Sabtu, Juli 11, 2009

PERKEMBANGAN HUKUM PARIWISATA (1)


Pariwisata merupakan industri yang menjadi salah satu motor perekonomian di Indonesia. Perkembangan pariwisata Indonesia kedepan sangatlah menjanjikan, hal ini disebabkan karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dimana begitu banyak produk-produk wisata yang dapat ditawarkan kepada pasar. Oleh karenanya ‘kue’ pariwisata yang sangat diminati oleh banyak orang akan dapat menimbulkan berbagai macam potensi konflik, selain itu dampak negatif dari perkembangan pariwisata harus segera dapat diantisipasi oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakan.
Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga memperhatikan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh organisasi dunia dibidang pariwisata dengan memperhatikan perkembangan kondisi pariwisata di dalam negeri. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan pariwisata dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional dengan memperhatikan konsep keberlanjutan (sustainabelity).

Minggu, Juni 28, 2009

MICHAEL JACKSON AND TOURISM (TRIBUTE TO JACKO)


Michael Jackson is one of the most popular star in musical industry all over the world. He creates so many wonderfull and unforgettable songs that hypnotize his fans all over the world. The action and creativity on the stage when he sing a song, the style and he really unique in all aspects of life. He always try to make the difference by doing some modifications in his style and new songs. His songs tell us about love, peace and humanity.Really respect of his music.

What can we take from Michael Jackson into the Tourism? The answer is a differentiation strategic to win the competition. Michael jackson always change in every decade, he changed his face, his style, coreography, and really hard work.

What shouldn't we take from Michael Jackson into Tourism? The answer is the negative brand immage make a bad positioning about michael (remember pedhopilia case).

Good Bye Jacko...World has lost one of the best tallented famous singer called Jacko The King of Pop..Rest in Peace Jacko, Your Songs will not ever die, life forever in heart of your fans.

Sabtu, Juni 20, 2009

ALTERNATIVE TOURISM

1. Definisi pariwisata alternatif secara luas adalah sebagai bentuk pariwisata yang konsisten dengan nilai-nilai alam sosial dan nilai-nilai masyarakat serta memungkinkan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan untuk menikmati interaksi yang positif dan wajar serta menikmati indahnya berbagai pengalaman (William RE & Valene LS, 1992:3).
Sejarah pariwisata alternatif (William RE & Valene LS), dimulai pada perjalanan bangsa yunani dan bangsa romawi dengan bermaksud untuk melakukan ziarah. Pada awalnya para musafir ini menumpang menginap pada rumah-rumah penduduk dengan fasilitas seadanya. Makin lama, makin ramai para musafir dengan berbagai macam tujuan perjalanan, yakni untuk ziarah, berdagang dan mengunjungi sanak saudara ditempat yang jauh. Sehingga perpindahan musafir-musafir ini membutuhkan banyak sarana dan prasarana perjalanan.
Pariwisata menjadi industri yang besar pada abad ke 19. Dictionnaire universale du XIXe siecle tahun 1876 (yang di kutip oleh Sigaux 1966: 7) mendefinisikan wisatawan sebagai “orang bepergian yang senang berpergian, berdasarkan rasa ingin tahu dan karena mereka tidak mempunyai kegiatan yang lebih baik untuk dilakukan” dan “bahkan untuk kesenangan dalam menyombongkan diri setelah itu”. Tetapi bentuk “alternatif” dari pariwisata yang berkembang di Eropa pada periode yang sama, seperti yang dilaporkan pada tahun 1985 dalam Special Issue: The Evolution of Tourism, dari Annals of Tourism Research. Yang dicatat pada article ini untuk “tramping” oleh anggota kelas pekerja Inggris yang “melakukan perjalanan Tramp sebagai ritual untuk menunjukan tingkat kedewasaan (Adler 1985: 339). Pada tahun 1990an ada perasaaan bahwa publik telah menjadi “lelah” dengan keramaian, kecapekan dari Jet Lag, sadar oleh bukti-bukti polusi, dan mencari sesuatu yang ”baru”. Inovatif tetapi dengan cepat meraih popularitas sebagai bentuk liburan “alternatif” pada dekade ini adalah walking tour (beberapa sangat mahal karena tingkat akomodasi dan jenis masakan yang disediakan), tur bersepeda, home dan farm stays, setidaknya di Amerika Serikat menunjukan peningkatan pada pariwisata domestik.
Sigaux (1996) mencatat sejarah pariwisata dari zaman Yunani awal sampai pada periode Perang Dunia II, dan ini bisa menunjukan pariwisata masal dan pariwisata “alternatif” lebih dari dua milenium. Pada zaman imperial Tivoli, beberapa mil keluar dari arah Roma menjadi tempat liburan yang terkenal yang menonjolkan taman dan air terjun. Pariwisata “rumah kedua” ini sudah ada sejak zaman Roma dimana ditunjukan boleh banyaknya vila dan spa yang dibangun di luar semua kota besar kerajaan.

2. Definisi pariwisata alternatif,dan mass tourism.
a. Definisi pariwisata alternatif menurut Dernoi:
Initially defined alternative tourism by accomodation in alternative tourism the client receives accomodation directly in, or the home of, the host with, eventually, other services and facilities affered there, (1988:253)
Pengertian pariwisata alternatif dilihat dari sisi akomodasi adalah wisatawan menerima dan menikmati pelayanan akomodasi bersama-sama dengan pelayanan lainnya dan fasilitas-fasilitas lainnya dalam sarana akomodasi tersebut.
Simply state, AT (Alternative tourism)/CBT (Community Based Tourism) is privately offered set of hospitality services, and features, extended to visitors, by individuals, families, or a local community. A prime aim of AT/CBT is to establish direct personal/cultural intercomunication and understanding between host and guest (Dernoi, 1988:89)
Secara sederhana, pariwisata alternatif / pariwisata berbasis komunitas adalah secara menghusus menawarkan sekumpulan pelayanan hospitaliti (keramahtamahan) dan fitur-fitur yang diberikan kepada wisatawan oleh masyarakat perseorangan, keluarga, atau komunitas lokal. Tujuan utama pariwisata alternatif / pariwisata berbasis komunitas adalah mendirikan sebuah komunikasi budaya secara langsung dan menjalin saling pengertian antara wisatawan(tamu) dan pihak penyelanggara (host/masyarakat)


b. Bagan Mass Tourism dengan Alernative Tourism


Nature Tourism or Ecotourism

TOURISM
Mass Tourism
(Conventional, Standard, Large Scale Tourism)
Alternative Tourism
Cultural
Educational
Scientific
Adventure
Agritourism
- Rural
- Ranch
- Farm
The Alternative Tourism (After Mieczkowski,1945 :459)

Nature Tourism or Ecotourism


Berdasarkan Mieczkowski (1945 : 459), Pariwisata dibedakan menjadi dua macam, yakni : Mass Tourism dan Alternative Tourism. Mass tourism bersifat konvensional, standar dan berskala besar. Alternative tourism terdiri dari 5 (lima) macam yakni : cultural tourism (pariwisata budaya), Educational tourism (pariwisata pendidikan), scientific tourism (pariwisata science), adventure tourism (pariwisata petualangan) dan agritourism ( pariwisata pertanian) yang kesemuanya merupakan Nature Tourism atau Ecotourism (pariwisata berwawasan lingkungan).
Bentuk yang lebih mengkhusus dari Pariwisata Alternatif menurut Mieczkowski (1995) adalah kebudayaan, pendidikan, pemelitian ilmiah, petualangan dan agrowisata di daerah pedesaan, peternakan dan pertanian.
Secara signifikan hal tersebut di atas saling melengkapi dengan Pariwisata Masal, tetapi perbedaan pokoknya adalah skala dan dampak yang ditimbulkannya. Keterkaitan lainnya antara beberapa tipe dari pariwisata alternatif itu sendiri, contohnya pariwisata budaya untuk memperluas pengetahuan dan ekowisata adalah sejalan dengan pariwisata berbasis alam. Kemudian Mieczkowski menemukan kesulitan dalam menentukan konteks daripada Pariwisata alternatif karena, walaupun mereka tidak bersentuhan langsung dengan Pariwisata Budaya, tapi saling bersinggungan dengan Pendidikan, Penelitian Ilmiah, dan Agrowisata.
Dengan demikian, Pariwisata Alam atau Ekowisata merupakan bagian atau turunan dari Pariwisata Alternatif.

c. Membandingkan paradigma mass tourism dan alternative tourism
The Concern of Mass Tourism and Alternative Paradigm (Ecotourism) Views
Mass Tourism
Alternative tourism
1. Management of evolutionary change survival of the fittest within a western rationalist approach based on exisiting economic principles
1. Radical change moving towards cooperative and community based approachs outside of the exisiting tourism industry
2. Maintaining social order, exisiting tourism system unquestioned
2. Transforming social system analysing structural conflics and contradictions and including nature in the equation
3. Greater efficiency of current tourism system, hence increased profitability
3. Creating more just and equitable systems that can step beyond the tourism system
4. Appearance of harmony, integraphis, and cohesion of social groups involved in the tourism process
4. Contradictions between social ideals and reality, attemps to demonstrate this and alternate it
5. Focus on ways to maintain cohesion and consensus
5. Ways to dismantre or change systems of domination
6. Solidarity
6. Emancipation
7. Identifying and meeting individual needs within exisiting social system
7. Current tourism systems incapable of equitablly meeting basic human needs
8. Focused on actuality, discovering and understanding what it is
8. Foccused on potentialyty: providing a vision what could be
Pariwisata Masal
Pariwisata Alternatif
Manajemen perubahan evolusi sebuah pendekatan aliran rasionalis Barat yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi
Perubahan yang radikal menuju kerjasama dan pendekatan berbasis masyarakat di luar industri pariwisata yang ada.
Memelihara tatanan sosial, system pariwisata yang ada tidak dihiraukan
Mengubah sistim sosial menganalisa konflik-konflik dan kontradiksi serta alam dalam persamaan, termasuk persamaan sifat
Efesieni lebih besar terhadap system pariwisata yang ada karena itu keuntungannya meningkat.
Berbuat lebih banyak dan sistem yang lebih pantas untuk meningkatkan system pariwisata yang ada
Tampak harmoni, integrasi dan perpaduan dari kelompok-kelompok sosial termasuk dalam proses kepariwisataan
Kontradiksi antara idealis sosial dengan kenyataan, namun ada usaha-usaha untuk mengurangi kontradiksi tersebut.
Fokus untuk cara-cara untuk memelihara hubungan dan persetujuan umum.
Cara-cara untuk mengubah system yang mendominasi
Solidaritas
Emansipasi
Identifikasi dan mempertemukan kebutuhan-kebutuhan individu diantara system sosial yang ada
Arus sistem pariwisata saat ini tidak mampu mempertemukan kebutuhan dasar manusia
Fokus pada hal yang nyata, menemukan dan memahami pariwisata
Fokus pada hal-hal yang mendasarm menyediakan suatu visi dari apa yang bisa


3. Klasifikasi dari pariwisata sebagai sebuah sinteis (Douglas G Pearce)
Klasifikasi dari pariwisata sebagai sintesis dapat di bagi menjadi hard dan soft tourism dimana dalam pengklasifikasian tersebut berdasarkan atas beberapa variabel.
Adapun beberapa variabel pertanyaan yang di gunakan dalam pengklasifikasian pariwisata dalam sebagai sintesis yaitu:
Konteks, Fasilitas, lokasi, pengembangan dan kepemilikan, proses pengembangan, pasar dan pemasaran, dampak dimana variable variable tersebut di tuangkan menjadi beberapa pertanyaan yakni:
Variabel pertayaan:
· What are the coutexts in which tourism has develop?
· What is being develop?
· Where is tourism being develop?
· Who are developers?
· How has the tourism develop?
· Who are tthe tourist?
· What impoets are generated?
Having devised some clasiffication or at least a set of variabels by which tourism can be systematically analyzed a number problem can be more ...

a. Dalam konteks apakah pariwisata di telah di kembangkan?
Pertimbangan dari karakteristik kontekstual atara lain: fisik, sosial, budaya, dan lingkungan ekonomi Sangatlah penting karena konteks tersebut akan mempengaruhi bagaimana pariwisata itu berkembang dan dampak yang di timbulkan dalam perkembangan pariwisata tersebut
b. Apa yang telah di kembangkan?
Pertanyan ini di kembangkan berdasarkanvariabel jenis dari fasilitas serta sektor atraksi atraksi sepertimisalnya di kembangkan secara alami atau buatan, untuk umum atau prifat, terbatas atau di sebar luaskan, dan seterusnya.
c. Dimana pariwisata di kembangakan?
Pariwisata dapat di kembangkan di daerah – daerah berpotensial seperti : Pesisir pantai, pegunungan, pedesaan.
d. Siapakah pengembangnya?
Pertanyan ini berhubungan dengan asal dan karakter dari pengembang ( public atau prifat, asing atau local, individual atau kerjasama)
e. Bagaiman pariwisata itu dikembangkan?
Cara bagaiman pariwisata itudi kembangkan dapat deskripsikan dalam konteks hubungan antar beberapa faktor yakni: ekonomi dan fisik, biaya dari pengembangan, perencanaan, proses , dan bentuk dari hasil pengembangan.
f. Siapakah pengunjungnya?
Pertanyan yang terkait dengan pengunjung ini terkait dengan karakteristik dan motif,bagaimana mereka melakukan perjalanan.
g. Apakah dampak yang di timbulkan?
Pertanyaan ini terkait dengan analisa dampak- dampak yang mungkin di timbulkan dari pengembangan suatu jenis pariwsata.

4. Implikasi dari pariwisata alternative terutama di pandang dari wisatawan dan sumberdaya terhadap komponen sosial, budaya dan ekonom.
a. Implikasi pariwisata alternatif di pandang dari wisatawan terhadap sosial, budaya, dan ekonomi.
Implikasi yang di timbulkan bisa negatif, positif, ataupun netral. Jumlah tingkah laku wisatawan yang datang dapat memberikan implikasi positif pada aspek sosial dan lingkungan namun dapat memberikan implikasi negative terhadap aspek ekonomi, namun demikian jumlah serta tingkah laku wisatawan dapat memberikan dampak sebaliknya dalam ketiga aspek tersebut.selain itu lokasi,waktu, kontak, serta kesamaan pengunjung juga dapat memberikan implikasi sosial, lingkungan serta ekonomi.
b. Implikasi pariwisata alternatif di pandang sumer daya terhadap komponen sosial,budaya dan ekonomi.
Sumber daya dapat memberikan implikasi positif, negatif serta netraldi masing masing aspek sosial, lingkungan serta ekonomi di lihat dari kerapuhan sumberdaya tersebut, keunikanya serta kapasitas dari sumber daya tersebut.

Minggu, Juni 14, 2009

ISU ISU PARIWISATA

Bali merupakan daerah tujuan wisata internasional, yang diminati oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara (internasional). Di Bali sendiri ada banyak kawasan wisata dan obyek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (misalnya : Sanur, Kuta, Ubud, Tanah Lot, Pura Besakih, Tampak Siring dsb) maupun kawasan dan obyek wisata yang baru dikembangkan beberapa dekade belakangan ini ( misalnya : kawasan wisata Nusa Dua, Jimbaran, Jati Luwih, Yeh Panes, dsb).
Semakin diminati Pulau Bali oleh wisatawan, yang tercermin dari jumlah kunjungan wisatawan yang cendrung meningkat dari tahun ke tahun, juga jumlah kamar hotel dan juga jumlah restaurant yang semakin bertambah, hal ini menunjukkan bahwa Pulau Bali semakin ‘ter-eksploitasi’ untuk kegiatan pariwisata. Suatu hal yang tidak mungkin hilang dalam kenyataan adalah konsep ‘rwa-bineda’, ‘jele-melah’, ‘baik-buruk’. Konsep ini juga berlaku bagi dunia pariwisata di Pulau Bali ini. Sisi baik yang diberikan oleh kegiatan pariwisata di Pulau Bali, jelas sudah dirasakan bersama oleh segenap masyarakat Pulau Bali, misalnya : Meningkatnya taraf hidup masyarakat, Pesatnya pembangunan, Pertukaran Budaya, Berkurangnya pengangguran. Sisi tidak baik yang disumbangkan oleh kegiatan pariwisata-pun tentunya tidak dapat dielakkan, seperti : pencemaran lingkungan (udara, sampah plastik, air, tanah, suara), lunturnya nilai-nilai luhur warisan budaya nenek moyang (komodifikasi budaya, hilangnya ke-‘bali’an orang bali) dan munculnya masalah sosial (judi, minuman keras, pelacuran dsb)
Yang perlu diperhatikan demi menjaga ke’ajegan’ Bali, tentunya adalah dampak negatif yang ditimbulkan akibat kegiatan pariwisata. Dengan mengamati dan mencermati fenomena-fenomena yang timbul, maka akan muncul kekhawatiran akan hancurnya Pulau Bali tercinta ini, jika kerusakan-kerusakan yang timbul tidak segera dibenahi. Paper ini bertujuan untuk mencermati isu-isu negatif yang timbul akibat aktivitas pariwisata. Untuk dapat mewakili, maka isu-isu tersebut digolongkan dalam lima kategori isu, yakni : (i) isu lingkungan, (ii) isu budaya , (iii) isu sosial, (iv) isu kesehatan dan (v) isu kemacetan lalu lintas. Kesemua isu ini diamati pada tiga objek wisata, yakni pada objek wisata (i) Kuta, (ii) Bedugul, meliputi danau buyan, bratan dan danau tamblingan, dan (iii) Sanur.
Kuta
Kuta merupakan objek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (mulai tahun 60an). Pantai Kuta yang indah dan akses yang sangat dekat dengan bandara internasional Ngurah Rai, menjadikannya sebagai ‘kampung wisatawan’. Kuta berada dalam wilayah Kabupaten Badung, sebagai penyumbang pendapatan asli daerah yang besar yang berasal dari kegiatan pariwisata.
Dampak positif pariwisata di Kuta sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Berdirinya hotel-hotel, restaurant, pasar seni, penukaran uang, hiburan malam tak pelak mengangkat status ekonomi penduduk asli kuta. Jika dahulu sekitar tahun 80-an penduduk Kuta kebanyakan hidup dari sektor kelautan (nelayan) dan peternakan dengan pendapatan yang minim, sekarang penduduk asli Kuta sebagian besar tidak perlu bekerja keras. Dengan modal tanah warisan yang dikelola dengan baik, penduduk asli kuta kebanyakan mengelola lahannya untuk pertokoan, rumah kos, hotel dan kegiatan bisnis yang berhubungan dengan pariwisata.
Dampak negatif pariwisata di Kuta tercermin pada isu-isu yang timbul, berasal dari observasi penulis pada objek wisata kuta, yakni :
a. Isu Lingkungan
Aberasi pantai (sepanjang pantai kuta), hal ini diduga penyebabnya adalah pemanasan global, kondisi ini tidak saja terjadi pada Pantai Kuta, melainkan juga seluruh pantai yang ada di Bali.
Sampah plastik (disepanjang trotoar dan selokan), hal ini diduga penyebabnya adalah kurang disiplinnya masyarakat kuta, juga wisatawan dalam membuang sampah plastik, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan
Banjir, disebabkan kurang disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah, masih ada yang membuang sampah ke got/selokan. Diduga penyebab lainnya adalah sistem drainase yang kurang baik.
b. Isu Budaya
Berkurangnya kesakralan upacara adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta). Pada saat melaksanakan upacara melasti, banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara, hal ini tentunya sangat kontras dengan masyarakat bali yang begitu khusuk melaksanakan upacara.
c. Isu Sosial
Prostitusi, merupakan pemenuhan kebutuhan biologis yang melanggar norma agama dan kesusilaan. Transaksi sering dilakukan di pusat-pusat hiburan malam, hotel-hotel bahkan di sepanjang jalan legian.
Narkoba
Free sex
d. Isu Kesehatan
Demam berdarah
Flu Babi (gerbang internasional)
e. Isu Kemacetan Lalu Lintas
Pada jam kerja
Upacara adat

Jumat, Juni 12, 2009

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MEMACU PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA


Pariwisata tidak dipungkiri lagi berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian di Bali. Dalam hal ini pariwisata menimbulkan multiflier effect bagi seluruh aktivitas ekonomi di Bali. Sebagai contoh : Pariwisata membutuhkan sarana akomodasi, restoran, bar dan fasilitas penunjang lainnya. Satu buah hotel yang didirikan akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu hotel membutuhkan berbagai supplier untuk memasok kebutuhan hotel. Tenaga kerja yang diserap hotel juga membutuhkan berbagai macam kebutuhan hidupnya, sehingga muncul berbagai macam pusat perbelanjaan, demikian seterusnya rantai ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas pariwisata sebagai akibat dari multilier effect tersebut.
TIK, sangat menunjang perkembangan pariwisata, dengan TIK maka informasi dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, efisien dan akurat yang mampu mereduce human error. Sebagai contoh alikasi TIK, yakni penggunaan software LIBICA, FIDELIO sebagai Program Piranti Lunak Hotel Information System. Dengan menggunakan software tersebut informasi mengenai kepastian pemesanan kamar, kepastian rekening tamu, informasi tamu yang akan datang ke hotel, tamu yang sedang tinggal di hotel dan tamu yang akan meninggalkan hotel. Informasi yang cepat, tepat dan akurat tersebut akan membuat tamu puas dan senang tinggal dihotel. Kepuasan tamu akan menyebabkan tamu akan kembali lagi untuk berlibur di Bali dan tinggal di hotel tersebut. Jika dikaitkan dengan tujuan berdirinya sebuah hotel, yakni : Profit through guest satisfaction, and get a repeat business through word of mouth communication, peranan TIK dirasakan sangat vital. Kondisi ini berlaku juga untuk perusahaan lainnya yang berperan sebagai entitas ekonomi (mengelola sumber daya yang ada untuk dapat ditukarkan kepada pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar/konsumen sehingga tercapai kepusan pasar/konsumen)

Dari sisi Ekonomi, yang berfungsi untuk mengelola seluruh sumber daya (man, material, money,machine, method, market) melalui fungsi manajemen (planning, organising, actuating, controlling dan evaluating) sehingga mampu menciptakan produk yang memiliki nilai/value yang mampu memuaskan kebutuhan konsumen, peranan ekonomi dan pariwisata merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Mengacu pada definisi pariwisata : Suatu fenomena yang menyebabkan perpindahan orang dari satu tempat (tempat tinggalnya) ke tempat yang bukan tempat tinggalnya untuk kebutuhan bersenag-senang (leisure), tidak untuk mencari nafkah, menetap dan tidak untuk tujuan vokasional, dimana perpindahan ini membutuhkan berbagai sarana dan prasarana pariwisata. Pada poin ini, kebutuhan sarana dan prasarana pariwisata semestinya dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, khususnya (Manajemen : Keuangan, pemasaran,sdm dan operasional) serta akuntansi.
Dengan manajemen keuangan, maka perusahaan-perusahaan dalam indusri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menggunakan alternative sumber-sumber pendanaan yang murah serta mampu menginvestasikannya pada sector yang menguntungkan.
Dengan manajemen pemasaran, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menciptakan produk yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar.
Dengan manajemen sumber daya manusia, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola sumber daya manusia, sebagai kunci sukses persaingan bisnis.
Dengan manajemen operasional, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan memperhatikan konsep keberlanjutan (sustainability) melalui konsep CSR (Consumen Social Responsibility), menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang tidak mencemari lingkungan.

Minggu, Mei 10, 2009

PENGALAMAN TRAINING







OLEH MERRY VIA ANGGRENY, MAHASISWI STIE TRIATMA MULYA



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bali merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang sangat terkenal di mancanegara. Pariwisata di Bali sangat menarik hati para wisatawan, baik domestik ataupun wisatawan asing. Yang menarik dari pariwisata di Bali adalah keindahan alamnya, keramahan orang-orangnya, seni dan budayanya dan masih banyak lagi.
Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Bali ini merupakan suatu peluang untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh wisatawan. Salah satunya adalah restoran dan hotel. Hotel yang diharapkan adalah hotel yang bagus, bersih dan memiliki pegawai yang terampil, disiplin, rapi dan berpengetahuan luas.
Untuk itu dibangunlah sekolah-sekolah khusus perhotelan dan pariwisata. Dengan adanya sekolah perhotelan tersebut, diharapkan dapat mendidik, mengajar, dan melatih para siswa / siswinya untuk nantinya siap dan mampu bekerja di perusahaan pelayanan. Dalam hal ini adalah hotel-hotel, restoran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pariwisata.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui semua masalah yang ada di hotel dan pembahasannya.
2. Untuk dapat membandingkan teori yang di dapat di sekolah dan di hotel.

Manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui bagaimana disiplin dan bekerja di hotel dengan baik
2. Mempersiapkan mental bila suatu saat ingin bekerja di suatu hotel.
3. Adanya motivasi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
4. Menambah pengalaman dan pengetahuan tentang menu-menu di hotel.



BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Berdirinya Hotel
Hotel Tamu Kami merupakan salah satu hotel yang beralamat di Sanur, yakni di Jl. Danau Tamblingan No.64 X Sanur 80228 - Bali.
Eugeen de Geets dan Suzanne de Ridder adalah pasangan suami istri pemilik hotel tersebut. Mereka berkewarganegaraan Belgia. Dulunya sebelum memiliki hotel di Bali, mereka biasanya datang ke Bali hanya untuk berlibur.
Setelah berdirinya hotel itu, mereka menjalankan bisnis di Bali dan mengangkat seorang gadis Bali sebagai anak angkatnya. Kini ia menjabat sebagai Managing Hotel Tamu Kami.

2.2 Kepemilikan dan Lokasi Hotel
Pemilik dari Hotel Tamu Kami adalah Eugeen de Geets dan Suzanne de Ridder. Hotel tersebut berlokasi di Jl. Danau Tamblingan 64 X Sanur – Bali.
No. Telp : 62 361 282 510
Fax : 62 361 282 520
e-mail : tamukami@indosat.id
website : http://www.tamukamibali.com/

2.3 Fasilitas yang Dimiliki Hotel
Hotel Tamu Kami memiliki 21 kamar terdiri dari:
A. Fasilitas kamar
- Room standard : 10 kamar
- Superior : 6 kamar
- Deluxe : 1 kamar
- Bungalow : 3 kamar
Fasilitas yang tersedia di kamar:
1. Tempat tidur
2. Lemari pakaian
3. Ruang tamu
4. Meja rias
5. Kamar mandi
6. Televisi
7. telephone
8. AC
9. Kulkas mini
10. Mini bar (khusus di suite)
11. Komputer dan internet jika ada permintaan

B. Fasilitas pelengkap lainnya:
1. Restaurant 6. Lobby
2. Bar 7. Tourist information
3. Swimming pool 8. Laundry
4. Meeting room 9. Office 1 dan 2
5. Spa









BAB III
PEMBAHASAN

Pada hotel Tamu Kami, jadwal kerja dibagi menjadi 2 shift yaitu shift pagi dan sore. Setiap bulan jadwal kerja selalu berubah. Dalam 6 hari kerja dan sehari libur.
a. Shift Morning (07.00 – 015.00)
Tugasnya:
- Menyiapkan buah dan roti untuk tamu breakfast
- Menangani breakfast
- Membantu menyiapkan makanan karyawan
- Menanak nasi
- Menggoreng krupuk untuk karyawan
- Membuat air panas dan teh tawar
- Membuat kentang goreng
- Menyiapkan vegetables
- Menyiapkan salad
- Menyiapkan garnish
- Merebus bayam dan kentang
- Membuat barked potato
- Membuat saus dingin, seperti: mayonnaise, cocktail saus, tartar sauce, French dressing, vinaigrette sauce, orange sauce, dan acar.
- Membersihkan area kitchen
- Membuat saus panas seperti: kare, rendang, Balinese sauce dan sweet sour sauce

b. Shift Evening (15.00 – 23.00)
Tugasnya:
- Menyiapkan makanan karyawan
- Menggoreng krupuk
- Membuat air panas dan teh tawar
- Menanak nasi
- Menyiapkan isi nasi rames, seperti: fish currhy, sweet sour pork, sweet sour chicken, dan beef rending
- Membantu pekerjaan senior
- Mengupas bawang merah dan putih
-
4Membuat chopped onion, garlic dan parsley
- Membersihkan area kitchen

Kita juga diberikan tanggung jawab diantaranya:
- Merapikan semua bahan makanan ke tempat semula
- Menjaga kebersihan area kitchen
- Menjaga peralatan kitchen
- Membantu para senior

Di Hotel Tamu Kita pembagian jadwal kerja dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Morning Shift dari pukul 07.00 – 15.00
2. Evening Shift dari pukul 15.00 – 23.00

Perbedaan teori yang didapat di sekolah dan di hotel memang berbeda. Namun, perbedaan itu tidak terlalu signifikan. Dengan adanya perbedaan tersebut justru akan memperluas pikiran kita. Kita bisa tahu apa yang belum kita ketahui. Dengan pengetahuan dasar yang telah didapat di sekolah, itu akan mempermudah kita di dalam melaksanakan praktek kerja industri. Namun, kita harus mengikuti peraturan di hotel mana kita bekerja. Kita juga harus bisa beradaptasi dengan peraturan yang ada di hotel.
Kendala dalam melaksanakan pekerjaan:
Tidak semua senior dapat membimbing trainee dengan baik dan benar
Adanya peralatan kitchen yang sudah rusak
Kitchen yang tidak memiliki ex-house sehingga kalau memasak ruangan menjadi panas, dan asapnya sangat mengganggu, sehingga mengurangi kenyamanan bekerja.
Terkadang kekurangan bahan akibat pengorderan yang tidak sesuai.

Keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan:
Penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bekerja di hotel
Penulis dapat meningkatkan rasa tanggung jawab, disiplin dan ingin tahu
Penulis dapat mengetahui menu-menu di hotel.
Penulis dapat meningkatkan kemampuan di bidang memasak.






BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Pengalaman yang penulis lihat di Hotel Tamu Kami di FB Product, dapat membuahkan hasil yang sangat bermanfaat untuk penulis. Dari pengalaman tersebut, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan, seperti:
1. Di dalam melaksanakan tugas, kita dilatih dan dibimbing untuk siap bekerja di hotel nantinya.
2. Melatih mental untuk dapat bekerja dengan baik
3. Dalam melaksanakan praktek kerja industri, kita dapat memadukan teori yang didapat di sekolah dan di tempat training guna untuk mempermudah pelaksanaan training tersebut.
4. Praktek kerja industri baik dilakukan untuk dapat membiasakan diri bertanggung jawab pada pekerjaan.

Saran-saran
a. Saran untuk Hotel
1. Trainee mohon diajarkan dan dibimbing dengan baik dan benar.
2. Kerjasama departemen satu dengan yang lainnya agar ditingkatkan.
3. Bila terjadi kesalahan, sebaiknya diselesaikan bersama, jangan saling menyalahkan.
4. Peralatan yang sudah rusak sebaiknya diperbaiki atau diganti.
5. Di dapur sangat panas, kalau bisa tolong dibuatkan ex-house agar tidak mengganggu kenyamanan bekerja.

b. Saran untuk Kampus
1. Sebaiknya para dosen mengontrol para mahasiswa yang training jangan sampai ada mahasiswa/mahasiswa yang tidak training.
2. Komunikasi antara dosen dan mahasiswanya harap ditingkatkan.


Data diambil dari:
Hotel Tamu Kami – Sanur
Departemen Tata Boga
(Restaurant)

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR MANAJEMEN SDM YANG MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN PADA SUKA BEACH INN


DITULIS OLEH YUDI SEPTYAN, MAHASISWA STIE TRIATMA MULYA
ABSTRAK
Sumber daya manusia merupakan elemen yang sangat penting dalam satu perusahaan. Kegagalan mengelola sumber daya manusia dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dalam pencapaian tujuan dalam organisasi, baik dalam kinerja, profit, maupun kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Kondisi umum saat ini menunjukkan bahwa di hotel suka inn masih lemah dalam beberapa hal, antara lain: manajemen yang tidak efisien, keterbatasan dana dan teknologi serta kualitas SDM yang belum memadai. Sumber daya manusia mungkin merupakan kelemahan utama dari semua kelemahan yang ada, hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya profesionalisme, sehingga hotel suka inn tidak dapat bersaing dengan hotel - hotel yang berada di sekitar Suka Beach Inn. Tujuan penelitian yang akan dibahas pada makalah ini yaitu untuk megidentifikasi faktor - faktor manajemen SDM yang paling berpengaruh dalam meningkatan kinerja karyawan Suka Inn. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor yang sangat menetukan dalam peningkatan kinerja perusahaan dan memiliki kontribusi terbesar adalah faktor “Standar kualitas yang diterapkan berkaitan dengan demosi”, artinya setiap individu dalam perusahaan dipacu untuk bekerja secara optimal, bertanggung jawab, dan loyal terhadap perusahaan. Hal ini menjadi kunci keberhasilan manajemen SDM dalam meningkatkan kinerja karyawan Suka Beach Inn.

1. PENDAHULUAN
Bali merupakan salah satu tujuan wisata di Indonesia yang mempunyai potensi besar dalam pembangunan industri kepariwisataan. Salah satu yang mengindikasikan perkembangan pariwisata Bali dapat dilihat pada perkembangan hotel dan akomodasi di Bali yang sangat pesat. Dengan demikian peningkatan sarana hotel dan akomodasi yang ada di Bali menimbulkan persaingan bisnis yang begitu ketat di industri perhotelan.



2. FUNGSI DAN PERANAN SUMBER DAYA MANUSIA
Salah satu masalah besar pada Suka Beach Inn adalah kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan professional, terlebih lagi dari segi manajerial. Jika permasalahan-permasalahan SDM tersebut tidak diperbaiki, maka hal ini akan berdampak negatif terhadap produktivitas dan cara kerja karyawan. Pada saat ini Managemen Suka Beach Inn mulai menyadari pentingnya pengelolaan sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi masih harus menghadapi banyak kesulitan dalam pelaksanaan manajemen dan pengembangan sumber daya manusia. Terdapat
beberapa hal yang merupakan penyebab terjadinya kesulitan tersebut. Pertama, tingkat
pendidikan rata-rata pekerja Kedua,kurangnya pelatihan pada para staff Suka Beach Inn.

3. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Untuk mengelola sumber daya diperlukan penyusunan kepegawaian organisasi, memotivasi pegawai, memimpin pegawai, komunikasi dengan pegawai, mengatur kelompok kerja dan mengevaluasi kinerja yang disebut dengan fungís manajemen. Manajemen sumber daya manusia strategis merupakan suatu kunci bagi perusahaan untuk memperoleh persaingan yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan manajemen sumber daya manusia dan strategi bisnis. Peningkatan kompetensi dalam perusahaan
khususnya sumber daya manusia (SDM) adalah elemen utama untuk mencapai kesuksesan perusahaan dan keterlibatan SDM dalam pengembangan dan pelaksanaan strategi bisnis akan menciptakan efektifitas organisasi dalam perusahaan. Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen suatu organisasi. Kegunaan manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi orang pada organisasi dalam cara-cara yang secara strategis, etis, dan sosial dapat dipertanggung jawabkan. Manajemen sumber daya manusia memberikan sumbangan secara langsung pada peningkatan produktivitas melalui penemuan cara-cara yang lebih efisien dan efektif untuk mencapai tujuan dan secara tidak langsung melalui peningkatan mutu kehidupan kerja karyawan. Fungsi dari manajemen sumber daya manusia menurut Fisher (1993) adalah setiap fungsional dalam sumber daya manusia dengan banyak aktivitas harus unggul sehingga organisasi dapat memberikan kontribusi yang optimal menuju organisasi sukses. Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu sistim yang terdiri dari banyak kegiatan yang saling tergantung (interdependent).

4. KINERJA KARYAWAN PADA SUKA BEACH INN
Kinerja adalah suatu hasil prestasi kerja optimal yang dilakukan oleh seseorang ataupun kelompok ataupun badan usaha. Pengukuran kinerja secara tradisional adalah pengukuran kinerja yang berorientasi kepada bidang keuangan dan kemampuan untuk mendapatkan laba. Suatu perusahaan dikatakan mempunyai kinerja yang baik kalau dalam laporan keuangannya mendapat keuntungan, sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah proses dengannya organisasi mengevaluasi pelaksanaan kerja individu. Dalam penilaian kinerja dinilai kontribusi kepada organisasi selama periode waktu tertentu. Umpan balik kinerja (performance feedback) memungkinkan karyawan mengetahui seberapa baik mereka bekerja jika dibandingkan dengan standar standar organisasi. Penilaian kinerja adalah tentang kinerja karyawan dan akuntabilitas. Dalam dunia yang bersaing secara global, perusahaan perusahaan yang menuntut kinerja yang tinggi.
Menurut Kaplan dan Norton (1996) ada 4 perspektif dalam penilaian kinerja suatu
perusahaan, yaitu: (1)Perspektif keuangan, terdiri dari: pertumbuhan pendapatan,pertumbuhan produktivitas, penghematan biaya dan pemanfaatan aktiva; (2)
Perspektif proses bisnis internal, yaitu: meningkatkan inovasi, proses operasi, pelayanan purna jual,(3)Perspektif pelanggan, terdiri dari: kepuasan pelanggan, akuisisi pelanggan (sejauh mana perusahaan dapat menarik pelanggan), retensi pelanggan, pangsa pasar, kemampulabaan pelanggan,(4)Perpektif pembelajaran dan pertumbuhan, yaitu: meningkatkan kapabilitas personil, meningkatkan kapabilitas sistem informasi serta motivasi, pemberdayaan dan keselarasan.

5. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor apa saja dari manajemen SDM yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja karyawan SUka Beach Inn dan
berapa besar pengaruhnya. Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut digunakan pendekatan penelitian dengan metode survai dan wawancara terhadap para karyawan.

6. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh faktor-faktor dari manajemen SDM yang mempunyai pengaruh paling besar dalam peningkatan kinerja karyawan Suka Beach Inn, hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.


Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap 4 (empat) perspektif kinerja adalah “standar kinerja untuk demosi”, artinya dengan diadakannya demosi pada perusahaan secara tidak langsung standar kenerja pada perusahaan semakin baik dan memicu karyawan untuk melakukan pekerjaan yang diberikan dengan baik dan hati-hati agar karyawan tersebut tidak mengalami penurunan pangkat (demosi). Menurut Simamora (1997) demosi dilakukan karena karyawan tidak mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tolok ukur perusahaan, ditambahkan juga bahwa dengan menetapkan tolok ukur/standar kerja dalam perusahaan akan dapat meningkatkan kualitas manajemen SDM dan sekaligus meningkatkan kinerja.

Selain faktor demosi faktor yang berpengaruh lainnya adalah “sikap atas penilaian dan
evaluasi kinerja” faktor ini mempengaruhi 3 kinerja. Menurut Sunarto (2001) penilaian dan evaluasi kinerja bertujuan untuk memberikan umpan balik kepada karyawan dengan memperlihatkan kinerja masa lalu mereka dengan kinerja masa sekarang. Umpan balik
dimaksudkan agar para karyawan melihat dan mengoreksi dan memperbaiki, agar kinerja tiap karyawan dapat meningkat secara otomatis kinerja terhadap perusahaan.

Faktor yang paling berpengaruh ketiga adalah “Kualitas dalam memecahkan masalah
operasional” Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan
keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman ataupun perubahan sikap seseorang. Program program dari pelatihan utamanya mengajarkan bagaimana menunaikan aktivitas ataupun memecahkan masalah (intenal dan external).

Faktor keempat yang tidak terikat dengan 2 (dua) kinerja atau lebih adalah ” Kualitas kinerja proses seleksi” yang hanya mempengaruhi perspektif Proses Bisnis Internal, ”Komunikasi antar karyawan” yang hanya mempengaruhi perspektif Keuangan, ” kebijakan disipliner” yang hanya mempengaruhi perspektif Pelanggan serta ”Standar kinerja” yang hanya mempengaruhi perspektif Proses Bisnis Internal. Walaupun variabel tersebut diatas tidak mempengaruhi 2 (dua) kinerja atau lebih namun variabel ini merupakan inti dalam masingmasing kinerja. Menurut Simamora (1997) seleksi merupakan hal yang penting, hanya dengan berbagai proses dalam seleksi departemen SDM dapat memperoleh kualitas SDM yang lebih baik, dalam melakukan seleksi departemen SDM berpatokan pada standar kinerja karyawan yang telah bekerja sebagai perbandingan.

Pemeliharaan hubungan dengan para karyawan memerlukan komunikasi yang efektif, terlepas dari besar kecilnya suatu organisasi, menyelenggarakan komunikasi merupaka keharusan, agar tidak terjadi konflik yang dapat menurunkan kualitas satu pekerjaan. Disisi lain Siagian (2000) juga menulis bahwa kebijakan disipliner diterapkan untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut. Dengan kata lain kebijakan disipliner adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap, dan prilaku karyawan sehingga para karyawan tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para karyawan lain serta meningkatkan prestasi kerjanya.

7. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling besar pengaruhnya
dalam meningkatkan kinerja karyawan pada Suka Beach Inn adalah ”dengan meningkatkan standar kualitas pekerjaan agar tidak terjadi demosi pada karyawan. Kontribusi yang diberikan faktor ini sangat besar, hal ini dapat dilihat bahwa faktor tersebut mempengaruhi 3 (tiga) dari 4 (empat) perspektif kinerja yang dianalisis.


















8. REFERENSI
1. Martoyo (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE, Yogyakarta.
2. Werther Jr, William B. & Keith Davis, Human Resources and Personnel
Management, 5th Ed, New York 1996
3. Fisher, Cynthia D., Lyle F. Schoenfeldt, & James B. Shaw, Human Resource
Management, 2th Ed, Houghton Mifflin Company, 1993
4. Mulyadi (2001). Balance Scorecard. Salemba Empat, Jakarta.
5. Simamora, Henry. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi ke 2, Penerbit STIE YKPN,
tahun 1997
6. Siagian, Sondang P., Prof., Dr., MPA., Manajemen Sumber daya Manusia, Bumi
Aksara, Juni 2000.
7. Robbins, Stephen P. Organizational Behavior : Concepts, Controversies, and
Application, 9th edition, Prentice Hall Inc. 2001
8. Sunarto. SE., MM dan R. Sahedhy Noor SK., Drs., MM. Manajemen Sumber
Daya Manusia, BPFE-UST Yokayakarta dan Pena Persada. 2001.