Rabu, Februari 03, 2010

Bentuk dan Jenis Pariwisata

I. PENDAHULUAN

Perkembangan pariwisata melaju seiring dengan perkembangan tehnologi. Dengan membaiknya tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat mendorong berkembangnya kegiatan pariwisata ke bentuk – bentuk dan jenis – jenis kegiatan yang lebih bervariasi atau beragam. Usia, status sosial tingkat ekonomi juga mempengaruhi seseorang untuk memiih bentuk dan jenis – jenis kegiatan wisata apa yang diminatai atau yang memuhi selera mereka. Dari sinilah lahir berbagai bentuk dan jenis – jenis pariwisata.

II. BENTUK – BENTUK PARIWISATA

Setelah kita mempelajair dasar pemikiran tentang konsep atau definisi pariwisata dan wisatawan, maka perlu kiranya kita juga membicarakn tentang bentuk – bentuk wisata utnuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai industri ini. Bentuk – bentuk ini dapat dibagai menurut katagori berikut ini :

  1. Menurut asal wisatawan

Pertama – tama perlu diketaui apakah asal wisatawan dari dalam maupun dari luar negeri. Kalau asalnya dri dalam negeri sendiri berarti bahwa sang wisatawan ini hanya pindah tempat sementara di dalam lingkungan wilayah negerinya sendiri selama ia mengadakan perjalanan, maka ini dinamakan pariwisata domestik. Sedangkan kalau ia darang dri lura negeri dinamakan pariwisata Internasional.

  1. Menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran

Kedatangan wisatawan dari luar negeri adalah membawa mata uang asing. Pemasukan valuta asing ini berarti memberi efek positif terhadap neraca pembayaran luar negeri suatu negara yang dikunjungi wisatwan, ini disebut pariwisata akktif. Sedangkan kepergian seorang warganegara ke luar negeri memberikan efek negatif terhadap neraca pembayaran luar negri negaranya, ini disebut pariwisata pasif.

  1. Menurut jangka waktu

Kedatangan seorang wisatawan di suatu tempat atau negara diperhitungkan pula menurut waktu lamanya ia tinggal di tempat atau negara yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan istilah pariwisata jangka pendek dan pariwisata jangka panjang, yang mana tergantung pada ketentuan – ketentuan yang diberlakukan oleh suatu negara untuk mengukur panjang atau pendeknya waktu yang dimaksud.

  1. Menurut Jumlah Wisatawan

Perbedaan ini diperhitungkan atas jumlah wisatwan yang datang, apakah wisatwan itu datangs endiri, atau dalam suatau rombongan. Maka timbullah istilah pariwisata tunggal dan pariwisata rombongan.

  1. Menurut alat angkut yang dipergunakan

Kategori ini dapat dibagi menjadi pariwisata udara, pariwisata laut, pariwisatakereta api dan mobil, tergantung apakah sang wisatwan tiba dengan pesawat udara, kapal laut, kereta api, atau mobil.


III. JENIS – JENIS PARIWISATA

1. Wisata Budaya.

Ini dimaksudkan dengan perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan unutk mempluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mngadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan, dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka budaya, dan seni mereka. Sering perjalanan seperti ini disatukan dengan kesempatan – kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan – kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, drama, musik, dan seni suara) atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

2. Wisata Kesehatan.

Hal ini dimaksudkan dengan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk meninggalkan keadaan lingkungan tempat sehari – hari dimana ia tinggal demi kepentingan beristirahat dalam arti jasmani dan rohani dengan mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas yang mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang mempunyai iklim udara menyehatkan atau tempat – tempat yang menyediakan fasilitas – fasilitas kesehatan lainnya.

3. Wisata Olahraga

Ini dimaksudkan dengan wisatwan – wisatwan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolah raga atau menghadiri pesta olahraga di suatu tempat atau suatu negara seperti : Aisan Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber Cup, dan lain – lain. Olah raga lain yang tidak termasuk dalam pesta olahraga atau games misalnya : berburu, memancing, berenang, dan berbagai cabang olehraga di ddlam air atau di atas pegunungan.

4. Wisata Komersial.

Yang termasuk dalam wisata komersial ini adalah mengunjungi pameran – pameran dan pekan raya yang bersifat komersial seperti pameran industri, pameran dagang, dan sebagainya. Pada mulanya banyak orang berpendapat bahwa hal ini tidak dapat digolongkan dalam dunia kepariwisataan dengan alasan bahwa kegiatan perjalanan untuk pameran atau pekan raya ini hanya dilakukan oleh orang – orang yang khusus mempunyai urusan bisnis. Tetapi dalam kenyataannya pada dewasa ini dimana pameran atau pekan raya banyak sekali dikunjungi oleh orang – orang kebanyakan dengan tujuan ingin melihat – lihat yang membutuhkan fasilitas akomodasi dan transportasi. Dis amping itu dalam pekan araya atau pameran biasanya dimeriahkan dengan berbagai atraksi atau pertunjukasn kesenian. Itulah sebabnya wisata komersial ini menjadi kenyataan yang sangat menarik dan menyebabkan kaum pengusaha angkutan dan akomodasi membuat rancangan – rancangan istimewa untuk keperluan tersebut.

5. Wisata Industri

Wisata industri ini erat hubungannya dengan perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiwa, atau orang – orang awam ke suatu kompleks atau daerh perindustrian dimana terdapat pabrik – pabrik atau bengkel – bengkel besar dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan penelitian atau peninjauan. Jenis kegiatan ini banyak dilakukan di negara – negara maju dimana masyarakat memiliki kesempatan untuk mengadakan keunjungan ke daerah – daerh atau kompleks pabrik industri.

6. Wisata Politik.

Jenis wisata ini meliputi perjalanan yang dilakuka untuk mengunjungi atau mengambil bagian dalam peristiwa kegiatan politik misalnya perayaan 17 Agudtud di Jakarta, perayaan 10 Oktober di Moskow penobatan Ratu Inggris di London dan sebagainya. Biasanya fasilitas akomodasi, dan transportasi serta berbagai atrakasi diadakan secara meriah bagi para pengunjung. Disamping itu yang termasuk dalam kegiatan wisata politi adalah peristiwa – peristiwa penting seperti : konfrensi, musyawarah, kongres, atau konvensi politik yang selalu disertai dengan kegiatan darmawisata.

7. Wisata konvensi

Berbagai negara dewasa ini membangun wisata konvensi dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan – ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi, atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun Internasional. Misalnya di Jerman Barat memiliki International Congress Center di Berlin, filipina mempunyai Philippine International convention Center (PICC) di Manila, Indonesia memiliki Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk penyelenggaraan sidang – sidang pertemuan yang besar dengan perlengkapan yang modern.

8. Wisata sosial

Yang dimaksud dengan wisata ini adalah pengorganisasian suatu perjalanan yang murah dan mudah untuk memberi kesempatan kepada masyarakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan, seperti misalnya kamum buruh, pemuda, pelajar, mahasiswa, petani, dan sebagainya.Organisasi ini berusaha untuk membantu mereka yang mempunyai kemampuan terbatas dari segi finansial untuk dapat memanfaatkan waktu libur atau cuti sehingga dapat menambah pengalaman dan memeperbaiki kesehatan jasmaniah dan mental mereka.

9. Wisata Pertanian

Seperti halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek – proyek pertanian, perkebuinann, ladang pembibitan, dan seabgainya dimana wisatawan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun untuk sekedar menikmati aneka macam tanaman.

10. Wisata maritim (bahari)

Jenis wisata ini biasanya dikaitkan dengan kegiatan oleh raga di air, danau, pantai, teluk, dan laut. Misalnya : memancing, berlayar, menyelem sambil melakukan pemotretaan, kompetisi berselancar, mendayung, berkeliling melihat – lihat taman laut dengan pemandangan yang indah.

11. Wisata Cagar Alam

Untuk jenis wisata ini biasanya diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhusukan usaha – usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerh cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan, dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang – undang. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh – tumbuhan yang jarang ditemukan di tempat lain.

12. Wisata Buru

Jenis wisata ini banyak dilakukan di negeri – negeri yang banyak memiliki daerah atau hutan berburu yang diperbolehkan oleh pemerintah dan digalakkan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safri buru ke daerah hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Seperti di Afrika berburu gajah, singa, jerapaaah, dan sebagainya. Di Indonesia pemerintah membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana wiatwan boleh menembak banteng dan babi hutan.

13. Wisata Pilgrim

Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata pilgrim banyak di lakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat –tempat suci, ke makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau pegunungan yang dianggap keramat. Wisata pilgrim ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu , kekuatan batin, keteguhan iman, dan tidak jarang untuk memperoleh berkah dan kekayaan yang melimpah. Misalnya : orang – orang Khatolik melakukan wisata pilgrim ini ke istana Vatikan di roma, orang – orang Islam ke tanah suci, orang – orang Budha ke tempat – tempat suci di India, Nepal, tibet dan sebagainya. Di tanah air kita banyak tempat – tempat suci atau keramat yang dikunjungi umat – umat agama tertentu misalnya Candi borobudur, Prambanan, Pura Besakih di Bali, Sendang Sono di Jawa tengah, Makan Wali Songo, Makan Bung Karno, dan sebagainya.

14. Wisata Bulan Madu

Wisata bulan madu adalah suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu dengan fasilitas – fasilitas khusus seperti misalnya kamar pengantin di hotel yang khusus disediakan dengan peralatan serba istimewa dekorasi dinding yang berslera tinggi, cermin besar di berbagi sudut, dan fasilitas lain yang menimbulkan kesan romantis bagi yang menikmati kamar tersebut.

Jenis – jenis wisata ini dapat berkembang lebih banyak tergantung pada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau suatu negara. Makin kreatif dan banyak gagasan yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi kemajuan industri ini.

Dampak Baik dan Buruk dari Pariwisata

Di Indonesia istilah pariwisata baru di mulai pada awal Tahun 1960-an. Istilah pariwista diperoleh dari kebudayaan intelektual atas permintaan Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamongku Buwono IX selaku ketua DTI (Dewan Tourism Indonesia) di Tahun 1960 – an itu. Secara terpisah dua orang budayawan Indonesia waktu itu dimohon memberikan pertimbangan yaitu prof. Mr . Moh. Yamin dan Prof. Dr. Pritono, yang mmberi istilah pariwisata untuk mengganti istilah tourism atau travel, yang konotasinya bisa terkait denga selera rasa placasure, excitemcnt, intertainment. Adventure dan sejenisnya.
Istilah peristiwa terlahir dari bahasa sanseketa yang komponennya teori dari :
Pari ( = ) penuh, lengkap, berkelilng
Wis ( man ) =) rumah, property, kampung, komunitasi
Ata = ) pergi terus menerus, mengembara (roaming about) yang bila dirangkai menjadi satu kata melahirkan istilah pariwisata, yang berarti : pergi secara lengkap meninggalkan rumah (kampung) berkelingling terus menerus. Dalam oprasionalnya istilah pariwisata sebagai pengganti istilah asing tourism atau travel diberi makna oleh pemerintah Indonesia. “ Mereka yang meninggalkan rumah untuk mengadakan perjalanan tanpa mencari nafkah di tempat – temapt yang dikunjungi sambil menikamati kunjungan mereka”.
Dengan lahirnya istilah pariwisata, maka dewan Tourism Indonesia resmi tampil dengan nama Dewan Pariwisata Indonesia (DPARI) pada tanggal 16 Agustus 1961 dirayakan di jalan Diponogoro 25 Jakarta Pusat sebagai Kanor Pusat Depari. Pariwisata di Indonesia mulai tampil ke depan sejak di bangunya hotel – hotel besar di Indonesia , seperti Jakarta, Bali, Jogyakarta, Pelabuhan Ratu pada awal Tahun 1960 – an. Kemudian disusul dengan hotel – hotel lain di berbagai kota besar di Tanah air.
Mulai terasa kebutuhan tenaga terampil dalam jumlah cukup banyak. Guna mengatasinya, perlu tenaga – tenaga terlatih dan terdidik (baik pendidikan formal maupun non formal) muncul lembaga (sekolah atau akademi) yang bergerak di bidang ini untuk mengisi kebutuhan akan tenaga - tenga dimaksud.
Pariwisata sebagai ilmu merupakan kegiatan manah (pikiran + perasaan ) manusia mengenai berbagai hal atau sesuatu apa saja, termasuk pariwisata.
Seperti halnya seni – agama – falsafah – teknologi, pariwisata menyangkut sejarah dan perkembangannya.
Ilmu adalah sikap hidup manusia terhadap hidup itu sendiri, dunia dan alam semesta. Yang terus tidak pernah berhenti dan selalu bergerak hidup (tidak pernah berhenti).
Pada awalnya pariwisata adalah mengadakan perjlanan, di sebut traveltourism. Di zaman Yunani kuno (600 SM – Tahun 200 M) menakukan perjalanan, di kerjakan oleh para ahli piker dan guru dari satu temapat ke tempat lainnya.
Pada pertengahan abad yang lalu, dengan adanya alat angkutan kereta api di eropa (Khususnya di inggris ). Mengadakan perjalanan mempunyai bentuk yang agak jelas denga rahirnya sejenis biro perjalanan mempunyai bentuk yang agak jelas dengan lahirnya. Sejenis biro perjalanan oleh Thomas Cook, seperti kemudian apa yang kita namakan pariwisata, sedangkan di Indonesia dimulai secara kecil – kecilan oleh kegiatan KPM (Koninklijkc Paketuaart Maatschhappij)
Sebagai industri pariwista tidak pernah mengambil alih kedudukan industri lain. Bahkan saling mengisi. Perluasan lapangan kerja. Dampak terhadap pendapatan Negara.
Perlengkapan dan produk pariwisata terbagi dalam katagori perusahaan utama yang langsung dan sekuder. Faktor – faktor lain yang berkitan dengan pariwisata adalah pertumbuhan riil, tersedianya anggaran bagi masa libur / cuti karyawan atau eksekutif, peraturan devisa / nilai tukar uang antara Negara yang menerima dan Negara asal wisatawan. Bagi wisatawan domestik di bandingkan wisatawan internasional kebutuhan akan atraksi dan pengadaannya, kebijakan angkutan udara, izin mendarat dan harga tiket, pemasaran dan promosi dalam dan luar negeri serta sikap masyarakat setemapt terhadap wisatawan.
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat. Sehingga membawa berbagai dampaik terhadap masyarakat setemapat.

Dampak Sosial Pariwisata

Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setemapat. Bahkan pariwisata dikatakan mempunyai energi dobrak yang luar biasa, yang mampu membuat masyarakat setemapt mengalami metamorphose dalam berbgai aspeknya.
Dampak pariwisata merupakan wilayah kajian yang a;ling banyak mendapatkan perhatian dalam interratur, terutama dampak terhadap masyarakat lokal. Di dalam pihak dampak pariwisata terhadap wisatawan atau asal dari wisatawan belum banyak perhatian. Meskipun pariwisata juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat secara poitik, keamanan dan sebagainya. Dampak pariwisata terhadap masyarakat dan daerah tujuan wisata yang banyak mendapat ulasan adalah :

A. Damapak Terhadap Sosial – Ekonomi
Damapak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikatagorikan menjadi delapan kelompok besar (cohen 1984) yaitu :
1. Dampak terhadap penerimaan devisa
2. Dampak terhadap kesempatan kerja
3. Dampak terhadap harga – harga .
4. Dampak terhadap pendapatan masyarakat
5. Dampak terhadap distribusi manfaat / keutuntungan
6. Dampak terhadap kepemilikan dan control
7. . Dampak terhadap pembangunan pada umumnya dan
8. . Dampak terhadap pendapatan pemerintah



B. Dampak Sosial Budaya
Secara teoritikal – idialistis, antara dampak sosial dan dampak kebudayaan dapat dibedakan. Namun demikian, Mathieson and Wall (1982 : 37 ) menyebutkan bahwa “ there is no clear distinction between sosial and cultural phenomena” sehingga sebagaian para ahli mengabungkan dampak sosial dan dampak budaya di dalam pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial budaya akibat kedatangan wisatawan. Dengan tiga asumsi yang umum yaitu : (Martin . 1998 : 171) :
1. Perubahan dibawa sebagai akibat adanya instruksi dari luar, umumnya dari sistem sosial budaya yang subordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah.
2. Perubahan tersebut akan umumnya destruktif bagi budaya indigenous :
3. Perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya. Dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokarasi nasional dan multinasional, a, consumeroriented economy, dan jet age lifestyle.
Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokan dampak sosial budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok besar yaitu :
1. Dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantunganya
2. Dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.
3. Dampak terhadap dasar – dasar oranisasi / kelembagaan sosial.
4. Dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata
5. Dampak terhadap ritme kehidupan masyarakat sosial masyarakat
6. Dampak terhadap pola pembagian kerja
7. Dampak terhadap strafikasi dan mobilitas sosial.
8. Dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan .
9. Dampak terhadap meningkatkan penyimpangan – penyimpangan sosial
10. Dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat
Dampak pariwisata terhadap bidang kesenian, adat istiadat dan dampak keagamaan mungkin paling menarik untuk dibahas, karena aspek budaya ini merupakan modal dasar pengembangan pariwisata. Pengaruh terhadap aspek – aspek ini bisa terjadi secara langsung karena adanya proses komiditifikasi terhadap berbagai aspek kebudayaan, atau terjadi secara tidak langsung melalui proses jangka panjang.
Sementara banyak khawatir terjadinya proses kehilangan otentisitas dalam budaya lokal.
Bagi Urry (1990), kebudayaan memang selalu beradaptasi, termasuk dalam menghadapi pariwisata, dan di dalam proses tersebut tidak berarti makna atau otentisitasnya otomatis hilang. Akutansi merupakan proses yang wajar dalam setiap pertemuan antara budayanya.
Menurut Cohen (1988), terjadinya dampak negatif akibat adanya komoditisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pariwisata telah merusak atau menghancurkan kebudayaan lokal. Pariwisata secara tidak langsung memaksa ekspresi kebudayaan lokal untuk di modifikasi. agar sesuai dengan kebutuhan pariwista. Ekserasi budaya di komunikasikan agar dapat di jual kepada wisatawan.
Untuk pariwisata Indonesia khususnya daerah Bali banyak yang mengkhawatirkan akan terjadi pengikisan kebudayaan akibat kebudayaan asing yang menyerbu masuk yang menyebabkan terjadinya pendangkalan terhadap kualitas kebudayaan Bali serta hilangnya bentuk – bentuk sosial yang telah terbukti mampu menopang integritas dengan kehidupan tradisional masyarakat.

Di Indonesia, pariwisata telah menampilkan peranananya dengan nyata dalam memberikan kontribusi terhadap kehidupan ekomomi, sosial dan budaya bangsa. Kesempatan kerja bagi orang – orang terampil di bidang ini makin bertambah jumlahnya. Pendapatan Negara Negara dari sektor ini main baik, kebudayaan bangsa makin memperoleh apresiasi. Pariwisata sebagai industri makin berkembang, dibuktikan dengan makin banyaknya hotel. Pendidikan keterampilan untuk keperluan tersebut, pesawat udara, gerbong kereta api, bis dan taksi untuk keperluan wisatawan. Pariwisata sebagai ilmu akan tumbuhan apabila ia dikembangkan dan dipelihara. Struktur dan fungsinya dapat di pelajarai dari sejarah perkembangannya dan diluaskan ruang lingkupnya sehingga menjadi faktor pendorong bagi kemajuan bangsa Indonesia yang memiliki potensi sangat besar.

Dampak Positif dan Negatif Pariwisata di Bali

A. Dampak Terhadap Ekonomi
1. Dampak Positif :
- Terciptanya lapangan kerja
- Meningkatkan devisa Negara
- Meningkatakan pendapat daerah khususnya daerah – daerah wisatawan
- Mendorong bangkitnya industri perhotelan (pembangunan)
- Diversifikasi Usaha
- Meningkatkan bursa saham (meningkatkan aktifitas ekonomi)
- Meningkatkan frekuensi penggunaan alat – alat transportasi

2. Dampak Negatif
- Timbulnya kesenjangan sosial
- Timbuknya persaingan usaha
- Menurunya nilai tukar rupiah
- Harga barang melambung tinggi
- Menurunnya lapangan pekerjaan di bidangnya selain dunia pariwisata

B. Dampak Terhadap Budaya
1. Dampak Positif :
- Percampuran budaya melalui informasi dan teknologi
- Percampuran Ras
- Masyarakat terpacu untuk melestarikan budayanya sebagai motivasi wisatawan untuk berwisata kedaerahan
- Wisatawan terpacu untuk mempelajari nilai – nilai budaya dari objek yang dikunjungi yang didapatkan ke Negara asalnya sehingga objek wisata itu menjadi terkenal

2. Dampak Negatif
- Perasaan tidak senang dari penduduk karena kedatangan para wisatawan yang dianggap mengganggu ketengangan masyarakat setempat
- Peniruan budaya asing yang berlebihan oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat setempat
- Lunturnya kebudayaan – kebudayaan yang ada
- Adannya komersialisasi kebudayaan yang tujuan semata – mata untuk mencari keuntungan yang pada hakekatnya mengurangi citra dan nilai upacara bagi penduduk yang bersangkutan
- Komoditasi seni rupa yaitu adanya kecenderungan pembeli yang pada akhirnya mengurangi penghayatan terhadap nilai budaya tradisional
- Masyarakat terpacu untuk mempelajari bahasa asing sehingga bahasa daerah dilupakan








C. Dampak Terhadap Lingkungan
1. Dampak Positif
- Timbuhnya niat untuk melestarikan lingkungan dari masyarakat
- Tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih.
- Tumbuhannya kesadaran masyarakat untuk menjaga keindahan lingkungan sehingga menarik minat wisatawan untuk melakukan perjalanan pariwisata ke daerah wisata mereka
- Mulai datangnya duta – duta asing wisatawan
- Meningkatkan fasilitas umumya untuk kebutuhan wisatawan
- Reboisasi (penghijauan)

2. Dampaik Negatif
- Adanya pencemaran limbah akibat dari limbah industri hotel
- Timbulnya penyakit – penyakit asing yang dibawa oleh para wisatawan di lingkungan pariwisata
- Berkurangnya minat wisatawan untuk mengunjungi objek wisata karena lingkungan yang tidak nyaman
- Rusaknya lingkungan masyarakat akibat pergaulan orang asing yang berlebihan
- Sempitnya areal pertanian
- Perburuan binatang secara liar
- Berkurangnya lahan hijau
- Timbulnya polusi seperti polusi udara dan suara
- Terbangunnya fasilitas – fasilitas perhotelnya yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan
- Penebangan hutan secara liar

Latar belakang masalah Pariwisata Indonesia pada saat ini mengalami kondisi pasang surut akibat beberapa hal. Mulai dari bom yang mengguncang Indonesia, terutama Bali sampai dengan krisis global yang baru – baru ini menjadi perbincangan hangat di beberapa kalangan. Pariwisata sendiri sebuah industri yang berkembang dengan melibatkan berbagai komponen. Alam masyarakat, pemerintah penyedia jasa dan para wisatawan sendiri.
Pada tulisan ini sesuai dengan judulnya, kami akan mengangkat masalah pengembangan pariwisata masa depan (tourism future) dengan aspek – aspek pengelolanya sehingga menjadi berkelanjutanya (sustainable). Tulisan ini merupakan tulisan, empiric, dimana penulis tidak melakukan penelitian secara langsung pada obyek – obyek penelitian, melainkan penulis membaca, merangkum, menyimpulkan, dan kemudian mengkaji beberapa sumber – sumber penulisan (jurnal) yang sudah terlebih dahulu terbit.
Tulisan ini bersifat mengkaji pengenbangan pariwisata masa depan ( tourism future ) dengan aspek – aspek pengelolannya sehingga menjadi berkelanjutan (sustainable).

SEJARAH PERKEMBANGAN PARIWISATA

I. Sejarah Pariwisata Dunia

Perkembangan pariwisata dunia secara umum dibagi menjadi 3 tahap yaitu ; Jaman pra sejarah ( pre history), jaman sejarah dan jaman setelah sejarah ( post history ).

1. Sebelum jaman Modern (sebelum tahun 1920) :

- Adanya perjalanan pertama kali dilakukan oleh bangsa – bangsa primitif dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk kelangsunga hidup.

- Tahun 400 sebelum masehi mulai dianggap modern karena sudah mulai ada muhibah oleh bangsa Sumeria dimana saat itu juga mulai ditemukan huruf, roda, dan fungsi uang dalam perdangangan.

- Muhibah wisata pertama kali dilakukan oleh bangsa Phoenesia dan Polynesia untuk tujuan perdanganan.

- Kemudian Muhibah wisata untuk bersenang – senang pertama kali dilakukan oleh Bangsa Romawi pada abad I sampai abad V umumnya tujuan mereka bukan untuk kegiatan rekreasi seperti pengertian wisata dewasa ini, tetapi kegiatan mereka lebih ditujukan untuk menambah pengetahuan cara hidup, sistem politik, dan ekonomi.

- Tahun 1760 – 1850 terjadinya revolusi industri mengakibatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat antara lain :

a. Dalam struktur masyarakat dan ekonomi Eropa terjadi pertambahan penduduk, urbanisasi, timbulnya usaha – usaha yang berkaitan dengan pariwisata di kota – kota industri, lapangan kerja meluas ke bidang industri, pergeseran penanaman modal dari sektor pertanian ke usaha perantara seperti Bank, termasuk perdangan Internasional, Hal – hal inilah yang menciptakan pasar wisata.

b. Meningkatnya tehnologi transportasi/sarana angkutan.

c. Munculnya Agen Perjalanan.

Biro Perjalanan pertama kali di dunia adalah Thomas Cook & Son Ltd. Tahun 1840 (Inggris) & American Express Company Tahun 1841 (Amerika Serikat).

d. Bangkitnya Industri Perhotelan.

Perkembangan sistem transportasi juga mendorong munculnya akomodasi hotel baik di stasiun – stasiun kereta api maupun di daerah tujuan wisata. Disamping akomodasi, banyak pula restoran dan bar atau sejenisnya seperti kedai kopi dan teh yang timbul akibat urbanisasi.

e. Munculnya literatur – literatur mengenai usaha kepariwisataan, antara lain : “Guide du Hotels to france ‘ oleh Michelui ( 1900), “ Guide to Hotels “ oleh Automobile Association (1901)

f. Berkembangnya daerah – daerah wisata di negara Mesir, Italia, Yunani, dan Amerika. Perjalanan tersebut diatur dan dikoordinasikan oleh Thomas Cook & Son Ltd. Pada sekitar permulaan abad ke 19 yaitu tahun 1861.

2. Pariwisata Dalam Dunia Modern

Yang dimaksud dengan dunia modern adalah sesudah tahun 1919. Hal ini ditandai dengan pemakaian angkutan mobil untuk kepentingan perjalanan pribadi sesudah perang dunia I (1914 – 1918). Perang Dunia ini memberi pengalaman kepada orang untuk mengenal negara lain sehingga membangkitkan minat berwisata ke negara – negara lain. Sehingga dengan adanya kesempatan berwisata ke negara lain maka berkembang pula arti pariwisata Internasional sebagai salah satu alat untuk mencapai perdamaian dunia , dan berkembangnya penggunaan sarana angkutan dari penggunaan mobil pribadi ke penggunaan pesawat terbang berkecepatan suara. Pada thaun 1914 Perusahaan Kereta Api di Inggris mengalami keruntuhan dalam keuangan sehingga diambillah kebijaksanaan :

- kereta api yang bermesin uap diganti menjadi mesin diesel dan mesin bertenaga listrik .

- pengurangan jalur kererta api yang kurang menguntungkan

Pada masa ini pula timbul sarana angkutan bertehnologi tinggi seperti mobil, pesawat sebagai sarana transportasi wisata yang lebih nyaman dan dan lebih cepat.

3. Perkembangan Sarana Angkutan di Abad XX

Pada abad ini perkembangan pariwisata banyak dipengaruhi oleh perkembangan saran angkutan :

a. Motorisasi yaitu sarana angkutan yang berkekuatan motor tenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga uap. Akibat dari motorisasi ini adalah : galaknya wisata domestik, tumbuhnya penginapan – penginapan di sepanjang jalan raya, munculnya pengusaha – pengusaha bus wisata ( coach) tahun 1920, dan munculnya undang – undang lalu – lintas di Inggris tahu 1924 – 1930.

b. Pesawat udara

Sebelum perang dunia II pesawat udara dipakai hanya untuk kepentingan komersial seperti pengangkutan surat – surat pos, paket- paket, dan lain – lain tetapi sejak tahun 1963 mulai diperkenalkan paket perjalanan wisata dengan menggunkan pesawat terbang seperti pesawat supersonik dan concorde dimana poerjalanan dapat ditempuh dengan nyaman dan waktu yang relatif singkat.

c. Timbulnya Agen perjalanan, Agen perjalanan umum, dan Industri Akomodasi.

Hal ini banyak disebabkan karena meningkatnya pendapatan per kapita penduduk terutama di negara – negara maju seperti : Eropa, Amerika, Jepang, dan negara lainnya, naiknya tingkat pendidikan masyarakat yang mempengaruhi rasa ingin tahu terhadap negara – negara luar.


II. Pariwisata Di Indonesia

Sejarah Pariwisata Di Indonesia dibagai menjadi 3 bagian yaitu :

1. Masa Penjajahan Belanda

Kegiatan kepariwisataan masa itu dimulai sejak tahun 1910 – 1920, sesudah keluarnya keputusan Gubernur Jendral atas pembentukan Vereeneging Toesristen Verker (VTV) yang merupakan suatu badan atau official tourist bureau pada masa itu. Kedudukan VTV selain sebagai tourist goverm,ent office juga bertindak sebagai tour operator atau travel agent.

Meningkatnya perdanganan antara Benua eropa dan negara – negara di Asia dan Indonesia pada khususnya, mengakibatkan ramainya lalulintas orang – orang yang bepergian ke daerah ini dengan motif yang berbeda – beda sesuai dengan keperluan masing – masing. Untuk dapat memberikan pelayanan kepada mereka yang melakukan perjalananmaka berdirilah suatu Travel Agent di Batavia pada tahun 1926 yaitu Linssonne Lindeman (LISLIND) yang berpusat di Negeri Belanda dan sekarang dikenal dengan nama NITOUR (Netherlanshe Indische Touristen Bureau). Pada masa penjajahan Berlanda dapat dikatakan bahwa kegiatan kepariwisataan hanya terbatas pada kalangan orang – orang kulit putih saja, sehingga perusahaan – perusahaan yang bergerak dalam bidang kepariwisataan adalah juga monopoli Nitour, KLM, dan KPM masa itu.

Keadaan Akomodasi

Walaupun kunjungan wisatawan pada masa itu masih sangat terbatas, anamun di beberapa kota dan tempat di Indonesia telah didirikan hotel untuk menjamin akomodasi bagi mereka yang berkunjung ke daerah Hindia Belanda.Pertumbuhan usaha akomodasi baru dikenal pada abad ke 19, itupun terbatas pada kota – kota besardekat pelabuhan. Fungsi hotel yang utama hanya melayani tamu – tamu atau penumpang yang kapal yang baru datang dari Belanda ataupun negara eropa lainnya yang kemudian dibawa dengan menggunkan kereta – kereta yang ditarik dengan beberapa kuda karena belum ada kendaraan bermotor atau mobil.

Menginjak abad ke 20 barulah hotel – hotel mulai berkembang ke kota daerah pedalaman seperti losmen atau penginapan . Semenjek itulah fungsi hotel mulai dirasakan oleh masyarakat banyak dan orang – orang menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan derajatnyamasing – masing. Kemudian dari hal itu kita mengenal istilah penginapan besar (hotel) dan penginapan kecil (losmen).

Berikut ini dapat dilihat jumlah hotel dan kamar yang tersedia di beberapa kota penting di Indonesia tahun 1933 :

Tabel 1.1.

Jumlah Hotel dan Kamar Pada Beberpa Kota penting di Indonesia

KOTA

HOTEL

KAMAR

JENIS KAMAR

Medan

10

353

Double/Single

Jakarta

37

1.601

Double/Single

Bandung

26

999

Double/Single

Surabaya

39

1.123

Double/Single

Denpasar

2

63

Double/Single

Jumlah

114

4.139

Double/Single

Sumber : Himpunan Perintis Kepariwisataan Indonesia

Keadaan Transport

Satu – satunya airlines yang menghubungkan Indonesia dengan Belanda waktu itu adalah KLM yang mempunyai kedudukan monopoli untuk operasi membawa penumpang antara kedua daerah ini. Seperti halnya dengan KLM, dalam tahun 1927 angkutan laut juga dimonopoli oleh KPM. Sedangkan angkutan penumpang dengan menggunkan kereta api baru efektif di Pulau Jawa pada tanggal 1 Oktober 1927. Pada waktu itu para penumpang yang hendak bepergian ke Pulau Jawa harus melakukan reservasi tempat duduk tiga jam sebelum kereta api berangkat.

Pada tahun 1927 kegiatan tour sudah mulai dikembangkan terutama di Pulau Jawa dan Sumatra yang diorganisir oleh LISLIND (Lissonne Lindeman) seperti misalnya :

- Ffourteen days in Java motor ar and train combination tour operated by LSLIND

- Fourteen days in Sumatra.

Kebudayaan

Dalam tahun 1927 ternyata sudah datang ke daerah ini orang – orang penting yang kenamaan untuk mempelajari kebudayaan Indonesia, terutama tentang kesenian Jawa dan Bali, antara lain :

- Mr. Leopold Chaikoswky, Conductor of syimphony orchestra Philadelpia is expected to arrive at Java shortly for the purpose of making a study of Javanesse music.

- Dr. Rabindranath Tagore is expected to visit Java early in August, wit the object of studying the influence of Hinduism on javanese religious concepts.

Promosi

Tahun 1913

Dalam tahun ini Vereneging Teoristen Verker (VTV) menerbitkan sebuah Guide Book yang bagus sekali mengenai daerah – daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, banten, dan Tanah Toraja di Sulawesi.

Tahun 1923

Pada tahun ini beredar surat kabar mingguan yang merupakan Java Touriost Guide yang isinya antara lain mengenai Express Train Service, News from abroad in Brief, who-where-when to hotels, postal news, dan sebagainya.

Tahun 1926

Pada tahun ini sudah banyak promotion materials yang telah dipersiapkan oleh badan – badan atau perusahaan yang bergerak dalam bidang kepariwisataan. Di luar negeri, yakni di Belanda pernah diterbitkan sebuah majalah “Tourism” yang banyak mempromosikan Indonesia antara lain :

- come to Jaca, yang merupaan complete guide to Java

- Bandung, the mountain city to Netherland India

- Bandoeng

- Batavia, queen city of east

- The wayang wong or wayang orang

- Dan sebagainya

Dalam tahun 1926, berdasarkan catatan yang ada, diketahui bahwa jumlah wisatawan yang mendatangi kantor VTV Batavia untuk meminta informasi mengenai tour adalah sebagi berikut :

Tabel 1.2

Statistik kunjungan wisatan tahun 1926

NO

BULAN

JUMLAH WISATAWAN (orang)

1

Juni

391

2

Juli

466

3

Agustus

1.259

4

September

2.070

5

Oktober

1.820

6

November

1.271

7

Desember

870

Sumber : Himpunan Perintis Kepariwisataan Indonesia

2. Masa Pendudukan Jepang

Berkobarnya perang dunia II yang disusul dengan pendudukan tentara Jepang di Indonesia, menyebabkan kedaan kepariwisataan menjadi terlantar. Dapat dikatakan bahwa orang – orang tidak ada gairah atau kesempatan untuk mengadakan perjalanan. Objek – obje wisata tinggal terbengkalai, jalan – jalan rusak karena ada penghancuran jembatan – jembatan untuk menghalangi musuh masuk. Perhotelan sangat menyedihkan karena banyak hotel yang diambiloleh pemerintah Jepang untuk dijadikan rumah sakit, dan asrama sebgai empat tinggal perwira – perwira Jepang.

Setelah jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki, inflasi terjadi di mana – mana yang mengakiatkan keadaan ekonomi rakyat tambah parah.

3. Setelah Indonesia Merdeka

Pada tahun 1946, sebagai akibat perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan Tanah Air Indonesia dari cengkraman penjajahan Belanda, maka pemerintah menghidupkan kembali industri – industri yan mendukung perekonomian. Demikian juga di bidang pariwisata, perhotelan mendapat perhatian dari pemerintah, sehingga dikeluarkanlah Surat Keputusan Wakil Presiden RI waktu itu (DR. Moch. Hatta) tentang pendirian suatu badan yang bertugas unytuk melanjutkan perusahaan hotel bekas milik Belanda. Badan ii bernama HONET (hotel national & Tourism). Semua hotel yang berada di bawah manajemen HONET diganti namanya menjadi Hotel MERDEKA.

Dengan adanya perjanjian KMB (konfrensi Meja Bundar) dalam tahun 1949 maka menurut perjanjian itu semua harta kekayaan harus diembalikan kepada pemiliknya. Karena itu HONET dibubarkan dan dibentuklah satu – satunya badan hukum milik Indonesia sendiri yang bergerak dalam bidang pariwisata yaitu NV HONET. Pad tahun 1953 dibentuklan oranisasi yang bernama Serikat Gabungan Hotel dan Tourisme Indonesia (SERGAHTI) yang beranggotakan hampir seluruh hotel di Indonesia namun keberadan badan ini tidak berlangsung lama karena tidak terlihat kemungkinan penerobosan dari peraturan pengendalian harga. Pada thun 1955 oleh Bank Industri Negara didirikan suatu Perseroan Terbatas dengan nama PT. NATOUR Ltd.( National Hotel & Tourism Corp.). Natour ini memiliki anggota antara lain : Hotel Transaera (Jakarta), Hotel Bali dan Sindhu Beach, Kuta Beach, dan Jayapura Hotel.`

4. Babak Baru Dalam Kepariwisataan Nasional

Banyak usaha kegiatan kepariwisataan yang telah dirintis pleh Lembaga Pariwisata Nasional, walaupun lembaga ini sendiri banyak mengalami kesukaran sebgai akibat penyesuaian dengan struktur organisasi kepariwisataan yang coba – coba dalam penerapannya. Di sini kita dapat melihat kegairahan untuk berusaha dalam industri pariwisata yang ditandai dengan dibangunnya hotel – hotel baru atau memperbaiki yang telah bobrok di masa lalu. Lines penerbangan domestik mulai beroperasi mulai meningkatkan mutu pelayanan , pengusaha Travel Agent mulai membuka operasi tournya di dalam maupun di luar negeri, yang diikuti dengan bertambah banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.

Kunjungan Wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia dari tahun ke tahun cenderung, terus meningkat. Kalau kita perhatikan sejak pelita I tahun 1969 jumlah wisatawan relatif masih rendah yaitu 86.100 saja. Di akhir tahun 1973, jumlah wisatawan meningkat menjadi 270.300 orang. Jadi dalam pelita I sudah terjadi peningkatan sebesar 214 %. Pada akhir pelita II tahun 1978 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 468.600 orang, dan akhir pelita III tahun 1983 meningkat lagi menjadi 638.000 orang. Hal yang sama terjadi pada pelita IV tahun 1989 wisman yang berkunjung tercatat 11.626.000 orang. Peningkatan yang sangat mencolok terjadi antara tahun 1984 – 1988 dengan pertumbuhan rata – rata 15 % tiap tahunnya, kemudian pertumbuhan yang lebih besar terjadi pada periode 1989 – 1991 dengan kedatangan wisman rata – rata sebesar 36,2 % tiap tahunnya. Kunjungan wisatawan ke Indonesia tahun 1992 ternyata melebihi target 3 juta orang dengan demikian kunjungan wisman ke Indonesia meningkat 16,7 %.

III. Sejarah Pariwisata Bali

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingi tahu dan dorongan keagamaan maka pada zaman Hindu di Nusantara/Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan. Perjalanan Rsi Markandya sekitar abad ke – 8 dari Jawa ke Bali telah melakukan perjalanan dengan membawa misi – misi keagamaan, demikian pula Mpu Kuturan yang mnegmbangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad ke 11 kemudian Dang Hyang Nirartha ( Pedanda Sakti wawu Rauh) pada abad ke –16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep upacara.

Perjalanan wisata Internasional di Bali telah dimulai permulaan abad ke-20 dimana sebelumnya Bali diketem7kan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi Cornelius De Houtman dalam perjalananya mengelilingi dunia untuk mencari rempah – rempah lalu sampai di Indonesia. Dari pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Setelah mereka mendarat, ternyata mereka tidak menemukan rempah – rempah tetapi suatu kehidupan dengan kebudayaan yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di daerah lain selama mereka mengelilingi dunia , alamnya sangat indah dan mempunyai daya tarik tersendiri. Pulau ini dinamakan Bali oleh penduduknya. Inilah yang mereka laporkan kepada raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari eropa datang ke Bali. Al ini terjadi berkat kapal – kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketacart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah – rempah ke Indonesia, lalu mereka memperkenalkan Bali di eropa sebagai “The Island Of God”. Dari para wisatawan yang mengunjunfi Bali terdapat pula beberapa seniman baik seniman sastra, seniman lukis, maupun seniman tari antara lain :

1. Seniman Sastra :

a. Dr. Gregor Krause adalah orang jerman yang dikirim ke Indonesia bertugas ke Bali tahun 1912 yang ditugaskan untuk membuat tulisan – tulisan dan foto – foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh dunia pada tahun 1920, dan pada waktu itu Dr. Gregor Krause tinggal di Bangli.

b. Miguel Covarrubias dengan bukunya “The Island Of Bali” ( 1930)

c. Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali.

d. Lovis Conperus (1863 – 1923) dengan bukunya easwords ( melawat ke timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.

e. Magaret Meat

f. Collin Mc. Phee

g. Jone Bello

2. Seniman Lukis :

a. R. Bonet mendirikan useum Ratna Warta

b. Walter Spice (1925) bersama Tjokorda mendirikan yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance and Drama in Bali.

c. Arie Smith yang membentuk aliran “Young Artist”

d. Le Mayeur dari Belgia (1930) mengambil istri orang Bali dan mendirikan Museum Le Mayeur

e. Mario Blanco (Spanyol) mengambil istri orang Bali dan menetap di Ubud.

Banyak lagi seniman – seniman baik asing maupun nusantara yang yang mengambil objek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Penyebaran informasi mengenai Bali baik melalui tulisan maupun serita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di mancanegara.

Untuk mengantisipasi kedatangan wisatawan yang datang ke Bali, pada tahun didirikanlah hotel pertama di Bali yaitu Hotel Bali yang terletak di jantung kota Denpasar. Nama Bali semakin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke eropa dan Amerika atas prakarsa orang – orang asing , dan pada tahun – tahun berikutnya makain banyak seniman – seniman tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara sehingga hal ini membuat kesenian Bali semakin dikenal di luar negeri. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :

- The Island of Gods

- The Island of paradise

- The Island of Thousand Temples

- The Morning of The world oleh Pandit Jawahral Nehru

- The Last Paradise onEarth dan lain sebagainya.

Kesemarakan pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 – 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942 – 1945 dan dilanjutkan dengan Perang Kemerdekaan RI tahun 1945 – 1949. Baru pada tahun 1956 kepariwisataan Bali dirintis kembali, pada tahun 1963 didirkan Hotel Bali Beach dan diresmikan pada Bulan November 1966. Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali tingginya maksimal 15 meter atau setinggi pohon kelapa. Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel ini pernah terbakar tanggal 20 Januari 1993, tetapi terjadi suatru keanehan yaitu kamar nomor 327 satu – satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.

Hotel Bali Beach diresmikan pada Bulan November 1966, maka Bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan Internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur, dan terencana yaitu ketika mulai dicanangkan Pelita I pada tanggal 1 April 1969.

DEFINISI PARIWISATA DAN WISATAWAN

A. PENDAHULUAN

Kalau kita mendengar atau memikirkan tentang kata pariwisata, seringkali yang kita bayangkan hanyalah orang – orang yang mengunjungi suatu tempat dengan tujuan untuk melihat – lihat, mengunjungi teman atau saudara, dan berlibur untuk bersenang – senang yang mungkin menghabiskan waktunya untuk berbagai kegiatan seperti : olah raga, berjemar, jalan – jalan, tour, membaca, atau kegiatan yang paling sederhana untuk menikmati alam atau lingkungan sekitar. Atau jika kita berpikir lebih jauh lagi tentang pariwisata, yang terlintas dalam pikiran kita adalah orang – orang yang berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan tertentu seperti ; konvensi, konfrensi bisnis, atau kegiatan bisnis lain, study tour dengan seorang guide atau melakukan kegiatan penelitian.
Ada berbagai pendapat dalam mendefinisikan kata pariwisata tersebut, namun hal yang paling penting adalah kita harus memandang pariwisata secara menyeluruh berdasarkan skup ( cakupan) atau komponen yang terlibat dan mempengaruhi pariwisata antara lain :

1. Wisatawan
Setiap wisatawan ingin mencari dan menemukan pengalaman fisik dan psikologis yang berbeda – beda antara satu wisatawan dengan wisatawan lainnya. Hal inilah yang membedakan wisatawan dalam memilih tujuan dan jenis kegiatan di daerah yang dikunjungi.
2. Industri Penyedia Barang dan Jasa
Orang – orang bisnis atau investor melihat pariwisata sebagai suatu kesempatan untuk mendatangkan keuntungan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan wisatawan.
3. Pemerintah Lokal.
4. Masyarakat setempat
Masyarakat lokal biasanya melihat pariwisata dari faktor budaya dan pekerjaan karena hal yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat lokal adalah bagaimana pengaruh interaksi wisatawan dengan masyarakat lokal baik pengaruh yang menguntungkan maupun yang merugikan.

Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa pariwisata merupakan gabungan dari sejumlah fenomena yang muncul dari interaksi antara wisatawan, industri penyedia barang & jasa, pemerintah lokal, dan masyarakat setempat dalam sebuah proses untuk menarik dan melayani wisatawan.(Mc Intosh & Shashikant Gupta)

B. INDUSTRI PARIWISATA (TOURISM INDUSTRY)
Para ahli umumnya memberi salah satu batasan pengertian tentang industri, yaitu segala jenis uasaha yang bertujuan untuk menciptakan atau menghasilkan barang – barang atau jasa – jasa melalui suatu proses produksi.
PARIWISATA sebagai suatu usaha yang berbentuk dalam satu proses yang dapat menciptakan suatu nilai tambah terhadap barang dan jasa yang telah diproses seabagai produk, baik yang nyata (tangible product), maupun yang tidak nyataa (intangible product), berupa jasa pelayanan.
Dengan pengertian pariwisata tersebut maka dapat diuraikan unsur – unsur yang terdapat dalam kegiatan kepariwisataan ialah sekelompok orang yang melakukan kegiatan wisata dan menggunakan kemudahan – kemudahan yang dapat menunjnag kegiatan wisata tersebut. Adapun kegiatan wisata yang dapat dilakukan oleh sekelompok orang ialah kegiatan guna melakukan kenikmatan, kesenangan, keindahan alam semesta serta lingkungan yang lain dari keadaan, yang setiap hari dialami oleh sekelompok orang – orang yangs elanjutnya sekelompok orang itu disebut wisatawan.
Secara jelas dapat dilihat bahwa pariwisata bukanlah merupakan suatu industri seperti sama halnya industri barang jadi seperti mesin, perabot, dan lain – lain yang mempunyai pabrik dan yang menghasilkan barang – barang yang secara langsung dapat dikonsumsi oleh masyarakat sebagai hasil produksinya. Sebenarnya pariwisata lebih tepat disebut sebagai suatu kegiatan, tetapi jika dilihat dari sudut ekonomi akktivitas tersebut menciptakan permintaan atau demand yang memerlukan pemasaran dari produk aktivitasnya. Produk yang diciptakan bagi kepariwisataan dihasilkan oleh perusahaan – perusahaan yang terpisah tetapi saling melengkapi. Produk tersebut berupa barang dan jasa – jasa (goods and services). Oleh karena itu kegiatan pariwisata lazim disebut dengan

Banyak pendapat tentang arti dan makna kepariwisataan, dan diantaranya kami ambilkan beberapa pakar dalam bidangnya yang membuat definisi masing – masing ditinjau dari persepsinya yangs esuai dengan bidang keilmuannya antara lain:
1. Prof. K.Kraft:
“Tourism is totally of thr relationship and phenomena of … from the travel and stay, doesn’t imply the establisment of… resident”
( kepariwisataan adalah keseluruhan hubungan dan fenomena yang timbul dari perjalanan dan tinggalnya manusia, yang bertujuan unuk membangun/menciptakan tempat tinggal tetap)
2. Mr. Herman V, Schulalard
“Tourism is the sum of operation, manly of an economic nature, which directly related to entry, stay and movement of foreigner inside certain country, city or region”
(Kepariwisataan adalah sejumlah kegiatan, terutama yang bersifat ekonomi yang secara langsung berkaitan dengan masuk, tinggal dan bergeraknya orang – orang asing dalam satu negara, kota atau wilayah)
3. Ketetapan MPRS No. I-II Tahun 1960 menyatakan:
“kepariwisataan dalam dunia modern pada hakekatnya adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam mememberi hiburan rohani dan jasmani setelah beberapa waktu bekerja serta mempunyai modal untuk melihat – lihat daerah atau kota lain (pariwsata dalam dan luar negeri)
4. Undang – Undang RI No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usaha – usaha yang terkait di bidang tersebut. Sedangkan pengertian usaha secara umum adalah suatu kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa – jasa pariwisata serta menyediakan atau mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata, dan usaha lain yang terkait di bidang tersebut.
5. Robert E. Guyer – Freuler di dalam bukunya yang berjudul Handbuch des Schweizerischen Volkswirtschaft, merumuskan pariwisata ini sebagai berikut : “pariwisata adalah merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuh terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khusunya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat – alat pengangkutan.”
Pariwisata juga merupakan gabungan antara kegiatan jasa atau industri penyedia pelayanan kepada wisatawan yang dapat memberi suatu pengalaman kepada wisatawan yaitu transportasi, akomodasi, jasa boga, pusat perbelanjaan, hiburan, fasilitas penunjang dan jasa lainnya. Yang disediakan bagi mereka yang bepergian jauh dari rumah

B. WISATAWAN (PENGUNJUNG)
Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh The Committee of Statistical Experts of the league of Nations tahun 1937 bahwa

- Wisatawan : orang yang mengunjungi suatu negara selain negara dimana dia tinggal
- Yang berikut ini adalah orang yang biasa dianggap sebagai wisatawan :
a. orang – orang yang bepergian untuk tujuan bersenang – senang, alasan keluarga, untuk tujuan kesehatan, dan lain – lain.
b. Orang – orang yang bepergian untuk mengadakan pertemuan atau mewakili kedudukan sebagai diplomat, misi keagamaan, orang – orang yang bepergian dengan alasan dagang.
c. Orang – orang yang singgah dalam pelayaran lautnya, sekalipun tinggal kurang dari 24 jam.

Berdasarkan pendapat F.W. Ogilvie tentang pariwisata, wisatawan adalah “semua orang yang memenuhi syarat yaitu pertama bahwa mereka meninggalkan rumah kediaman mereka untuk jangka waktu kurang dari satu tahun, kedua bahwa sementara mereka bepergian mereka mngeluarkan uang di tempat yang mereka kunjungi tanpa dengan maksud mencari nafkah di tempat tersebut.”
Batasan ini diberi variasi oleh A.J. Norwal yang mengatakan bahwa wisataan adalah seseorang yang memasuki wilayah negeri asing dengan maksud tujuan apapun asal bukan untuk tinggal permanen atau untuk usaha – usaha yang teratur melintasi perbatasan, dan yang mengeluarkan uangnya di negri yang dikunjungi, uang mana diperolehnya bukan di negri tersebut melainkan di negri lain.

Batasan ini mencakup : Tourist dan Exursionist
1. Tourist ( Wisatawan)
Yaitu pengunjung sementara yang tinggal sekurang – kurangnya 24 jam di negara yang dikunjungi dengan tujuan sebagai berikut :
- rekreasi, berlibur, kesehatan, studi, agama, dan sport.
- Bussiness, family, friends, meeting, mission.
2. Exursionist ( Pelancong)
Ialah pengunjung sementar yang tinggal kurang dari 24 jam di negara yang dikunjungi misalnya : penumpang kapal pesiar dan penumpang transit.