Rabu, November 04, 2009

Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Perekonomian di Kawasan Wisata Bali Selatan (Studi Kasus Pada Pantai Labuan Sait Pecatu) (bagian 2)


Pada masyarakat setempat, dari hasil wawancara semua masyarakat senang adanya pengembangan pariwisata di daerah mereka, meningkatnya ekonomi masyarakat setempat memeberikan sinar terang untuk menyambung kehidupan yang lebih baik dan maju.

Bapak Wayan Kari adalah petugas parkir di areal parkir pantai labuan sait. Areal parkir ini di bangun pada tahun 1994 bantuan dari Pemkab badung, bersama di bangunnya akses jalan dan jembatan menuju Padang-padang dan pantai suluban. Beliau menyatakan perubahan yang dialami setelah adanya pariwisata adalah kesejahteraan masyarakat saat ini lebih baik ketimbang sebelum adanya pariwisata. Bapak wayan kari sebelumnya adalah seorang nelayan, dan usai melaut aktif tahun 1994. sebelum pariwisata masuk beliau mengatakan kehidupan di sini sangat susah sampai-sampai batang pohon pisang sebagai menu utama hidangan. Parkir di Pantai Labuan Sait dapat meraih pendapatan minimal pperharinya Rp50.000 dari hasil itu perbulannya bapak wayan kari menerima hanya 25% dari hasil kerja beliau dan 75% diserahkan ke Desa Pecatu

Photo 1 Wayan Kari sedang mengambil uang retribusi parkir sebesar 2000 untuk kendaraan roda empat dan 1000 untuk sepeda motor Photo di ambil tanggal 31 oct 2009

Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Perekonomian di Kawasan Wisata Bali Selatan (Studi Kasus Pada Pantai Labuan Sait Pecatu) (Bagian Pertama)

I. Latar Belakang

Kawasan Bali Selatan memiliki potensi wisata bahari yang sangat menjanjikan bagi peningkatan perekonomian Bali. Kawasan Bali Selatan sangat tepat dikembangkan sebagai sebuah kawasan wisata, karena pada umumnya kawasan Bali Selatan terdiri dari lahan-lahan yang kurang produktif, dan penduduknya pun berada dalam taraf perekonomian yang masih rendah. Pada umumnya penduduk di kawasan Bali Selatan hidup dari perkebunan dan nelayan. Namun sejak berkembangnya pariwisata di beberapa kawasan, misalnya : Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Kuta, terjadi peningkatan perekonomian yang sangat signifikan, dan pola mata pencaharian pun berubah mengarah pada sector pariwisata.Salah satu kawasan di Bali Selatan yang sedang naik daun, berkembang menjadi kawasan pariwisata adalah Pantai Labuan Sait Pecatu.

Desa pecatu yang terletak dikaki pulau Bali merupakan daerah perbukitan yang sangat kering dan tandus. Desa pecatu masuk dalam kecamatan Kuta selatan Kabupaten Badung saat ini desa pecatu termasuk wilayah yang berkembang karena pariwisatanya. Desa pecatu memiliki tiga banjar yaitu Banjar Kangin, Banjar Tengah dan Banjar Kauh. Melihat keadaan alam bukit pecatu yang sangat kering dan tandus dipenuhi tebing-tebing yang curam karang-karang yang tajam membuat oranjg-orang berpikir bagaimana orang-orang disini bisa bertahan hidup dulunya.

Daerah ini Bukit Pecatu dikenal wisatawan pertamakalinya oleh wisatawan minat khusus. Wisatawan datang pertamakalinya ke Bukit Pecatu pada tahun 60an, mereka datang untuk mencari surf point. Kim Bradley dan Jerry Lopez menemukan Bukit Peninsula sebagai surf spot di Bukit Pecatu. Di tahun 70an mulailah berdatangan wisatawan surfing ke Bukit pecatu sampai mereka membuat video Dokumenter yang dapat kita saksikan sampai saat ini. (http://www.baliblog.com/surfing)

Pantai Labuan Sait yang Berada di wilayah Banjar Kauh, pantai tersebut sangat trend/terkenal dikalangan wisatawan. Banyak wisatawan salah persepsi menyebut pantai Labuan Sait mereka lebih mengenal Pantai Padang-padang padahal pantai padang padang berjarak kira-kira 3 km dari pantai Labuan Sait. Kata labuat sait diberikan oleh masyarakat setempat karena pantai ini digunakan oleh para nelayan bukit pecatu untuk melaut dan menepi dari dulu. Kehidupan masyarakat pantai Labuan Sait sebelum pariwisata tumbuh sangat memprhatinkan, pekerjaan masyarakatdi labuan sait sebelum adanya pariwisata kebanyakan dari mereka bekerja sebagai nelayan, sebagai petani rumput laut dan sebagai peternak sapi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

“ Bagaimanakah dampak perekonomian akibat pengembangan pariwisata di Kawasan Bali Selatan, Khususnya pada Labuan Sait, Pecatu?

Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): TUGAS KASIR RESTAURANT DAN BAR

Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): TUGAS KASIR RESTAURANT DAN BAR

TUGAS KASIR RESTAURANT DAN BAR

Saudara bekerja sebagai seorang kasir restaurant dan bar, Pada Hotel Triatma Jaya Dalung, bekerja pada shift siang : 15.00-23.00 wita, Pada Tanggal : 10 November 2009 (Outlet: Room Service). Pada awal shift, housebank yang saudara terima dari shift sebelumnya sebesar Rp. 500.000,- berikut transaksi yang terjadi selama saudara bekerja :

2 Seafood Cocktail
2 Chicken Salad Hawaian
2 Paysanne Soup
2 Minestronne Soup
1 Large Beer
1 House Pouring Whiskey
Payment : Cash

2 Avocado Vinegraitte
2 Stuffed Egg Russian Salad
4 Fillet of Fish Meunierre
4Tiramisu
4Tequilla Sunrise
Payment : Room Charge
# 406, Mr/s Jack Harris & Fam

3 Fillet Steak Cafe de Paris
3 Rainbow
Payment : Visa ,
Card No : 1234 5678 9012 3456
Approval Code : 234567

2 Seafood Cocktail
2 Stuffed Egg Russian Salad
4 Shirloin Steak
4 Small Beer
Payment : Cash
Restaurant Check No : 1234001 s/d 1234099
Harga belum termasuk service charge 10% dan tax 11%,
Food Price :
Appetizer .................... Rp. 25.000,-
Soup ........................... Rp. 30.000,-
Main Course................ Rp. 70.000,-
Dessert......................... Rp. 40.000,- 2 Beverage Price :
Small Beer : ..........Rp. 25.000,-
Large Beer :...........Rp. 40.000,-
Housepouring :......Rp. 45.000,-/Oz
Cocktail :.......Rp. 100.000,-

Berdasarkan informasi di atas, kerjakanlah :
1. Restaurant Check..............(40 Poin)
2. Summary of Sales.............(30 Poin)
3. House Bank Report...........(20 Poin)
4. Cash Transmittal List........(10 Poin)

Kamis, Oktober 29, 2009

Mengukur Kepuasan Konsumen

Menurut Kotler (dalam Tjiptono, 2002 : 148 -50) cara mengukur kepuasan pelanggan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Sistem keluhan dan saran (complaint and sugestion system)
Perusahan yang berhubungan dengan langganan membuka kontak saran dan menerima keluhan-keluhan yang dialami oleh langganan yang ditempatkan ditempat-tempat strategis. Ada juga perusahaan membeli amplop yang telah dituis nama dan alamat perusahaan-perusahaan untuk digunakan menyampaikan saran atau keluhan serta kritik stelah mereka sampai ketempat asalnya. Saran-saran tersebut dapat juga disampaikan melalui kartu komentar. Informasi ni dapat memberikan ide-ide dan masukan kepada perusahaan yang memungkinkan perusahaan mengantisipasi terhadap kritik dan saran tersebut. Namun cara ini dapat dikatakan cenderung bersifat pasif, karena tidak semua pelanggan yang tidak puas akan menyampaikan keluahannya. Juga sebaliknya tidak banyak pelanggan yang mau memberikan saran yang berkualitas terlebih lagi tanpa adanya imbal balik yang memadai kepada mereka yang bersusah payah menyumbang ide atau saran kepada perusahaan.
2. Survei kepuasan pelanggan (customer satisfaction survey)
Tingkat keluhan disampaikan oleh konsumen tidak bisa disimpulkan secara umum untuk kepuasan konsumen pada umumnya. Umumnya penelitian mengenai kepuasan konsumen dilakukan melalui survey, melalui pos, elepon atau wawancara pribadi, mengirimkan angket-angket kosong ke orang-orang erentu. Melalui survai perusahaan akan memperole tyanggapan dan umopan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus memberikan tanda (signal positif) bahwa perusahaan menaruh perhatian terhaedap pelanggannya. Metde ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
a. Kepuasan yang dilaporkan secara langsung (directly reported satisfaction), yakni suatu pengukuran yang dilakukan secara langsung melalui pertanyaan, seperti ungkapan “seberapa puas saudara terhadap pelayanan PT. Phyrus Jaya, pada skala berikut : sangat puas, netral, puas, sangat tidak puas”
b. Ketidakpuasan yang irasakan (derived dissatisfaction), pertanyaan yang diajukan menyangkut dua hal utama, yakni besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang mereka rasakan.
c. Analisis masalah (problem analysis), pelanggan yang dijadikan responden diminta untuk mengungkapkan dua hal pokok.Pertama, masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan. Kedua, saran-saran untuk melakukan perbaikan.
d. Analisis pentingnya kinerja (informance-performance analysisis), cara ini diungkapkan oleh Martilla dan James dalam artikel yang dimuat dalam jurnal of marketing pada bulan Januari 1977, mereka diminta me-rangking berbagai elemen (atribut) dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut. Selain itu diminta me-rangking seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen/atribut tersebut.
3. Pembeli bayangan (guest shopping), perusahaan menyuruh orang tertentu pada perusahaan rtertentu atau perusahaannya sendiri untuk berperan sebagai pembeli/pelanggan ptensial produk perusahaan dan pesaing.
4. Analisis pelanggan yang beralih (lost customer analysis), perusahaan yang kehilangan langganan mencoba menmghubungi langganan tersebut dengan cara membujuk kenapa dia tidak menjadi pelanggan lagi. Yang diharapkan adalah diperolehnya informasi tentang penyebab terjadinya hal tersebut. Informasi yang diperoleh akan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan.
Hal-hal yang menyebabkan timbulnya ketidakpuasan konsumen (Alma, 2000:233), antara lain :
1. Tidak sesuai harapan dengan kenyataan yang dialami
2. Layanan selama proses menikmati jasa tidak memuaskan
3. Perilaku personil kurang menyenangkan
4. Suasana dan kndisi fisik lingkungan tidak menunjang
5. Biaya terlalu tinggi, karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang, harga terlalu tinggi
6. Promosi atau iklan terlalu muluk, tidak sesuai dengan kenyataan.

Penggolongan Kelas Hotel dan Kriteria Penggolongan Kelas Hotel

Penggolongan atau jenis-jenis hotel dijelaskan oleh United States Lodging Industry dalam Sulastiono (2001:26) dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1. Residential Hotel, adalah hotel dimana wisatawan tinggal lama (menetap) dan biasanya bangunannya menyerupai apartemen , menyediakan layanan yang diperlukan oleh penghuni, tersedia pula ruang makan dan bar.

2. Transit Hotel, adalah hotel yang diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan untuk bisnis, sehingga sering disebut commercial hotel, hotel ini biasanya terletak di dalam kota atau dipusat-pusat perdagangan.

3. Resort Hotel, adalah hotel yang bisanya menampung orang-orang yang melakukan perjalanan untuk berlibur (weekend) dan biasanya terletak ditempat-tempat peristirahatan seperti di pegunungan dan di daerah pantai.

Menurut Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No KM.3/HK.001/MKP.02 tentang penggolongan kelas hotel, hotel di Indonesia menurut jenisnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu : golongan kelas hotel berbintang dan golongan hotel kelas melati. Golongan kelas hotel menurut peraturan ini dapat dibedakan menjadi lima perjenjangan kelas, yaitu : hotel bintang satu sampai dengan hotel bintang lima. Golongan kelas hotel dapat ditingkatkan dan diturunkan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Setiap hotel berbintang maupun hotel melati dapat diberikan penghargaan (award) tambahan setelah memenuhi persyaratan dasar dalam kriteria penggolngan kelas hotel, yaitu “hotel berlian”. Dengan dikeluarkannya peraturan terbaru ini, maka akan ada hotel melati dengan kategori berlian, karena memenuhi persyaratan tambahan yang telah ditetapkan.

Adapun penghargaan tambahan tersebut meliputi aspek-aspek : (i) ramah lingkungan, (ii) sanitasi dan higiene, (iii) sumber daya manusia,(iv) penggunaan produk dalam negeri dan (v) pemberdayaan masyarakat sekitar.

Kriteria penggolongan kelas hotel menurut KEPMEN No KM.03/HK 001/MKP.02 dibagi menjadi dua, yaitu: atas dasar panilaian persyaratan dasar, dan atas dasar penilaian persyaratan teknis operasional.

1. Persyaratan dasar, merupakan unsur persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap hotel untuk dapat beroperasi. Unsur perlindungan publik ini diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyatakan dan kelayakan teknis operasional. Unsur ini meliputi:

a. Semua perijinan untuk suatu hotel, antara lain: ijin mendirikan hotel, dan usaha perhotelan.

b. Kelayakan teknis instalasi atau peralatan yang digunakn hotel, antara lain: lift dan instalasi listrik.

c. Sanitasi dan hygiene, pemeriksaan kualitas dan kuantitas air, pemeriksaan yang berkaitan dengan pengolahan makanan (food processing). Termasuk pemeriksaan kesehatan karyawan pengolahan makanan, sistem penyimpanan makanan/minuman.

2. Persyaratan teknis perasional, merupakan unsur persyaratan yang akan membentuk kualitas produk hotel dalam upaya pencapaian golongan kelas hotel. Unsur ini terdiri dari unsur (i) fisik, (ii) pengelolaan dan (iii) pelayanan, masing-masing unsur akan mempunyai persyaratan mutlak maupun tambahan. Persyaratan mutlak merupakan unsur yang harus dipenuhi sebagai persyaratan pokok bagi hotel untuk mendapatkan golongan kelas hotel bintang. Persyaratan tambahan merupakan unsur yang apabila dipenuhi akan memberikan nilai tambah untuk mencapai status golongan kelas lebih tinggi.

Pengertian Wisatawan

Menurut Undang-undang no 10 thn 2009 tentang kepariwisataan disebutkan wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. Sedangkan Sihite (2000:49) pengertian wisatawan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Wisatawan nusantara adalah wisatawan dalam negri atau wisatwan domestik.

2. Wisatawan mancanegara adalah warga negara suatu negara yang mengadakan perjalanan wisata keluar lingkungan dari negaranya (memasuki negara lain).

Menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization), dalam Gamal Suwantoro (2009:4) menggunakan batasan mengenai wisatawan secara umum: pengunjung (visitor) yaitu setiap orang yang datang ke suatu negara atau tempat tinggal lain dan biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan yang menerima upah. Jadi ada dua kategori mengenai sebutan pengunjung, yakni:

1. Wisatawan (tourist) adalah pengunjung yang tinggal sementara, sekurang-kurangnya 24 jam di suatu negara. Wisatawan dengan maksud perjalanan wisata dapat digolongkan menjadi :

a. Pesiar (leisure), untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, study, keagamaan, dan olahraga.

b. Hubungan (relationship), dagang, sanak saudara, kerabat, MICE, dsb.

2. Pelancong (ekscursionist) adlah pengunjung sementara yng tinggal dalam suatu negara yng dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa wisatawan adalah orang-orang yang melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan memperoleh kesenangan, tidak untuik bekerja, menetap, dan mencari nafkah.