Tampilkan postingan dengan label branding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label branding. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 01, 2018

Brand Management pada Hospitality Industri


Merek merupakan sesuatu yang tentunya tidak asing, karena merek menjadi salah satu pertimbangan penting ketika pelanggan akan memutuskan untuk membeli produk barang maupun jasa.  
Pada Industri perhotelan, merek adalah nama hotel, credo hotel, simbol atau logo hotel, desain atau gabungan keempatnya yang mengidentifikasikan produk hotel dan membedakannya dari produk pesaing. Terlebih lagi pada situasi persaingan yang ketat pada Industri perhotelan secara Global, peranan merek sangat penting dalam mempertahankan dan meningkatkan jumlah tamu menginap.


Gambar 1. Hotel dengan diferensiasi pada atmosphere lingkungan yang nyaman

Pada sebuah hotel, merek mampu memberikan dimensi tambahan yang secara unik membedakannya dari produk-produk lain yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan serupa. Perbedaan tersebut bisa bersifat rasional dan tangible (terkait dengan kinerja produk dari merek bersangkutan) maupun simbolik, emosional dan intangible (berkenaan dengan representasi merek). Sebagai contoh, di dalam hotel ada berbagai outlet restoran  dengan nama dan produk yang berbeda, meskipun melayani kebutuhan dan keinginan makan dan minum dari tamu. Pada Orchard Hotel Singapore, ada beberapa restoran dengan nama Ficus Cafe, Huating Restaurant dan Sidewalk Cafe. Setiap outlet tersebut bertujuan memenuhi target segmen tamu yang berbeda. Ficus Cafe bertujuan melayani makan dan minum dengan suasana formal dengan menu western. Sementara Hua Ting Restaurant bertujuan melayani segmen pasar tamu penggemar masakan oriental.

Manajemen merek hotel (hotel brand management) adalah proses pengelolaan merek hotel yang bertujuan untuk meningkatkan ekuitas merek hotel ( hotel brand equity) dalam jangka panjang. Manajemen bertanggung jawab diantaranya merancang identitas merek dan mengelolanya untuk mendapatkan efektifitas maksimal dan memastikan bahwa merek tidak terganggu oleh tindakan taktis hotel pesaing.  Ekuitas merek hotel (Hotel brand equity) adalah seperangkat aset dan keterpercayaan merek hotel yang terkait dengan merek tertentu, nama dan atau simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa, baik bagi hotel itu sendiri maupun pelanggan hotel.
Bagi pelanggan hotel (tamu), ekuitas merek hotel dapat memberikan nilai dalam memperkuat pemahaman mereka akan proses informasi, memupuk rasa percaya diri dalam pembelian, serta meningkatkan pencapaian kepuasan. Nilai ekuitas merek bagi pengelola hotel dapat mempertinggi keberhasilan program pemasaran dalam memikat konsumen baru atau merangkul konsumen lama. Hal ini dimungkinkan karena dengan merek yang telah dikenal maka promosi yang dilakukan akan lebih efektif.
Gambar 2. Brand yang Kuat meningkatkan Daya Saing Hotel
Agar dapat meningkatkan equitas merek hotel, maka pengelola hotel sebaiknya meningkatkan : (i) kesadaran merek (brand awareness), hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan komunikasi dengan pelanggan hotel, misalnya melalui iklan, penjualan personal, program up-selling; (ii) kualitas agar dapat dipercaya, yang dapat dilakukan dengan pengawasan penerapan standard operating procedure (SOP), pelatihan SOP; (iii) Meningkatkan asosiasi merek hotel, yakni segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Asosiasi itu tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterkaitan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas layanan dan tingkat kepuasan pelanggan secara berkesinambungan. Sangat penting bagi manajemen untuk secepatnya merespon keluhan tamu khususnya pada media online seperti pada trip advisor.com, traveloka.com, agoda.com, facebook, dan (iv) menjaga kesetiaan merek (brand loyalty). Pelanggan setia merupakan aset yang paling berharga bagi usaha hotel, karena mampu menghemat biaya pemasaran dengan menciptakan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth communication).

Gambar 3
Bangunan Hotel juga Membentuk Persepsi Brand pada Pelanggan Hotel

Keempat dimensi ekuitas merek hotel di atas dipercaya dapat memengaruhi alasan pembelian pelanggan. Ketiga dimensi pertama yaitu pengetahuan akan merek, kualitas yang dipercaya, dan asosiasi-asosiasi dianggap penting dalam proses pemilihan merek, ketiganya dapat mengurangi keinginan atau rangsangan konsumen untuk mencoba-coba merek lain (kesetiaan merek).

Selain meningkatkan ekuitas merek hotel, strategi diferensiasi juga mendukung penguatan merek pada benak pelanggan. Pengelola hotel perlu menciptakan produk yang berbeda dengan produk hotel pesaing lainnya. Misalnya  Hotel Puri Bagus Jati di Gianyar memiliki produk yang ramah lingkungan, green hotel yang berorientasi pada sustainable tourism development. Upaya ini berhasil menaikkan harga kamar sekaligus kualitas tamu yang menginap. Hotel Westin Nusa Dua mengkhususkan layanan MICE berskala besar, Trans Hotel Bandung, memiliki tempat makan malam pada roof top yang membuat wisatawan ingin menikmati sekaligus menginap di sana.

Rocco Bay, Juni 2018

Minggu, Maret 11, 2018

Brand Image in the Hospitality Industry

Definition of Brand Image
Brand Image is the customer's perception of the image of a hotel brand, good or bad as a result of the marketing efforts of the manager, the opinions of the customer's relatives (word of mouth) and the experience of the customer itself after enjoying the service at the hotel.



How to measure Brand Image
The brand image of a hotel can be measured by the following indicators:

  1. Excellence of brand association. A set of attributes, benefits and a thorough evaluation of the hotel's trusted products in the minds of customers. The more superior the brand association, in the minds of customers the higher the brand image.
  2. Strength of brand association. How strong are the attributes, benefits and overall evaluation of hotel products in the minds of customers. The more often customers think of the hotel brand, the stronger the brand association in the minds of customers. The stronger the brand image in the customer's mind.
  3. The uniqueness of the brand association. How unique are the attributes, benefits and overall evaluation of hotel products. The more uniquely the association of a brand, the stronger the brand image in the customer's mind.

The significance of Brand Image
Brand image has an important role in shaping brand awareness, customer satisfaction and brand loyalty. The better the brand image on the customer's mind, the customer will be more aware of the existence of a brand and greatly affect the decision to make hotel reservations. Customer satisfaction is also determined by the brand image. A good brand image makes customers have high expectations and tolerance for satisfaction. It also encourages hotel managers to provide the best service that can meet customer expectations.

For example, a customer is very proud of a hotel, because the impression of luxury, friendly and timely service. The image of the hotel in accordance with the concept of services offered by the hotel. Therefore, managers strive to provide the best service in order to satisfy the needs and desires of the guests. Customers themselves have a high tolerance of the lack of services provided, because it is psychologically very proud to be able to stay at the hotel.

Conclusion
A brand image of a hotel is the focus of attention of the hotel manager, because it affects the decision of reserving a room.

Brand Awareness in the Hospitality Industry


Tourism and Hospitality industry today

The growth of tourism in all parts of the world is growing rapidly. Increased tourism can not be separated from the human workload of productive age is higher. Especially in developed countries stress levels are increasing. Entertainment is the answer to reduce fatigue in working. There are many things that can be done to relieve fatigue work, ranging from sleep, massage, culinary tours, streets and even out of the area. The condition mentioned above is a market demand, as well as an opportunity for the growth of tourism.


No wonder the development of tourist attraction is a lucrative investment land. The attractions of nature, and man-made continue to be developed to answer the needs and desires of tourists. Formerly, the attraction of tourism for example in Bali is only based on nature and culture (Kintamani, Bedugul, Tanah Lot, Balinese Dance). Nowadays, there have been developing man-made tourism attraction, such as Three Dimensional Museum of Bajra Sandhi Denpasar, Water Boom Kuta, Citraland Denpasar Water Park, Bali Bird Park Gianyar, Tabanan Butterfly Garden. Needs accommodation facilities. The growing variety of tourist attraction is a tourist attraction factor to come visit this beloved island of Bali.

The increasing number of tourists coming to Bali Island also increases the need for accommodation facilities. Various forms of accommodation facilities grow in Bali, ranging from inns, jasmine hotels, villas, to star hotels. Bali is a very fertile land for accommodation investment, not off because Bali is safe, peaceful and very friendly.

Unfortunately, investment growth is only centered on South Bali (Denpasar, Badung, Gianyar and Pesisir Tabanan). Ngurah Rai International Airport is one of the considerations of investors, and the Government is still oriented to the concept of mass tourism. No one to blame. Development has two sides: good and bad. Everyone wants to build and enjoy tourism. As a result of these tremendous investments, hotels have difficulty in reaching room occupancy rates to meet their operational costs. Apparently the number of tourists who come is not comparable with the number of hotel room growth is getting higher.

Therefore, in this very tight competition situation, the hotel manager must strive to survive and at the same time win the competition. Efforts that can be done, among others, by increasing brand awareness (Brand Awareness) of tourists against the hotel brand. Brand awareness is the first stage of the customer to make a decision to book a hotel room.


Brand Awareness Concept
Brand awareness is the ability of travelers to remember and recognize a hotel brand when receiving stimuli from all marketing activities and when it comes to accommodation facilities where travelers are on vacation. For example: when a tourist wants a vacation to Bali, requires a means of accommodation, then in the minds of customers will emerge the brands of hotels he knows. The stronger the brand image of the hotel, the marketing efforts (advertising, publicity, sales promotion, personal sales), and past experience, the stronger the brand awareness of the customer.

Brand awareness is important and should be sought by the hotel manager through the resources within the hotel (controlable resources). Stay decisions will not appear without customer awareness of the brand. On the basis that the hotel manager should not stop to continuously perform communication activities with customers and in various ways. Not enough just with communication, but managers must continuously improve brand image, service quality and customer satisfaction. Especially to customers who are staying, should be given services according to standards that have been set, so that no complain. If the customer complains, it should be followed up immediately.
Brand awareness can be measured by:

  1. Assess customer's knowledge of the hotel brand.
  2. Assess the customer's ability to be able to recognize the hotel brand among various alternatives of competing hotel brands.
  3. Assess the customer's ability to remember brands with their unique characteristics and uniqueness.
  4. Assess the speed of the customer in calling information about the hotel brand on the customer's memory.

Instruments that can be used is a list of interviews and questionnaires with Likert scale. Interview techniques are conducted to better understand customer awareness of the brand. The results of the interview will support the findings of the results of the questionnaire aimed at generalizing brand awareness.

The Importance of Brand Awareness
It is not easy to realize brand awareness for tourists. Moreover, tourists who have high brand awareness is not necessarily make a room reservation. Why not easy? This is related to the characteristics of services, namely: (i) intangible-intangible; not easy to realize the concept of hotel services. For example a hotel has the concept: "hospitality in the uniqueness". This concept requires all employees to be friendly and uniqueness is in the product offered. It is not easy to make employees friendly, let alone inadequate financial motivation, plus the character of each employee is different. It is not easy to realize the uniqueness, because there must be something of value and different in every product offered; (ii) inseparable-between production and consumption occurs simultaneously, (iii) perishable-easily damaged, and (iv) varies widely.

However, customer brand awareness remains a concern, as customer purchasing decisions are always initiated by brand awareness. How could a customer decide to stay overnight without being aware of a hotel brand in their mind ?

Conclusion
The condition of competition between the accommodation business requires the hotel manager to be more creative in order to go concern. Customer brand awareness is a very important thing to be managed by hotel managers. In this case, communication, service quality improvement, brand image and customer satisfaction are key to the realization of high brand awareness from customers. Without brand awareness, it is impossible for travelers to decide to book a room at the hotel.

Selasa, Januari 12, 2010

Peranan Hospitality Tourism dalam Pengembangan Pariwisata Masa Depan Bali

Peranan Hospitality Tourism dalam Pengembangan Pariwisata Masa Depan Bali

Abstrak
Pariwisata merupakan urat nadi pertumbuhan ekonomi di Bali. Untuk dapat berkembang, pariwisata membutuhkan dukungan dari segenap masyarakat Bali dalam menciptakan suasana yang hangat dan nyaman bagi wisatawan. Suasana tersebut akan tercipta jika seluruh masyarakat Bali mengamalkan konsep hospitality dalam seluruh sendi kehidupannya. Paper ini mencoba memberikan suatu deskripsi mengenai keterkaitan hospitality terhadap pariwisata masa depan, sampai dengan manfaat ekonomi yang diberikan kepada masyarakat Bali pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh karenanya hospitality seharusnya merupakan nafas bagi seluruh masyarakat Bali, dan jika hal ini terjadi, maka masa depan pariwisata Bali tentu akan menjadi lebih baik.


Pendahuluan
Hospitality memiliki arti keramah tamahan, kesopanan, keakraban, rasa saling menghormati. Jika dikaitkan dengan industri pariwisata, dapat diibaratkan bahwa hospitality merupakan roh, jiwa, semangat dari pariwisata. Tanpa adanya hospitality dalam pariwisata, maka seluruh produk yang ditawarkan dalam pariwisata itu sendiri seperti benda mati yang tidak memiliki nilai untuk dijual (S.Pendit, 2007 : 152)
Katan (2009 : 45-60) menyatakan bahwa keramahan yang dimiliki orang Indonesia menjadi salah satu alasan kuat wisatawan mancanegara berkunjung ke negeri ini. Hal ini merupakan amunisi untuk membangkitkan sektor pariwisata Indonesia.Sepanjang 2009 ini, Indonesia kerap dirundung permasalahan instabilitas keamanan, politik dan bencana alam yang membuat orang asing enggan berkunjung. Sebut saja pengeboman Hotel FW Marriot dan Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta.
Gempa bumi, kebakaran hutan dan berbagai bencana alam yang tak kunjung usai menerpa Republik ini. Fakta itu membuat citra Indonesia terpuruk di kalangan orang asing.Hasil survei The Smiling Report pada 2009 yang menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling murah senyum, setidaknya memberikan secercah harapan bagi bangsa ini.
Indonesia masih terkenal dengan keramahtamahannya dan senyumnya, walau negeri ini kerap dilanda berbagai konflik sosial. Karena itu, minat wisatawan asing berkunjung ke Indonesia tidak pernah surut lantaran penduduk di negeri ini dikenal dengan keramahannya, khususnya lewat senyuman.
Pariwisata sendiri merupakan sebuah industri yang menjual sebagian besar aspek , intangible, misalnya rasa nyaman, aman, tenang bagi wisatawan, demi tercapainya kepuasan wisatawan. Hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan kepuasan bagi wisatawan sesungguhnya meliputi banyak hal, mulai dari wisatawan tersebut berpikir tentang Bali, memutuskan untuk berlibur ke Bali, penyambutan pada saat tiba di Bali, pada saat menginap dan melakukan kegiatan wisata, sampai saat wisatawan tersebut pulang ke negaranya masing-masing.
Pada dasarnya semua DTW di dunia ini mampu menawarkan produk barang yang berkualitas tinggi, namun sifat produk barang (goods) sangat mudah ditiru oleh pesaing. Seperti Singapore memiliki patung Merlion, dimana Bali mampu membuat patung Merlion jauh lebih baik. Satu hal yang sangat sulit ditiru oleh pesaing, adalah produk jasa (service) yang meliputi; keramah tamahan, sikap, tingkah laku, ketepatan waktu, keandalan, responsive, nyata, reliable, jaminan dan empati.
Pemikiran tentang pariwisata masa depan, pelaku sector informal dalam pembentukan citra daerah tujuan wisata, pengelolaan usaha pariwiata yang berorientasi kepada kepuasan, pencitraan, sampai pada manfaat ekonomi pariwisata yang berakhir pada kesejahteraan masyarakat Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Pembahasan
1. Pariwisata Masa Depan
Prospek pariwisata ke depan sangat menjanjikan bahkan sangat memberikan peluang besar (Suwena,2009 : 17), terutama apabila menyimak angka-angka perkiraan jumlah wisatawan internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan WTO yakni 1,049 milyar pada tahun 2010 dan 1,602 milyar tahun 2020, diantaranya masing-masing 231 juta dan 438 juta orang berada dikawasan Asia Timur dan Pasifik. Menyimak fenomena diatas tentunya setiap negara yang mengandalkan sektor pariwisata untuk memajukan kesehteraan rakyatnya tentunya akan berusaha merebutkan pangsa pasar yang menggiurkan tersebut. Indonesia tentunya tidak membiarkan pangsa pasarnya direbut oleh negara lain dan menetapkan berbagai strategi untuk memenangkan persaingan tersebut.
Adapun perubahan-perubahan yang terjadi kedepan dalam industri pariwisata, sebagai berikut:
a. Perubahan Pola Konsumsi, wisatawan tidak terlalu memilih 4S (Sun, Sea, Sand dan Sex), tetapi lebih memilih alternative tourism seperti : green tourism, cultural tourism, heritage tourism, spiritual tourism dan seluruh kegiatan wisata yang peduli pada kelestarian alam (eko tourism)
b. Demorafi dan Trend Sosial, sangat berpengaruh dalam membentuk permintaan, misalnya semakin banyak orang-orang yang berusia tua pada negara penghasil wisatawan patut dicermati oleh para pelaku pariwisata di daerah tujuan wisata. Demikian pula trend sosial yang terjadi, misalnya perkawinan pada usia tua (40 tahun keatas), menunda kelahiran anak/bahkan hidup tanpa anak, meningkatnya jumlah orang tidak menikah, serta semakin banyaknya wanita yang berwisata.
c. Perkembangan Politik, runtuhnya faham komunis berganti dengan faham liberal, membuat situasi semakin terbuka dan tidak tersekat. Hal ini lebih memungkinkan orang-orang unutk melakukan kegiatan wisata.
d. Perkembangan Transportasi, dengan berkembangnya transportasi udara, laut maupun darat yang semakin semakin membuka aksesibilitas, dipastikan akan membawa perubahan karena akan mempermudah dan mempercepat perjalanan.
e. Pengaruh dan Trend lain, pemanasan global dan pengikisan lapisan ozon hal ini akan mengubah garis pantai dan abrasi terus menerus. Hal ini berarti wisata pantai akan semakin terbatas, bahkan suatu saat nanti wisata pantai tentunya menjadi langka, hal ini menyebabkan wisata virtual akan semakin berkembang.
Hal ini disebabkan oleh :
a. Wisatawan Baru, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan latar belakang lingkungan yang lebih maju akan merubah kebiasaan-kebiasaan dan pola-pola berwisata yang sudah ada sebelumnya
b. Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan, pembangunan berkelanjutan merupakan konsep alternatif yang ada pada kutub yang berlawanan dengan konsep pembangunan konvensional, karena pembangunan berkelanjutan mencakup usaha untuk mempertahankan integritas dan diversifikasi ekologis, memenuhi kebutuhan dasar manusia , terbukanya pilihan bagi generasi mendatang, pengurangan ketidak adilan dan peningkatan penentuan nasib sendiri bagi masyarakat setempat.

2. Pelaku Sektor Informal dan Citra Pariwisata
Alasan pelaku menyimpang para pelaku sektor informal dalam melayani wisatawan yang yang berkunjung ke Obyek dan Daya Tarik Wisata adalah sebagai berikut (Ariana, 2009 : 16) : (i) tidak ikut terlibat dalam mejaga kebersihan objek, (ii) kurang memperhatikan kebersihan dan kerapian penampilan diri karena sudah menjadi kebiasaan, (iii) tidak menangani dengan baik bila ada wisatawan complain, karena meniru teman, (iv) kurang siap membantu wisatawan pada saat dibutuhkan karena tidak pernah mendapat pelatihan, (v) kurang cepat dan tepat dalam memberikan pelayanan karena bersaing dengan teman, (vi) kurang tepat saat membantu wisatawan, karena meniru teman,(vii) kurang memahami bahasa asing, (viii) tidak memberikan jaminan keamana, karena fasilitas masaih kurang, (ix)tidak jujur dan ramah, (x)kuranng memikir keinginan wisatawan dan tidak berfikir repeat bussiness.

3. Pariwisata Alam dan Pembangunan Ekonomi Masyarakat Lokal
Pariwisata alam merupakan industri yang bersifat non-ekstaktif dan mampu menciptakan beragam manfaat ekonomi bagi masyrakat. Ini menunjukkan bahwa pariwisata alam mempunyai peran penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan, karena di satu sisi menyediakan rangsangan dalam upaya konservasi pemanfaatan kawasan terlindungi dan di sisi lain memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang biasanya berada di sekitar komponen produk pariwisata alam. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa pariwisata alam dapat menciptakan suatu bentuk perpaduan dan hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara pembangunan ekonomi masyarakat dan upaya konservasi. Berkaitan dengan itu maka penemukenalan peluang pekerjaan, perbaikan prasarana dan sarana serta aturan pengelolaan lingkungan bagi masyarakat menjadi langkah awal dalam inisiatif pembangunan pedesaan di sekitar kawasan konservasi sumber daya alam.

4. Pengelolaan Kepuasan Wisatawan
Kepuasan wisatawan merupakan satu hal yang harus diperhatikan. Pengalaman menunjukkan, dari sisi pelayanan teknologi informasi pendekatan komprehensif, informasi yang akurat, sangat membantu proses perbaikan pelayanan dalam organisasi. Oleh karenanya, perusahaan-perusahaan yang bergerakn di bidang pariwisata harus memastikan diri untuk fokus dalam keakuratan pengumpulan data-data dan proses perubahan-perubahan dimana kesemuanya itu merupakan bagian dari sebuah perencanaan pemasaran. Program kepuasan wisatawan yang baik merupakan program yang berkelanjutan dan komprehensif dengan memperhatikan proses pengelolaan mulai dari input sampai dengan output.


5. Kinerja Penyesuaian Resiko: Sebuah Analisa pada Sektor Usaha Restaurant
Meskipun judul diatas cenderung mengarah kepada aktifitas moneter pariwisata, namun fenomena ini menunjukkan betapa sektor restauran menjadi primadona dalam pembentukan portofolio saham. Ini berarti kinerja sektor restauran mempengaruhi hajat hidup orang banyak, sehingga kebijakan-kebijakan dalam menyusun potofolio yang melibatkan sektor restauran ini perlu mendapat perhatian khusus.
Kinerja restauran yang merupakan fasilitas pariwisata dapat diukur dari: pendapatan, jumlah tamu yang makan dan minum serta kepuasan tamu yang makan dan minum. Kinerja dikatakan baik jika angka-angka pada indikator-indikator tersebut menunjukkan tren yang meningkat dari tahun ke tahun dan tentunya berada diatas rata-rata industri. Untuk mencapai kondisi tersebut, dibutuhkan pengelolan yang holistik, komprehensif dan berkelanjutan. Dari sisi produk, satu hal yang perlu diperhatikan adalah jasa pelayanan. Setiap restauran tentunya mampu membuat masakan yang enak, akan tetapi belum tentu setiap restauran mampu memberikan pelayanan yang memuasakan. Disinilah critical poin untuk menciptakan diferensiasi . fenomena diatas menunjukkan bahwa pelayanan merupakan kunci utama untuk mencapai peningkatan kinerja perusahaan. Menurut Kim dan Gu (2003):200 lebih dari 10 tahun terakhir, industri restauran telah memainkan peranan penting dalam perekonomian Amerika Serikat. Salah satu hal yang diperhatikan pialang daloam menyusun portofolio saham adalah kinerja keuangan restauran dari tahun ke tahun, dimana kinerja ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pelayanan.

6. Pemasaran Merk (Studi kasus pada hotel)
Menurut Growers (2006:3) pemasaran merk menjadi sangat penting bagi hotel, portofolio merk yang kuat adalah hal yang menjadi tren dalam industri perhotelan. Hal ini disebabkan karena (i) pertumbuhan keberagaman konsumen yang sanagt berhubungan dengan merk sebagai arahan untuk memenuhi kebutuhan mereka (ii) kebutuhan investor akan merk yang memberikan kesempatan-kesempatan bagi pengembangan investasi (iii) pertumbuhan kreditur yang semakin membutuhkan merk yang menunjukkan kestabilan arus kas sebagai dasar untuk pemberian bantuan pendanaan.
Kebujakan merk merupakan satu siklus yang tidak bisa lepas dari kualitas pelayanan khas yang ingin ditampilkan pada setiap merk. Pengelolaan jasa memiliki peran yang strategis untuk dapat menjaga kualitas jasa yang diharapkan untuk masing-masing merk. Sekali lagi disini kualitas jasa merupakan langkah awal yang mendasari berbagai kebijakan merk. Dengan pengelolan jasa yang baik, maka sebuah merk diharapkan memiliki siklus hidup yang lebih panjang dan dapat memberikan solusi yang dapat memberikan rejuvinasi.


Penutup
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pariwisata merupakan sebuah industri lintas sektoral, melibatkan banyak sektor yang saling berkait satu dengan lainnya. Namun demikian,yang menjadi roh dalam pariwisata adalah tetap hospitality yakni keramah temahan. Berawal dari keramah tamahan sebagai pusat perhatian bagi pengembangan pariwisata, maka diharapkan dapat menjawab tantangan masa depan pariwisata.

Disini penulis sengaja menampilkan jurnal-jurnal yang memiliki keterkaitan sedikit diluar tema hospitality, seperti misalnya tinjauan dari sisi financial, pemasaran dam sosial budaya. Hal ini dimaksudkan sebagai ajang melatih kemampuan berpikir penulis sendiri dalam membuat tulisan yang lebih bervariasi dan lebih’menantang’ untuk berpikir holistik dan komprehensif.




Daftar Pustaka
Suwena, Ketut.(2009).Pariwisata Masa Depan. Analisis Pariwisata vol 9 No 1 Tahun 2009. Universitas Udayana : Bali
Ariana, Nyoman.(2009). Patologi Sosial dalam Pariwisata : Pelaku Sektor Informal dan Citra Pariwisata Kintamani. Analisis Pariwisata vol 9 No 1 Tahun 2009. Universitas Udayana : Bali
Adikampana, Made. (2009). Pariwisata Alam dan Pembangunan Ekonomi
Masyarakat Lokal. Analisis Pariwisata vol 9 No 1 Tahun 2009.
Universitas Udayana : Bali
Steinberg, Naomi. (2002). Kronos Incorporated: Managing and Marketing Customer
Satisfaction. ITSMA Reproduction Prohibited.
Hyunjoon Kim dan Zheng Gu. (2003). Risk Adjusted Performance: A Sector Analysis
of Restaurant Firms. Journal of Hospitality & Tourism Research.
Growers, Peter. (2006). Introduction to Brand Marketing. Intercontinental Hotel
Group: USA.