Rabu, Juni 14, 2017

AYAM
Oleh : Rocco Bay

Berbicara tentang ayam, tentunya terbayang hewan yang biasa dikonsumsi semua kalangan. Ada ayam petarung dan adapula ayam sayur. Ayam petarung bertarung sampai mati untuk memberikan kepuasan pada pemeliharanya, sekaligus kemudian dagingnya dijadikan ‘jukut be cundang’ atau sayur ayam aduan yang kalah. Kata be cundang memiliki konotasi yang sama dengan pecundang, pihak yang kalah. Semetara ayam sayur nasibnya juga tidak kalah menyedihkan dengan ayam petarung. Nasib ayam sayur berakhir di didalam perut manusia, tentunya setelah diolah terlebih dahulu.

Ayam adalah salah satu hewan yang paling bermanfaat bagi manusia. Banyak hal yang diberikan ayam, misalnya saja telurnya, dagingya, sampai bulunya. Telur ayam dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan mulai dari telur rebus, telur asin, sate, cake, mayonnaise, omelete, sunny side up,  turn over bahkan dapat dapat dikonsumsi mentah untuk menambah ‘joss’ stamina. Namun karena serakahnya sifat manusia, walaupun sudah banyak jasanya, ayam tetap harus sampai mati demi memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Raga ayam untuk kebutuhan perut manusia, bulu ayam untuk alat kebersihan, dan jiwa ayam sering kali dihaturkan untuk urusan spiritual.

Begitu banyak jasa ayam.
Oleh karena jasanya yang besar bagi manusia, berbagai macam bangsa di dunia memberikan penghargaan bagi ayam. Perancis menjadikan ayam jago sebagai logo organisasi sepakbola dengan nama Le Coq Sportif. Jaya Suprana menjadikan ayam jago sebagai merek usaha jamunya dengan nama Jamu Jago. Sheila on Seven, kalau tidak salah menjadikan logo ayam jago pada albumnya yang berisikan lagu ‘Pejantan Tangguh’. Memang sepertinya ayam sudah ditakdirkan harus mendampingi hidup manusia.
Ayam juga identik dengan dada dan paha. Jika kita makan ke restaurant cepat saji yang mengandalkan ayam sebagai menu utamanya, pastilah pelayan menawarkan ‘dada’ atau ‘paha’. Kelembutan, kekenyalan dada atau paha ayam memang sangat menggiurkan.  Tapi ada juga pelanggan yang menyukai brutu ayam, katanya gurih.

Gara-gara restoran ayam goreng cepat saji yang mengandalkan dada dan paha sebagai daya tarik jualannya, maka ayam mengalam penurunan citra diri. Muncul istilah ‘ayam kampus’, ‘ayam kantor’, ‘ayam kampung’. ’ Ayam Kampus’, berarti segala sesuatu yang menawarkan ‘dada’ dan ‘paha’ di kampus. ‘Ayam kantor’, berarti segala sesuatu yang menawarkan ‘dada’ dan ‘paha’ di kantor. ‘Ayam Kampung’ berarti perawan desa yang ‘polos’ dan ‘lugu’. Kasihan betul nasib ayam yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya, malahan namanya ‘tercemar’ karena ulah manusia yang serakah.

Gambar 1
Ayam Lucu




Begitulah nasib ayam di dunia yang fana ini. Jika tidak ingin menjadi ‘ayam’ jadilah manusia yang tidak hanya mengandalkan ‘dada’ dan ‘paha’ saja melainkan akal budi. Boleh saja menggunakan dada dan paha sebagai salah satu strategi untuk mencapai tujuan. Tetapi akan lebih mulia jika menggunakan akal budi dan kualitas. Karena manusia harkat dan martabatnya jauh lebih tinggi daripada ayam. Manusia yang baik akan memperlakukan ayam-ayamnya dengan baik, cukup menikmati telurnya untuk kebutuhan hidup. Bukan tubuh dan jiwanya.

4 komentar:

  1. Pasti Pak Bayu suka menu Ayam ya?? Ayam apa Ya??? Paha apa dada ya???
    Ada juga yg bilang begini " if you are chicken, don't follow me".maknanya ayam dianggap sebagai the looser atau pecundang😉😉
    Anyway saya suka be cundang...😉😉

    BalasHapus
  2. Blogging is the new poetry. I find it wonderful and amazing in many ways.

    BalasHapus
  3. I don’t know how should I give you thanks! I am totally stunned by your article. You saved my time. Thanks a million for sharing this article.

    BalasHapus