of the limited space on the ship, most crewmembers share cabins. Since your cabin is going to be your new home while onboard, take care of it as if it was your own home, clean and tidy at all times. It is not recommended to keep money and valuables in your cabin. Always remember to lock your cabin. Safety envelopes for crew are available on certain ships in the crew pursers' office. Valuables may be kept there free of charge. Safety envelopes are available during regular office hours.
The ship provides bed linen and towels. All furniture and equipment must be treated with care. Also, it is your duty to keep your cabin clean and tidy at all times. Some crew have an assigned cabin steward to clean their cabin. If you have, it is customary to tip them for good service.
It is not permitted to take passenger equipment such as towels, tableware, glasses etc. to the crew quarters. Similarly; it is not permitted to take food from the mess rooms, pantries, galley or dining room to the cabin. The US authorities may fine the ship for finding any fruit, nuts and similar items in your cabin.
It is not permitted to take passenger to your cabin. Any crewmember found bringing a passenger into his or her cabin will be dismissed.
The modification of fixture equipment, furnishing and electrical installation, is strictly prohibited. Nails, screws or adhesive must not be used to hang picture, posters, etc. Always keep in mind that other people will be using the cabin later.
We must remind you that smoking in bed and the use of open flame (candles) is strictly prohibited.
 
Crew Mess
All meals are served in the crew mess. Some ships have more than two messes. Once onboard, you will be informed as to which messes you have access to follow the rules of the mess and always help to keep them clean. From time to time, the meal hours may be changed to fit the sailing plan, but you will be notified of this
in advance.

Hospital
The ship's hospital is headed by experienced doctors and qualified nurses. In case of illness, unless there is an emergency, the hospital should be contacted during office hours. If you have to visit the doctor, you must notify your superior and it will be arranged. Absence from work because of illness is only accepted if confirmed by a report from the ship's doctor. You must always advise your superior of any restriction or limitation the doctor placed on your ability to work. Failure to do so is a violation of the ship's rules.

Crew Gym
The crew gym is available to all crewmerribers and can be used at posted hours. It is recommended to keep the gym clean and no food or beverage consumed there.

Crew Dayrooms
These dayroorns are used for meeting fellow crewmembers. You are required to keep these dayrooms tidy and neat.

Crew Shop
The ship's crew shop is managed by the crew welfare. In the crew shop, you can buy toiletries, mineral water, cigarettes, chocolate, and other necessities. The crew shop is open at specified hours when the ship is at sea. All sales are in cash.

Crew Bar
The ship's crew bar is run by the crew welfare. Operating hours has to be respected. All sales are strictly cash. You are not permitted to become inebriated or intoxicated while onboard ship. You are not allowed to drink while on duty. Violation of either of this rule in ground for dismissal.
 
Laundry
Crew uniforms and work clothes will be cleaned free of charge except for crew working in department under concession. Please follow the instruction for delivery and return of laundry. Do not hand in all your uniform at once for cleaning as this might cause delay since the laundry has a limited capacity. There are laundry machines and dryers free of charge in crew areas.

Crew Welfare Corninittee
Normally, a Cruise Line takes great pride in the Crew Welfare onboard the ship. The crew of each ship elects a Welfare Committee to take care of various arrangements such as sporting events, social events, and management of Crew Bar. All profits are re-invested in the welfare of the crew according to the Welfare Committee's decisions. Welfare activities depend entirely upon the interest and co¬operation of each crewmember. Each department elects one representative to attend all Welfare meetings. With the whole-hearted participation of everyone onboard, almost any need and interest can be covered through the Welfare Committee. If you have any ideas or suggestionSj contact the Crew Welfare Committee.

Notice Boards
On the notice boards, you will find FIRE & LIFEBOAT DRILL information and practical information about customs lists, advance payment, and crew welfare arrangement. Make it a habit of looking at the notice board every day.

Mail
Mail to the crew is distributed through each department of the ship. Your supervisor will advise you how mail is distributed in your department Mail addressed to you should be addressed as follows:
Name
Department where you work
Name of ship
Address as advised by crew purser

Telephone and Fax Services
Private calls, telegrams and fax messages are directed through the ship's Radio Station. Private calls and faxed messages for crewmembers will be accepted whenever traffic allows and at the opening hours specified by the Radio Station, Misuse of telephone arid fax service is grounds for discipline and in serious cases affecting dismissal.
 
Wages
Wages are paid monthly in US. dollar currency. Cash advance are given once a month, for no more than half of your salary. Information about payment of wages is available at the purser office.

Visits
In special cases, if allowed by authorities, permission may be granted to visitors onboard. An application should be submitted trough the head of your department Visitors are allowed the same access to public areas as that of crewmember. At no time should the visitors take up space that would normally be used by passengers. The crewmember is responsible for the conduct of his / her visitor (s). From time to time, usually the Cruise Line offers a special rate for friends and family. This offer has certain restriction. Please consult your supervisor for more information.

Going Ashore
Take care to follow the instruction given when going ashore. Do not forget to bring your crew pass and 1-95 document. Bring with you a note with the location of the ship and the telephone/address of the ship's agent.
Uniform must not be worn during shore leave. Do not block the gangway area, and always let the passengers go ashore first. Passengers have priority at all times!
You should report back onboard at the advised time.
To be left behind is a serious matter that may involve dismissal and considerable expenses. Should you be left behind, notify the ship's agent immediately

Struktur Organisasi Kapal Pesiar

Main responsibilities
Captain     :    The Master of the ship. This person is the highest authority on board.
Satff Captain     :    Reports to the Captain and is second in command ;
Chief Engineer    :    In charge of all technical aspects of the ship, including engines, electrical and air conditioning, plumbing and general maintenance. Reports to the Captain.
Hotel Director     :     In charge of all the hotel services provided on board Reports to the Captain.


STRUKTUR ORGANISASI GALLEY / DAPUR DI KAPAL PESIAR



STRUKTUR ORGANISASI KAPAL PESIAR



STRUKTUR ORGANISASI DINING ROOM KAPAL PESIAR

APA BILA ADA PERTANYAAN MENGENAI JOB DESC DARI SALAH SATU JABATAN DI ATAS SILAKAN KIRIM PERTANYAANNYA KE EMAIL
Terima Kasih

ISTILAH DALAM KAPAL PESIAR

SHIP TERMS
Berikut ini kami sampaikan istilah-istilah yang berkaitan dengan fisik kapal pesiar yang terkait dengan pelayanan kepada passenger/penumpang

Some terms used on board
  1. Aft          :     The back of the ship.
  2. Beam      :     The width of a ship at its widest part.
  3. Birth        :     A bed in a ship's cabin; also a space at a wharf for a ship to dock or anchor.
  4. Bridge     :     The place from where the officers navigate the ship.
  5. Bow        :     Front or forward portion of the ship
  6. Companionway    :     Interior stairway
  7. Control room    :     Room from where the engines and other equipment are controlled
  8. Crew    :     Bar for the crew.
  9. Crew mess    :     The cafeteria where the crews eat.
  10. Crew shop     :     Shop for the crew, where you may purchase toiletries, mineral water, tobacco and other necessities.
  11. Crew station bill    :     A chart explaining the responsibilities you have in case of an emergency.
  12. Day room     :     Meeting rooms for crew.
  13. Debarkation     :     When passengers exit the ship at end of cruise.
  14. Deck     :     A ship has several floors like a building, they are referred to as decks.
  15. Dock     :     Pier; Wharf where all the ships alongside.
  16. Embarkation    :     When passengers enter the ship at the beginning of a cruise 
  17. Emergency Station     :     The place where you have been assigned to in case of emergency.
  18. Forward     :    The front of the ship.
  19. Galley     :     The kitchen
  20. Gangway     :     The opening through the ship's bulwarks and the ramp by which passengers embark and disembark.
  21. Gross Tonnage     :     The cubical capacity of a vessel divided by 100  cu ft. However, some spaces are excluded by the so – called Moorsom rules.
  22. Leeward     :     With the wind.
  23. Lifeboat/raft station     :     The life boat you have been assigned to in case of an evacuation.
  24. Luggage gandling     :     Luggage has to be on - loaded by certain crewmembers to facilitate the debarkation/ embarkation process.
  25. Amidships    :     The middle of the ship.
  26. Portside     :     Left hand side of the ship when facing forward.
  27. Porthole     :     Circular “windows” in the side of the ships hull or superstructure.
  28. Radio Station     : The communication center of the ship.
  29. Stair tower     :     Stairs connecting the decks.
  30. Starboard     :     Bight-hand side of the ship when facing forward.
  31. Stem     :     The extreme bow or prow of the ship.
  32. Stem     :     The extreme rear of the ship, or toward the rear.
  33. Tender     :     Smaller boat used to transport passengers and crew when the ship is anchored.
  34. Win ward     :     Against the wind.
  35. TBA     :     To Be Assigned
  36. M/V    :     Motor Vessel
  37. M/T    :     Motor Tanker
  38. M/S    :     Motor Ship/ Steam Motor
  39. S/S    :     Steam Ship
  40. TSS    :     Turbine Steam Ship

Ekowisata di Bali

Bali adalah pulau kecil yang memiliki daya tampung yang terbatas. Entah mengapa sampai detik ini masih saja terdengar pembangunan hotel-hotel berbintang lima, pembangunan villa villa, pembangunan lapangan golf, yang pada intinya 'memperkosa' lahan-lahan kosong yang ada di Pulau Bali. Walaupun pembangunan kamar-kamar hotel dan fasilitas-fasilitas pariwisata dipandang memberikan dampak ekonomi yang menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat, hendaknya perlu lebih lanjut memikirkan lebih jauh dan lebih holistik.
Apabila pemerintah terus menerus memberikan ijin pembangunan hotel-hotel di wilayah Pulau Bali (khususnya Bali Selatan), maka akan terus menerus pula permasalahan sosial, lingkungan, budaya tidak pernah teratasi. Ironis memang, di satu sisi pemerintah mendukung pengembangan kepariwisataan berdasarkan konsep "sustainable tourism development", di sisi lain pola konsep "mass tourism" masih dipertahankan.
Satu jawaban yang sungguh melegakan hati adalah dengan adanya konsep "Ecotourism" yang sudah mulai dikembangkan di beberapa desa di Bali. Sebagai contoh : Tenganan Pegringsingan-Karangasem, Banjar Adat Kiadan-Badung, Dukuh-Sibetan-Karangasem, dan Nusa Ceningan-Klungkung. Keempatnya masuk Jaringan Ekowisata Desa (JED).(situs desa ekowisata di Bali). 
Konsep Ekowisata (ecotourism) yang berlandaskan konsep keberlanjutan, pelestarian alam dan lingkungan, keterlibatan masyarakat, aspek pemasaran dengan tanggung jawab sosial, diharapkan kedepannya mampu memberikan pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi Pulau Bali saat ini akibat Pariwisata. 
Prinsip-prinsip ekowisata sebagai berikut  (The International Ecotourism Standard, dalam Arida (2009)) :
  1. Memiliki kepedulian, komitmen dan tanggung jawab terhadap konservasi alam dan warisan budaya, dengan indikator sebagai berikut : (i)tercapai keseimbangan pemanfaatan lahan, (ii)penggunaan teknologi ramah lingkungan (iii) pemanfaatan areal warisan budaya sebagai objek ekowisata dissesuaikan dengan daya dukung, (iv)melestarikan keanekaragaman hayati dan cagar budaya, dan (v) memperhatikan keberadaan endemis.
  2. Menyediakan interpretasi yang memberikan peluang kepada wisatawan untuk menikmati alam dan meningkatkan kecintaannya terhadap alam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara : (i)menyediakan pramuwisata profesional dan berlisensi, (ii) menyediakan fasilitas pendukung dan informasi yang memadai terkait dengan objek ekowisata, (iii) melibatkan lembaga adat setempat.
  3. Memberikan kontribusi secara kontinyu terhadap masyarakat setempat serta memberdayakan masyarakat setempat, dengan cara : (i) memprioritaskan pemanfaatan tenaga kerja lokal sesuai dengan keahlian, (ii) memprioritaskan pemanfaatan produk lokal untuk operasional objek ekowisata dan (iii) melibatkan lembaga adat setempat.
  4. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya  dan tradisi keagamaan masyarakat setempat, dengan indikator sebagai berikut : (i) pembangunan dan operasional disesuaikan dengan tata krama, norma setempat dan kearifan lokal, (ii) keberadaan dan kegiatan objek wisata tidak mengganggu aktivitas keagamaan masyarakat setempat
  5. Mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti : (i)mentaati undang-undang dan perangkat peraturan lainnya yang terkait, (ii) mentaati awig-awig (peraturan) desa setempat.
  6. Pengembangannya harus didasarkan atas musyawarah dan dengan persetujuan masyarakat setempat, dengan indikator : (i) pembangunan perlu mendapat persetujuan masyarakat dan lembaga adat setempat, (ii) menjalin komunikasi dan koordinasi dengan masyarakat dan lembaga adat setempat dalam pengembangan objek.
  7. Secara konsisten memberikan kepuasan kepada konsumen, dengan indikator (i)menyediakan fasilitas dan memberikan pelayanan prima dan memuaskan kepada konsumen, (ii) menyediakan media untuk memperoleh umpan balik dari konsumen.
  8. Dipasarkan dan dipromosikan dengan jujur dan akurat sehingga sesuai dengan harapan dan kenyataan, dengan indikator : (i)materi pemasaran harus akurat, jelas dan berkualitas dan (ii) materi pemasaran yang jujur dan harus sesuai dengan kenyataan.
  9. Sistem pengelolaan yang serasi dan seimbang sesuai dengan konsep Tri Hita Karana, dengan kriteria : (i) memperhatikan keselarasan hubungan antara manusia dengan  Tuhan (Parahyangan), (ii) memperhatikan keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia (Pawongan), dan (iii) memperhatikan keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan (palemahan)
Kedepannya dengan prinsip-prinsip pengembangan ekowisata, maka dapat mewujudkan tujuan dari pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sayang sekali, sesungguhnya hampir semua desa di Bali memiliki potensi untuk dikembangkannya ekowisata, namun hanya beberapa saja yang tergarap. Kondisi ini menuntut pemerintah segera turun tangan untuk  mengucurkan dana segar bagi pembentukan desa-desa wisata dengan konsep ekowisata. Dana yang dikucurkan tentunya diperuntukkan untuk : (i) melatih tenaga akademisi dan praktisi untuk mampu menerapkan pengembangan ekowisata desa dalam satu konsep, visi dan misi, (ii)mengidentifikasi potensi desa-desa di Bali untuk dapat dikembangkan dalam ekowisata desa dan (iii) membangun sarana, prasarana dalam pembentukan dan pengembangan ekowisata desa.

Apabila konsep ekowisata dapat dikembangkan dengan baik di seluruh Pulau Bali, maka penulis meyakini, anak-anak muda tidak akan tertarik untuk pergi ke Kuta, Denpasar atau wilayah Bali Selatan untuk mencari pekerjaan. Mereka akan tinggal di desanya masing-masing untuk mengembangkan ekowisata. Tapi, bilakah itu semua terwujud?

Rabu, September 26, 2012

PERGESERAN PARADIGMA PENGELOLAAN HOTEL DAN FASILITAS AKOMODASI DI BALI



Pariwisata merupakan pilar pembangunan nasional, dimana dengan adanya kepariwisataan di Indonesia akan mampu membantu pemerintah dalam meningkatkan penerimaan devisa, pajak dan pengentasan kemiskinan.
Bali merupakan Daerah Tujuan Wisata dengan skala internasional yang merupakan aset bangsa sungguh berperan besar dalam mendukung pembangunan nasional. Kontribusi kepariwisataan Bali bagi pembangunan kepariwisataan nasional tercermin dari masih berpengaruhnya dampak bom Bali II, dimana terjadi penurunan terhadap kinerja kepariwisataan nasional (Dadang,2011). Peranan sektor hotel berbintang dan sektor perdagangan dalam menghasilkan nilai tambah bagi Propinsi Bali sebesar 32,57% masing-masing sebesar 12,32 persen dan 12,11 persen, sementara sektor restoran menyumbang 8,14 persen (Suhendra,dkk, 2000). Demikian pula trend jumlah wisatawan terus menerus meningkat dari tahun 2007 sampai 2011 sebanyak 15,18% (BPS Prov.Bali,2011) dan berkembangnya konsep kenyamanan berakomodasi mendorong pertumbuhan jumlah hotel pada Tahun 2010 sebanyak 1,36 % (BPS Prov.Bali,2011).

Jika kita telaah data-data di atas, dimana pertumbuhan wisatawan yang datang ke Bali terus meningkat, diiringi dengan jumlah pertumbuhan kamar hotel yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran terhadap daya dukung Pulau Bali yang sangat terbatas yang luas wilayahnya + 5.632,86 km2 atau 0,29 % dari luas kepu¬lauan Indonesia. Oleh karenanya saat ini para akademisi dan praktisi pariwisata mendengungkan konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan, demi terjaminnya kesejahteraan generasi mendatang. Kondisi ini dilatar belakangi oleh dampak negatif yang timbul akibat pembangunan hotel-hotel, antara lain menyebabkan kerusakan lingkungan, budaya, kenaikan harga-harga,kemacetan lalu lintas di jalur wisata utama, sampah plastik, dan terpinggirnya kehidupan masyarakat asli dimana hotel-hotel tersebut dibangun.

Bisnis hotel dan fasilitas akomodasi adalah bisnis yang sangat menguntungkan dan sustainable atau bertahan lama. (Wibowo,2012) Tercapainya tingkat keuntungan harus didasari pada pengelolaan yang memiliki tanggung jawab pada keberlanjutan pengembangan pariwisata di Bali. Jika kita amati trend pengelolaan hotel di Bali saat ini sudah mengalami pergeseran, dari pembangunan hotel-hotel yang berdasarkan konsep mass tourism, dimana hotel dibangun dengan menggunakan lahan yang luas, bangunan bertingkat, jumlah kamar yang banyak, mass service,  dan dekat dengan pantai. Hotel-hotel yang dibangun dengan konsep mass tourism, pada umumnya berdiri sebelum tahun 1990 dimana pada saat itu kesadaran untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan masih kurang. 

Saat ini pengelolaan fasilitas akomodasi cenderung mengarah pada konsep sustainable tourism development, yang tercermin pada perhatian para investor dan manajemen pada aspek budaya, lingkungan, sosial dan ekonomi dimana lebih memperhatikan masyarakat setempat (community based tourism). Aspek local genuine seperti Tri Hita Karana juga menjadi pedoman bagi pengelolaan hotel. Jumlah kamar tidak terlalu banyak (puluhan kamar), bahan baku menggunakan produk dari masyarakat setempat, tenaga kerja juga lebih menggunakan masyarakat setempat, konsep menyatu dengan alam dan masyarakat setempat. Namun demikian harga kamar dan tingkat konsumsi tamu/wisatawan jauh lebih tinggi dari pada hotel-hotel yang dikelola dengan konsep mass tourism. Dalam hal ini trend pengelolaan fasilitas akomodasi di Bali saat ini sudah mengarah pada konsep Quality Tourism. 

Mengacu pada konsep dasar operasional ekowisata (From, dalam Arida 2009) yaitu : (i) Perjalanan outdoor dan di alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Dalam ekowisata diutamakan penggunaan sumber daya hemat energi, seperti tenaga surya, bangunan kayu, bahan daur ulang, dan bahan lain yang ramah lingkungan. Sebaliknya dalam aktivitas ekowisata diupayakan agar tidak mengorbankan kelestarian flora dan fauna, tidak mengubah topografi lahan, misalnya dengan mendirikan bangunan yang asing bagi lingkungan dan budaya masyarakat setempat. (ii) Wisata ini mengutamakan penggunaan fasilitas akomodasi yang diciptakan dan dikelola oleh masyarakat kawasan wisata itu. Prinsipnya, akomodasi yang tersedia bukanlah perpanjangan tangan hotel internasional dan makanan yang ditawarkan juga bukan makanan yang berbahan baku impor, melainkan semuanya berbasis produk lokal. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan jasa pemandu wisata lokal. Oleh sebab itu, wisata ini memberikan keuntungan langsung bagi masyarakat lokal. (iii) Perjalanan wisata ini menaruh perhatian besar pada lingkungan alam dan budaya lokal. Para wisatawan biasanya belajar dari dari masyarakat lokal, bukan sebaliknya menggurui mereka. Wisatawan tidak menuntut masyarakat agar menyuguhkan pertunjukan dan hiburan ekstra, namun mendorong mereka agar diberi peluang untuk menyaksikan upacara dan pertunjukan yang sudah dimiliki oleh masyarakat setempat.

Tabel 1
Perbandingan Pengelolaan Hotel di Bali
Konsep Mass Tourism    
1.    Jumlah kamar yang banyak
2.    Penggunaan bahan pembersih berdasarkan cost effectiveness
3.    Bangunan hotel bertingkat
4.    Sebagian besar menggunakan konsep arsitektur modern, sementara arsitektur Bali merupakan bagian
       minor
5.    Dikelola bukan masyarakat setempat
6.    Sebagian besar merupakan chain hotel
7.    Bahan makanan sebagian besar impor
8.    Karyawan yang bekerja sebagian besar bukan masyarakat setempat
9.    Mendatangkan atraksi dari luar, bukan milik masyarakat setempat
Konsep Sustainable Tourism Development
1.    Jumlah kamar sedikit
2.    Penggunaan bahan pembersih yang ramah lingkungan
3.    Bangunan hotel tidak bertingkat
4.    Menggunakan arsitektur bali
5.    Dikelola oleh masyarakat setempat
6.    Bukan chain hotel
7.    Bahan makanan dan minuman menggunakan berasal dari hasil cocok tanam dan peternakan masyarakat
       setempat
8.    Karyawan yang bekerja sedapat mungkin menggunakan sebagian besar masyarakat setempat
9.    Atraksi yang disuguhkan di hotel berasal dari masyarakat setempat
Sumber : Hasil pengamatan penulis bedasarkan konsep ekowisata, 2012

Berdasarkan Tabel 1 diatas, tentunya sebagai insan pariwisata mengharapkan agar  seluruh pengelolaan fasilitas akomodasi di Bali (hotel, losmen, guest house, penginapan dsb) agar konsisten dan terus mengembangkan konsep sustainable tourism development. Tentunya harapan ini harus didukung oleh seluruh komponen seperti pemerintah yang mengeluarkan peraturan-peraturan dan yang menegakkan aturan, serta para investor dan pengelola fasilitas akomodasi sebagai para pelaksana di lapangan. Adapun keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan fasilitas akomodasi berdasarkan konsep sustainable tourism development adalah : (i) Keadaan tanah di Bali akan tetap terjaga kualitasnya, demikian pula kepemilikan lahan di Bali tetap dimiliki oleh masyarakat Bali, dimana kepemilikan lahan merupakan suatu kunci strategis bagi konsep ajeg Bali, (ii) Kesejahteraan masyarakat disekitar area hotel/ fasilitas akomodasi dapat dirasakan dan ditingkatkan, karena dengan berdirinya hotel/fasilitas akomodasi tersebut menekankan aspek pengelolaan yang lebih banyak melibatkan masyarakat setempat, sehingga perputaran ekonomi membawa efek yang menguntungkan bagi masyarakat setempat, (iii) Kehidupan sosial budaya akan terpelihara dengan baik, dengan menggunakan atraksi-atraksi dan daya tarik wisata yang berasal dari masyarakat setempat akan menggairahkan potensi kreasi seni yang ada, demikian pula arus urbanisasi dapat ditekan karena msyarakat setempat mendapatkan mata pencaharian baru dengan berdirinya hotel/fasilitas akomodasi di daerahnya.

Beberapa hotel/fasilitas akomodasi yang sudah menggunakan konsep sustainable tourism development, misalnya : Sarin Buana Ecolodge (Desa Sarin Buana, Kecamatan Selemadeg, Tabanan Bali), Puri Bagus Jati (Desa Taro, Gianyar) dan hotel-hotel yang memenangkan Tri Hita Karana Award, seperti : Novotel Benoa Bali, Four Season Resort, Intercontinental Bali Resort, Inna Grand Bali Beach, dan masih banyak lagi hotel-hotel lainnya (lebih dari 20 hotel yang sudah memenangkan THK award). Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak investor dan pengelola usaha fasilitas akomodasi yang makin peduli dengan konsep sustainable tourism development.

Demikian pula Pemerintah Daerah Provinsi Bali dengan PERDA  No. 16 Tahun 2009 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029 (Balai Informasi Penataan Ruang, 2012) RTRWP Bali salah satunya didasarkan asas Tri Hita Karana, yaitu falsafah hidup masyarakat Bali yang memuat tiga unsur yang membangun keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya yang menjadi sumber kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia, merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mewujudkan konsep sutainable tourism development.

Para insan pariwisata di seluruh Indonesia sungguh berbahagia karena sejak tahun 2008 berdasarkan surat Dirjen Dikti Depdiknas No.947/D/T/2008 dan 948/D/T/2008, pariwisata sudah diakui sebagai ilmu mandiri (Wisnawa, 2011). Para akademisi dan profesional yang berkecimpung di bidang pariwisata tentunya menerima kenyataan ini sebagai sebuah amanah untuk dapat mengisi dan mengembangkan ilmu pariwisata sehingga nantinya mampu menjawab semua permasalahan di bidang pariwisata. Pengembangan kepariwisataan di Bali, termasuk pengelolaan hotel dan fasilitas akomodasi yang banyak berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan keberlanjutan bagi kesejahteraan masyarakat harus berlandaskan konsep sustainable tourism development.

Literatur

Anonim, 2012, Penataan Ruang, Balai informasi Penataan Ruang, Dirjen Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan Umum,  http://werdhapura.penataanruang.net/images/stories/kompilasi/Perda/Provinsi/Prov-Bali.pdf

Dadang, (2011),Executive Summary : Background Study dalam Rangka Penyusunan  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014 Bidang Pariwisata Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga  http://kppo.bappenas.go.id/files/9810ringkasan-eksekutif-bidang-pariwisata%202010-2014.pdf

Suhendra, Sugiharto dan Oswari .2000. Peranan Sektor Pariwisata dalam Pertumbuhan Ekonomi Makro Propinsi Bali dengan Pendekatan Input-Output, FE STIE Guna Dharma,http://www.docstoc.com/docs/22630588/PERANAN-SEKTOR-PARIWISATA-DALAM-PERTUMBUHAN-EKONOMI-MAKRO-PROPINSI

Sukma Arida, Nyoman. 2011. Meretas jalan Ekowisata Bali, Proses Pengembangan, Partisipasi Lokal, dan Tantangan Ekowisata di Tiga Desa Kuno, Bali. Denpasar : Udayana University Press

Wibowo, 2012, Langkah Memulai Bisnis Hotel,  http://knhotelconsultant.wordpress.com

Wisnawa, Bayu, 2011 , Pariwisata Sebagai Ilmu (Tinjauan Ontologi), http://madebayu.blogspot.com/2010/01/pariwisata-sebagai-ilmu-tinjauan.html

Haraga Kamar, Tingkat Hunian, dan Elastisitas

A.    Pengertian Harga Kamar
Menurut Stanton dalam Angipora (2002: 268), menyatakan bahwa harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Sedangkan McCarthy dalam Angipora (2002: 268) menyatakan bahwa harga adalah apa yang dibebankan untuk sesuatu.
Dilihat dari kedua pernyataan tersebut maka dapat dikristalisasikan bahwa harga kamar adalah sesuatu yang dibebankan dalam hal ini adalah sejumlah uang untuk memperoleh sesuatu yaitu produk berupa kamar.

B.    Perbedaan Harga Kamar dan Jenis-Jenis Harga Kamar Khusus
Menurut Sugiarto (2002: 3) menyatakan bahwa harga kamar atau tarif kamar adalah satuan harga sewa sebuah kamar untuk satu malam. Di sini dijelaskan pula bahwa harga kamar dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
  1. Harga Kamar per Room Tariff, harga yang ditetapkan tidak dipengaruhi oleh jumlah penghuni yang akan menempati kamar tersebut
  2. Harga Kamar per Person Tariff, harga kamar yang ditetapkan untuk tamu yng menginap tergantung jumlah penghuni yang akan menempati kamar tersebut.
  3. Harga kamar per Publish Tariff, harga kamar yang dijual sesuai dengan yang dipublikasikan kepada masyarakat umum
  4. Harga kamar per Confidential tariff
Harga kamar yang berlaku hanya diketahui oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat.
Selain tarif diatas dijelaskan pula beberapa macam jenis-jenis tarif kamar khusus, antara lain:
  1. Seasonal Rates, harga kamar “musiman” artinya tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan. Harga pada saat “peak season” (tingkat hunian sedang tinggi) maka harga kamar dijual lebih mahal dibandingkan pada saat “low season” (tingkat hunian kamar sedang rendah)
  2. Week-End Rates, harga kamar untuk akhir pecan ini biasanya berlaku pada bisnis hotel di kota-kota besar di mana sebagian besar penghuninya lebih sedikit dibandingka dengan hari kerja. Ada beberapa hotel yang memberlakukan week-and rates sejak hari Jumat malam hingga Minggu malam, ada pula yang hanya sabtu dan Minggu malam saja.
  3. Family Plan Rates ,harga kamar untuk satu keluarga, biasanya berbeda dengan harga kamar lain, dengan tanpa memperhitungkan adanya biaya extra bed.
  4. Group Rates, harga kamar untuk rombongan yang memekai kamar lebih dari satu dan batang bersama-sama dalam satu kelompok. Contohnya rombongan dari sustu perusahaan biro perjalanan dan perusahaan penerbangan. Misalnya untuk jumlah sebayak 15 orang dengan memakai kamar minimal 8 kamar, maka biasanya pemimpin group akan memperoleh satu kamar gratis.
  5. Commercial Rate, harga kamar yang diperuntukan bagi tamu langganan yang sudah biasa menginap di hotel tersebut yang biasanya untuk urusan bisnis.
  6. Airlines Rates, harga kamar yang diperuntukkan bagi perusahaan penerbangan yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (i) Harga kamar untuk crew yaitu harga khusus untuk pilot dan co-pilot, ahli mekanik pesawat dan pramugari atau pramugara.(ii) Harga kamar untuk penumpang yaitu harga yang diberikan kepada penumpang pesawat melalui perusahaan penerbagan tertentu yang sudah membuat perjanjian dengan hotel, biasanya dapat memenfaatkan harga khusus berupa voucher yang sudah termasuk dalam tiket.
  7. Travel Agencies Rates, harga kamar berdasarkan perjanjian khusus antara pihak Travel Agent dengan pihak hotel. Dalam hal ini Travel Agent memberikan bukti untuk check-in berupa voucher. Voucher ini dapat berlaku untuk kamar saja, kamar dan sarapan saja (RB only) dan lain sebagainya.
  8. Day Rates, harga kamar yang diberlakukan untuk setengah harga dari publish rate karena pemakaian kamar hanya untuk satu hari saja (kurang lebih 12 jam). Biasanya tamu tidak menginap dan check-out time maksimal pukul 18.00
  9. Over Flow Rates,harga kamar yang sifatnya khusus terutama pada tamu yang dikirim oleh hotel lain karena hotel yang bersangkutan sedang mengalami full house
  10. Flat Rates , harga kamar yang diberlakukan untuk tamu rombongan tanpa memandang harga kamar publish rates
Dari berbagai jenis kamar diatas tidak lain mempunyai tujuan untuk mendapatkan tingkat hunian kamar yang lebih tinggi. Pertimbangan yang dipergunkan manajemen memberikan harga khusus suatu kamar, yaitu untuk: tujuan promosi, mempertahankan tingkat hunian kamar serta memberikan harga khusus pada langganan baru.

C.    Tujuan penetapan harga kamar
Menurut Angipora (2002: 271), secara mendasar terdapat empat tujuan utama dari penetapan harga yang ingin dicapai oleh setiap perusahaan, antara lain:
  1. Mendapat Laba Maksimal, melalui penetapan harga atas setiap barang yang dihasilkan, diharapkan perusahaan akan mendapat laba yang maksimal. Malalui pendapatan laba yang maksimal, maka harapan-harapan lain yang ingin dicapai dalam jangka pendek maupun panjang akan terpenuhi. Untuk mendapatkan laba maksimal ada sejumlah perusahaan yang menggunakan pendekatan target laba yaitu tingkat laba yang sesuai atau pantas sebagai sasaran laba.
  2. Mendapatkan Pengembalian Investasi yang Ditargetkan, dalam hal ini perusahaan sedapat mungkin melalui penetapan harga dari setiap barang dan jasa yang dihasilkan mampu mendapatkan pengembalian atas seluruh nilai investasi yang dilakukan terhadap kegiatan yang telah dilakukan.
  3. Mencegah atau Mengurangi Persaingan, dalam tujuan ini perusahaan mengharapkan bahwa dengan harga yang ditetapkan pada setiap produk yang dihasilkan akan mencegah atau mengurangi tingkat persaingan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perusahaan harus menetapkan harga yang rendah untuk setiap produk yang dihasilkan agar tidak memiliki daya tarik dari pesaing untuk memasuki industri yang sama.
  4. Mempertahankan atau Memperbaiki Market Share, pemilihan tujuan penetapan harga ini memiliki harapan bahwa tingkat penjualan atas produk-produk yang dihasilkan akan meningkat bila dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama dan secara tidak langsung akan memperbaiki market share yang dimiliki perusahaan dalam jajaran industri yang sama.
Sedangkan hal yang hampir sama juga dinyatatakan kamar Sugiarto (2002: 3), bahwa ada lima tujuan dalam penetapan harga, yaitu:
  1. Memperoleh keuntungan yang diharapkan bagi hotel yang bersangkutan.
  2. Pengembalian investasi (modal yang ditanamkan) sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.
  3. Memperkecil pola persaingan yang ada.
  4. Memperbaiki atau mempertahankan pangsa pasar yang ada (market share)
  5. Meningkatkan penjualan product line (garis hubungna bisnis dengan produknya).
Dari beberapa tujuan yang diuraikan diatas tentu hanya merupakan berbagai alternatif yang akan dipilih oleh perusahaan untuk menentukan dan menetapkan secara jelas tujuan penetapan mana yang akan dipakai oleh perusahaan terkhususnya hotel berdasarkan kondisi-kondisi internal yang dimiliki hotel tersebut yang bersangkutan dan tidak karena dipicu oleh perusahaan lain yang kondisinya mungkin berbeda.

D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Kamar
Menurut Sugiarto (2002: 6) faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga kamar ada dua, yaitu:
  1. Faktor-faktor Internal, faktor-faktor ini merupakan faktor-faktor yang disebabkan dari dalam hotel, antara lain: sasaran perusahaan, strategi bauran pemasaran, dan biaya.
  2. Faktor-faktor Eksternal, faktor-faktor ini disebabkan dari luar hotel, antara lain: pasar dan permintaan, kompetitor, serta lingkungan.
Sedangkan menurut Yoeti (2001: 96), menyatakan bahwa faktor-faktor yang menentukan dalam pengambilan keputusan penetapan harga kamar adalah tingkat inflasi, kelangkaan dana, tingginya tingkat bunga, dan tajamnya tingkat persaingan. 

Selain itu, Barrows dan Powers (2009: 395-396) menuliskan bahwa, seperti hasil penelitian, selama slow period, apakah merupakan sebuah kemunduran atau hanya mengalami masa off-season, maka akan ada sebuah kecenderungan pada hotel untuk memberikan potongan harga saat permintaan berkurang dan di sisi lain pada saat permintaan menjadi tinggi yaitu saat peak season maka harga cenderung tetap tinggi.

Maka dari uraian diatas dapat dikristalisasikan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga baik secara internal maupun eksternal adalah sasaran perusahaan, strategi bauran pemasaran, biaya, tingkat inflasi, pasar, permintaan, competitor, dan lingkungan sekitar serta musim.

E.    Cara Menetapan Harga Kamar
Menetapkan harga kamar adalah tugas manajemen atau pimpinan hotel. Tugas ini tidaklah mudah tetapi sangatlah penting dan memerlukan pemikiran yang sangat matang. Harga rata-rata kamar yang terlalu tinggi akan mengakibatkan berkurangnya tingkat hunian kamar. Sedangkan harga rata-rata yang ditetapkan terlalu rendah akan mengakibatkan kerugian dari suatu perusahaan.
Yoeti (2003: 110) menuliskan ada beberapa cara dalam menetapkan harga, antara lain:

1.  Berdasarkan perhitungan biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi tiap kamar dapat dihitung dengan rumus yang bertahap sebagai berikut:
                                                               biaya investasi
Biaya investasi rata-rata tiap kamar =     _____________           …………….... (1)
                                                                jumlah kamar

                                            biaya investasi rata-rata tiap kamar
Biaya penghapusan        =     __________________________   ….............….... (2)   
                                                 lama operasi (tahun) x 360
                                                                                                                                                                                                           
                                                       biaya operasi satu tahun
Biaya operasi kamar tiap hari   =     ___________________             …………... (3)
                                                          360 x jumlah kamar     
                  
Jadi, Harga pokok kamar   =  biaya penghapusan + biaya opersi kamar tiap hari .... (4)

2.    The Rule of Thumb Method
Cara ini merupakan cara yang paling sederhana dengan anggapan bahwa harga rata-rata kamar adalah total biaya satu buah kamar dibagi dengan seribu. Adapun tahapan rumusnya adalah:
                                                           biaya kontruksi
Biaya kontruksi kamar rata-rata    =   ______________             ...………………. (5)
                                                             jumlah kamar
                                             biaya konstruksi kamar rata-rata
Tarif kamar rata-rata     =      _________________________               ………..... (6)
                                                                1000
3.    Menghitung Rack Rate
Dalam hal ini yang dihitung adalah tarif yang diperuntukan bagi kamar diatas standard room seperti deluxe room dan suite room baik untuk single maupun double yang ditetapkan berapa persen diatas tarif kamar rata-rata untuk standard room.
Sugiarto (2002: 8) juga menuliskan beberapa rumusan lainnya untuk menghitung harga kamar, antara lain:

  1. The Hubart formula, perhitungan dengan cara ini dimulai dari perhitungan keuntungan, penambahan pemasukan dari pajak, pengeluaran tetap, dan pengeluaran-pengeluaran operasional. Dasar-dasar perhitungan harga ini didasarkan dengan menggunakan pertimbangan delapan tahap, yaitu: (i) tentukan keuntungan yang diharapkan dengan mengalikan antara harga kamar yang diharapkan dengan pengembalian modal,(ii) Menentukan hasil dari pajak dengan membagi keuntungan yang diperoleh dengan pemisahan untuk diperoleh pajak yang sesuai dengan kebijaksanaan hotel.(iii) tentukan pengeluaran-pengeluaran tetap dan biaya manajerial dengan perkiraan terhadap penyusutan, pengeluaran oleh suku bunga, biaya pajak, asuransi, pelunasan utang, dan penyewaan, (iv)tentukan operasional tak terduga dengan perkiraan pengeluaran terhadap administrasi dan umum, data komputerisasi, sumber daya manusia, transportasi, pemasaran, dan biaya energi, (v) Perkiraan dari pemasukan non-room operating department income or loss, (vi) Menentukan pemasukan dari room division yang diharapkan, (vii) Tentukan pendapatan dari room division, (viii) Menghitung harga kamar rata-rata dengan membagi antara pendapatan kamar dengan jumlah kamar yang diharapkan akan dijual.
  2. Break Even Point Analisys. Hal ini merupakan titik impas yang mana dengan titik balance tersebut hotel tidak akan pernah mengalami kerugian dan juga tidak untung. Perusahaan akan dikatakan untung jika dapat memperoleh pendapatan yang lebih besar atau berada di atas titik break even.
Dalam penetapan harga kamar, pihak kantor depan dapat pula mengacu pada perbedaan katagori tamu yang tiba. Hal ini dijelaskan oleh Sambodo (2006: 147) yang mengatakan bahwa katagori ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Penetapan Harga Kamar untuk Expected Arrival, Harga ini merupakan harga yang telah disepakati pada saat reservasi yang dilakukan. Informasi mengenai harga kamar untuk tamu-tamu yang telah melakukan reservasi dapat diperoleh dari dokumen reservasi. Tamu-tamu yang telah memiliki konfirmasi pemesanan kamar tentu telah membayar deposit.
  2. Penetapan Harga untuk Tamu Tanpa Pemesanan Kamar. Penetapan harga untuk tamu walk-in dilakukan setelah kamar yang diinginkan tersedia. Biasanya tamu ini harus membayar deposit minimal sebesar harga sewa satu malam. Harga sewa kamar yang diberikan kepadanya adalah harga normal.
Jadi dilihat dari uraian diatas mengenai penetapan harga, banyak hal yang menjadi pertimbangan-pertimbangan dalam menentukannya dan ini kembali lagi pada kebijakan manajemen suatu hotel tersebut dalam menentukan harga yang diharapkan dapat memberikan keuntungan yang maksimal.

F.    Tingkat Hunian Kamar
Seperti yang telah diketahui bahwa produk utama (core product) dari sebuah hotel adalah kamar. Jadi untuk melihat ramai atau tidaknya suatu hotel yaitu melalui tingkat hunian kamarnya.
Menurut Sugiarto (2002: 55), tingkat hunian kamar adalah suatu keadaan sampai sejauh mana jumlah kamar terjual jika diperbandingkan dengan seluruh jumlah kamar yang mampu untuk terjual.
Selain itu, menurut Damardjati (2006: 121), tingkat hunian kamar adalah presentase dari kamar-kamar yang terisi atau disewakan kepada tamu yang dibandingkan dengan jumlah seluruh kamar yang disewakan, yang diperhitungkan dalam jangka waktu, misalnya harian, bulanan, atau tahunan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tingkat hunian kamar adalah presentase dari jumlah kamar yang terjual dibagi dengan jumlah total semua kamar yang tersedia.
Untuk mencari persentase kamar, dapat digunakan rumusan menurut Sugiarto (2002: 56) sebagai berikut:
1.    Persentase Rata-Rata Tingkat Hunian Hotel
                                              Jumlah kamar yang terjual
a.    % single occupancy   =    ----------------------------          x 100% ….… (7)
                                              Jumlah kamar yang tersedia

                                                 Jmlh tamu – jmlh kamar yg terjual
b.    % double Occupancy =      -----------------------------------    x100%…(8)
                                                 Jumlah kamar yang terjual

G.    Pentingnya Tingkat Hunian Kamar

Menurut Sugiarto (2002: 10) tingkat hunian kamar adalah tolok ukur keberhasilan sebuah hotel. Sementara itu, Sulastiyono (2008: 269) menuliskan bahwa usaha hotel yang berhasil akan terlihat dari tingkat hunian kamarnya. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan tingginya tingkat hunian kamar sebuah hotel, secara tidak langsung akan mempengaruhi penghasilan dan keuntungan hotel tersebut. Menurut prakteknya, hal ini dikarenakan pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan kamar hampir setengah dari pendapatan hotel rata-rata.

H.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Hunian Kamar

 Foster dalam saduran Yoeti (2003: 55) menuliskan bahwa harga, kompetisi, dan permintaan sangat mempengaruhi penjualan kamar. Sedangkan menurut Suartana (2006: 5), faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan tingkat hunian kamar antara lain adalah lokasi hotel, fasilitas hotel, pelayanan kamar, harga kamar dan promosi.
Selain itu, dapat pula ditemukan dari beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan sebagai berikut:
  1. Tsaia et. al (2005), dalam penelitiannya menyatakan bahwa tarif kamar, fasilitas berjudi per ruang dan adanya kamar utama adalah tiga faktor penentu dari fungsi penawaran ruang kamar yaitu untuk memenuhi tingkat hunian kamar.
  2. Chih-Min Pan (2006) melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa permintaan pasar dan kapasitas kamar hotel mempengaruhi tarif kamar. Sehingga dengan sesuaian penelitian Tsaia et. al (2005) yang menyatakan bahwa tarif kamar berpengaruh terhadap fungsi penawaran ruang kamar atau bertambahnya tingkat hunian hotel, maka secara tidak langsung permintaan pasar dan kapasitas kamar hotel juga mempunyai hubungan dengan partumbuhan tingkat hunian kamar.
  3. Pratiwi dan Wahyudin (2007), dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel antara lain  fasilitas, kualitas pelayanan, kepuasan, promosi, dan harga.
Dari pernyataan-pernyataan dan beberapa penelitian yang telah diakukan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tarif atau harga kamar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat hunian kamar.

I.    Elastisistas Permintaan
Dalam analisis ekonomi secara teori maupun dalam praktek sehari-hari, adalah sangat berguna untuk mengetahui samapai sejauh mana responsif permintaan terhadap perubahan harga. Oleh sebab itu perlu adannya suatu ukuran yang disebut dengan elastisitas permintaan. Sukirno (2004: 101) menuliskan bahwa elastisitas permintaan adalah suatu pengukuran kuantitatif yang menunjukan sampai dimana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan. Sedangkan hal yang sama juga diungkapkan oleh Sugiarto, dkk (2000: 75) yaitu elastisitas permintaan merupakan suatu ukuran kuantitatif besarnya pengaruh perubahan harga atau faktor-faktor lainnya terhadap perubahan permintaan.
Menurut Sukirno (2004: 101), elastisitas permintaan perlu dibagi kedalam tiga konsep, yaitu elastisitas permintaan harga, elastisitas permintaan pendapatan dan elastisitas permintaan silang. Namun dalam penulisan ini dapat ditekankan pada permintaan harga saja.

J.    Koefisien Elastisitas Permintaan Harga
Sukirno (2004: 104) menuliskan bahwa koefisien elastisitas permintaan harga selalu bernilai negatif. Hal ini disebabkan karena harga dan jumlah barang yang diminta mengalami perubahan ke arah yang berbalikan, yang dapat dicari dengan memakai rumus koefisien elastisitas yang disempurnakan sebagai berikut:
       Q1-Qaa /(Q+Q1)/2
Ed = ----------------- ………………………………………………………..    (9)
        P1-P/ (P+ P1)/2      

Keterngan    :
Ed    = koefisien elastisitas
Q    = jumlah permintaan awal
Q1    = jumlah permintaan yang berubah
P    = harga awal
P1    = harga yang berubah

K.    Faktor-Faktor Penentu Permintaan
Sukirno (2004: 111) menuliskan bahwa ada beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam elastisitas, yaitu:
  1. Banyaknya barang pengganti yang tersedia, dalam suatu perekonomian terdapat banyak barang yang dapat digantikan dengan barang-barang lain sejenis dengannya. Tapi ada pula yang sukar mencari penggatinya. Sehingga apabila barang memiliki barang pengganti, permintaannya cenderung bersifat elastis, yang maksudnya adalah perubahan harga yang kecil akan menimbulkan perubahan besar terhadap permintaan. Pada waktu harga naik para pembeli akan merasa enggan untuk membeli barang tersebut dan mereka akan lebih suka menggunakan barang yang harganya tidak berubah. Sedangkan permintaan terhadap barang yang tidak punya pengganti adalah bersifat tidak elastis dimana jika harga naik pembeli sukar mencari barang penggantinya sehingga harus tetap membeli barang tersebut. Oleh sebab itu, permintaan tidak banyak berkurang.
  2. Persentasi pendapatan yang dibelanjakan, besarnya pendapatan yang digunakan untuk membeli suatu barang dapat mempengaruhi elastisitas permintaan. Dengan demikian semakin besar bagian pendapatan yang diperlukan untuk membeli suatu barang maka semakin elastis permintaan barabg tersebut.
  3. Jangka waktu analisis,dalam hal ini, semakin lama jangka waktu dimana permintaan itu dianalisismaka semakin elastis sifat permintaan suatu barang. Karena dalam jangka waktu yang singkat permintaan lebih bersifat tidak elastis sebab perubahan-perubahan yang baru terjadi di dalam pasar belum belim diketahui konsumen sehingga mereka cenderung untuk meminta barang-barang yang biasa dibelinya walaupun dengan harga yang mahal.

L.    Kaitan Antara Elastisitas Permintaan dan Hasil Penjualan
Sugiarto, dkk (2000: 88) menuliskan bahwa ada tiga hubungan yang berbeda antara hasil penjualan dan perubahan harga sehubungan dengan elastisitas permintaan suatu barang terhadap harganya, yaitu sebagai berikut:
  1. Barang yang elasisitas permintaannya terhadap harga tidak elastis yaitu kenaikan harga akan meningkatkan hasil penjualan, dan sebaliknya.
  2. Barang yang elastisitas permintaannya terhadap harga bersifat elastis, yaitu kenaikan harga akan menyebabkan penurunan dalam hasil penjualan dan sebaliknya.
  3. Barang yang elastisitas permintaannya terhadap harga bersifat uniter, yaitu perubahan harga barang baik naik maupun turun tidak akan merubah hasil penjualan.