Palembang, kota indah dimana pernah aku dibesarkan. Sampai saat ini, masih terkenang kenangan masa kecil, teman-teman dan setiap inci sudut kota yang sempat aku singgahi.
Biarlah foto-foto ini berbicara, melebihi kata-kata dan biarlah persepsi masing-masing menikmati setiap nuansa hasil jepretan fotographer super amatiran ini.
Foto-foto diambil Bulan Oktober 2013
RESEARCH OF BALI HOTEL AND TOURISM DEVELOPMENT Memuat tema seputar kepariwisataan dan perhotelan yang berhubungan dengan lingkungan, sosial budaya,hukum dan manajemen
Kamis, Mei 29, 2014
Palembang : Ampera, Pulo Kemaro, Benteng Kuto Besak
Labels:
Ampera,
Benteng Kuto Besak,
Palembang,
Pulo Kemaro
Berpikir dan menulis, berpikir dan menulis, menulis dan berpikir, berpikir dan berbuat, berbuat dan berpikir dan menulis
Wisata Pemandian Air Panas Alami
Di Bali, ternyata begitu banyak atraksi wisata yang ditawarkan. Selain atraksi budaya sebagai icon utama Bali, ternyata memiliki sumber air panas alami di beberapa tempat di Bali misalnya : (i)Air panas Jati Luwih, (ii)Air Panas Angsri, (iii)Air panas Banyu Wedang,(iv) Air Panas Sanih,(v) Air Panas Penatahan, (vi)Air Panas Toya Bungkah, dan (vii)Air Panes Penebel
Gambar 3. Wisatawan Grup
Gambar 4. Berendam Air Panas Menjaga Kesehatan Kulit
Gambar 5. Berendam Bersama Sahabat
Gambar 6. Investor Pemandian Air Panas
Gambar 7.Wisatawan Samoa
Gambar 8.Suasana Jacuzi
Gambar 9. Suasana Jacuzi 2
Gambar 10. Fasilitas Makan dan Minum
Gambar 11. Danau Batur, Kintamani
Gambar 12.Fasilitas Penunjang Lainnya
Harga Tarif Masuk ke Pemandian Air Panas ini Rp.60.000,- mendapat loker, gazebo, handuk dan shampo.
Nama Obyek : Bali Natural Hot Spring, Toya Bungkah, Kintamani, Bangli
Semua Gambar di ambil Tahun 2014 Bulan Mei Tanggal 27
Gambar 2. Wisatawan Portugal (Celana Biru) Menikmati Suasana
Gambar 3. Wisatawan Grup
Gambar 4. Berendam Air Panas Menjaga Kesehatan Kulit
Gambar 5. Berendam Bersama Sahabat
Gambar 6. Investor Pemandian Air Panas
Gambar 7.Wisatawan Samoa
Gambar 8.Suasana Jacuzi
Gambar 9. Suasana Jacuzi 2
Gambar 10. Fasilitas Makan dan Minum
Gambar 11. Danau Batur, Kintamani
Gambar 12.Fasilitas Penunjang Lainnya
Nama Obyek : Bali Natural Hot Spring, Toya Bungkah, Kintamani, Bangli
Semua Gambar di ambil Tahun 2014 Bulan Mei Tanggal 27
Berpikir dan menulis, berpikir dan menulis, menulis dan berpikir, berpikir dan berbuat, berbuat dan berpikir dan menulis
Penjor Galungan
Galungan merupakan hari raya besar umat beragama Hindu di Bali untuk meperingati dan merayakan kemenangan antara Dharma (Kebajikan) melawan Adharma (Kebathilan) yang diinspirasi oleh menangnya Dewa Indra (simbol kebajikan) terhadap Raja Maya Denawa (simbol Atheis, kebathilan) pada masa Mpu Kul Putih di Bali. Salah satu cirikhas perayaan Galungan adalah adanya Penjor yang dipasang di depan rumah, pintu masuk sebelah kanan pada setiap rumah umat.
Penjor merupakan simbol Gunung, yang memberikan kesejahteraan bagi manusia. Penjor juga melambangkan Ista Dewata. Untuk membuat penjor dibutuhkan peralatan dan perlengkapan berupa : Bambu lengkung, janur, padi, buah pisang, buah kelapa, sampian penjor, dan sanggah cucuk.
Saat ini membuat penjor bukanlah merupakan hal yang rumit, karena semua bahan sudah tersedia di pasar. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat penjor sangat relatif, mulai dari tanpa biaya,sampai jutaan rupiah. Untuk kawasan Denpasar, sebuah penjor perumahan menelan biaya rata-rata Rp.100.000,- s/d Rp.500.000,- bahkan ada pula menelan biaya sampai jutaan rupiah semua tergantung kemampuan dari umat. Tidak ada yang mengharuskan untuk membuat penjor, tapi membuat penjor pada saat Galungan merupakan kebiasaan yang muncul dari hati sebagai perwudan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta ciptaanNya yang telah memberikan kehidupan bagi umat manusia.
Membuat Penjor dapat membangkitkan kreatifitas, kebersamaan dan kerukunan rumah tangga/keluarga. Biasanya dalam satu natah (pekarangan) hanya cukup membuat satu penjor saja. Penjor dibuat dengan semangat gotong royong, tulus ikhlas, yang mampu membantu yang kurang mampu.
Penjor yang terpampang pada Blog ini diambil pada kawasan Desa Lebih, Klungkung, seminggu setelah Galungan pada Tanggal 27 Mei 2014.
Labels:
Penjor Galungan,
Penjor Galungan 2014
Berpikir dan menulis, berpikir dan menulis, menulis dan berpikir, berpikir dan berbuat, berbuat dan berpikir dan menulis
Rabu, April 02, 2014
Ogoh Ogoh 2014
Bali adalah pulau seni. Fenomena ini dapat kita lihat pada saat perayaan menyambut Tahun Baru Caka, yang pada umumnya terjadi pada bulan Maret. Pada Tahun 2014 ini, ogoh-ogoh yang diproduksi masing-masing banjar memang tidak semeriah Tahun 2014. Hal ini disebabkan karena isu menjelang pemilu, dikhawatirkan menimbulkan kericuhan, karena arak-arakan ogoh-ogh dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusuhan antar anak muda.
Sebagai orang Bali, kita sangat bangga karena mewarisi darah seni dari leluhur kita. Seni yang membuat Bali menjadi HIDUP. Seni yang membuat uamtnya semakin dekat kepada Pencipta. Seni yang terwujud dalam kreativitas, dan bukan hanya pemanis bibir.

Labels:
nyepi 2014,
Ogoh ogoh 2014
Berpikir dan menulis, berpikir dan menulis, menulis dan berpikir, berpikir dan berbuat, berbuat dan berpikir dan menulis
Selasa, April 01, 2014
Pantai Kedungu, Perawan di Tangan Penyamun
Pariwisata,
Pisau Bermata Dua
Pariwisata merupakan
sektor yang didengungkan di Bali sebagai motor penggerak perekonomian.
Perkembangan pariwisata di Bali semenjak era 90-an seperti euphoria, merubah
setiap sudut kehidupan masyarakat Bali. Fenomena ini sungguh sangat terasa saat
ini, terutama jika kita menyempatkan diri untuk memperhatikan secara seksama
perubahan taraf hidup masyarakat lokal di sekitar kawasan Sanur, Nusa Dua,
Jimbaran, Kuta, dan Ubud. Sungguh terasa gemerlap dan nikmatnya kue pariwisata
benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat lokal di kawasan tersebut. Sebagian
besar masyarakat lokal di kawasan tersebut sudah menjadi milyarder dengan
semangat entrepreneur yang tinggi.
Namun, pariwisata bagai
pisau bermata dua, di satu sisi memberikan madu, di sisi yang lain memberikan
racun yang cukup mematikan. Gemerlap pariwisata di Bali membuat investor kelas
kakap tingkat nasional maupun internasional menjadikan Bali sebagai media
investasi yang sangat strategis. Proses pembebasan tanah pada masa lampau yang
dilakukan investor dengan oknum pemerintah mengakibatkan hilangnya hak
pengelolaan tanah di Bali oleh masyarakat lokal. Dibeberapa lokasi, seolah Gumi
Bali, bukan milik masyarakat Bali lagi.
Perawan
di Sarang Penyamun
Kalau mau melirik pada kawasan
pesisir barat daya Pulau Bali, sebagian besar pantai mulai dari Uluwatu
sampai Tanah Lot dan sekitarnya sudah tidak lagi milik Orang Bali. Beberapa
sumber menyatakan bahwa pembebasan tanah pada kawasan Uluwatu – Tanah Lot dan
sekitarnya sudah dilakukan pada era 80 an. Pada saat itu masyarakat lokal
mengalami intimidasi dari penguasa untuk melepaskan tanahnya, tentunya dengan
harga yang tidak tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat lokal pada saat itu
harus mau melepas kepemilikan tanahnya kepada investor.
Pantai Kedungu, yang
terletak di Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali merupakan
sebuah pantai dengan panjang 500 meter dengan ombak yang sangat cocok untuk
aktifitas berselancar/ surfing. Pantai ini terletak sangat strategis di sebelah
barat Tanah Lot dan Pantai Pangkung
Tibah. Saat ini Pantai Kedungu sudah sangat dikenal oleh para peselancar di
manca negara, sehingga tak heran kalau setiap hari ada saja peselancar yang
beraktifitas di pantai tersebut. Hal ini menumbuhkan rasa bangga bagi
masyarakat setempat karena wilayahnya sudah di kenal luas dan menjadi
perbincangan para peselancar dunia. Sayang sekali, rasa sesal muncul pada wajah
masyarakat lokal ketika mereka sadar bahwa wilayah pesisir mereka sudah tidak
dapat mereka kelola karena sudah dimiliki para investor.
Saat ini masyarakat
lokal di Desa Belalang hanya menyimpan harapan, semoga para investor yang telah
memiliki tanah leluhur mereka mau berbaik hati untuk segera mengembangkan
kepariwisataan di Pantai Kedungu. Memang, saat ini investor yang memiliki lahan
di Pantai Kedungu memberikan ijin bagi masyarakat lokal untuk melakukan
aktivitas keagamaan, memberikan kesempatan untuk mempekerjakan lahan pertanian
di sekitar pantai untuk ditanami padi, memberikan wewenang bagi desa adat untuk
mengelola wilayah Pantai Kedungu untuk pengadaan fasilitas makan dan minum.
Namun secara keseluruhan, apa yang diberikan investor bagi masyarakat lokal
belum dapat dikatakan mensejahterakan.
Pantai Kedungu sangat
potensial untuk dikembangkan untuk dapat menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Tabanan,
karena memiliki :
- Attractions
Pantai
Kedungu memiliki (i) ombak yang besar dan cocok untuk kegiatan berselancar,
(ii) Pemandangan laut lepas, cocok untuk kegiatan santai, relaksasi dan
meditasi, (iii) kegiatan ritual yadnya yang merupakan daya tarik wisata budaya,
(iv) perjalanan menuju Pantai Kedungu melalui areal persawahan yang luas dan
indah
- 2. Accesibility
Jalan
masuk ke Pantai Kedungu, sudah tersedia beraspal, dengan lebar 6 meter
- 3. Community Involvement
Masyarakat
lokal setempat sangat mengharapkan para investor untuk segera mengembangkan
kepariwisataan di Pantai Kedungu. Sampai saat ini tidak ada konflik dengan
wisatawan yang berkunjung ke wilayah Pantai Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan
Kediri, Kabupaten Tabanan.
Gambar 2 Potensi Wisata Pantai Kedungu
Upaya
Kedepan
Sungguh miris, jika
melihat keadaan kehidupan masyarakat lokal di Pantai Kedungu saat ini. Miris,
bukan berarti masyarakat lokal hidup serba kekurangan, tetapi betapa banyaknya
kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan sebagai akibat
beralihnya kepemilikan lahan dari tangan masyarakat lokal kepada investor. Jika
berandai-andai, seharusnya saat sebagian besar masyarakat lokal sudah menjadi
milyarder akibat naiknya harga tanah di wilayahnya. Sedikit tidaknya ,
masyarakat sudah dapat mengelola tanah warisan leluhurnya untuk dapat
meningkatkan kesejahteraan, misalnya : disewakan, atau mulai mengembangkan
usaha akomodasi seperti penginapan, kos-kosan. Namun semuanya seperti tidak
mungkin, karena kenyataannya masyarakat lokal sebagian besar hanya menjadi
petani penggarap, yang menggarap tanah leluhurnya yang kini sudah dimiliki
investor. Akibat penghasilan yang kurang mencukupi,masyarakat lokal saat ini
masih ada yang menjual tanahnya kepada investor.
Memang tidak mudah
menyelamatkan “sang perawan” (Pantai Kedungu) dari tangan “penyamun”(investor),
karena lahan-lahan strategis di pesisir sudah bukan milik masyarakat lokal.
Tapi masih ada secercah harapan, upaya pendekatan pada pihak investor mayoritas
yang menguasai lahan pesisir sangat perlu dilakukan, dengan harapan investor
mayoritas memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut serta mengembangkan
kepariwisataan dengan konsep community
based tourism, pro poor tourism dan green
tourism. Pemerintah semestinya berpihak pada masyarakat lokal dengan
peraturan-peraturan yang mampu mencegah investor untuk bertindak
sewenang-wenang, membangun usaha tanpa memikirkan keberlanjutan dan kelestarian
lingkungan setempat. Penyuluhan sadar wisata kepada masarakat lokal juga sangat
perlu dilakukan, karena lokasi Pantai Kedungu yang sangat strategis dan potensi
wisata yang luar biasa. Perlu diadakan diskusi antar kelompok akademisi,
pengusaha, pemerintah dan masyarakat lokal, untuk dapat memberikan jalan keluar
mengenai bagaimana seharusnya Pantai Kedungu dikelola demi kesejahteraan
masyarakat lokal.
Berpikir dan menulis, berpikir dan menulis, menulis dan berpikir, berpikir dan berbuat, berbuat dan berpikir dan menulis
Langganan:
Postingan (Atom)










