Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 08, 2009

Sekapur Sirih untuk Pembaca

Dear Pembaca,
Tujuan saya membuat blog Bali and Global Tourism adalah untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata sendiri merupakan industri yang sangat kompleks, dimana didalamnya terdapat banyak cabang ilmu mulai dari ekonomi, hukum, sosial, budaya, bahasa, teknologi informasi dan banyak lagi. Semuanya memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerhati pariwisata.

Adapun sumber penulisan adalah berasal dari tugas-tugas yang penulis kerjakan selama mengikuti perkuliahan pada 1) Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, 2) Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, Magister Manajemen, 3) Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, Kajian Pariwisata, 4) Materi Kuliah yang penulis ajarkan kepada mahasiswa : Mapindo, STIPAR Triatma Jaya dan STIE Triatma Mulya, 5) Orasi Ilmiah dan karya ilmiah penulis

Mengingat Pariwisata sendiri adalah ilmu yang masih baru berkembang dan terdiri dari berbagai komponan ilmu pengetahuan lainnya yang saling mendukung, diharapkan para pembaca tidak mengartikan tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini adalah 'gado-gado'. Sebagai contoh, dalam pariwisata terdapat ilmu pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, lingkungan, hukum dsb, kesemuanya itu berada dalam bingkai pariwisata.

Penulis berterima kasih atas keritik dan saran, semoga blog ini ada manfaat bagi pembaca sebagai sarana menambah khasanah pengetahuan pariwisata dan pengembangan pariwisata itu sendiri. Sekali lagi, terima kasih.

Minggu, Juni 14, 2009

ISU ISU PARIWISATA

Bali merupakan daerah tujuan wisata internasional, yang diminati oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara (internasional). Di Bali sendiri ada banyak kawasan wisata dan obyek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (misalnya : Sanur, Kuta, Ubud, Tanah Lot, Pura Besakih, Tampak Siring dsb) maupun kawasan dan obyek wisata yang baru dikembangkan beberapa dekade belakangan ini ( misalnya : kawasan wisata Nusa Dua, Jimbaran, Jati Luwih, Yeh Panes, dsb).
Semakin diminati Pulau Bali oleh wisatawan, yang tercermin dari jumlah kunjungan wisatawan yang cendrung meningkat dari tahun ke tahun, juga jumlah kamar hotel dan juga jumlah restaurant yang semakin bertambah, hal ini menunjukkan bahwa Pulau Bali semakin ‘ter-eksploitasi’ untuk kegiatan pariwisata. Suatu hal yang tidak mungkin hilang dalam kenyataan adalah konsep ‘rwa-bineda’, ‘jele-melah’, ‘baik-buruk’. Konsep ini juga berlaku bagi dunia pariwisata di Pulau Bali ini. Sisi baik yang diberikan oleh kegiatan pariwisata di Pulau Bali, jelas sudah dirasakan bersama oleh segenap masyarakat Pulau Bali, misalnya : Meningkatnya taraf hidup masyarakat, Pesatnya pembangunan, Pertukaran Budaya, Berkurangnya pengangguran. Sisi tidak baik yang disumbangkan oleh kegiatan pariwisata-pun tentunya tidak dapat dielakkan, seperti : pencemaran lingkungan (udara, sampah plastik, air, tanah, suara), lunturnya nilai-nilai luhur warisan budaya nenek moyang (komodifikasi budaya, hilangnya ke-‘bali’an orang bali) dan munculnya masalah sosial (judi, minuman keras, pelacuran dsb)
Yang perlu diperhatikan demi menjaga ke’ajegan’ Bali, tentunya adalah dampak negatif yang ditimbulkan akibat kegiatan pariwisata. Dengan mengamati dan mencermati fenomena-fenomena yang timbul, maka akan muncul kekhawatiran akan hancurnya Pulau Bali tercinta ini, jika kerusakan-kerusakan yang timbul tidak segera dibenahi. Paper ini bertujuan untuk mencermati isu-isu negatif yang timbul akibat aktivitas pariwisata. Untuk dapat mewakili, maka isu-isu tersebut digolongkan dalam lima kategori isu, yakni : (i) isu lingkungan, (ii) isu budaya , (iii) isu sosial, (iv) isu kesehatan dan (v) isu kemacetan lalu lintas. Kesemua isu ini diamati pada tiga objek wisata, yakni pada objek wisata (i) Kuta, (ii) Bedugul, meliputi danau buyan, bratan dan danau tamblingan, dan (iii) Sanur.
Kuta
Kuta merupakan objek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (mulai tahun 60an). Pantai Kuta yang indah dan akses yang sangat dekat dengan bandara internasional Ngurah Rai, menjadikannya sebagai ‘kampung wisatawan’. Kuta berada dalam wilayah Kabupaten Badung, sebagai penyumbang pendapatan asli daerah yang besar yang berasal dari kegiatan pariwisata.
Dampak positif pariwisata di Kuta sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Berdirinya hotel-hotel, restaurant, pasar seni, penukaran uang, hiburan malam tak pelak mengangkat status ekonomi penduduk asli kuta. Jika dahulu sekitar tahun 80-an penduduk Kuta kebanyakan hidup dari sektor kelautan (nelayan) dan peternakan dengan pendapatan yang minim, sekarang penduduk asli Kuta sebagian besar tidak perlu bekerja keras. Dengan modal tanah warisan yang dikelola dengan baik, penduduk asli kuta kebanyakan mengelola lahannya untuk pertokoan, rumah kos, hotel dan kegiatan bisnis yang berhubungan dengan pariwisata.
Dampak negatif pariwisata di Kuta tercermin pada isu-isu yang timbul, berasal dari observasi penulis pada objek wisata kuta, yakni :
a. Isu Lingkungan
Aberasi pantai (sepanjang pantai kuta), hal ini diduga penyebabnya adalah pemanasan global, kondisi ini tidak saja terjadi pada Pantai Kuta, melainkan juga seluruh pantai yang ada di Bali.
Sampah plastik (disepanjang trotoar dan selokan), hal ini diduga penyebabnya adalah kurang disiplinnya masyarakat kuta, juga wisatawan dalam membuang sampah plastik, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan
Banjir, disebabkan kurang disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah, masih ada yang membuang sampah ke got/selokan. Diduga penyebab lainnya adalah sistem drainase yang kurang baik.
b. Isu Budaya
Berkurangnya kesakralan upacara adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta). Pada saat melaksanakan upacara melasti, banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara, hal ini tentunya sangat kontras dengan masyarakat bali yang begitu khusuk melaksanakan upacara.
c. Isu Sosial
Prostitusi, merupakan pemenuhan kebutuhan biologis yang melanggar norma agama dan kesusilaan. Transaksi sering dilakukan di pusat-pusat hiburan malam, hotel-hotel bahkan di sepanjang jalan legian.
Narkoba
Free sex
d. Isu Kesehatan
Demam berdarah
Flu Babi (gerbang internasional)
e. Isu Kemacetan Lalu Lintas
Pada jam kerja
Upacara adat

Jumat, Juni 12, 2009

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MEMACU PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA


Pariwisata tidak dipungkiri lagi berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian di Bali. Dalam hal ini pariwisata menimbulkan multiflier effect bagi seluruh aktivitas ekonomi di Bali. Sebagai contoh : Pariwisata membutuhkan sarana akomodasi, restoran, bar dan fasilitas penunjang lainnya. Satu buah hotel yang didirikan akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu hotel membutuhkan berbagai supplier untuk memasok kebutuhan hotel. Tenaga kerja yang diserap hotel juga membutuhkan berbagai macam kebutuhan hidupnya, sehingga muncul berbagai macam pusat perbelanjaan, demikian seterusnya rantai ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas pariwisata sebagai akibat dari multilier effect tersebut.
TIK, sangat menunjang perkembangan pariwisata, dengan TIK maka informasi dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, efisien dan akurat yang mampu mereduce human error. Sebagai contoh alikasi TIK, yakni penggunaan software LIBICA, FIDELIO sebagai Program Piranti Lunak Hotel Information System. Dengan menggunakan software tersebut informasi mengenai kepastian pemesanan kamar, kepastian rekening tamu, informasi tamu yang akan datang ke hotel, tamu yang sedang tinggal di hotel dan tamu yang akan meninggalkan hotel. Informasi yang cepat, tepat dan akurat tersebut akan membuat tamu puas dan senang tinggal dihotel. Kepuasan tamu akan menyebabkan tamu akan kembali lagi untuk berlibur di Bali dan tinggal di hotel tersebut. Jika dikaitkan dengan tujuan berdirinya sebuah hotel, yakni : Profit through guest satisfaction, and get a repeat business through word of mouth communication, peranan TIK dirasakan sangat vital. Kondisi ini berlaku juga untuk perusahaan lainnya yang berperan sebagai entitas ekonomi (mengelola sumber daya yang ada untuk dapat ditukarkan kepada pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar/konsumen sehingga tercapai kepusan pasar/konsumen)

Dari sisi Ekonomi, yang berfungsi untuk mengelola seluruh sumber daya (man, material, money,machine, method, market) melalui fungsi manajemen (planning, organising, actuating, controlling dan evaluating) sehingga mampu menciptakan produk yang memiliki nilai/value yang mampu memuaskan kebutuhan konsumen, peranan ekonomi dan pariwisata merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Mengacu pada definisi pariwisata : Suatu fenomena yang menyebabkan perpindahan orang dari satu tempat (tempat tinggalnya) ke tempat yang bukan tempat tinggalnya untuk kebutuhan bersenag-senang (leisure), tidak untuk mencari nafkah, menetap dan tidak untuk tujuan vokasional, dimana perpindahan ini membutuhkan berbagai sarana dan prasarana pariwisata. Pada poin ini, kebutuhan sarana dan prasarana pariwisata semestinya dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, khususnya (Manajemen : Keuangan, pemasaran,sdm dan operasional) serta akuntansi.
Dengan manajemen keuangan, maka perusahaan-perusahaan dalam indusri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menggunakan alternative sumber-sumber pendanaan yang murah serta mampu menginvestasikannya pada sector yang menguntungkan.
Dengan manajemen pemasaran, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menciptakan produk yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar.
Dengan manajemen sumber daya manusia, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola sumber daya manusia, sebagai kunci sukses persaingan bisnis.
Dengan manajemen operasional, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan memperhatikan konsep keberlanjutan (sustainability) melalui konsep CSR (Consumen Social Responsibility), menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang tidak mencemari lingkungan.

Selasa, April 14, 2009

PEMASARAN PARIWISATA 2 (CHANNEL OF DISTRIBUTION)



  1. Teknologi akan merubah saluran distribusi dalam industri layanan dan perjalanan. Dengan adanya teknologi, tentunya akan memotong saluran distribusi. Yang dimaksud memotong saluran distribusi disini, tentunya adalah banyak perantara-perantara dalam satu saluran distribusi akan hilang. Hal ini disebabkan karena kecanggihan teknologi yang dapat memberikan informasi dalam hitungan detik.Sebagai contoh saat ini banyak wisatawan yang memesan langsung paket wisata melalui internet.

  2. Perjalanan internasional merubah saluran distribusi layanan dan perjalanan. Dengan adanya perjalanan internasional, maka makin banyak dibutuhkan saluran distribusi. Disini peranan saluran distribusi adalah meningkatkan efektifitas dan efisiensi perjalanan. Sebagai contoh, misalnya Mr. John berasal dari Inggris ingin melakukan perjalanan internasional menuju asia tenggara. Daerah tujuan yang ingin dilalui misalnya : Milan, Frankfurt, Singapore dan Bali. Perjalanan ini dilakukan selama dua minggu. Disini Mr.John membutuhkan sarana transportasi, akomodasi dan restaurant, objek wisata dan transportasi lokal. Makin banyak daerah tujuan wisata yang ingin dikunjungi, maka makin banyak pula jasa biro perjalanan lokal yang dibutuhkan untuk memudahkan Mr.John dalam menikmati perjalanan wisata yang dilakukannya. Dengan adanya biro perjalanan, maka kenyamanan, keamanan dan nilai ekonomis dari perjalanan Mr.John akan terjamin.

  3. Perbedaan utama saluran distribusi produk tangible dengan saluran distribusi layanan dan perjalanan adalah terletak pada produk yang di pajang. Untuk saluran distribusi produk tangible, dibutuhkan tempat penyimpanan dan pemajangan produk yang cukup luas, sedangkan untuk saluran distribusi produk layanan dan perjalanan tidak dibutuhkan tempat yang luas, karena produk yang ditawarkan tidak nyata, dalam hal ini cukup sebuah kantor atau konter kecil yang mampu mendisplay brosur dan formulir pemesanan. Hal lain yang membedakan adalah keterampilan petugas saluran distribusi produk intangible dituntut lebih tinggi dari pada produk tangible, karena fungsi petugas pelayanan disini adalah sebagai perwakilan/representatif yang diharapkan mampu mentransfer produk intangible menjadi lebih tangible.

  4. Dapatkah suatu perusahaan memiliki terlalu banyak anggota dalam saluran distribusi? Jelaskan!. Jawaban pertanyaan ini tergantung pada seberapa besar perusahaan tersebut. Makin besar perusahaan, misalnya hotel chain, dengan produk (produk lini yang luas dan dalam), tentunya akan membutuhkan banyak anggota dalam saluran distribusinya, dengan alasan untuk mempermudah penjualan dan pemasaran produk. Sebagai contoh hotel Grand Hyatt, bekerja sama dengan Tour Operator di manca negara seperti : Tirol, Asia Voyage, JTB dsb, belum lagi Biro perjalanan wisata nasional maupun lokal, seperti :Bayu buana, penjor tour, BMW Tour sampai dengan perseorangan. Akan tetapi untuk perusahaan kecil, misalnya hotel kecil yang terdiri dari puluhan kamar, tentunya tidak membutuhkan banyak anggota dalam saluran distribusinya, karena dikhawatirkan tidak efektif dan menimbulkan persaingan komisi yang tidak sehat antar anggota dalam saluran distribusi tersebut.

  5. Beda antara pedagang besar perjalanan dengan agen perjalanan, adalah: (i) pedagang besar perjalanan berfungsi sebagai distributor wisatawan dalam jumlah besar yang mensuplai kepada agen perjalanan. (ii) Pedagang besar perjalanan memilki tugas wewenang dalam satu wilayah regional tertentu sedangkan agen perjalanan beroprasi di satu atau beberapa wilayah negara.

  6. Berdasarkan hak waralaba internasional antara 30-50% hak antara.....

  7. Penggunaan situs untuk resevasi, pengguna dan apakah rancangan dari situs tersebut efektif? Disini kami menggunakan situs http://www.hotel/ Bali.co.id , situs ini efektif, karena memuat formulir yang dibutuhkan untuk reservasi dan terhubung langsung dengan petugas reservasi hotel, beserta jaminan pembayaran berupa kartu kredit. Namun demikian berdasarkan indormasi yang diperoleh, pemesanan melalu internet/situs ini menduduki peringkat terbawah dari sumber pemesanan. Sumber pemesanan terbesar masih di pegang biro perjalanan.

Senin, April 13, 2009

PEMASARAN PARIWISATA 1 (PRICING)




  1. Salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan adalah melalui penjualan dengan harga mahal. Penjualan dengan harga mahal dapat dilakukan jika konsumen (wisatawan) kurang sensitif terhadap perubahan harga . Dalam hal ini wisatawan lebih mengutamakan kepuasan yang diperolehnya walaupun melakukan pengorbanan yang lebih untuk mendapatkan kepuasan itu. Sebagai contoh, pada segmen pasar hotel bintang lima, meskipun harga kamar rata-rata jauh melebihi segmen pasar hotel bintang empat, tiga dua dan satu, namun tingkat occupancy hotel berbintang lima tidak kalah dengan hotel bintang empat, tiga, dua dan satu. Contoh lain pizza hut vs papa rons perhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga


  2. Sebagai manajer hotel, untuk mengevaluasi harga menu, dapat digunakan analisis menu engineering (suatu analisa seperti matrix bcg, yang memilah ,menu menjadi empat bagian berdasarkan tingkat popularitas dan margin kontribusi per menu), terkait dengan kebijakan harga, menu yang sebaiknya dinaikkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi populer/laku, tetapi memiliki margin kontribusi yang rendah. Menu yang diturunkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi tidak laku/kurang populer, tetapi memiliki marjin kontribusi yang tinggi. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas harga dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga


  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas harga dalam bisnis pelayanan dan perjalanan adalah :
    a. Pengaruh nilai unik
    b. Pengaruh kesadaran akan produk pengganti
    c. Pengaruh pengeluaran oleh perusahaan
    d. Pengaruh manfaat akhir
    e. Pengaruh pengeluaran total
    f. Pengaruh biaya bersama
    g. Pengaruh investasi terpendam
    h. Pengaruh mutu harga


  4. Banyak restaurant tidak mengikat produknya dalam satu harga, karena :
    a. Mengurangi kesempatan tamu untuk memilih makanan dan minuman yang disukainya
    b. Adakalanya dalam satu paket menu yang ditawarkan, ada makanan dan minuman yang tidak disukai,sehingga terbuang (tidak dikonsumsi)


  5. Contoh mengenai pemakaian yang efektif dari harga diskriminatif, umum digunakan pada industri penerbangan tanah air misalnya pada saat menjelang lebaran harga tiket Jakarta-Jogja naik menjadi dua kali lipat dari pada harga sebelum lebaran. Hal ini disebabkan karena value yang dimiliki menjelang dan pada saat lebaran lebih tinggi dari pada hari-hari biasa. Disini value yang dimaksud adalah bertemu keluarga pada saat lebaran.


  6. Yield management dapat dikatakan pendekatan jangka pendek untuk meningkatkan penghasilan jika hanya mengejar keuntungan jangka pendek, misalnya pada saat peak season pihak hotel menaikkan harga kamar setinggi-tingginya tanpa diiringi peningkatan value (nilai).Yield management dapat dikatakan menciptakan atau memperthankan pelanggan apabila mengejar sustainability/going concern of establihment. Misalnya pada saat peak season pihak hotel tidak menaikkan harga terlalu tinggi jika memang tidak disertai peningkatan value (nilai). Nilai yang dimaksud disini adalah segala macam augmented product maupun service product yang mampu mningkatkan kepuasan wisatawan.


  7. Kegiatan Promosi tersebut dapat dikatakan etis, karena keuntungan yang diperoleh perusahaan meskipun tidak berbentuk uang, tetapi dari tamu yang merasa puas, maka akan tercipta repeat business dan word of mouth communication yang merupakan satu ciri keberhasilan/efektivitas kegiatan promosi untuk menghasilkan keuntungan jangka panjang.

Jumat, April 03, 2009

TAHAP PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI


Dengan meningkatnya pertumbuhan pariwisata di dunia tentunya akan meningkatkan persaingan bagi penyedia layanan wisata di seluruh dunia. Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di dunia yang diminati wisatawan. Hal ini disebabkan karena Bali memiliki daya tarik alam dan budaya Bali. Gunung, lembah,ngarai dan sungai mengukir keindahan alam Pulau Bali yang mengagumkan. Namun demikian satu hal strategis yang menjadikan Bali ‘berbeda’ dari destinasi wisata lainnya di seluruh dunia adalah kebudayaan Bali. Kebudayaan Bali meliputi tujuh (9) S, yakni :Subak, Sanggah, Seni, Sesajen, Sesana, Semita, Sime, Sekehe dan Sradaha. Kebudayaan Bali ini lah yang tidak dapat ditiru oleh daerah tujuan wisata lainnya diseluruh dunia.

Jika dilihat perkembangan asset budaya dan pariwisata Bali, dapat dibedakan dalam lima tahap, yaitu :


  1. Fase warisan budaya (masa pembentukan aset pariwisata Bali/Bali Age), ditandai dengan peninggalan sejarah berupa pura-pura oleh Rsi Markandya, dilanjutkan oleh Mpu Kuturan (kayangan tiga, kayangan jagat samuan tiga), kemudian Mpu wijaksara dan Mpu Kasogatan yang menyebarkan tradisi majapahit. Pada 1450-1480, Dang Hyang Nirartha dengan padmasana dan pemberdayaan pura-pura di pesisir.

  2. Fase penemuan, ditandai dengan dikenalkannya Bali oleh Prof.Goris di manca negara.

  3. Fase kelahiran, pada 1963 ditandai dengan berdirinya Hotel Bali Beach, dilaksanakannya Pesta Kesenian Bali dan konfrensi Pata.

  4. Fase perkembangan,
    - 1971 s/d 1981 pengembangan kawasan Nusa Dua
    - 1981 s/d 1991 investasi hotel-hotel di Nusa Dua tahap I
    - 1991 s/d 2001 pengembangan kawasan candi dasa, lovina, ubud, legian dan canggu
    - 2001 s/d 2009 investasi kawasan Nusa Dua tahap 2
    5.Fase declain, masa dimana terjadi kriminalitas (teror), perusakan dan pencemaran.

Jumat, Maret 20, 2009

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA

Pariwisata adalah keseluruhan gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang timbul akibat perpindahan/perjalanan orang-orang dari satu tempat ke tempat yang lain, dimana perpindahan tersebut bertujuan untuk bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Perjalanan tersebut membutuhkan sarana-sarana seperti akomodasi (penginapan), pelayanan makanan dan minuman (restauran dan bar), fasilitas-fasilitas penunjang lainnya (SPA, kolam renang,business center, dsb.), biro perjalanan, alat-alat transportasi, pemandu wisata, objek wisata dsb yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, harapan orang-orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan bersenang-senang tersebut (wisatawan)
Dalam arti sempit, pariwisata merujuk pada aktivitas perjalanan untuk kepentingan penyegaran diri pribadi, untuk pendidikan, dan untuk bersenang-senang. Dalam arti luas, pariwisata adalah bisnis yang menyediakan informasi, transformasi, akomodasi, dan pelayanan lain bagi wisatawan.

Mengapa pelayanan sangat penting dalam dunia industri pariwisata?
Industri pariwisata adalah kumpulan dari berbagai perusahaan yang secra bersama-sama menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan para wisatawan selama dalam perjalanan. Induastri pariwisata sangat mengutamakan jasa sebagai produk yang ditawarkan, karena itu pariwisata menekankan pada jasa pelayananan. Industri pariwisata adalah bisnis pelayanan yang menekankan pada orang, bukan pada peralatan. Tidak ada pengetahuan teknis atau keterampilan yang bisa menggantikan pengabdian tulus seseorang untuk melayani dan berdasarkan standar etika yang tinggi. Oleh karena itu, pelayanan sangat penting artinya dalam industri pariwisata.




Apa tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia?
Tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia:
a. Dilihat dari kelengkapan sarana dan prasarana pariwisata, tentunya industri pariwisat terbesar di dunia memiliki kelengkapan melebihi industri-industri lainnya. Misalnya jumlah hotel (akomodasi) , restoran, dan fasilitas penunjang lainnya yang sangat memadai
b. Dilihat dari dampak positif pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat, dan lingkungan hidup, tentunya pariwisata dapat memberikan banyak kemajuan terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat dan lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena dengan berkembangnya pariwisata yang memberikan juga dampak negatif, dimana masyarakat, pemerintah dan pengusaha sudah mampu menanggulanginya.
c. Dilihat dari trend , pariwisata sudah bergeser dari konsep mass tourism menuju alternative tourism (green tourism, wilderness turism, ecotourism) dan pengembangan pariwisata menggunakan konsep sustainable tourism dengan melibatkan masyarakat (community based tourism).

Mengapa setiap negara dewasa ini cenderung melaksanakan pembangunan pariwisata?
Setiap negara cendrung melaksanakan pembangunan pariwisata, karena melihat trend pariwisata dewasa ini yang cenderung memberikan dampak positif lebih besar daripada pengembangan industri-industri lainnya. Dampak positif yang lebih besar seperti : penerimaan devisa, pemberantasan pengangguran dan lebih ramah lingkungan dibandingkan pengembangan industri lainnya seperti industri otomotif, tekstil, mesin, kimia dsb.




Paradigma hubungan timbal balik antara pariwisata dengan sosial budaya masyarakat.
Hubungan pariwisata dengan sosial budaya masyarakat, yaitu:
· mewujudkan pembangunan bersama
· memeanfaatkan kebudayaan sebagai sumber daya pariwisata
· kebudayaan tidak boleh dieksploitasi sebagai alat untuk mengembangkan pariwisata
· tanpa pengendalian kebudayaan asli, akan terjadi dampak negatif pariwisata
· kebudayaan merupakan unsur pariwisata yang penting, tetapi mudah rusak karena pariwisata, hal-hal tesebut diatas dapat diuraikan dalam skema berikut:

Apa dampak pesatnya perkembangan pariwisata terhadap sosial budaya. Dan apa langkah-langkah untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.
Dampak pariwisata terhadap sosial budaya memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu :
Meningkatkan ilmu pengetahuan
Meningkatkan pendapatan
Meningkatkan hubungan persaudaraan antar bangsa dan negara
Dampak negatif yaitu :
· Pencemaran lingkungan
· Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan peruntukkkan
· Kerawanan ssil
· Pergeseran nilai

Langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya: yaitu mengedepankan pembangunan pariwisata secara holistik, yaitu yang meliputi agama, adat, budaya, sosial, ideologi, plitik, ekonmi, teknologi. Selain itu dikelbangkan juga pembangunan pariwisata berkelanjutan dimana usaha ini menjamin sumber daya alam, sosial, dan budaya yang dimanfaatkan sebagai sumber pembangunan pariwisata dewasa ini yang dilestarikan untuk generasi mendatang. Pengelola pariwisata hari ini bertanggung jawab untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi mendatang. Hal-hal tersebut diatas dilakukan untuk memecahkan damnpak negatif dari pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.